Your browser does not support JavaScript!
 08 Oct 2015    20:00 WIB
Makanan Berpengaruh Pada Miss V Loh!
Pernahkah Anda mendengar istilah "you are what you eat"? Bila iya, ternyata makna dari kata-kata ini memang ada hubungannya antara makanan yang Anda makan dengan kondisi tubuh Anda. Makanan yang Anda makan bisa mempengaruhi seluruh tubuh, salah satunya adalah mempengaruhi vagina Anda. Vagina yang sehat memiliki pH alami yang asam, serta sejumlah bakteri sehat yang menangkal berbagai infeksi, kata Mary Rosser, MD, Ph.D seorang dokter spesialis kandungan di Montefiore Medical Center di New York. Namun makanan yang Anda makan dapat mempengaruhi pH vagina dan dapat menimbulkan bau yang kurang sedap. Misalnya, rempah-rempah, bawang merah, bawang putih, daging merah, susu, asparagus, brokoli, dan alkohol semuanya dapat mempengaruhi keseimbangan di daerah vagina Anda. Begitu pula apabila Anda makan buah-buahan yang manis maka akan menimbulkan bau yang manis. Namun efek makanan ini biasanya hanya akan bertahan selama dua sampai tiga hari. Jadi untuk menjaga kesehatan daerah vagina Anda sebaiknya Anda banyak konsumsi buah-buahan segar, sayur-sayuran, biji-bijian, dan banyak minum air. Dan jika Anda suka yogurt terutama greek yogurt maka akan lebih baik. Yogurt kaya akan probiotik yang akan membantu mempertahankan pH vagina yang sehat dan seimbang," kata Mary Rosser, MD, Ph.D.  Rosser menambahkan sebaiknya Anda juga mengurangi konsumsi gula karena kadar gula yang tinggi dalam tubuh akan meningkatkan risiko infeksi pada vagina. Baca juga: 11 Tips Untuk Menjaga Kesehatan Vagina Anda Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: womenshealthmag
 30 Sep 2015    20:00 WIB
Kekurangan Bakteri Justru Sebabkan Kelahiran Prematur?
  Menurut sebuah penelitian baru, bakteri di dalam tubuh seorang wanita ternyata dapat menjadi petunjuk mengenai seberapa besar resikonya untuk mengalami persalinan sebelum waktunya (kelahiran prematur). Para peneliti menemukan bahwa wanita hamil (peserta penelitian) yang memiliki kadar Lactobacillus (sejenis bakteri) yang lebih rendah pada vaginanya memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami persalinan sebelum waktunya dibandingkan dengan wanita yang memiliki cukup banyak bakteri tersebut pada vaginanya. Hal ini dikarenakan bakteri baik tersebut akan digantikan oleh 2 jenis bakteri lainnya yaitu Gardnerella dan Ureaplasma, yang justru lebih sering menyebabkan terjadinya kelahiran prematur.   Baca juga: Bakteri Usus Ibu Dapat Membantu Menambal Kebocoran Sawar Darah Otak Bayi, Benarkah?   Pada penelitian ini, dari 49 orang peserta penelitian, 15 orang di antaranya mengalami persalinan sebelum waktunya. Dari hasil pemeriksaan, para peneliti pun menemukan bahwa komposisi bakteri vagina pada sebagian besar wanita tersebut mengalami perubahan yang cukup drastis pada waktu persalinan terjadi, yaitu jumlah bakteri Lactobacillus menurun dan tempatnya pun digantikan oleh bakteri lainnya setelah proses persalinan. Perubahan ini pun akan berlangsung hingga 1 tahun. Sayangnya, hingga saat ini, para peneliti masih belum dapat memastikan apakah berubahnya komposisi bakteri tersebut yang membuat seorang wanita mengalami persalinan sebelum waktunya atau apakah ada suatu faktor lain yang memicu terjadinya persalinan yang juga menyebabkan terjadinya perubahan komposisi bakteri pada vagina wanita hamil. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mengapa perubahan komposisi bakteri ini terjadi dan apa pengaruhnya terhadap kesehatan para wanita hamil tersebut. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: foxnews, livescience
