Your browser does not support JavaScript!
 17 Sep 2020    09:00 WIB
Ini Pertolongan Pertama Pada Penderita ASMA
Penyakit asma berasal dari kata "Asthma" yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti "sukar bernapas." Penyakit asma dikenal karena adanya gejala sesak napas, batuk dan "mengi" yang disebabkan oleh penyempitan saluran napas. Jadi Asma adalah : 1. Penyakit paru-paru kronis yang menyebabkan penderita sulit bernapas. Hal ini disebabkan karena pengencangan dari otot sekitar saluran pernafasan, peradangan, rasa nyeri, pembengkakan, dan iritasi pada saluran nafas di paru-paru. 2. Penyakit yang disebabkan oleh peningkatan respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam – macam stimuli yang ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih – lebihan dari kelenjar – kelenjar di mukosa bronchus. 3. Penyakit paru-paru kronis yang menyebabkan penderita sulit bernapas. Hal ini disebabkan karena pengencangan dari otot sekitar saluran pernafasan, peradangan, rasa nyeri, pembengkakan, dan iritasi pada saluran nafas di paru-paru. Dengan kata lain Asma adalah suatu keadaan di mana terjadi penyempitan pada aliran nafas akibat dari rangsangan tertentu (pemicu) sehingga menyebabkan peradangan dan menyebabkan sulitnya bernafas dan berbunyi "ngik-ngik" setiap bernafas. Asma dapat disebabkan oleh alergi dan tekanan psikis. Tanda-tandanya dapat diawali dengan batuk cepat tanpa jeda, leher kaku dan menegang, terlihat sulit bernapas dengan periode menghembuskan napas yang panjang. Terkadang disertai bunyi "mengi" saat mengeluarkan napas, cemas, kulit wajah pucat dan membiru serta keringat dingin. Jika dibiarkan bisa menyebabkan pingsan. Asma membutuhkan penanganan segera sebab dapat berbahaya. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain: 1. Tenangkan penderita, Bantu penderita untuk duduk dan istirahat. Jangan memaksa penderita untuk tidur terlentang karena penderita lebih nyaman dalam keadaan duduk. 2. Gunakan oksigen 4-6 liter permenit, jika tersedia. 3. Bantu penderita mengambilkan atau mencarikan obat. dan biarkan penderita menggunakan obat inhalernya sendiri. (Obat yang biasa dipakai untuk pengobatan asma adalah golongan agonis B2 (contohnya :Salbutamol 5 mg) inhalasi nebulasi pemberian dapat diulang setiap 20 menit. Aminophilin dan kortikosteroid). 4. Sebisa mungkin hindari penderita dari sumber alergi. 5. Jangan banyak bertanya pada penderita, karena biasanya ia sulit berbicara. 6. Jika merupakan serangan pertama atau terlihat berkepanjangan atau penderita tidak sadarkan diri, segera bawa layanan medis terdekat. Faktor-faktor yang perlu di perhatikan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya serangan Asma : 1. Kenali pemicu asma dan hindari sebisa mungkin. 2. Jika anda perokok, Mulailah untuk berhenti merokok. 3. Istirahat yang cukup. 4. Jangan minum obat batuk untuk asma, obat batuk tidak membantu asma dan bisa menyebabkan hal yang tidak diinginkan. 5. Aspirin dan ibuprofen pada beberapa penderita asma menyebabkan asma menjadi lebih parah. sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
 14 Sep 2020    09:00 WIB
Pentingnya 4 Sehat 5 Sempurna Dalam Menghadapi COVID 19
Kita yang menginjak usia 40 tahunan tentu masih ingat dengan slogan 4 Sehat 5 Sempurna. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 atau GTPPC19 Doni Monardo mengadopsi slogan itu untuk menghadapi virus SARS-CoV-2 yang sedang melanda tanah air.  Dulu, slogan 4 Sehat 5 Sempurna digunakan sebagai pengingat yang mudah untuk masyarakat. Masyarakat membutuhkan asupan nutrisi untuk membangun kualitas manusia Indonesia yang andal. Slogan yang diciptakan tahun 1950-an oleh Prof. Poorwo Soedarmo berisikan lima kelompok makanan, yakni makanan pokok, lauk-pauk, sayur-sayuran, buah-buahan dan susu. Namun, slogan tersebut digunakan untuk menghadapi konteks saat ini, benteng terakhir menghalau virus Korona. Doni menggunakan slogan serupa untuk membangun manusia Indonesia dalam menghadapi serangan COVID-19.   