Your browser does not support JavaScript!
 21 Apr 2019    11:00 WIB
6 Alasan Mengapa Antibiotik Bukan Jawaban Tepat Untuk Segala Penyakit
Dewasa ini, hampir setiap penyakit selalu menggunakan antibiotik dan berbahayalah adalah ada beberapa orang yang minum antibiotik tanpa pengawasan seorang dokter alias membeli sendiri obat tersebut tanpa pernah tahu apakah memang dirinya membutuhkan antibiotik atau tidak. Atau untuk beberapa orang yang bila sudah berobat ke dokter merasa ada yang kurang bila belum diberikan antibiotik. Padahal perlu Anda ketahui tidak semua kondisi membutuhkan antibiotik. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, jadi bila seorang dokter menemukan indikasi bahwa Anda mengalami infeksi bakteri maka akan diberikan antibiotik. Pemberian antibiotik pun memiliki dosis yang berbeda-beda. Tidak semua antibiotik harus dimakan 3 kali dalam sehari. Agar Anda lebih tahu ada alasan mengapa antibiotik tidak harus selalu diminum saat kondisi tubuh Anda tidak sehat. Ini adalah alasannya: 1.      Antibiotik benar-benar tidak efektif terhadap infeksi virus Antibiotik bekerja hanya terhadap infeksi bakteri dan karena itu tidak berguna apabila Anda mengalami infeksi virus. Untuk mengetahui apakah Anda mengalami infeksi bakteri atau infeksi virus tentu harus berdasarkan pemeriksaan dokter secara langsung. Minum antibiotik tanpa mengetahui penyebabnya hanya akan membuat penyakit menjadi lebih buruk. 2.      Resistensi antibiotik Saat Anda minum antibiotik secara terus menerus tanpa indikasi yang tepat dan minum dengan dosis yang tidak dianjurkan dokter. Seperti disarankan oleh dokter untuk dihabiskan, kemudian karena sudah tidak mengalami keluhan Anda menghentikannya begitu saja. Bila Anda melakukan hal seperti ini terus maka akan mengakibatkan terjadinya resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik adalah kondisi ketika dimana bakteri dalam tubuh manusia menjadi resisten atau kebal terhadap antibiotik. Sehingga saat tubuh Anda benar-benar terinfeksi bakteri, antibiotik tersebut sudah tidak mempan untuk digunakan. 3.      Penyalahgunaan meningkatkan jumlah kuman resisten terhadap obat Terlalu banyak penggunaan antibiotik juga menyebabkan peningkatan jumlah kuman yang  resisten terhadap obat dan hal ini akan memberikan beban berat pada industri farmasi karena harus terus menciptakan obat versi yang baru. 4.      Buang-buang uang Kebanyakan antibiotik memiliki harga yang cukup mahal. Jadi bila Anda membeli antibiotik hanya untuk mengatasi flu ringan hal ini akan membuat Anda membuang uang Anda secara sia-sia. Selain itu apabila Anda sudah mengalami resistensi antibiotik nantinya Anda akan mengeluarkan uang lebih banyak karena Anda harus melakukan pengujian untuk mengetahui antibiotik mana yang masih mempan untuk Anda dan semakin tinggi jenis antibiotik biasanya harganya akan semakin mahal. 5.      Menimbulkan efek samping yang tidak perlu dan berbahaya Minum antibiotik tanpa resep hanya akan menimbulkan efek samping yang tidak perlu dan berbahaya. Setiap obat yang masuk kedalam tubuh Anda tentu akan menimbulkan efek samping terlebih lagi adalah antibiotik. Apabila Anda konsumsi antibiotik secara sembarangan nantinya bisa menyebabkan infeksi jamur di sekitar mulut, saluran pencernaan atau miss V, diare, muntah, mual. 6.      Menimbulkan reaksi alergi Konsumsi antibiotik tanpa pengawasan dokter bisa saja menimbulkan reaksi alergi seperti ruam, pembengkakan pada wajah dan lidah, hingga kesulitan bernapas. Hal ini disebut dengan reaksi anafilaksis. Melihat kondisi yang bisa ditimbulkan penggunaan antibiotik tanpa pengawasan dokter, apakah Anda masih ingin minum antibiotik secara sembarangan? Baca juga: Perlukah Antibiotik pada Pengobatan Diare Anak? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 28 Mar 2019    16:00 WIB
Apa Itu Pertusis (Batuk Rejan)?
