Your browser does not support JavaScript!
 06 Oct 2015    18:00 WIB
Beda Usia, Beda Makanannya Lho!!!
Sesuai dengan pertambahan usia akan terjadi banyak perubahan pada tubuh Anda, mulai dari kulit yang mulai mengendur, lutut yang semakin melemah dan rambut mulai beruban. Pada dasarnya hal ini merupakan cara tubuh memberi tahu kondisi tubuh Kita yang sesungguhnya. Banyak orang yang mencoba agar tetap awet muda dan melakukan berbagai hal seperti melakukan botox, transplantasi rambut bahkan sampai operasi. Cara-cara tersebut memang ampuh untuk membuat penampilan Anda terlihat lebih muda dari luar, namun apakah Anda tetap merasa lebih muda dari dalam. Agar Anda tetap awet muda dari luar dan dalam maka Anda harus melakukan diet atau pola makanan yang sehat dan sesuai dengan usia Anda. Hal ini berguna untuk menjaga fisik dan pikiran Anda tetap sehat dan sesuai dengan usia Anda bahkan mungkin lebih muda dari usia Anda yang sesungguhnya. Wanita 30 tahun Menginjak usia 30 tahun merupakan mimpi buruk untuk setiap wanita muda. Mereka mulai khawatir dengan perubahan kulit, rambut dan biasanya terjadi penambahan berat badan. Untuk menghindari hal ini biasanya mereka akan mulai melakukan diet ketat yang justru berbahaya. Apabila Anda memang ingin menurunkan berat badan jauh lebih baik Anda beralih ke diet kaya protein dibanding Anda hanya makan sayuran pada saat sarapan, makan siang dan makan malam. Selain itu olahraga teratur dan menghindari konsumsi alkohol akan membantu meningkatkan metabolisme tubuh. Konsumsi sayuran adalah hal yang baik, namun apabila hanya konsumsi sayuran maka kebutuhan gizi lain tidak akan terpenuhi. Sebaiknya Anda menghindari lemak jenuh yang banyak terdapat di mentega dan keju.  Untuk wanita 40 tahun Usia 40 tahun merupakan masa dimana terjadi perubahan emosi besar-besaran yang dialami wanita. Saat ini adalah periode menjelang menopause. Pada usia ini disarankan untuk banyak konsumsi buah-buahan, sayur-sayuran dan kacang-kacangan. Hindari konsumsi lemak jenuh dan minuman berkarbonasi. Untuk wanita 50 tahun Masalah radang sendi adalah masalah yang paling sering dialami oleh wanita usia 50 tahun. Untuk membantu menangani masalah radang sendi adalah dengan konsumsi asam lemak omega-3 banyak terdapat di dalam ikan salmon, kacanng mede dan juga banyak konsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C dan makanan yang mengandung zat besi. Minum teh hijau atau teh hitam juga akan membantu. Untuk wanita usia 60 tahun. Masalah utama yang dihadapi wanita usia 60 tahun adalah pergeseran tulang panggul, patah tulang, darah tinggi dan gangguan tiroid. Perbanyak konsumsi asam lemak omega-3 dari ikan salmon. Banyak konsumsi buah-buahan dan sayuran, biji-bijian, protein tanpa lemak dan produk susu bebas lemak. Jalankan diet rendah lemak dan tinggi serat. Beda usia memang beda pola dietnya. Pola diet yang seimbang dan sesuai dengan kebutuham tubuh akan membantu menjaga kesehatan Anda. Apakah Anda sudah memiliki pola diet Anda sendiri yang memberikan banyak manfaat untuk Anda? Baca juga: 12 Kesalahan Berdiet dan Cara Mengatasinya Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: idiva
 13 Jun 2015    18:00 WIB
Hindari Alergi Dengan Konsumsi Makanan Hebat Ini!