Dilansir dari website resmi covid19.go.id, Doni mendefinisikan 4 Sehat 5 Sempurna sebagai upaya mencegah COVID-19. Empat sehat dari Doni yang juga Kepala BNPB ini, yaitu gunakan masker, jaga jarak, baik physical dan social distancing, rajin cuci tangan dengan sabun, dan olahraga, tidur teratur dan cukup serta tidak panik. Satu pesan yang membuat sempurna yaitu makanan yang bernutrisi. "Kalau dulu, 4 Sehat 5 Sempurna, karbohidrat, daging, ikan, sayuran, buah-buahan dan susu. Nah ini semuanya masuk pada poin ke-5 (versi Doni)," ujar Doni saat bertemu Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI Prof. Rini Sekarini di Graha BNPB, Jakarta, pada Rabu (27/5).  Slogan 4 Sehat 5 Sempurna sangat dibutuhkan di era COVID-19. Doni menyampaikan kita tidak menang melawan COVID-19. "Tidak ada manusia, negara yang bisa mengalahkan Covid, yang ada adalah beradaptasi," ujarnya. Di samping itu, Doni berharap slogan 4 Sehat 5 Sempurna dalam konteks menghadapi COVID-19 dapat mudah diingat oleh masyarakat.   Sementara itu, Ketua Tim Pakar GTPPC19 Prof. Wiku Adisasmito menyampaikan penting untuk mengenalkan suatu narasi, yaitu 4 Sehat 5 Sempurna, yang membantu setiap warga masyarakat untuk ‘berubah,’ khususnya dalam menghadapi COVID-19.  Doni menambahkan bahwa slogan ‘4 Sehat’ yang mampu diimplementasikan oleh setiap individu ini bertujuan untuk meningkatkan imunitas.  "Baru kemudian didukung dengan gizi," jelas Doni kepada Rini Sekarini yang juga Ketua IDAI DKI Jakarta. Prof. Rini merupakan cucu dari Prof. Poorwo Soedarmo, pencetus slogan 4 Sehat 5 Sempurna era dulu. Prof. Rini juga mendukung slogan ini dapat menjadi upaya gerakan masyarakat untuk hidup perilaku adaptif secara preventif untuk menghadapi pandemi COVID-19. Doni juga menambahkan bahwa Majelis Ulama Indonesia merespon slogan tersebut dan membahas lebih lanjut dan detail sehingga dapat disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Indonesia.   Artikel ini tayang di : Terapkan 4 Sehat 5 Sempurna Kekinian Hadapi COVID-19
 02 Sep 2020    13:00 WIB
Kenali Happy Hypoxia, Gejala Baru dari Covid-19
Pada kebanyakan kasus, sejumlah gejala akan muncul ketika seseorang terinfeksi virus corona. Mulai dari demam, batuk, sesak nafas hingga kehilangan indra perasa dan penciuman. Baru-baru ini juga diketahui gejala yang diindentifikasi dari penderita Covid-19 yaitu happy hypoxia syndrome. Happy hypoxia syndrome merupakan kondisi dimana seseorang mengalami tingkat saturasi oksigen dalam darah rendah yang bisa menyebabkan ketidaksadaran hingga kematian. Pada kondisi normal, kadar oksigen dalam darah adalah 95 hingga 100 persen. Namun pada penderita dengan gejala happy hypoxia, kadar oksigennya bisa turun hingga di bawah 50 persen. Gejala happy hypoxia sering menipu. Dalam beberapa kasus, pasien dengan gejala itu tidak menunjukkan tanda-tanda kesulitan bernapas, atau tanda lain yang mengisyarakatkan terinfeksi virus corona. Seseorang akan terlihat seperti biasa, tidak mengalami gangguan kondisi fisik. "Kondisi ini sangat membingungkan bagi dokter karena sangat bertentangan dengan konsep biologi dasar," ujar penulis studi penelitian Martin J Tobin yang merupakan dokter spesialis paru, mengutip Science Direct. Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine ini melibatkan 16 pasien Covid-19 dengan kadar oksigen yang sangat rendah, tapi tanpa sesak napas. "Saat kadar oksigen turun, otak [pasien Covid-19] tidak merespons sampai oksigen turun ke tingkat yang sangat rendah, di mana pasien biasanya akan merasakan sesak napas," kata Tobin. Happy hypoxia syndrome dikenal juga dengan istilah 'silent hypoxemia'. Hipoksemia sendiri didefinisikan sebagai penurunan kadar oksigen dalam darah. Saat oksigen mulai berkurang, seseorang umumnya akan mengalami sesak napas. Pada tingkat terendah, kondisi tersebut bisa mengancam nyawa. Sumber: CNN, Kompas dan Science Direct.