Pertusis (Batuk Rejan, Whooping Cough) adalah infeksi bakteri pada saluran pernafasan yang sangat menular dan menyebabkan batuk yang biasanya diakhiri dengan suara pernafasan dalam bernada tinggi (melengking). Penyebabnya adalah bakteri Bordetella pertussis. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah penderita.Apakah gejala dari pertusis? Gejala timbul dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi.  Bakteri menginfeksi lapisan tenggorokan, trakea dan saluran nafas lainnya sehingga terbentuk lendir yang semakin banyak. Pada awalnya lendir yang terbentuk encer, tetapi kemudian menjadi kental dan lengket. Infeksi berlangsung sekitar 6-10 minggu dan berkembang melalui 3 tahapan:Tahap kataral (mulai terjadi secara bertahap dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi). Gejalanya menyerupai flu ringan:1.  Bersin-bersin, mata berair, nafsu makan berkurang. Lesu, batuk (pada awalnya hanya timbul di malam hari kemudian terjadi sepanjang hari)2.  Tahap paroksismal (terjadi dalam waktu 10-14 hari setelah gejala awal). Gejala-gejala yang muncul berupa: Batuk-batuk hebat yang tiba-tiba akibat kesulitan mengeluarkan lendir yang tebal dari saluran nafas Batuk-batuk hebat diikuti dengan usaha menghirup nafas dalam dengan nada tinggi (whoop) Batuk seringkali mengeluarkan banyak lendir yang kental (biasanya tertelan oleh bayi dan anak) atau terlihat sebagai gelembung-gelembung udara besar dari hidung. Anak seringkali menjadi sianosis (kebiruan) akibat tersedak atau mengalami henti nafas (apnea) Muntah dan kelelahan Serangan batuk sering terjadi saat malam hari Serangan batuk bisa diakhiri oleh penurunan kesadaran yang bersifat sementara. Tahap konvalesen (mulai terjadi dalam waktu 4-6 minggu setelah gejala awal) Batuk semakin berkurang, muntah juga berkurang, anak tampak lebih baik. Kadang batuk masih terjadi selama berbulan-bulan, biasanya akibat iritasi saluran pernafasan. Apa pengobatan yang diperlukan untuk menyembuhkan pertusis?Penderita yang sakit berat biasanya dirawat di rumah sakit karena bisa mengalami kesulitan bernafas yang hebat sehingga membutuhkan alat bantu nafas. Mereka ditempatkan di ruang isolasi untuk mencegah penularan ke orang lain, hingga antibiotik telah diberikan selama 5 hari. Anak-anak yang lebih tua dengan penyakit yang ringan bisa dirawat di rumah dan diberikan antibiotika. Antibiotik yang biasanya digunakan untuk menghilangkan bakteri penyebab pertusis antara lain erythromycin, clarithromycin, atau azithromycin. Antibiotik juga digunakan untuk mengobati infeksi lain yang menyertai pertusis, misalnya pneumonia dan infeksi telinga. Untuk menggantikan cairan yang hilang karena muntah dan karena bayi biasanya tidak dapat makan akibat batuk, maka perlu diberikan cairan melalui infus. Makanan sebaiknya diberikan dalam porsi kecil tetapi sering. Adakah tindakan pencegahan untuk pertusis?Vaksin pertusis merupakan bagian dari imunisasi pada masa kanak-kanak (biasanya dalam bentuk vaksin DPT). Anak-anak yang terpapar pertusi perlu diberikan antibiotik sebagai tindakan pencegahan (misalnya clarithromycin atau azithromycin). Ingin mengetahui lebih dalam tentang pertusis? Silahkan baca di siniSumber: cek gejala penyakit
 25 Mar 2019    11:00 WIB
Pengertian Alergi Penisilin dan Cara Mengatasinya
Apa yang di maksud dengan alergi penisilin?  Alergi penisilin adalah  reaksi alergi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh Anda bereaksi berlebihan terhadap antibiotik penisilin.    Apa saja gejala alergi penisilin?  Reaksi alergi terhadap penisilin umum termasuk ruam, gatal-gatal, mata gatal, dan bengkak pada bibir, lidah, atau wajah.  Dalam kasus yang jarang terjadi, alergi terhadap penisilin dapat menyebabkan reaksi anafilaksis. Anafilaksis merupakan suatu  reaksi alergi berat yang terjadi tiba-tiba dan dapat menyebabkan kematian. Jenis reaksi biasanya terjadi dalam waktu satu jam setelah Anda mendapat penisilin. Gejala termasuk kesulitan bernapas, gatal-gatal, mengi, pusing, kehilangan kesadaran, nadi cepat atau lemah, kulit membiru, diare, mual, dan muntah.  Bagaimana Anda tahu bahwa Anda memiliki alergi terhadap penisilin? Reaksi alergi yang parah terhadap penisilin bisa berbahaya dan mengancam  jiwa. Anda mungkin lebih cenderung memiliki alergi jika Anda memiliki:  Tes kulit positif untuk alergi penisilin.  Timbul rasa gatal yang muncul secara cepat setelah Anda mendapatkan penisilin. Terjadi reaksi anafilaksis sebelumnya terhadap penisilin.  