Your browser does not support JavaScript!
 31 May 2019    11:00 WIB
Mengenal Autisme (Gejala, Pengobatan)
Autisme dapat muncul dalam bentuk yang berbeda-beda pada tiap orang sehingga pengobatannya juga dibuat khusus untuk kebutuhan tiap orang. Pada artikel ini kita akan membicarakan pengobatan utama untuk mengobati autisme pada anak-anak dan orang dewasa. Apakah autisme itu?Autisme adalah kecacatan perkembangan dan gangguan neurologis yang memiliki beragam bentuk. Hal tersebut dikenal sebagai  Autism Spectrum Disorder atau pervasive developmental disorder, autisme adalah bentuk gangguan komunikasi, interaksi sosial dan perilaku berulang dan lebih sering ditemukan pada anak-anak. Gejala dari autismeTidak ada pengobatan menyeluruh untuk autisme, tetapi ada banyak erapi yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejala dari autisme.Gejala bisa meliputi isolasi sosial, menghindari kontak fisik, menghindari suara keras dan kurangnya kemampuan sosial. Anak-anak dengan autisme atau orang dewasa dengan autisme juga sangat kurang empatinya, sehingga mereka tidak dapat menunjukkan perasaannya kepada orang lain. Pengobatan untuk autismeGejala-gejala dari autisme dapat dikurangi dengan melakukan berbagai terapi yang dibuat khusus untuk menangkal pola perilaku negatif. Pengobatan yang tepat tepat waktu adalah kunci untuk mengendalikan autisme. Anak dengan autisme akan menjalani sesi terapi perilaku untuk mengembangkan keterampilan interaksi sosial dan pembelajaran perubahan obyektif supaya gejala anak membaik. Autisme juga bisa diobati dengan obat-obatan dan terapi perilaku. Sangat penting juga untuk memperhatikan berbagai masalah kesehatan yang timbul karena autisme seperti gangguan tidur, kejang dan masalah pencernaan. Anak-anak yang menjalani terapi perilaku akan mampu mengembangkan kemampuan interaksi sosial dan belajar berbagai perubahan objek. Orang tua juga akan dilatih dan diajarkan bagaimana mengahadapi dan bagaimana mengurangi gejala-gejala dari autisme. Terapi akan memfokuskan pada kemampuan motorik, kemampuan komunikasi, berbicara, interaksi sosial, kemampuan bermain dan bagaimana berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Pengobatan untuk autisme dapat dipecah menjadi terapi perilaku, terapi bicara, terapi berbasis bermain, terapi fisik, terapi okupasi dan terapi nutrisis. Semua bentuk terapi itu sangat penting, dan yang lebih penting lagi memilih terapis yang baik dan profesional untuk meminimalisir munculnya berbagai gangguan perilaku Ingin mengetahui lebih banyak mengenai autisme? Silahkan baca di siniSumber: healthmeup
 14 Feb 2019    18:00 WIB
Gangguan Tidur Pada Anak Autis
Bukan hanya orang dewasa yang dapat mengalami gangguan tidur, anak-anak pun dapat mengalaminya. Gangguan tidur dapat berupa kesulitan memulai tidur atau sering terbangun dari tidur. Gangguan tidur pada anak lebih sering terjadi pada anak yang menderita autisme (40-80%). Gangguan tidur yang biasa terjadi adalah: Kesulitan memulai tidur Waktu tidur yang terus berubah-ubah Tidur tidak nyenyak Sering terbangun atau mudah terbangun   Penyebab Gangguan Tidur Pada Anak Autis Faktor Sosial Penyebab gangguan tidur pada anak autis tidak diketahui, namun terdapat beberapa teori yang mungkin menjadi penyebabnya. Salah satunya adalah faktor sosial. Anak-anak pada umumnya mengetahui kapan waktu tidurnya. Mereka mengetahuinya dari lingkungan dan dari perilaku anggota keluarganya. Akan tetapi, anak dengan autisme seringkali salah mengartikan berbagai perilaku tersebut, sehingga mereka tidak mengetahui kapan saatnya tidur dan kapan saatnya bangun. Faktor Hormonal Melatonin merupakan hormon yang berfungsi untuk mengatur siklus tidur anda. Untuk membentuk hormon ini, tubuh memerlukan suatu asam amino, triptofan. Pada autisme, kadar triptofan dapat lebih tinggi atau lebih rendah dari kadar normalnya yang menyebabkan gangguan pembentukan hormon melatonin yang pada akhirnya menyebabkan gangguan siklus tidur. Berdasarkan penelitian, kadar hormon melatonin meningkat pada malam hari dan turun pada siang hari. Akan tetapi, pada autisme