 18 Aug 2020    13:00 WIB
Apakah Asma Dapat Merusak Kehidupan Seksual Anda?
Bercinta merupakan bumbu yang membuat hidup Anda terasa lebih menyengkan dan juga baik untuk kesehatan hubungan Anda dengan pasangan. Tetapi kadang kehidupan seksual Anda dapat terbentur salah satu kondisi kesehatan, misalnya asma. Jika Anda menderita Asma, gejala-gejala asma yang Anda alami seperti nafas berbunyi (whezzing), nafas pendek-pendek dan sesak dapat mempengaruhi aktifitas seksual Anda secara drastis. Penderita asma mungkin tidak dapat mengalami kepuasan seksual karena gejala-gejala yang dialaminya. Jika Anda merasa asma merusak kehidupan seksual Anda, maka artikel ini diperuntukkan untuk Anda. Apakah bercinta dapat memicu asma?Bercinta melibatkan aktivitas fisik yang membuat nafas semakin cepat, faktor inilah yang dapat memicu timbulnya asma. Emosi ekstrim juga secara temporer memperburuk gejala Asma Anda. selain itu, beberapa orang dapat mengalami gejala asma saat bercinta dan serangan asma yang disebabkan seks disebut "sexercise-induces asthma". Bagaimana mengontrolnya?Jika kehidupan percintaan Anda terancam karena Asma, maka sebaiknya Anda menghubungi dokter. Dokter Anda akan meresepkan obat bronkodilator, yaitu obat yang dapat membuat otot-otot pernafasan rileks dan melebarkan jalur nafas yang menyempit karena asma. Anda harus mengetahui jika kelebihan dosis bronkodilator juga sangat berbahaya, oleh karena itu konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat ini. Selain itu Anda dapat mengganti sprei dan sarung bantal secara teratur untuk menghindari timbulnya gejala Asma yang dipicu debu di sprei dan sarung bantal. Bagaimana penderita asma bisa memiliki seks yang normal?•  Ubah posisiHindari penempatan diri yang menyebabkan tekanan pada dada. Ubahlah posisi secara konstan untuk menghindari serangan asma. Cobalah mencari posisi nyaman saat penetrasi sehingga tidak menyebabkan serangan asma.•  Pelajari tehnik bercinta yang baruJangan terpaku pada posisi bercinta yang kaku. Pelajari tehnik bercinta baru yang akan membuat proses bercinta lebih menyenangkan.•  Ubah waktu berhubunganCobalah berhubungan pada pagi hari atau sore hari. Pada waktu ini paru-paru Anda bekerja paling baik.•  Absen Hindari merokok atau minum alkohol sebelum tidur dengan pasangan Anda. merokok dan alkohol akan memberi pengaruh buruk untuk tubuh Anda, maka hindarilah.•  Obat-obatanSelalu berkonsultasi dengan dokter Anda dan konsumsi obat Anda sesuai waktunya.Sumber: healthmeup
 23 Mar 2020    11:00 WIB
Penyakit Paru Akibat Gangguan Jalan Pernapasan
Penyakit paru adalah salah satu penyakit yang paling sering dialami oleh seluruh penduduk dunia. Merokok, infeksi, dan faktor genetika merupakan beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit paru. Paru-paru adalah bagian dari suatu sistem yang kompleks, yang mengembang dan mengempis beribu-ribu kali dalam sehari untuk memasukkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Perjalanan Udara Menuju Paru-paruUdara yang masuk melalui hidung kemudian akan masuk ke dalam trakea (tenggorokan), yang kemudian akan bercabang-cabang menjadi saluran-saluran panjang seperti tabung yang disebut bronki, yang akan bercabang-cabang kembali menjadi saluran-saluran yang lebih kecil di dalam seluruh paru-paru anda (alveolus). Gangguan pada saluran napas (hidung, trakea, bronki, alveolus), tempat-tempat yang dilalui oleh udara untuk masuk ke dalam paru-paru dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit paru.Asma Penyakit ini disebabkan oleh peradangan menetap pada jalan napas atau akibat spasme (kekakuan dan penyempitan) saluran napas, yang menyebabkan timbulnya mengi (suara napas berbunyi "ngik-ngik") dan sesak napas. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan asma adalah alergi, infeksi, dan polusi.PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)Merupakan suatu keadaan di mana paru-paru tidak dapat mengembang dengan normal, yang menyebabkan seseorang kesulitan bernapas. Keadaan ini dapat disebabkan oleh kerusakan jaringan paru akibat suatu infeksi kronik pada paru-paru, yang sering terjadi pada penderita TBC.Bronkitis KronikMerupakan salah satu jenis PPOK yang ditandai dengan batuk berdahak dalam waktu lama (lebih dari 2 minggu).EmfisemaJuga merupakan salah satu jenis PPOK, di mana jaringan paru telah mengalami kerusakan dan menyebabkan udara terperangkap di dalam paru-paru. Salah satu gejala khas keadaan ini adalah penderita tampak kesulitan menghembuskan napas.Bronkitis AkutInfeksi jalan napas yang terjadi tiba-tiba, yang biasanya disebabkan oleh virus. Salah satu gejalanya adalah batuk berdahak. Bila batuk berlangsung lebih dari 2 minggu, maka disebut dengan bronkitis kronik.Fibrosis KistikMerupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh kelainan genetik, yang menyebabkan lendir sulit dikeluarkan dari dalam bronkus. Lendir yang menumpuk ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi paru berulang.   Sumber: webmd
 19 Mar 2020    11:00 WIB
Apa Yang Perlu Diketahui Tentang Steroid Inhalasi
Steroid inhalasi adalah pengobatan untuk gangguan pernapasan. Ada beberapa keuntungan untuk menghirup steroid, daripada mengonsumsinya melalui mulut. Penghirupan memungkinkan tingkat obat yang tinggi untuk mencapai saluran udara dan tingkat yang rendah untuk mencapai seluruh tubuh. Diambil secara oral, steroid memiliki efek yang lebih luas. Beberapa keuntungan menggunakan steroid inhalasi termasuk dosis yang lebih kecil dan efek samping yang lebih sedikit. Menggunakan steroid inhalasi juga dapat mengurangi kebutuhan akan steroid oral. Dokter terutama meresepkan steroid inhalasi untuk mengobati asma dan COPD. Asma Anak-anak dan orang dewasa dengan asma dapat menggunakan steroid inhalasi sendirian atau dalam kombinasi dengan bronkodilator jangka panjang. Inisiatif Global Untuk Asma (GINA) mengenali steroid inhalasi sebagai jenis obat anti-inflamasi yang paling efektif untuk asma. GINA merekomendasikan steroid inhalasi karena mereka dapat: mengurangi frekuensi gejala memperlambat kerusakan paru-paru meningkatkan kualitas hidup mengakibatkan lebih sedikit rawat inap di rumah sakit mengurangi risiko kematian akibat asma COPD Orang dengan COPD sering menggunakan kombinasi steroid inhalasi dan bronkodilator jangka panjang. Atau, mereka dapat menggunakan inhaler kombinasi yang mengandung steroid, bronkodilator kerja lama, dan antagonis muskarinik kerja lama (LAMA). Inisiatif Global untuk Penyakit Paru Obstruktif Kronis (GOLD) merekomendasikan steroid inhalasi plus bronkodilator jangka panjang untuk mengobati COPD. Mereka juga merekomendasikan kombinasi steroid inhalasi, steroid long-acting, dan LAMA untuk COPD.    