Jika hal tersebut terjadi pada Anda, Anda harus mengganti dengan antibiotik lain atau menjalani terapi desensitisasi. Terapi desensitisasi harus di bawah pengawasan dokter Anda, Anda mulai mendapatkan sejumlah kecil penisilin dan secara bertahap ditingkatkan. Hal ini memungkinkan membuat sistem kekebalan tubuh "terbiasa" akan obat tersebut, dan Anda mungkin tidak lagi mengalami reaksi alergi. Desensitisasi mungkin harus diulang jika Anda harus menggunakan antibiotik lagi di masa depan (desensitisasi tidak bertahan lama).  Apakah reaksi alergi terhadap penisilin adalah hal yang umum? Antibiotik Penisilin adalah penyebab paling umum dari alergi obat. Beberapa orang yang alergi terhadap penisilin juga alergi terhadap antibiotik yang terkait erat lainnya, termasuk golongan sefalosporin, seperti cephalexin, cefprozil, dan cefuroxime.  Anda bisa tanyakan hal ini kepada apoteker atau dokter tentang antibiotik tersebut. Banyak orang masih belum percaya  mereka memiliki reaksi alergi terhadap penisilin atau tidak. Untuk mengetahui hal ini lakukanlah Tes kulit.  Tes kulit adalah cara terbaik untuk mengetahui apakah Anda memiliki alergi penisilin atau tidak.   Bagaimana cara mengatasi saat terjadi reaksi alergi penisilin? Jika Anda menggunakan penisilin dan kemudian mengalami gatal-gatal dan kesulitan bernapas  atau memiliki gejala lain dari anafilaksis. Segera hubungi pelayanan kegawatdaruratan untuk mendapatkan terapi. Untuk pengobatan keadaan darurat, orang-orang yang mengalami reaksi alergi penisilin akan diberikan epinefrin. Mungkin juga Anda akan diberikan antihistamin dan kortikosteroid yang dimasukkan langsung ke pembuluh darah (intravena). Jika Anda mengalami reaksi alergi ringan, Anda dapat diterapi gejala dengan antihistamin. Namun beberapi antihistamin mempunyai reaksi seperti mengantuk.  Namun bila seseorang sebelumnya pernah mengalami reaksi alergi yang serius  terhadap penisilin, Mungkin harus membawa dan mengetahui bagaimana cara menggunakan epinefrin.  Dan tanyakan hal ini kepada dokter Anda. Jika Anda tetap memerlukan antibiotik, dokter Anda akan memberikan antibiotik jenis lain untuk Anda.   Sumber: webmd
 22 Mar 2019    18:00 WIB
5 Gangguan Kesehatan yang Mungkin Tidak Memerlukan Konsumsi Antibiotika
Saat sakit, Anda mungkin ingin mengkonsumsi suatu obat yang dapat membuat Anda langsung sembuh. Akan tetapi, konsumsi antibiotika mungkin bukan salah satu cara terbaik untuk mengatasi gangguan kesehatan yang Anda alami. Memang benar antibiotika dapat melawan bakteri, akan tetapi bila bakteri bukanlah penyebab dari penyakit yang Anda alami, maka konsumsi antibiotika tidak akan membantu mempercepat penyembuhan penyakit yang Anda alami tersebut, bahkan justru menyebabkan beberapa efek samping yang tidak diinginkan seperti bercak kemerahan atau reaksi alergi. Selain itu, penggunaan antibiotika yang tidak tepat juga dapat memicu pertumbuhan bakteri yang resisten terhadap antibiotika, yang dapat menyebabkan masalah besar saat Anda membutuhkan antibiotika untuk melawan infeksi bakteri. Sebuah penelitian baru di Inggris menemukan bahwa sekitar 13% antibiotika yang diberikan untuk mengatasi infeksi saluran pernapasan atas gagal mengatasi infeksi saluran pernapasan tersebut. Hal ini mungkin dikarenakan kuman penyebabnya telah resisten terhadap antibiotika. Jadi, sebelum Anda mulai mengkonsumsi antibiotika, pastikan bahwa Anda memang benar-benar membutuhkannya. Di bawah ini terdapat 5 jenis gangguan kesehatan yang mungkin tidak membutuhkan antibiotika.  1.      Radang Tenggorokan Saat Anda merasakan nyeri saat menelan, Anda mungkin mengalami radang tenggorokan. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa radang tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri jarang dialami oleh orang dewasa, yaitu hanya sekitar 10% dari semua radang tenggorokan pada orang dewasa. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian di Amerika ini, para peneliti mengatakan bahwa sekitar 60% pemberian antibiotika tidaklah bermanfaat. Untuk membedakan, radang tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi bakteri biasanya memiliki beberapa gejala berikut ini yaitu nyeri tenggorokan, demam, dan pembengkakan kelenjar getah bening di daerah leher. Sedangkan, radang tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi virus biasanya memiliki gejala yang berbeda seperti hidung meler, batuk, dan mungkin nyeri otot ringan. Oleh karena itu, bila Anda mengalami gejala ini, pemberian antibiotika pun tidak berguna karena antibiotika tidak dapat membantu melawan infeksi virus. Untuk mengatasi radang tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi virus, pastikan Anda memperoleh cukup banyak istirahat, konsumsi air putih yang cukup, dan mungkin obat anti nyeri untuk mengatasi nyeri otot. Berdasarkan sebuah penelitian di Inggris, penderita biasanya akan sembuh dalam waktu 5-6 hari.  2.      