kadar hormon ini tidak meningkat dan turun pada waktu yang sama dengan orang lainnya. Pada autisme hormon ini seringkali ditemukan meningkat pada siang hari dan menurun pada malam hari yang menyebabkan siklus tidur yang berbeda. Peningkatan Sensitivitas Terhadap Rangsangan dari Luar Penyebab lain yang dapat menyebabkan gangguan tidur pada anak dengan autisme adalah peningkatan sensitivitas terhadap rangsangan, seperti suara atau sentuhan. Hal ini membuat anak mudah sekali terbangun dan sering terbangun saat tidur. Cemas Anak autis lebih mudah merasa cemas daripada anak-anak lainnya. Rasa cemas ini dapat membuat anak sulit tidur.   Kurang Tidur dan Akibatnya Seringnya anak terbangun atau sulitnya anak untuk memulai tidur menyebabkan waktu tidur anak menjadi sangat sedikit. Kurangnya tidur pada anak autis sangat mempengaruhi berbagai gejala yang sering timbul pada anak autis, yaitu: Perilaku agresif Depresi Perilaku hiperaktif Mudah marah Rendahnya kemampuan belajar dan berpikir Bukan hanya anak anda saja yang mengalami gangguan tidur dan kurang tidur, anda pun demikian. Tidur yang tidak nyenyak dan sering terbangun dapat mempengaruhi kesehatan anda.   Apakah Anak Anda Mengalami Gangguan Tidur ? Setiap anak memerlukan lama tidur yang berbeda-beda. Anak usia 1-3 tahun biasanya memerlukan tidur selama setidaknya 12-14 jam setiap harinya. Anak usia 4-6 tahun biasanya memerlukan tidur selama 10-12 jam setiap harinya. Anak usia 7-12 tahun biasanya memerlukan tidur selama 10-11 jam setiap harinya. Bila anak anda seringkali terbangun saat tidur, mudah terbangun saat tidur, atau sulit memulai tidur; anak anda mungkin mengalami gangguan tidur. Konsultasikan masalah ini dengan dokter anda untuk memperoleh penanganan yang tepat.    Apa yang Dapat Dilakukan ? Penggunaan obat tidur pada anak jarang dianjurkan. Hal ini merupakan upaya terakhir bila semua cara lainnya tidak berhasil. Di bawah ini terdapat beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk membantu anak anda, yaitu: Jangan memberikan anak anda gula atau minuman yang mengandung kafein sebelum tidur Tentukan waktu tidur yang sama setiap harinya, dengan aktivitas sebelum tidur yang hampir sama Bantu anak anda merasa rileks (menyanyikan nina bobo atau membacakan cerita) Matikan TV, musik, atau hal-hal lainnya yang dapat menstimulasi anak 1 jam sebelum tidur Untuk mengurangi suara dan cahaya selama anak tidur, tutuplah jendela dan gordennya; usahakan agar anda tidak menimbulkan suara di kamar anak anda selama anak tertidur Bila hal-hal di atas tidak membantu anak anda, segeralah hubungi dokter anda untuk penanganan lebih lanjut.   Sumber: webmd
 15 Dec 2018    16:00 WIB
Mengenali Perbedaan Antara Autisme dan Retardasi Mental
Apa Itu Autisme?Autisme merupakan suatu keadaan di mana anak mengalami perubahan perilaku sosial, sering melakukan gerakan yang sama berulang-ulang, dan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, baik komunikasi verbal maupun non verbal. Apa Itu Retardasi Mental?Retardasi mental merupakan suatu gangguan fungsi kognitif yang diikuti dengan penurunan IQ, yaitu kurang dari 70.Perbedaan PenyebabPenyebab terjadinya autisme tidak diketahui dengan jelas, akan tetapi faktor genetika diduga memiliki peranan penting. Sementara itu, retardasi mental biasanya disebabkan oleh kelainan kongenital seperti sindrom Down, sindrom Klinefelter, hipoksia (kekurangan oksigen) selama persalinan, terpapar oleh zat racun tertentu (alkohol dan rokok) selama kehamilan, atau kekurangan iodium. Perbedaan GejalaAutismeAnak yang menderita autis biasanya lebih suka bermain sendirian dan mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan anak-anak lainnya dan orang dewasa. Anak autis biasanya jarang melakukan kontak mata saat berbicara dan sering melakukan gerakan yang sama secara berulang-ulang. Perubahan apapun pada lingkungan sekitarnya cenderung membuat anak merasa terganggu. Sebagian besar anak autis memiliki IQ normal dan beberapa anak lain bahkan memiliki IQ yang tinggi. Anak autis kurang dapat menunjukkan emosinya dan sulit membangun suatu hubungan