Cara menggunakan steroid inhalasi Agar efektif, jumlah obat yang tepat perlu mencapai bagian kanan paru-paru. Semua ini tergantung pada obat, inhaler, dan seberapa konsisten seseorang menggunakannya. Orang harus menggunakan steroid inhalasi secara konsisten untuk meminimalkan peradangan jalan napas dan mencegah gejala. Sebuah studi dari 2017 melaporkan bahwa 6% orang dengan COPD menggunakan inhaler mereka secara teratur dan benar. Orang-orang dari berbagai usia menghadapi tantangan yang berbeda saat menggunakan inhaler mereka. Sebagai contoh: Anak yang lebih kecil mungkin tidak memiliki koordinasi untuk menggunakan inhaler dosis terukur. Anak-anak yang lebih besar mungkin menghadapi kritik dari teman sebaya atau berkurangnya akses ke pengobatan selama jam sekolah. Remaja juga dapat menghadapi kritik sejawat, dan perubahan perilaku dan kesehatan mental dapat berperan. Orang dewasa yang lebih tua mungkin mengalami keterbatasan penglihatan atau kekuatan fisik, yang dapat menyebabkan penggunaan inhalasi yang salah. Penggunaan inhaler yang benar sangat penting untuk mengendalikan gejala. Namun penggunaan yang salah dapat menyebabkan seseorang mengalami lebih banyak gejala, yang menyebabkan lebih banyak kunjungan dokter, penggunaan antibiotik, dan penggunaan kortikosteroid oral.   Sumber : Medicalnewstoday
 14 Mar 2020    16:00 WIB
Mencuci Piring Turunkan Resiko Terjadinya Asma dan Alergi, Benarkah?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa mencuci piring dengan tangan ternyata memiliki dampak positif terhadap kesehatan anak Anda dibandingkan dengan mencuci piring dengan menggunakan mesin. Mencuci piring dengan menggunakan tangan dapat menurunkan resiko terjadinya berbagai gangguan kesehatan akibat alergi seperti asma atau eksim pada anak. Hasil penelitian ini mendukung sebuah teori higienitas yang menyatakan bahwa semakin dini seorang anak terpapar oleh berbagai jenis kuman maka semakin baiklah fungsi sistem kekebalan tubuhnya. Jadi, bila seorang anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang berfungsi dengan baik, maka sistem kekebalan tubuh tersebut tidak akan salah "mengenali" suatu zat tidak berbahaya sebagai zat berbahaya, yang biasa terjadi pada reaksi alergi. Selain itu, para peneliti menduga karena mencuci piring dengan tangan tidaklah seefektif mencuci piring dengan mesin dalam hal menghilangkan kuman, maka lebih banyak kuman yang tertinggal yang membuat paparan terhadap kuman pun menjadi lebih banyak. Hal ini dapat menstimulasi sistem kekebalan tubuh untuk bekerja dengan lebih baik, yang juga menyebabkan lebih sedikit alergi. Akan tetapi, perlu diingat bahwa hasil penelitian ini hanya menunjukkan adanya hubungan antara cara mencuci piring dengan tangan dengan menurunnya resiko terjadinya berbagai reaksi alergi dan bukannya suatu hubungan sebab akibat. Pada penelitian ini, para peneliti bertanya pada orang tua dari sekitar 1.000 anak berusia 7 atau 8 tahun di Swedia mengenai riwayat kesehatan anak mereka, termasuk mengenai riwayat asma, eksim, dan alergi musiman. Para peneliti juga bertanya mengenai bagaimana cara keluarga tersebut membersihkan piringnya dan seberapa sering keluarga tersebut mengkonsumsi makanan fermentasi dan makanan yang diperoleh langsung dari sebuah pertanian. Selain berbagai faktor lain yang juga mempengaruhi reaksi alergi seorang anak seperti yang telah disebutkan di atas, para peneliti juga menyingkirkan berbagai faktor resiko lainnya yang telah dipercaya dapat menurunkan resiko terjadinya berbagai reaksi alergi seperti pemberian ASI dan ada tidaknya hewan peliharaan. Sekitar 12% keluarga yang ditanyai para peneliti ini mencuci piringnya dengan