Bronkitis Akut Batuk dengan dahak berwarna kuning atau hijau ternyata dapat juga merupakan pertanda Anda mungkin menderita infeksi virus pada saluran pernapasan. Selain dapat menyebabkan radang tenggorokan, infeksi virus pada saluran pernapasan juga dapat menyebabkan terjadinya bronkitis akut. Banyak dokter meresepkan antibiotika untuk mengatasi batuk berdahak untuk mencegah tidak terobatinya pneumonia akibat infeksi bakteri. Akan tetapi, walaupun bronkitis akut dan pneumonia sama-sama menyebabkan batuk, akan tetapi pada bronkitis, batuk biasanya juga disertai dengan nyeri tenggorokan ringan atau hidung meler. Sementara itu, pneumonia biasanya disertai dengan demam tinggi, sesak napas, dan nyeri dada. Walaupun batuk dapat berlangsung hingga 3 minggu bila Anda menderita bronkitis, akan tetapi Anda biasanya telah merasakan perbaikan gejala setelah hari ke 4 atau 5 sakit. Jika gejala Anda tidak juga membaik setelah 4 atau 5 hari, segera hubungi dokter Anda. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Anda menderita pneumonia, maka pemberian antibiotika memang diperlukan. Akan tetapi, bila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Anda mengalami bronkitis, maka Anda hanya perlu banyak istirahat, mencukupi kebutuhan cairan, dan obat batuk.  3.      Abses Kulit Abses kulit merupakan suatu kumpulan nanah pada kulit yang terasa nyeri dan dapat tampak seperti bisul atau jerawat. Abses kulit merupakan suatu infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri, biasanya staphylococcus, akan tetapi biasanya tidak membutuhkan pemberian antibiotika. Sebuah penelitian menemukan bahwa hampir setengah kasus abses kulit dapat diatasi dengan drainase pus (pengeluaran nanah) saja dan tidak memerlukan pemberian antibiotika. Akan tetapi, pada kasus abses kulit yang kompleks, seperti penderita memiliki daya tahan tubuh yang lemah atau bila abses terus membesar atau menyebabkan pembengkakan dan peradangan kulit di daerah sekitarnya, maka Anda tetap memerlukan pemberian antibiotika.  4.      Infeksi Sinus Tahukah Anda bahwa sebagian besar infeksi sinus disebabkan oleh infeksi virus dan bukannya bakteri? Tujuan utama pengobatan infeksi sinus adalah agar penyumbatan sinus terbuka sehingga hidung tersumbat dan rasa nyeri pun dapat berkurang, yang dapat diatasi dengan pemberian obat dekongestan dan bukannya antibiotika. Akan tetapi, terdapat 3 kondisi yang membuat pemberian antibiotika diperlukan yaitu bila terjadi demam tinggi, nyeri hebat, dan bila gejala tidak membaik setelah 10 hari atau lebih atau bila gejala terus memburuk.  5.      Sakit Gigi Nyeri atau sakit gigi merupakan salah satu keadaan yang sangat mengganggu yang sebenarnya juga tidak membutuhkan pemberian antibiotika. Nyeri gigi dapat disebabkan oleh gigi sensitif,  yang membuat gigi terasa nyeri saat mengkonsumsi makanan atau minuman panas atau dingin karena akar gigi yang tidak tertutup. Selain itu, nyeri gigi juga dapat disebabkan oleh peradangan saraf pada gigi bagian tengah akibat seringnya menggeretakkan gigi atau akibat gigi berlubang. Jadi, bakteri bukanlah penyebab nyeri gigi Anda. Akan tetapi, terdapat beberapa kondisi yang membuat Anda memerlukan pemberian antibiotika saat mengalami nyeri gigi yaitu bila terjadi pembengkakan pada gusi atau area sekitar gigi Anda, jika terdapat nanah, atau bila Anda mengalami demam, menggigil, atau merasa tidak enak badan. Sumber: menshealth
 02 Feb 2019    11:00 WIB
Infeksi Jaringan Kuku (Paronikia)
Apa itu paronikia? Paronikia atau yang lebih dikenal dengan cantengan adalah infeksi pada kulit di sekitar kuku jari tangan atau kuku jari kaki. Paronikia atau cantengan biasanya bersifat akut, tetapi kasus kronis bisa terjadi. Pada paronikia akut, bakteri (biasanya staphylococcus aureus atau streptococci) masuk melalui robekan pada kulit diakibatkan dari bintil kuku, trauma pada lapisan kuku (lapisan pada kulit keras yang tumpang tindih disisi kuku), hilangnya kutikula, atau iritasi kronis (seperti dari air dan detergent). Paronikia lebih umum terjadi pada orang yang suka menggigit atau menghisap jari-jari mereka. Pada kaki, infeksi seringkali mulai pada jari kaki yang tumbuh ke dalam. Paronikia terjadi sepanjang garis tepi kuku (samping dan dasar lapisan kuku). Dalam waktu beberapa jam sampai hari, orang dengan paronikia akan merasa