atau kedekatan dengan orang lain. Baik anak autis maupun anak penderita retardasi mental menyukai musik dan keduanya pun cenderung menarik diri dari lingkungan sekitarnya, akan tetapi anak autis mengalami kesulitan berkomunikasi akibat keterlambatan penyampaian impuls, sementara anak penderita retardasi mental mengalami kesulitan berkomunikasi akibat adanya gangguan fungsi otak yang berperan dalam proses perkembangan keterampilan. Anak autis seringkali mengulang kata-kata yang sama dan melakukan suatu gerakan yang sama berulang-ulang. Retardasi MentalAnak yang menderita retardasi mental cenderung mengalami keterlambatan perkembangan, termasuk dalam perkembangan berbicara dan berjalan. IQ yang rendah membuat anak memiliki kemampuan daya ingat dan kemampuan belajar serta kemampuan menganalisis yang lebih rendah daripada anak-anak lainnya. Seringkali, anak yang mengalami retardasi mental juga mengalami fase vegetatif total yang membatasi perilaku dan pergerakan anak. Selain itu, anak penderita retardasi mental juga membutuhkan perhatian khusus dan seringkali tidak dapat hidup mandiri. Berbeda dengan anak autis, anak dengan retardasi mental mudah menjalin ikatan atau kedekatan dengan orang lain. Perbedaan PengobatanBagi anak penderita autis, diperlukan terapi konseling dan pendidikan khusus yang membuat mereka lebih dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak lainnya. Anak autis seringkali juga mengalami kesulitan untuk menunjuk suatu benda tertentu sehingga diperlukan pendidikan khusus agar mereka mampu menunjuk benda yang tepat. Untuk merawat anak penderita retardasi mental, diperlukan kesabaran dan kasih sayang serta perhatian yang lebih karena mereka memiliki kecepatan belajar yang lebih lambat daripada anak-anak lainnya. Anak penderita retardasi mental akan mengalami kesulitan saat harus melakukan sesuatu yang membutuhkan kemampuan berpikir, logika, dan analisa. Oleh karena itu, pendidikan khusus yang diberikan lebih bertujuan untuk mengajar suatu keterampilan khusus sehingga mereka dapat hidup mandiri, baik dalam segi keuangan maupun berkomunikasi. Sumber: differencebetween
 12 Sep 2018    11:00 WIB
Kelainan Jiwa Pada Anak, Bagaimana Cara Mengenalinya ?
Bukan hanya orang dewasa yang dapat mengalami kelainan pada kepribadian maupun jiwanya, anak-anak pun dapat mengalaminya. Akan tetapi, kelainan jiwa pada anak seringkali terlambat dikenali sampai anak tumbuh dewasa. Akibatnya, pengobatan yang seharusnya dapat segera diberikan untuk memperbaiki kelainan ini tidak dapat diberikan. Tidak terdeteksinya kelainan jiwa pada masa kanak-kanak seringkali disebabkan oleh ketidaktahuan orang tua mengenai gejala kelainan jiwa yang dapat terjadi pada anak. Sulitnya membedakan perilaku anak-anak pada umumnya dengan perilaku anak dengan kelainan jiwa membuat diagnosa dini menjadi semakin sulit.   Berbagai Jenis Kelainan Jiwa Pada Anak 1.      Gangguan Cemas Yang termasuk gangguan cemas adalah gangguan obsesif kompulsif, sindrom stress paska trauma, fobia sosial, dan gangguan kecemasan menyeluruh. Pada kelainan ini, anak biasanya selalu merasa cemas setiap waktu, yang  bahkan dapat mengganggu aktivitasnya sehari-hari.   2.      ADHD Merupakan suatu kelainan di mana anak tidak dapat atau kesulitan memusatkan perhatiannya, memiliki perilaku impulsif dan hiperaktif.   3.      Autisme Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan berat pada anak yang biasa terjadi pada usia dini, di bawah usia 3 tahun. Kelainan ini menyebabkan anak sulit berkomunikasi dengan orang lain dan sulit berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.   4.      Gangguan Makan Yang termasuk gangguan makan adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan binge. Kelainan ini paling sering terjadi saat anak mengalami pubertas dan mulai memperhatikan bentuk tubuh, terutama berat badannya. Anak bahkan dapat mengabaikan semua hal lainnya dan hanya memperhatikan berat badannya saja.   5.      Gangguan Mood Yang termasuk kelainan ini adalah depresi dan gangguan bipolar (merasa sedih dan gembira secara bergantian). Anak biasanya selalu murung atau seringkali menunjukkan perubahan mood yang ekstrem.   