 10 Sep 2015    16:00 WIB
Berbagai Fakta Mengejutkan Seputar Deodoran dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan
Deodoran, suatu cairan wangi yang wajib dipakai setiap hari untuk mencegah timbulnya bau badan. Akan tetapi, apakah Anda yakin bahwa Anda benar-benar membutuhkan deodoran untuk mengatasi bau tidak sedap dari badan Anda? Di bawah ini, Anda dapat melihat beberapa fakta mengenai deodoran dan hubungannya dengan kesehatan Anda.   TIDAK MEMBUNUH BAKTERI Deodoran ternyata tidak dapat membunuh bakteri, jadi sebenarnya tidak dapat membantu mengatasi penyebab bau badan Anda. Hal ini dikarenakan bau badan timbul akibat adanya percampuran antara keringat dan bakteri.   SEBABKAN KANKER Karena deodoran mengandung aluminium, maka deodoran sebenarnya dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker. Hal ini dikarenakan aluminium dapat mempengaruhi hormon estrogen, yang pada kondisi tertentu dapat meningkatkan pertumbuhan sel kanker.             KEBAL Tahukah Anda bahwa tubuh Anda tidak hanya dapat membentuk kekebalan terhadap suatu jenis bakteri atau virus tetapi juga terhadap deodoran? Hal ini akan membuat deodoran tampak tidak berefek, alias tidak berhasil menutupi bau badan Anda. Efek kebal ini biasanya akan timbul dalam waktu 6 bulan setelah Anda menggunakan deodoran dengan merk yang sama selama kurun waktu tersebut.   TIDAK MENCEGAH TERBENTUKNYA KERINGAT Walaupun deodoran dapat menyamarkan bau badan Anda karena aromanya yang kuat seperti parfum, akan tetapi deodoran sebenarnya tidak dapat mencegah timbulnya keringat pada daerah ketiak. Deodoran hanya mampu mencegah timbulnya keringat berlebih (jadi tetap berkeringat, tetapi tidak berlebihan) dengan cara menahan jumlah keringat yang keluar dari dalam tubuh.   TIDAK SEMUA ORANG PERLU DEODORAN Berbagai iklan mengenai deodoran mungkin telah membuat banyak orang percaya bahwa semua orang harus menggunakan deodoran untuk mencegah timbulnya bau badan.   Akan tetapi, tahukah Anda bahwa sebenarnya ada banyak orang yang tidak memiliki bau badan separah yang mereka kira? Beberapa orang yang cukup beruntung bahkan tidak memiliki bau badan sama sekali.   Anda dapat mengetahui seperti apa bau badan Anda dengan melihat bagaimana bentuk kotoran telinga Anda! Jika kotoran telinga Anda tampak seperti kulit yang mengelupas (kotoran telinga kering), maka Anda sebenarnya tidak memerlukan deodoran. Akan tetapi, bila kotoran telinga Anda tampak kecoklatan dan lengket, maka Anda mungkin memang membutuhkan deodoran untuk mencegah timbulnya bau badan yang tidak diinginkan.   Mengapa orang dengan kotoran telinga kering tidak memerlukan deodoran? Hal ini dikarenakan orang yang memiliki kotoran telinga kering biasanya tidak memiliki satu jenis zat kimia yang merupakan sumber makanan bakteri penyebab bau pada ketiaknya.   Baca Juga: Apakah Deodoran Dapat Menyebabkan Gangguan Ginjal?   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang .   Sumber: huffingtonpost
 05 Jan 2015    10:00 WIB
Bakteri Usus Ibu Dapat Membantu Menambal Kebocoran Sawar Darah Otak Bayi, Benarkah?