sakit, panas, kemerahan, dan pembengkakan. Nanah biasanya terkumpul dibawah kulit sepanjang garis tepi kuku dan kadangkala di bawah kuku. Jarang, terutama pada orang yang memiliki diabetes atau gangguan lainnya yang menyebabkan minimnya sirkulasi, infeksi masuk kedalam jari tangan atau kaki dan bisa mengancam jari tangan atau, kasus ekstrim, tungkai dan lengan. Apa penyebab dari paronikia?Biasanya penyebabnya adalah bakteri stafilokokus atau jamur. Apa saja gejala dari paronikia?Kulit tampak merah dan membengkak, bisa disertai lepuhan-lepuhan yang berisi nanah (terutama jika penyebabnya adalah bakteri). Kuku memiliki ruang yang terbatas, karena itu infeksi cenderung menimbulkan nyeri.  Kuku bisa mengalami perubahan warna, bentuk atau terlepas dari bantalannya. Apa pengobatan untuk paronikia?Kompres hangat atau merendam kuku dalam air hangat, membantu meringankan nyeri dan pengeluaran nanah.  Perendaman dalam air hangat juga meningkatkan peredaran darah sehingga membantu melawan infeksi.  Kadang nanah harus dikeluarkan dengan membuat sayatan pisau bedah pada kantung nanah (abses). Jika terjadi penyebaran infeksi, diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut), seperti clindamycin, amoxicillin clavulanate. Jika penyebabnya adalah jamur, setelah nanah dikeluarkan, diberikan krim anti-jamur yang mengandung ketokonazol, ciclopirox atau mikonazol dan direndam dalam air hangat. Jika infeksinya berat, diberikan obat anti-jamur per-oral. Ingin mengetahui lebih dalam mengenai paronikia? Silahkan baca disini.
 03 Sep 2018    11:00 WIB
Antibiotik Alami Yang Mudah Ditemukan
Antibiotik saat ini menjadi hal yang umum digunakan oleh masyarakat. Antibiotik yang diberikan seperti penisilin telah membantu orang banyak dari penyakit dan kondisi fatal lainnya sejak tahun 1940-an. Namun beberapa mungkin masih ada ketakutan akan efek samping yang ditimbulkan. Menurut NHS (National Health Service) 1 dari 10 orang yang minum antibiotik mengalami gangguan pencernaan setelah meminumnya. Sedangkan sekitar 1 dari 15 orang mengalami alergi setelah minum antibiotik. Oleh karena itu beberapa mungkin mencoba mencari alternatif beralih ke antibiotik alami. Berikut adalah daftarnya : 1.            Bawang putih                 Kebudayaan di berbagai belahan dunia telah lama mengenal bawang putih akan kemampuannya mencegah dan mengobati penyakit. Penelitian telah menemukan bahwa bawang putih dapat menjadi pengobatan yang efektif terhadap berbagai bentuk bakteri, termasuk Salmonella dan Escherichia coli (E. coli). Bawang putih bahkan telah dipertimbangkan untuk digunakan melawan tuberkulosis yang resistan terhadap beberapa obat. 2.            Madu                 Madu telah lama digunakan sebagai salep, bahkan sejak jamannya Aristoteles, untuk menyembukan luka dan mencegah serta mengobati infeksi. Ini pun sesuai dengan penelitian pada tahun 2016 yang menunjukan madu dapat membantu menyembuhkan luka. Madu memiliki sifat antibakteri karena adanya kandungan hydrogen peroksida di dalamnya. Selain itu, madu juga memberikan lapisan pelindung untuk mempertahankan lingkungan yang lembab sehingga membantu menyembuhkan luka. 3.            Jahe                 Komunitas ilmiah mengakui jahe sebagai antibiotik alami. Ini juga sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan tahun 2017 yang menemukan bahwa jahe memiliki kemampuan melawan banyak bakteri. Selain itu, jahe juga diteliti mengenai kemampuannya melawan mabuk laut dan juga menurunkan kadar gula darah. 4.            Bunga Echinacea                 Echinacea adalah tanaman berbunga yang banyak tumbuh di Eropa dan Amerika Utara. Hasil penggalian arkeologi menunjukkan bahwa penduduk asli Amerika mungkin telah menggunakan echinacea selama lebih dari 400 tahun untuk mengobati infeksi dan luka dan sebagai obat segala penyakit. Sepanjang sejarah orang-orang Indian menggunakan echinacea untuk mengobati demam scarlet, sifilis, malaria, keracunan darah, dan difteri.                 Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam the Journal of Biomedicine and Biotechnology, ekstrak Echinacea purpurea dapat membunuh berbagai jenis bakteri, termasuk Streptococcus pyogenes (S. pyogenes). Bakteri ini yang menyababkan strep throat yaitu infeksi pada tenggorokan yang membuat tenggorakan terasa sakit dan gatal. Selain itu juga menyebabkan penyakit toxic shock syndrome dan necrotizing fasciitis. 5.            