Your browser does not support JavaScript!
 10 Jun 2014    10:00 WIB
Pengobatan Untuk Usus Buntu
Menegakkan diagnosa usus buntu bisa sangat menyulitkan karena waktu sangat penting dan gejala yang muncul hampir mirip dengan gejala penyakit lain yang tidak terlalu darurat sifatnya, misalnya saja infeksi saluran kemih, kolitis, penyakit crohn, gastritis, gastroenteritis dan masalah di ovarium. Apendisitis atau usus buntu sering didiagnosa oleh dokter Anda dengan cara menekan perut kanan bagian bawah, yang sering menjadi titik maksimum dari nyeri. Tes urin juga dapat dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosa infeksi kandung kemih. Usus buntu juga dapat menyebabkan nyeri didaerah rektum atau anus dibandingkan nyeri perut secara keseluruhan, oleh karena itu dokter juga mungkin akan memeriksa anus Anda dengan cara memasukkan jari yang dibungkus sarung tangan dan juga telah diberi zat lubrikasi. Tes darah juga akan menunjukkan bahwa sel darah putih Anda meningkat, dimana hal ini merupakan indikasi tubuh Anda sedang melakukan perlawanan terhadap infeksi. CT scan dan USG juga dapat dengan cepat membantu mendiagnosa usus buntu, walaupun tidak sepenuhnya benar menunjukkan usus buntu. Apa saja pengobatan untuk usus buntu? Operasi untuk mengeluarkan usus buntu yang dikenal dengan nama appendectomy merupakan pengobatan standar untuk usus buntu. Obat-obatan konvensional untuk usus buntu Jika dokter Anda menduga Anda menderita usus buntu, dia akan dengan cepat bertindak untuk mengeluarkan usus buntu Anda untuk mencegah pecahnya usus buntu. Jika usus buntu sudah membentuk abses, Anda mungkin akan menjalankan dua prosedur, satu adalah drainase dari nanah dengan menggunakan penuntun dari CT dan kedua mengeluarkan usus buntu dengan jalan operasi 12 minggu kemudian. Penundaan dari operasi ini dikenal dengan nama interval appendectomy. Antibiotika akan diberikan sebelum tindakan appendectomy dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya peritonitis, atau infeksi di pembatas rongga perut. Pembedahan bisa menggunakan anestesi umum maupun anestesi regional dan usus buntu akan dikeluarkan melalui lubang kecil yang dibuat di kuadran kanan bawah perut. Jika Anda mengalami gejala peritonitis maka nanah didalam rongga perut juga akan dikeluarkan. Jika Anda menjalani prosedur anestesi umum maka Anda akan bangun kurang lebih 12 jam setelah operasi selesai dilakukan, setelah itu Anda akan diminta melakukan mobilisasi. Jika pembedahan dilakukan dengan prosedur laparoskopi (menggunakan alat menyerupai teleskop kecil untuk melihat bagian dalam perut), maka akan dibuat tiga sampai empat lubang yang lebih kecil sehingga proses penyembuhan akan lebih cepat. Perawatan di rumah setelah operasi usus buntu Setelah melakukan operasi usus buntu, jaga supaya lubang bekas operasi bersih untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencegah timbulnya infeksi. Bagaimana tindakan pencegahan dari usus buntu? Tidak ada cara mencegah terjadinya usus buntu. Tetapi usus buntu lebih jarang terjadi pada orang yang makan makanan tinggi serat seperti buah-buahan dan sayuran.   Sumber: webmd