menggunakan tangan. Para peneliti kemudian menemukan bahwa anak-anak pada keluarga tersebut memiliki resiko alergi yang lebih rendah (sekitar 50%) dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga lain yang mencuci piring dengan menggunakan mesin pencuci piring. Para peneliti menemukan bahwa di antara anak-anak dari keluarga yang mencuci piringnya dengan tangan, sekitar 23% nya menderita eksim dan 1.7% nya menderita asma. Sementara itu, anak-anak dari keluarga yang mencuci piringnya dengan mesin cuci piring, sekitar 38% nya menderita eksim dan 7.3% nya menderita asma. Para peneliti juga menemukan bahwa anak-anak juga lebih jarang memiliki alergi bila mereka mengkonsumsi makanan atau sayuran yang telah difermentasi setidaknya 1 kali sebulan atau bila mereka sering mengkonsumsi makanan yang berasal dari pertanian setempat.   Sumber: newsmaxhealth
 26 Jan 2020    16:00 WIB
Berbagai Penyebab dan Pemicu Terjadinya Serangan Asma
Asma merupakan suatu inflamasi atau peradangan kronik pada saluran pernapasan. Penyebab asma dapat berbeda-beda bagi setiap orang. Akan tetapi, satu hal yang pasti adalah asma terjadi apabila saluran pernapasan yang memang sudah meradang dan sensitif pada penderita asma terpapar oleh suatu bahan pemicu, maka dapat menyebabkan saluran napas tersebut meradang, menyempit, dan dipenuhi oleh lendir sehingga terjadilah serangan asma. Pada saat serangan asma, maka terjadi beberapa hal di bawah ini, yaitu: Spasme otot di sekitar saluran napas Peradangan dan pembengkakan dinding saluran napas Produksi lendir berlebihan yang juga menyebabkan penyempitan saluran napas Berbagai hal di atas menyebabkan peningkatan resistensi dan bertambah sulitnya kerja pernapasan sehingga menyebabkan sesak napas, batuk, dan mengi (suara napas berbunyi ngik-ngik). Batuk pada asma terjadi akibat iritasi saluran napas dan usaha tubuh untuk mengeluarkan kelebihan lendir di dalam saluran napas. Salah satu cara pencegahan serangan asma yang terbaik adalah dengan menghindari paparan terhadap alergen (bila asma disebabkan oleh reaksi alergi) atau makanan atau keadaan tertentu yang memicu terjadinya serangan asma.   1.      Alergi Alergi merupakan penyebab tersering asma. Sekitar 80% penderita asma memiliki alergi terhadap bahan-bahan tertentu, seperti rumput, serbuk sari, lumut, bulu binatang, debu tungau, dan kecoa. Berdasarkan suatu penelitian, anak-anak yang lebih sering terpapar oleh kecoa di rumahnya memiliki resiko asma yang empat kali lebih tinggi daripada anak-anak yang jarang terpapar oleh kecoa. Terjadinya serangan asma setelah paparan debu biasanya disebabkan oleh alergi terhadap debu tungau.   2.      Makanan Alergi makanan dapat menyebabkan suatu reaksi alergi ringan hingga berat bahkan mengancam nyawa. Beberapa jenis makanan yang seringkali menyebabkan timbulnya reaksi alergi adalah: Telur Susu sapi Kacang Kedelai Gandum Ikan Udang dan kerang-kerangan lainnya Sayur dan buah-buahan Pengawet makanan juga dapat memicu terjadinya serangan asma.   3.      Olahraga Olahraga berat dapat menyebabkan penyempitan saluran napas pada sekitar 80% penderita asma. Pada beberapa orang, olahraga merupakan pemicu utama terjadinya serangan asma. Bila anda mempunyai asma akibat olahraga, maka anda akan merasa sesak napas, dada terasa berat, batuk, dan kesulitan bernapas dalam waktu 5-8 menit pertama sejak olahraga dimulai. Gejala ini biasanya akan mereda dalam waktu 20-30 menit setelah olahraga dimulai, akan tetapi sekitar 50% penderita akan kembali mengalami serangan asma 6-10 jam kemudian. Untuk mencegah serangan asma, mulailah berolahraga dengan melakukan pemanasan ringan kemudian tingkatkan secara perlahan.   