Goldenseal                 Goldenseal (Hydrastis canadensis) merupakan tanaman kecil dengan batang berbulu tunggal. Tanaman ini tumbuh liar di tanah teduh di utara Amerika Serikat. Golden seal biasanya dikonsumsi dalam bentuk teh dan kapsul untuk mengobati masalah pernafasan dan pencernaan serta untuk melawan bakteri yang menyebabkan diare dan infeksi saluran kemih. Ternyata berdasarkan hasil penelitian baru ekstrak goldenseal untuk mencegah bakteri MRSA. MRSA atau methicillin-resistant Staphylococcus aureus adalah salah satu tipe bakteri Staphylococcus yang ditemukan pada kulit dan hidung yang kebal terhadap antibiotik. Setiap tahunnya lebih dari 90.000 warga Amerika Serikat berpotensi terinfeksi bakteri ini. Jumlah kematian akibat infeksi bakteri MRSA lebih banyak dibandingkan dengan angka kematian akibat AIDS. Kemampuan goldenseal menjadi antibiotik alami karena adanya kandungan berberin. Namun bahan ini tidak aman untuk bayi dan wanita hamil atau menyusui. 6.            Cengkeh                 Sobat mungkin tidak asing atau pernah menemukan orang memakai cengkeh untuk mengurangi rasa sakit pada gigi kita. Ternyata bukan hanya itu saja. Berdasarkan penelitian ternyata ekstrak air cengkeh efektif untuk berbagai jenis bakteri termasuk bakteri E. Coli yang dapat menyebabkan infeksi.  Baca juga : Fakta Menarik Tentang Bakteri E.Coli Jadi sobat jika ingin mecari antibiotik alami bisa mencoba bahan di atas. Namun jika sobat sedang dalam pengobatan atau masih terasa sakit karena infeksi, lebih baik konsultasikan dengan dokter yang berkompeten. Tetaplah sehat, tetap semangat. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.
 06 Jul 2018    08:00 WIB
Perlukah Antibiotik pada Pengobatan Diare Anak?
Hingga saat ini sebagian masyarakat bahkan sebagian klinisi yang masih meyakini bahwa pengobatan diare pada anak tidak akan mantap bila tidak disertai antibiotika. Antibiotik bukan obat penyembuh segala penyakit. Bijaksanalah dalam mengunakan obat yang mengandung antibiotik. Terlalu sering meminumnya justru membuat bakteri kebal terhadap antibiotik. Secara umum, penatalaksanaan diare akut bukan dengan pemberian antibiotika atau obat lainnya. Tetapi ditujukan untuk mencegah dan mengobati, dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, malabsorpsi akibat kerusakan mukosa usus, penyebab diare yang spesifik, gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Diare masih menjadi masalah kesehatan nasional karena angka kejadian dan angka kematian masih tinggi. Balita di Indonesia rata-rata mengalami diare 2-3 kali per tahun. Angka kematian tertinggi terutama pada anak umur 1-4 tahun. Kapan disebut diare? Anak dinyatakan menderita diare bila buang air besar "lebih encer" dan "lebih sering" dari biasanya. Selain "cairan", tinja anak diare dapat mengandung, lendir dan darah, tergantung pada penyebabnya. Gejala ikutan lainnya adalah demam dan muntah. Kadangkala gejala muntah dan demam mendahului gejala mencretnya. Gejala-gejala ini diikuti dengan badan lesu dan lemas, bahkan mungkin penurunan berat badan yang cepat. Penyebab diare Infeksi oleh bakteri, virus (sebagian besar diare pada bayi dan anak disebabkan oleh infeksi rotavirus) atau parasit. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu terutama antibiotik. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti: Campak, Infeksi telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll. Pemanis buatan. Pada bayi saat dikenalkan dengan MPASI seringkali memiliki efek samping diare karena perut kaget dengan makanan dan minuman yang baru dikenal lambungnya. Intoleransi makanan Kurangnya kebersihan lingkungan Tidak Perlu Antibiotika Sebagian besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika oleh karena pada umumnya sembuh sendiri. Antibiotika hanya diperlukan pada sebagian kecil penderita diare misalnya kholera, shigella, sedangkan penyebab terbesar dari diare pada anak adalah virus (Rotavirus), yang tidak memiliki respon terhadap pemberian antibiotika Kecuali pada bayi berusia di bawah 2 bulan karena potensi terjadinya sepsis oleh karena bakteri mudah mengadakan translokasi kedalam sirkulasi, atau pada anak/bayi yang menunjukkan secara klinis gejala yang berat serta berulang atau yang menunjukkan gejala diare dengan darah dan lendir yang jelas atau gejala sepsis. Pengobatan yang diberikan Rekomendasi dari WHO dan Unicef sebagai tatalaksana diare, yaitu: Penggunaan oralit formula baru (osmolaritas rendah) dan cairan rumah tangga Lanjutkan pemberian ASI Lanjutkan pemberian makanan Pemberian suplementasi Zinc selama 10 – 14 hari Penggunaan antibiotika yang selektif, sesuai dengan penyebab diare Penanganan umum anak diare Makan dan Minum Untuk bayi dan balita yang masih