Pada sebuah penelitian yang dilakukan pada tikus, para peneliti menemukan bahwa bakteri usus sang ibu ternyata memproduksi berbagai nutrien yang dapat membantu proses pembentukan sawar darah otak anaknya. Tahukah Anda bahwa mikroorganisme alias berbagai jenis bakteri yang hidup dan terdapat di dalam tubuh manusia ternyata berjumlah lebih banyak daripada sel-sel tubuh manusia tersebut? Bila dibandingkan, maka jumlah mikroorganisme di dalam tubuh manusia dengan jumlah sel tubuh manusia adalah 10:1. Berbagai mikroorganisme ini terdapat di mulut, kulit, dan usus. Walaupun para peneliti telah menemukan ribuan jenis bakteri yang terbukti dapat membantu berbagai fungsi tubuh manusia, akan tetapi para ahli tersebut masih belum menemukan apa sebenarnya fungsi sisa bakteri lainnya. Di antara berbagai jenis mikroorganisme tersebut, para ahli menduga bahwa bakteri usus merupakan yang terpenting. Hal ini dikarenakan bakteri usus tersebut dapat membantu proses pencernaan makanan dan membantu melatih kekuatan sistem kekebalan tubuh seseorang. Pada penelitian baru ini, para peneliti berhasil menemukan satu lagi fungsi lain dari bakteri usus tersebut yaitu membantu proses pembentukan sawar darah otak pada janin yang sedang berkembang di dalam rahim sang ibu. Sawar darah otak sebenarnya merupakan suatu kumpulan sel yang saling berhubungan yang bergabung dengan protein dan membentuk suatu lapisan pelindung di antara aliran darah dan sistem saraf. Lapisan pelindung ini berfungsi untuk mencegah terjadinya infeksi otak, menyingkirkan berbagai racun dari aliran darah otak, dan mengatur aliran nutrisi yang menuju ke otak. Pada penelitian ini, para peneliti yang mengamati proses perkembangan janin tikus menemukan bahwa diperlukan waktu sekitar 3 minggu bagi janin untuk bertumbuh di dalam rahim, di mana sawar darah otaknya biasa telah terbentuk di hari ke 17. Untuk memastikan apa sebenarnya kegunaan bakteri usus pada proses pembentukan sawar darah otak, maka para peneliti pun melakukan penelitian ini. Para peneliti mengembangbiakan para tikus percobaan pada suatu tempat yang benar-benar steril, alias bebas dari segala jenis kuman. Setelah beberapa waktu, maka para tikus yang dikembangbiakkan secara khusus ini (hanya memiliki sedikit bakteri usus) pun memiliki anak. Para peneliti kemudian menemukan bahwa anak-anak dari tikus tersebut hanya memiliki kadar protein pengikat sawar darah otak yang sedikit. Protein ini merupakan protein yang berfungsi untuk menyambungkan berbagai sel di dalam sawar darah otak dan membuatnya menjadi suatu lapisan. Akibatnya adalah sawar darah otak ini tidak dapat menutup sempurna dan membuat berbagai hal yang seharusnya tidak dapat masuk ke dalam otak menjadi dapat masuk ke dalam otak (bocor). Kebocoran ini pun dapat menyebabkan terjadinya kerusakan saraf di dalam otak, terutama di suatu bagian otak yang disebut dengan hipokampus, yang memiliki peranan penting dalam mengendalikan stress dan membentuk daya ingat. Bagian otak lainnya yang turut terpengaruh oleh kebocoran sawar darah otak ini adalah korteks frontal, yang berfungsi untuk mengatur proses berpikir dan membuat keputusan. Selain itu, striatum, bagian otak yang berfungsi untuk mengkoordinasikan gerakan juga terpengaruh. Berbagai gangguan ini akan terus terjadi hingga tikus memasuki masa dewasa. Akan tetapi, satu hal baik lainnya yang ditemukan para peneliti dalam penelitian ini adalah bahwa kerusakan pada sawar darah otak ini ternyata dapat diperbaiki. Transplantasi bakteri usus dari tikus sehat ke dalam tikus yang dikembangbiakkan dengan kondisi khusus ini ternyata mampu mengatasi kebocoran ini, yang tentu saja juga dapat membantu mengatasi berbagai perubahan di dalam otak. Tikus ini pun