6.      Skizofrenia Kelainan ini merupakan kelainan jiwa berat yang menyebabkan anak kehilangan kemampuan untuk membedakan antara imajinasi dan kenyataan.   Tanda Awal Kelainan Jiwa Pada Anak 1.      Mood Berubah-ubah Perhatikan bila anak terlihat sedih atau murung atau menarik diri dari lingkungan selama setidaknya dua minggu. Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah adanya perubahan mood yang berlebihan yang bahkan mengganggu kehidupan sosial anak di sekolah maupun di rumah.   2.      Rasa Takut yang Berlebihan Adanya rasa takut atau khawatir berlebihan tanpa alasan yang jelas, yang bahkan dapat disertai dengan peningkatan denyut jantung dan napas cepat dapat merupakan tanda awal adanya suatu masalah pada psikologis anak. Hal ini biasanya dapat mengganggu aktivitas anak sehari-hari.   3.      Perubahan Perilaku Adanya perubahan perilaku atau kepribadian yang ekstrim, termasuk perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain juga merupakan salah satu tanda kelainan jiwa pada anak.   4.      Sulit Konsentrasi Sulit berkonsentrasi atau memusatkan perhatiannya atau duduk diam selama berada di kelas atau rumah juga dapat merupakan tanda adanya suatu kelainan pada anak.   5.      Penurunan Berat Badan Tiba-tiba Penurunan nafsu makan secara tiba-tiba, sering muntah, dan penggunaan obat-obat pencahar dapat merupakan tanda awal anak menderita gangguan makan, baik anoreksia nervosa, bulimia nervosa, maupun binge.   6.      Perilaku Melukai Diri Sendiri Kelainan jiwa seringkali berujung pada pikiran atau keinginan atau perilaku melukai diri sendiri, bahkan bunuh diri.   7.      Penggunaan Zat-zat Terlarang Penggunaan obat-obat terlarang atau alkohol dapat merupakan salah satu cara anak untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.   Pengobatan yang Dapat Dilakukan Bila anda mendapati anak anda mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter anda. Dengan demikian, dokter dapat memberikan penanganan sedini mungkin. Pengobatan kelainan jiwa baik pada anak maupun dewasa biasanya dilakukan dengan mengkombinasikan psikoterapi dengan obat-obatan untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin.   1.      Psikoterapi Psikoterapi atau terapi perilaku atau konseling merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu anak mengatasi keadaannya. Pada psikoterapi, anak diharapkan dapat mengungkapkan perasaannya dan permasalahan yang ada. Dengan demikian, anak dapat mengetahui apa sebenarnya yang ia rasakan, apa permasalahan yang sebenarnya, dan bagaimana cara menghadapinya.   2.      Obat-obatan Anak anda mungkin diharuskan untuk mengkonsumsi beberapa jenis obat-obatan untuk membantu mengatasi perubahan mood ataupun rasa sedih yang berlebihan.
 06 Sep 2018    08:00 WIB
Bagaimana Tips Perawatan Anak Autis ?
Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan gangguan interaksi sosial,  gangguan komunikasi verbal dan non verbal, serta adanya gerakan berulang-ulang. Autisme terjadi akibat adanya gangguan pada proses penghantaran saraf, penyebabnya tidak diketahui. Diagnosa ditegakkan berdasarkan pada gejala yang timbul sebelum anak berusia 3 tahun. Autisme lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Prevalensi autisme adalah 1-2 orang per 1.000 penduduk. Orang tua biasanya mulai menyadari gejala autisme pada 2 tahun pertama kehidupan anaknya, gejala ini dapat timbul secara perlahan, atau anak mengalami perkembangan yang normal kemudian tiba-tiba menurun. Walaupun belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan autisme, namun dengan diagnosa dini, perawatan yang tepat, dan terapi dini dapat membantu anak untuk dapat hidup mandiri. Terapi perilaku, kognitif, dan wicara dini pada anak autis dapat membantu anak untuk hidup lebih mandiri dan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi serta interaksi sosial anak. Di bawah ini terdapat beberapa tips yang dapat membantu anda.   Masuki Dunia Mereka Orang tua memainkan peran yang sangat penting dalam membantu perkembangan anak.   