diberi ASI, teruskan minum ASI (Air Susu Ibu). Bagi anak yang sudah tidak minum ASI, makan dan minum seperti biasa untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang Garam Oralit Berikan oralit untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Perlu diperhatikan bagi orang tua mengenai cara pemberian oralit yang benar. Caranya adalah minum segelas oralit sedikit demi sedikit, dua sampai tiga teguk, kemudian berhenti selama tiga menit. Hal ini harus diulang terus menerus sampai satu gelas oralit habis. Minum oralit satu gelas sekaligus dapat memicu muntah dan buang air besar. Segera periksakan anak ke dokter bila diare lebih dari 12 jam atau bila bayi anda tidak mengompol dalam waktu 8 jam, suhu badan lebih dari 39°C, terdapat darah dalam tinjanya, mulutnya kering atau menangis tanpa air mata, dan luar biasa mengantuk atau tidak ada respon. Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah/menanggulangi dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya intoleransi, mengobati kausa dari diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Terapi Cairan Yang paling utama penanganan diare adalah pemberian terapi cairan. Pelaksanaan pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parenteral. Pemberian secara oral dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan sampai sedang dapat menggunakan pipa nasogastrik, walaupun pada dehidrasi ringan dan sedang, bila diare profus dengan pengeluaran air tinja yang hebat ( > 100 ml/kg/hari ) atau mutah hebat (severe vomiting) dimana penderita tak dapat minum samasekali, atau kembung yang sangat hebat (violent meteorism) sehingga rehidrasi oral tetap akan terjadi defisit maka dapat dilakukan rehidrasi panenteral walaupun sebenarnya rehidrasi parenteral dilakukan hanya untuk dehidrasi berat dengan gangguan sirkulasi.
 27 May 2018    11:00 WIB
Apa yang Perlu Anda Ketahui Seputar Antibiotika
Antibiotika merupakan obat yang paling sering digunakan. Antibiotika bekerja dengan cara membunuh bakteri atau mencegah bakteri bertambah banyak dan menyebar. Antibiotika dapat digunakan pada berbagai keadaan, mulai dari keadaan berat seperti pneumonia atau keadaan ringan seperti jerawat. Walaupun antibiotika dapat digunakan untuk mengatasi berbagai jenis infeksi, tetapi penting untuk diketahui bahwa antibiotika hanya dapat digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Antibiotika tidak dapat digunakan untuk mengatasi berbagai jenis infeksi yang disebabkan oleh virus seperti flu atau oleh jamur seperti kutu air. Berkonsultasilah dengan dokter Anda sebelum memutuskan untuk mengkonsumsi suatu jenis antibiotika.   Beberapa Jenis Antibiotika Sekarang ini terdapat beberapa ratus jenis antibiotika, akan tetapi secara keseluruhan, antibiotika dapat digolongkan menjadi 6 kelompok, yaitu: Penisilin seperti amoxicillin dan flucloxacillin Sefalosporin seperti ceftriaxone dan cefixime Aminoglikosida seperti gentamisin Tetrasiklin Makrolid seperti eritromisin dan azitromisin Fluorokuinolon atau kuinolon seperti ciprofloxacin dan norfloxacin Pemilihan jenis antibiotika yang digunakan biasanya tergantung pada kuman penyebab timbulnya penyakit yang sedang Anda alami. Berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai antibiotika mana yang sesuai untuk keadaan Anda.   Bagaimana Cara Menggunakan Antibiotika? Antibiotika dapat ditemukan dalam beberapa bentuk seperti: Oral, yaitu antibiotika yang dikonsumsi melalui mulut (dimakan). Antibiotika jenis ini biasanya terdapat dalam bentuk tablet, kapsul, atau sirup Topikal, yaitu antibiotika yang dioleskan secara langsung pada daerah luka. Antibiotika jenis ini biasanya terdapat dalam bentuk salep, lotion, semprot, atau tetes Suntik, yaitu antibiotika yang dimasukkan langsung ke dalam aliran darah atau otot dengan cara disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau otot secara langsung atau melalui infus. Satu hal yang perlu diingat adalah bagaimana cara menggunakan suatu antibiotika, seperti berapa kali harus dikonsumsi dalam satu hari dan selama berapa lama. Bertanyalah pada dokter atau apoteker mengenai cara penggunaan antibiotika yang Anda konsumsi. Dianjurkan agar Anda menghabiskan dosis antibiotika yang telah diberikan oleh dokter Anda, walaupun Anda mungkin telah merasa lebih baik untuk menghindari kemungkinan terjadinya resistensi obat. Selain itu, perhatikan juga cara penyimpanan antibiotika yang Anda gunakan (misalnya harus dimasukkan ke dalam kulkas) dan apakah antibiotika tersebut harus dikonsumsi pada keadaan tertentu (misalnya beserta makanan) karena hal ini dapat mempengaruhi efektivitas dan proses penyerapan antibiotika yang Anda gunakan.    