akhirnya membentuk protein pengikat baru dan menutup kebocoran pada sawar darah otaknya. Untuk menemukan jenis bakteri apa sebenarnya yang sangat penting dalam proses pembentukan sawar darah otak, maka para peneliti pun mengembangbiakkan tikus dengan jenis bakteri tertentu. Para peneliti kemudian menemukan 2 jenis bakteri yang dapat membantu “menambal” kebocoran pada sawar darah otak yaitu Clostridium tyrobutyricum dan Bacteroides thetaiotaomicron. Kedua jenis bakteri tersebut secara alami memproduksi suatu asam lemak rantai pendek, yang diperlukan oleh protein pengikat agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Para peneliti juga menemukan bahwa memberikan asam lemak rantai pendek tersebut secara langsung juga dapat membantu memperbaiki kebocoran pada sawar darah otak. Akan tetapi, para peneliti masih tidak dapat memastikan apakah proses ini dapat membantu memulihkan sel-sel saraf yang telah rusak di dalam otak. Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti pun memberikan peringatan khusus pada wanita hamil yang ingin mengkonsumsi antibiotika. Dianjurkan agar mereka berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui apakah antibiotika yang mereka gunakan dapat mempengaruhi bakteri usus. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa bakteri usus dapat mempengaruhi permeabilitas sawar darah otak di sepanjang hidup. Selain itu, efek ini mungkin juga dipengaruhi oleh beberapa hal seperti komposisi dan variasi bakteri usus seseorang. Oleh karena itu, beberapa hal yang juga mempengaruhi komposisi bakteri usus seseorang seperti makanan yang dikonsumsi, olahraga, dan aktivitas sosial mungkin juga turut berperan dalam kemampuan permeabilitas sawar darah otak.     Sumber: healthline
 31 Jul 2014    10:00 WIB
Apa Saja Sih Penyebab Kulit Berjerawat?
Jerawat, mendengar kata yang satu ini sudah tentu membuat kesal, bukan saja rasanya yang buat tidak nyaman tetapi juga membuat rasa percaya diri berkurang Sudah banyak usaha yang dilakukan namun jerawat tak kunjung hilang. Malah muncul semakin banyak. Agar kita dapat membasmi jerawat yang bandel ini kita harus ketahui apa saja penyebab jerawat.    Berikut adalah penyebab utama jerawat? Penyebab utama dari jerawat adalah karena faktor ketidakseimbangan hormonal Pemakaian kosmetik yang terlalu berat sehingga membuat kulit sulit bernapas Pembersihan wajah yang salah dan tidak membersihkan make-up sebelum tidur Pada saat pori-pori tersumbat akan tumbuh dan berkembang sejenis bakteri yang disebut “Propionibacterium acnes” yang merupakan bakteri penyebab jerawat. Terlalu banyak konsumsi makanan yang tinggi karbohidrat. Konsumsi karbohidrat atau gula secara berlebihan dapat memicu jerawat pada wajah.  Sering memegang jerawat dengan tangan yang tidak bersih, yang akan meningkatkan reaksi infeksi pada jerawat tersebut. Melakukan perawatan kulit yang salah, seperti chemical peeling (proses pengelupasan kulit, tindakan ini dilakukan untuk mengelupas kulit mati dan merangsang pembentukan kulit yang baru) tidak boleh dilakukan saat berjerawat parah dan malah akan membuat kulit semakin rusak Menggunakan make-up atau krim yang mengandung bahan yang bersifat komedogenik (cikal bakal dari jerawat)  misalnya Acetylated Lanolin, Propylene Glycol Monostearate.  Terlalu sering mengganti make-up maupun krim perawatan kulit.  Perawatan kulit yang tidak baik juga dapat mengakibatkan cikal bakal jerawat masih tersimpan dibawah kulit dan apabila terjadi ketidakseimbangan hormon ataupun perawatan kulit kurang baik, cikal bakal jerawat tersebut dapat keluar dan timbul kembali. Sekarang kalian semua sudah tahu apa penyebab jerawat, jadi hindari penyebab jerawat tersebut untuk mendapatkan kulit bebas jerawat.