Seperti anak-anak yang lainnya, anak autis terutama belajar melalui permainan. Oleh karena itu, bergabunglah dengan anak ketika dia sedang bermain, tariklah anak dari perilaku dan ritualnya yang sering diulang-ulang, dan tuntunlah mereka menuju kegiatan yang lebih beragam. Misalnya, orang tua mengajak anak mengitari kamarnya, kemudian tuntun mereka ke ruang yang lain. Orang tua perlu memasuki dunia mereka untuk membantu mereka masuk ke dunia luar.   Berikan Pujian Kata-kata pujian karena telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, kadang tidak berarti apa-apa bagi anak autis. Temukan cara lain untuk mendorong perilaku yang baik dan untuk mengangkat harga dirinya. Misalnya berikan waktu lebih untuk bermain dengan mainan kesukaannya jika anak telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.   Gambar dan Komunikasi Anak autis belajar lebih baik jika informasi disampaikan secara visual (melalui gambar) dan verbal (melalui kata-kata). Masukkan komunikasi augmentatif ke dalam kegiatan rutin sehari-hari dengan menggabungkan kata-kata dan foto, lambang atau isyarat tangan untuk membantu anak mengutarakan kebutuhan, perasaan dan gagasannya.   Ajaklah Berbicara Tujuan dari pengobatan adalah membuat anak autis berbicara. Tetapi sebagian anak autis tidak dapat bermain dengan baik, padahal anak-anak mempelajari kata-kata baru melalui permainan. Sebaiknya orang tua tetap berbicara kepada anak autis, sambil menggunakan semua alat komunikasi dengan mereka, baik berupa isyarat tangan, gambar, foto, lambang, bahasa tubuh maupun teknologi.   Latih Komunikasi Jadwal kegiatan sehari-hari, makanan dan aktivitas favorit, serta teman dan anggota keluarga lainnya dapat menjadi bagian dari sistem gambar dan membantu anak untuk berkomunikasi dengan dunia di sekitarnya.   Program Intervensi Dini Hal terpenting yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah menemukan program intervensi dini yang baik bagi anak autis. Tujuan pertama adalah menembus tembok penghalang interaksi sosial anak dan mengutamakan komunikasi dengan orang lain melalui cara menunjuk jari, menggunakan gambar dan kadang bahasa isyarat serta kata-kata.   Program intervensi dini menawarkan pelayanan pendidikan dan pengobatan untuk anak-anak berusia di bawah 3 tahun yang telah didiagnosis mengalami ketidakmampuan fisik atau kognitif. Program intervensi dini terdiri dari: Terapi fisik dan terapi okupasional (pengobatan dengan memberikan pekerjaan atau kegiatan tertentu) Terapi wicara dan bahasa Pendidikan masa kanak-kanak dini Perangsangan sensorik Program intervensi dini akan membantu orang tua dan anak autis pindah dari intervensi dini ke dalam sistem sekolah umum. Program ini juga akan membantu memilihkan lingkungan yang paling tepat untuk pendidikan anak autis, apakah di sekolah biasa atau di kelas khusus anak autis yang menawarkan pendidikan dan pelayanan pengobatan yang lebih intensif dengan jumlah murid yang terbatas.   Program Pendidikan Program pendidikan untuk anak autis sangat terstruktur, menitikberatkan kepada kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi serta teknik pengelolaan perilaku positif. Strategi yang digunakan di dalam kelas sebaiknya juga diterapkan di rumah sehingga anak memiliki lingkungan fisik dan sosial yang tidak terlalu berbeda. Dukungan pendidikan seperti terapi wicara, terapi okupasional dan terapi fisik merupakan bagian dari pendidikan di sekolah anak autis. Keterampilan lainnya, seperti memasak, berbelanja atau menyeberang jalan, akan dimasukkan ke dalam rencana pendidikan individual untuk meningkatkan kemandirian anak. Tujuan keseluruhan untuk anak adalah membangun kemampuan sosial dan berkomunikasi sampai ke tingkat tertinggi atau membangun potensinya yang tertinggi.   Obat-obatan Pada masa remaja, beberapa perilaku agresif dapat semakin sulit dihadapi dan sering menimbulkan depresi. Kadang obat-obatan dapat membantu meskipun tidak dapat menghilangkan penyebabnya. Obat-obatan biasanya digunakan untuk mengendalikan perilaku yang sangat agresif dan membahayakan diri sendiri.