4.      Asam Lambung Refluks gastroesofageal (GERD) merupakan suatu penyakit yang juga sering memicu terjadinya serangan asma. Keadaan ini sering terjadi di malam hari saat penderitanya berbaring. Pada keadaan normal, sebuah katup di antara lambung dan kerongkongan mencegah naiknya asam lambung ke dalam kerongkongan. Akan tetapi, pada GERD katup ini tidak dapat berfungsi dengan normal dan menyebabkan naiknya asam lambung ke dalam kerongkongan. Hal ini dapat memicu terjadinya iritasi dan peradangan pada saluran napas dan memicu terjadinya serangan asma. Anda diduga menderita asma akibat GERD bila anda menderita asma pada usia dewasa, tidak ada anggota keluarga lain yang memiliki riwayat asma, tidak ada riwayat alergi atau bronkitis, asma yang sulit dikendalikan, atau timbulnya batuk saat berbaring.   5.      Merokok Merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya asma. Bila anda menderita asma dan merokok, maka hal ini dapat memperburuk batuk dan mengi yang terjadi saat serangan asma. Wanita yang merokok saat hamil dapat meningkatkan resiko terjadinya mengi pada bayinya. Selain itu, ibu hamil yang merokok juga dapat mengganggu fungsi paru-paru bayinya. Berhenti merokok merupakan salah satu langkah pencegahan terbaik bila anda menderita asma.   6.      Sinusitis dan Infeksi Saluran Napas Atas Lainnya Sinusitis merupakan peradangan pada saluran lendir sinus. Hal ini menyebabkan produksi lendir yang berlebihan di dalam sinus. Saat sinus meradang, maka saluran napas juga ikut meradang dan menyebabkan timbulnya gejala asma. Pencegahan dan pengobatan yang tepat pada infeksi sinus dapat mencegah dan mengatasi serangan asma akibat infeksi ini. Selain itu, flu dan bronkitis juga dapat memicu terjadinya serangan asma. Penyebabnya dapat bakteri atau virus dan merupakan salah satu penyebab asma tersering pada anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun. Peningkatan sensitivitas saluran napas atas yang membuat saluran napas lebih mudah menyempit dapat berlangsung selama 2 bulan setelah infeksi saluran napas atas.   7.      Obat-obatan Sebagian besar penderita asma memiliki alergi terhadap aspirin dan juga obat-obatan lainnya. Obat-obatan lainnya adalah obat anti inflamasi seperti ibuprofen, naproxen, dan beta blocker. Bila anda memiliki alergi terhadap obat apapun, beritahu dokter anda setiap kali anda berobat.   8.      Penyebab Lainnya Iritan Berbagai iritan yang dapat memicu terjadinya serangan asma adalah asap rokok, asap perapian, asap pembakaran sampah atau kayu, bau-bauan kuat seperti parfum atau zat pembersih lantai. Selain itu, polusi udara lainnya dan debu atau uap pabrik juga dapat memicu terjadinya serangan asma. Cuaca Udara dingin, perubahan suhu, dan perubahan kelembaban udara juga dapat menyebabkan terjadinya serangan asma. Emosi Stress, cemas, sedih, berteriak, marah, atau tertawa terbahak-bahak juga dapat memicu terjadinya serangan asma.   Sumber: webmd
 18 Jan 2020    08:00 WIB
Mengenal Bronkitis Asmatika