Apa Gejala Alergi Terhadap Antibiotika? Beberapa orang mungkin dapat mengalami reaksi alergi setelah mengkonsumsi suatu jenis antibiotika tertentu. Beberapa gejala alergi yang mungkin timbul adalah: Sesak napas Timbulnya suatu bercak kemerahan pada kulit Timbul bentol-bentol kemerahan pada kulit Rasa gatal pada kulit Pembengkakan pada bibir, wajah, atau lidah Pingsan Reaksi alergi terhadap antibiotika, baik reaksi alergi ringan maupun berat paling sering disebabkan oleh penisilin. Walaupun jarang, beberapa orang mungkin dapat mengalami suatu reaksi alergi berat (anafilaksis), yang dapat membahayakan keselamatan jiwanya. Beritahukanlah pada dokter Anda bila Anda menderita alergi terhadap suatu jenis antibiotika tertentu.   Efek Samping Antibiotika Beberapa efek samping yang sering terjadi saat menggunakan antibiotika adalah: Tinja menjadi lunak atau mengalami diare Gangguan saluran pencernaan ringan Segera hubungi dokter Anda bila Anda mengalami beberapa efek samping di bawah ini, yaitu: Muntah Diare cair berat dan kram perut Reaksi alergi Timbulnya bercak kemerahan pada kulit Rasa gatal pada vagina atau keluarnya cairan abnormal dari vagina Terbentuknya bercak keputihan pada lidah Selain itu, antibiotika mungkin dapat mengalami reaksi interaksi dengan obat-obatan tertentu lainnya. Pastikan dokter Anda mengetahui obat apa saja yang Anda gunakan sebelum memberikan suatu jenis antibiotika pada Anda.   Apa Itu Resistensi Terhadap Antibiotika? Resistensi obat (antibiotika) biasanya terjadi saat suatu jenis bakteri tidak lagi berespon terhadap pemberian satu atau beberapa jenis antibiotika tertentu. Hal ini dapat terjadi akibat penggunaan antibiotika yang tidak tepat.  Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya resistensi terhadap antibiotika adalah: Mutasi bakteri. Resiko ini meningkat bila seseorang tidak menghabiskan antibiotika yang telah diberikan oleh dokter Beberapa jenis antibiotika dapat membunuh flora normal di dalam tubuh dan membuat bakteri yang resisten terhadap antibiotika tersebut justru bertambah banyak dan menggantikan flora normal tubuh tersebut Penggunaan antibiotika secara berlebihan Beberapa jenis bakteri yang telah diketahui memiliki resistensi terhadap suatu jenis antibiotika tertentu adalah: Meticillin-resistant Staphylococcus aureus ( MRSA) Clostridium difficile (C. diff)  Bakteri yang menyebabkan multi-drug-resistant tuberculosis (MDR-TB) Memberikan antibiotika pada orang yang menderita flu atau batuk juga dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotika karena antibiotika sebenarnya tidak berguna bila digunakan untuk melawan infeksi virus.     Sumber: webmd
 15 Dec 2014    11:00 WIB
Benarkah Anda Mengalami Reaksi Alergi Karena Penisilin?
Pada berbagai penelitian, sebagian besar orang yang mengaku menderita alergi terhadap penisilin, sejenis antibiotika, ternyata tidak menunjukkan tanda alergi apapun pada saat dilakukan pemeriksaan uji kulit. Walaupun banyak orang Amerika mengaku menderita alergi terhadap penisilin, sebuah penelitian baru menemukan bahwa ternyata sebagian besar dari mereka salah mengira. Melalui pemeriksaan lanjutan, para peneliti menemukan bahwa sebagian besar orang yang mengira dirinya menderita alergi terhadap penisilin, ternyata sama sekali tidak mengalami reaksi alergi apapun terhadap antibiotik tersebut. Pada penelitian pertama, para peneliti menemukan bahwa sekitar 94% dari 384 orang yang mengatakan bahwa mereka alergi terhadap penisilin ternyata memperoleh hasil negatif terhadap pemeriksaan alergi penisilin. Pada penelitian kedua, para peneliti menemukan bahwa pada pemeriksaan uji kulit penisilin pada 38 orang yang yakin bahwa mereka menderita alergi terhadap penisilin ternyata menunjukkan bahwa tidak ada satu orang pun dari mereka yang menderita alergi terhadap penisilin (hasil pemeriksaan kulit negatif). Para peneliti mengatakan bahwa para peserta penelitian mungkin pernah mengalami reaksi tidak mengenakkan saat mengkonsumsi penisilin di masa lalu seperti bentol-bentol atau pembengkakan pada kulit, akan tetapi saat ini mereka sudah tidak lagi mengalami reaksi alergi apapun terhadap penisilin. Berdasarkan hasil temuan ini, para peneliti pun menganjurkan agar orang-orang yang menduga mereka menderita alergi terhadap penisilin untuk kembali memeriksakan dirinya dengan melakukan uji alergi pada kulit untuk memastikan apakah memang benar mereka menderita alergi terhadap penisilin atau tidak.     Sumber: webmd