 04 Jul 2018    11:00 WIB
Perbaiki Kesehatan dengan Memelihara Binatang
Tahukah anda bahwa memelihara binatang dapat menangkal depresi, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh ? Menghabiskan waktu bersama hewan peliharaan anda, seperti anjing, kucing, atau binatang lainnya dapat memperbaiki mood anda dan juga berpengaruh baik bagi kesehatan anda. Memiliki binatang peliharaan juga dapat melawan stress.   1.      Miliki Jantung yang Lebih Sehat Dengan memiliki anjing sebagai binatang peliharaan anda, anda dapat menurunkan resiko penyakit jantung. Hal ini dikarenakan bila anda memiliki anjing, maka anda memiliki lebih banyak kesempatan untuk berjalan saat menemani anjing anda berjalan-jalan dan dengan demikian dapat menurunkan tekanan darah anda sehingga resiko anda untuk mengalami penyakit jantung pun menjadi lebih rendah. Berdasarkan penelitian, walaupun anda telah memiliki penyakit jantung, memelihara anjing tetap dapat memberikan pengaruh yang baik bagi jantung dan kesehatan anda secara keseluruhan.   2.      Pereda Stress Bermain bersama binatang peliharaan anda atau sekedar mengelus-elus badan binatang peliharaan anda dapat membuat anda merasa lebih baik. Dengan melakukan ini, tekanan darah anda dapat menurun, membuat tubuh mengeluarkan hormon relaksasi, dan juga menurunkan kadar hormon stress. Selain bermanfaat bagi kesehatan anda, hal ini pun baik bagi kesehatan binatang peliharaan anda.   3.      Membantu Kehidupan Sosial Anda Saat anda berjalan-jalan dengan anjing anda akan lebih mudah bagi orang lain untuk menyapa dan bahkan berbincang-bincang dengan anda. Bila anda sedang berjalan sendirian dan ada seseorang yang mengajak anda berbicara, anda tentunya akan merasa canggung. Akan tetapi, saat anda bersama anjing atau binatang peliharaan anda, maka hal ini dapat memudahkan orang lain untuk memulai perbincangan dengan anda tanpa membuat anda atau orang lain tersebut merasa canggung.   4.      Memperbaiki Mood Orang yang memiliki binatang peliharaan biasanya merasa lebih bahagia, lebih mudah mempercayai orang lain, dan tidak merasa terlalu kesepian, serta lebih jarang sakit. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya perasaan bahwa anda diperlukan dan selalu ada yang menunggu anda dan menyambut anda dengan senang saat anda pulang ke rumah.   5.      Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh Beberapa penelitian menemukan bahwa bayi yang terlahir dalam keluarga yang memelihara binatang peliharaan memiliki resiko yang lebih rendah terhadap asma dan berbagai jenis alergi. Efek ini hanya terjadi bila paparan terjadi saat bayi berusia di bawah 6 bulan. Sebuah penelitian lainnya menunjukkan bahwa bayi yang terlahir dalam keluarga yang memiliki anjing atau kucing lebih jarang mengalami demam dan infeksi telinga selama satu tahun pertama kehidupannya daripada bayi yang terlahir dalam keluarga yang tidak memiliki hewan peliharaan.   6.      Membantu Anak Dengan Autisme Seorang ahli menemukan bahwa anak-anak akan memiliki hubungan yang lebih baik dengan temannya yang menderita autisme saat terdapat binatang peliharaan di dalam kelas. Hal ini mungkin disebabkan oleh anak-anak akan bereaksi secara lebih positif dan dapat bekerja sama dengan lebih baik dengan satu sama lain saat ada hewan peliharaan di antara mereka.   Sumber: webmd
 01 May 2017    12:00 WIB
Kurangnya Konsumsi Zat Besi Selama Hamil Tingkatkan Resiko Terjadinya Autisme Pada Janin
  Sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang mengalami kekurangan zat besi dan memiliki berbagai faktor resiko lainnya memiliki resiko menderita gangguan autisme 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati apa sebenarnya hubungan antara konsumsi zat besi sang ibu dan resiko terjadinya autisme pada seorang anak. Hubungan antara peningkatan resiko terjadinya gangguan autisme dengan kuranganya asupan zat besi (dalam bentuk suplemen) pada ibu hanya terjadi bila ibu berusia 35 tahun atau lebih saat melahirkan atau bila sang ibu menderita suatu gangguan metabolik seperti obesitas, tekanan darah tinggi, atau diabetes. Para peneliti mengamati sepasang ibu dan anak yang