Bernapas merupakan suatu proses yang dimulai dari menghirup udara melalui hidung dan mulut yang kemudian akan mengalir melalui saluran napas yaitu bronkus yang kemudian akan membuka dan membuat udara dapat masuk ke dalam paru-paru anda, di mana terjadi pertukaran antara oksigen dan karbondioksida di dalam darah sebelum kembali diedarkan ke seluruh tubuh melalui jantung. Bila terjadi peradangan pada saluran napas ini, maka akan membuat udara sulit mencapai ke dalam paru-paru anda. Hal ini mengakibatkan berkurangnya volume udara yang masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan timbulnya sesak napas. Selain itu, anda juga akan mengalami batuk dan mengi (suara napas berbunyi ngik-ngik) yang diakibatkan oleh usaha tubuh untuk memperoleh lebih banyak oksigen melalui saluran udara yang menyempit. Bronkitis dan asma diakibatkan oleh peradangan pada saluran napas. Bronkitis merupakan peradangan pada saluran napas yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Bronkitis kronik dapat dipicu oleh paparan jangka panjang oleh iritan lingkungan seperti asap rokok, debu, atau berbagai bahan kimia. Asma merupakan peradangan pada saluran napas yang menyebabkan penyempitan saluran napas akibat kontraksi otot di sekitar saluran napas dan pembengkakan saluran napas yang menyebabkan penyempitan saluran napas. Jika bronkitis dan asma terjadi secara bersamaan, maka disebut dengan bronkitis asmatika.   Penyebab Terdapat banyak pemicu yang dapat menyebabkan pelepasan zat-zat inflamasi. Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya bronkitis asmatika adalah: Asap rokok Polusi udara Alergen seperti serbuk sari, lumut, debu, bulu binatang, atau makanan termasuk pengawet makanan seperti MSG Bahan-bahan kimia Obat-obatan tertentu seperti aspirin dan beta blocker Olahraga Perubahan cuaca, seperti cuaca dingin Infeksi virus atau bakteri Emosi seperti tertawa atau menangis   Gejala Gejala bronkitis asmatika merupakan kombinasi gejala bronkitis dan asma berupa: Sesak napas Mengi Batuk Dada terasa berat Produksi lendir berlebihan Bronkitis disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus dan dapat menular, akan tetapi bronkitis asmatika biasanya tidak menular.   Apakah Saya Menderita Bronkitis Asmatika ? Bila anda mengalami beberapa gejala di atas, segera hubungi dokter anda untuk memperoleh pemeriksaan lebih lanjut. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, menanyakan riwayat penyakit anda dan keluarga anda, serta melakukan beberapa pemeriksaan di bawah ini, yaitu: Spirometri, yang merupakan suatu pemeriksaan fungsi paru di mana anda akan diminta untuk menghirup dan menghembuskan napas melalui suatu saluran yang tersambung pada spirometer Pemeriksaan untuk memeriksa volume udara maksimal yang dapat anda hembuskan dalam satu kali tarikan napas Pemeriksaan foto rontgern dada untuk mengetahui adanya gangguan pada paru-paru yang menyebabkan batuk dan gangguan pernapasan lainnya   Pengobatan Pengobatan bronkitis asmatika sebagian besar sama dengan pengobatan untuk asma dan bronkitis yang berupa: Bronkodilator kerja cepat seperti albuterol yang berfungsi untuk membuka saluran napas dan meredakan gejala dalam waktu singkat Kombinasi kortikosteroid inhalasi dan bronkodilator kerja panjang Leukotrien Kromolin atau teofilin Antibiotika bila disebabkan oleh infeksi bakteri Selain itu, pengobatan juga dapat dilakukan dengan menghindari pemicu serangan asma, seperti: Cucilah seprai dan selimut anda dengan air hangat Bersihkan lantai, karpet, dan langit-langit rumah anda dari debu secara teratur Jangan biarkan binatang peliharaan anda masuk ke dalam kamar anda Jangan merokok dan jauhilah orang yang merokok   Sumber: webmd