terdiri dari ibu yang memiliki anak yang menderita gangguan autisme dan ibu yang memiliki anak yang menderita gangguan perkembangan tertentu. Pada penelitian ini, para peneliti memeriksa berapa asupan zat besi sang ibu, termasuk berapa banyak vitamin, berbagai suplemen nutrisi lainnya, dan sereal yang dikonsumsi oleh sang ibu selama 3 bulan sebelum kehamilan terjadi dan selama kehamilan berlangsung hingga masa menyusui. Kekurangan zat besi dan anemia merupakan salah satu defisiensi nutrisi yang paling sering terjadi, terutama selama kehamilan berlangsung, yang mengenai sekitar 40-50% wanita hamil dan bayinya. Zat besi merupakan salah satu mineral penting yang dibutuhkan oleh tubuh untuk proses perkembangan otak awal, proses produksi neurotransmiter, mielinisasi, dan fungsi sistem kekebalan tubuh. Walaupun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kebenaran teori ini, para peneliti menganjurkan para ibu hamil untuk mengkonsumsi berbagai suplemen yang dianjurkan oleh para dokter. Jika Anda mengalami efek samping, berkonsultasilah dengan dokter Anda.       Sumber: foxnews
 21 Nov 2016    11:00 WIB
Tanda Terlambatnya Perkembangan Sosial dan Emosional Pada Anak
Anak-anak mungkin dapat mengalami gangguan interaksi (berhubungan dengan orang lain), baik dengan orang dewasa maupun dengan anak-anak lainnya. Keadaan ini mungkin merupakan tanda keterlambatan perkembangan sosial dan atau emosional. Gangguan ini biasanya mulai timbul sebelum anak memulai masa sekolah.PenyebabBeberapa hal yang dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan sosial dan emosional pada anak, yaitu:•  Kurangnya perhatian dari orang tua•  Gangguan dalam menjalin hubungan dengan orang tua•  Kesulitan belajar Berbagai hal lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya keterlambatan perkembangan sosial dan emosional adalah berbagai gangguan yang termasuk dalam spektrum gangguan autistik. Gangguan ini juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan komunikasi, mulai dari ringan hingga berat. Berbagai gangguan yang termasuk dalam spektrum gangguan autistik (ASD) adalah:•  Autisme•  Sindrom Asperger•  Gangguan disintegratif pada anak-anak•  Sindrom RettPengobatanTidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan ASD. Akan tetapi, beberapa langkah pengobatan yang sering dilakukan untuk membantu mengurangi gejala ASD adalah:•  Pengobatan untuk membantu mengatasi gangguan perilaku•  Terapi perilaku dan keterampilan khusus Pengobatan sedini mungkin dapat membuat perbedaan yang cukup besar dalam perkembangan anak anda. Tergantung pada jenis keterlambatan perkembangan yang terjadi, pengobatan dapat berupa terapi bermain atau terapi untuk membantu membangun hubungan antara orang tua dan anak.Tanda Awal Keterlambatan Perkembangan Sosial dan EmosionalSegera hubungi dokter anak anda bila anak anda mengalami berbagai gejala di bawah ini atau bila anak anda mengalami kemunduran atau kehilangan kemampuan yang telah dikuasai. Usia 3 BulanSegera hubungi dokter anak anda bila anak anda mengalami beberapa gejala di bawah ini, yaitu:•  Tidak tersenyum pada orang lain•  Tidak tampak memperhatikan wajah yang baru pertama kali dilihatnya atau malah terlihat ketakutan saat melihat wajah baru Usia 7 BulanSegera hubungi dokter anak anda bila anak anda mengalami beberapa gejala di bawah ini, yaitu:•  Menolak pelukan•  Tidak menunjukkan tanda sayang pada orang tua atau orang yang merawatnya•  Tidak tampak bahagia saat berada bersama orang lain•  Tidak dapat ditenangkan saat malam hari (setelah anak berusia 5 bulan)•  Tidak pernah tersenyum tanpa alasan (saat berusia 5 bulan)•  Tidak pernah tertawa atau memekik (saat berusia 6 bulan)•  Tidak tertarik dengan permainan cilukba (saat berusia 8 bulan) Usia 1 TahunSegera hubungi dokter anak anda bila anak anda mengalami beberapa gejala di bawah ini, yaitu:•  Tidak pernah saling bertukar suara (mengobrol), senyuman, atau ekspresi wajah (saat berusia 9 bulan)•  Tidak adanya gerakan tertentu seperti melambai, berusaha menggapai, atau menunjuk sesuatu bendaSumber: webmd
 12 Sep 2014    10:00 WIB
Apa Penyebab Terjadinya Gangguan Autisme Pada Anak?
Penyebab utama terjadinya gangguan autisme masih tidak diketahui. Akan tetapi, para ahli yakin bahwa mereka telah menemukan beberapa hal yang dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan autisme pada seorang anak.   Bentuk Otak Gangguan pada beberapa bagian otak manusia dapat menjadi petunjuk adanya gangguan autisme pada seorang anak. Beberapa peneliti menemukan bahwa adanya gangguan pada bagian otak yang bertugas untuk mengatur gerakan tubuh dan emosi dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan autisme. Penelitian lainnya menemukan bahwa otak seorang penderita autisme memiliki ukuran dan struktur yang berbeda dengan orang lainnya yang tidak menderita autisme. Saat ini para peneliti sedang meneliti mengenai ada tidaknya hubungan antara neurotransmiter di dalam otak dengan peningkatan resiko terjadinya gangguan autisme pada seorang anak.   Genetika Berbagai penelitian menemukan bahwa gangguan autisme lebih sering terjadi pada orang yang memiliki anggota keluarga yang juga menderita gangguan autisme. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetika juga turut berperan dalam terjadinya autisme. Selain itu, beberapa gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kelainan genetika juga telah ditemukan berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya gangguan autisme. Beberapa gangguan kesehatan tersebut adalah sindrom kromosom X yang rapuh (fragile X syndrome) dan sklerosis tuberous. Hubungan antara sklerosis tuberous dengan gangguan autisme memang belum jelas, akan tetapi berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa gangguan autisme lebih banyak terjadi pada anak-anak yang juga menderita sklerosis tuberous. Beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai hubungan antara genetika dan gangguan autisme adalah: Jika salah satu anak kembar identik menderita gangguan autisme, maka kemungkinan saudara kembarnya untuk juga menderita gangguan autisme adalah sebesar 60-96% Bila salah satu anak kembar tidak identik menderita gangguan autisme, maka kemungkinan saudara kembarnya untuk juga menderita gangguan autisme adalah sebesar 24% Jika sebuah keluarga telah memiliki seorang anak yang menderita gangguan autisme, maka kemungkinan bahwa anak-anaknya yang lain juga akan menderita gangguan autisme adalah antara 2-8% Sekitar 10% anak penderita gangguan autisme juga memiliki gangguan genetika, neurologis, atau metabolisme lainnya   Paparan Terhadap Obat-obatan dan Zat Kimia Tertentu Obat-obatan Beberapa jenis obat-obatan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan autisme pada janin bila dikonsumsi oleh wanita hamil adalah thalidomide dan asam valproat. Thalidomide merupakan obat yang digunakan untuk mengobati seseorang yang baru saja didiagnosa menderita mieloma multipel. Sedangkan asam valproat banyak digunakan untuk mengatasi beberapa gangguan kesehatan seperti beberapa jenis kejang dan gejala gangguan manik pada seorang penderita gangguan bipolar. Selain itu, asam valproat juga dapat digunakan untuk mencegah terjadinya migrain. Zat Kimia Berbagai jenis racun yang terdapat pada lingkungan dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan autisme pada anak. Sebuah penelitian di Amerika menduga adanya hubungan antara gangguan autisme dan polutan udara seperti merkuri, cadmium, nikel, dan vinil klorida.     Sumber: healthline
 19 May 2014    13:00 WIB
Benarkah Lingkungan Turut Berperan Dalam Terjadinya Autisme?
Para ahli masih belum dapat menemukan penyebab pasti dari autisme, akan tetapi para ahli menduga bahwa keadaan ini (autisme) dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti genetika dan lingkungan.Sebuah penelitian baru menemukan bahwa berbagai racun yang terdapat pada lingkungan mungkin memiliki peranan yang cukup besar pada terjadinya gangguan perkembangan saraf. Sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa terdapat hubungan antara autisme dan penurunan intelektual dengan banyaknya kasus kelainan genital pada bayi laki-laki yang baru lahir. Para peneliti menduga bahwa hubungan ini merupakan penanda adanya paparan berbahaya berbagai faktor lingkungan selama perkembangan janin di dalam kandungan. Seorang ahli genetika mengatakan bahwa selama kehamilan terdapat suatu waktu tertentu di mana janin sangat rentan terhadap berbagai jenis paparan zat berbahaya, seperti obat-obatan, pestisida, dan sebagainya; walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit. Zat-zat ini dapat menyebabkan perubhaan kecil yang dapat mempengaruhi perkembangan normal, terutama pada organ reproduksi laki-laki (kemaluan). Para ahli masih belum menemukan mengapa hal ini dapat terjadi. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati perbandingan antara kasus autisme dengan kelainan kongenital pada organ reproduksi bayi laki-laki dan perempuan. Setelah mempertimbangkan berbagai hal seperti jenis kelamin, ras, status sosial ekonomi, dan faktor geopolitical; para peneliti menemukan bahwa terjadi peningkatan rasio autisme sebesar 283% untuk setiap 1% peningkatan resiko kelainan kongenital. Sementara itu, rasio penurunan intelektual juga mengalami peningkatan sebanyak 94% untuk setiap 1% peningkatan resiko kelainan kongenital. Hubungan ini lebih jelas pada bayi laki-laki daripada bayi perempuan.Sumber: foxnews