Apakah Anda takut untuk melangkah keluar dari rumah karena takut mengalami alergi? Ada beberapa orang yang mudah terkena alergi sehingga takut untuk melakukan apapun. Untuk membantu Anda meningkatkan daya tahan tubuh Anda agar tidak mudah mengalami alergi Anda dapat konsumsi makanan-makanan hebat ini. Yogurt Selain kaya akan protein dan berbagai vitamin, yogurt terutama dibuat dari fermentasi susu. Bakteri dalam yogurt dikenal untuk membantu menyeimbangkan bakteri baik hadir dalam sistem pencernaan. Hal ini akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang membuat tubuh lebih siap untuk melawan menyebabkan alergi seperti serbuk sari.   Salmon Salmon mengandung asam lemak omega-3 yang dikenal memiliki sifat anti-inflamasi. Hal ini dapat membantu mengurangi efek peradangan alergi yang terkait. Salmon juga kaya protein dan vitamin D.   Apel Apel mengandung flavonoid yang dikenal karena sifat anti-inflamasi dan anti-virusnya. Hal ini dikenal untuk membantu meringankan alergi karena serbuk sari dan juga membantu memerangi gejala alergi lain yang terkait dengan sifat anti-inflamasi. Dari sebuah penelitian diketahui telah menunjukkan bahwa orang yang mengkonsumsi apel memiliki penurunan risiko infeksi paru-paru.   Kunyit Kunyit sendiri dikenal memiliki sifat anti-bakteri dan anti-jamur. Memiliki bahan aktif curcumin yang diketahui memiliki efek anti-inflamasi pada tubuh.   Teh Hijau dan teh hitam Konsumsi teh hijau atau teh hitam dapat memiliki efek anti-inflamasi dan mengurangi gejala ringan dari alergi termasuk mata berair, pilek atau sinus.   Bawang Bawang putih juga dikenal memiliki sifat anti-inflamasi.   Jadi bila Anda ingin memiliki daya tahan tubuh lebih kuat dalam melawan alergi, Anda bisa selalu menyisipkan makanan diatas dalam menu diet Anda. Baca juga: Stress Ternyata Memperburuk Gejala Alergi Sumber: magforwomen
 14 Mar 2015    10:00 WIB
Makanan dan Kebiasaan Ngompol Pada Anak
Berbagai mitos mengenai jenis makanan tertentu yang dianggap berhubungan dengan kebiasaan mengompol pada anak belum tentu benar. Di bawah ini terdapat pembahasan singkat mengenai hubungan jenis makanan tersebut dengan kebiasaan mengompol anak.   Makanan Pedas Para ahli mengatakan bahwa belum ditemukan adanya hubungan antara mengkonsumsi makanan pedas dengan mengompol. Walaupun makanan pedas memang dapat mengiritasi kandung kemih pada beberapa orang, terutama pada penderita inkontinensia urin (adanya perasaan mendesak untuk segera buang air kecil secara tiba-tiba). Oleh karena itu, dokter biasanya menyarankan pada para penderita inkontinensia urin untuk menghindari makanan pedas.   Jeruk atau Sitrus Buah-buahan seperti jeruk, lemon, dan jeruk limau memang dapat menyebabkan iritasi pada kandung kemih karena sifat asamnya. Akan tetapi, seperti halnya pada makanan pedas, tidak ditemukan adanya hubungan antara sitrus dengan kebiasaan mengompol pada anak. Pada kasus yang sangat jarang, terdapat anak yang memang alergi terhadap sitrus dan menyebabkan anak mengompol saat mengkonsumsi buah-buahan tersebut.   Alergi Makanan Berdasarkan sebuah penelitian, terdapat hubungan yang sangat kecil antara alergi makanan dengan kebiasaan mengompol. Akan tetapi, pada sebagian besar anak dengan kebiasaan mengompol, alergi makanan bukanlah penyebabnya.   Kafein Kafein baik yang terdapat di dalam makanan maupun minuman bekerja sebagai diuretik (menstimulasi kandung kemih untuk memproduksi lebih banyak air kemih). Oleh karena itu, hindarilah mengkonsumsi kafein pada sore dan malam hari. Sebagian besar orang beranggapan bahwa kafein hanya terdapat di dalam kopi, akan tetapi perlu diketahui bahwa kafein tidak hanya terdapat di dalam kopi. Teh, minuman bersoda, dan minuman energy lainnya juga mengandung kafein. Selain itu, coklat pun juga mengandung zat yang hampir mirip dengan kafein. Anda tetap dapat memberikan coklat pada anak anda, hanya saja jangan pada sore atau malam hari sebelum waktu tidur anak.   Air Putih Sebelum Tidur Mengompol pada anak-anak terjadi bukan hanya disebabkan oleh terlalu banyak air kemih yang telah berada di dalam kandung kemih. Anda biasanya akan terbangun di saat anda merasakan keinginan untuk buang air kecil dan tidak mengompol. Dengan membatasi jumlah air yang diminum oleh anak anda sebelum tidur, maka anda dapat memberikan waktu yang lebih banyak bagi anak anda untuk terbangun dan buang air kecil. Perlu diingat bahwa mengkonsumsi air putih bukanlah satu-satunya cara cairan masuk ke dalam tubuh. Berbagai jenis makanan seperti sup, yogurt, buah, dan sayuran juga mengandung kadar air yang cukup tinggi.   Sumber: webmd  
 08 Jul 2014    08:00 WIB
Apa Yang Dimaksud Dengan Alergi dan Intoleransi Makanan?
Alergi makanan atau intoleransi makanan mempengaruhi hampir semua orang.  Seseorang yang memiliki alergi terhadap makanan sering mendapatkan reaksi yang tidak menyenangkan dan sering bertanya-tanya apakah memiliki alergi terhadap makanan atau tidak. Satu dari tiga orang mengatakan bahwa mereka memiliki alergi terhadap makanan atau mereka harus memodifikasi makanan untuk keluarga karena ada anggota keluarga mereka yang diduga memiliki alergi terhadap makanan. Tapi hanya sekitar 5% dari anak-anak telah terbukti secara klinis mempunyai reaksi alergi terhadap makanan. Pada remaja dan orang dewasa, alergi makanan terjadi sekitar 4% dari total populasi.   Apa yang dimaksud dengan alergi makanan dan intoleransi makanan? Alergi makanan adalah respon abnormal terhadap makanan, dikarenakan sistem kekebalan tubuh salah mengira dan menyerang protein makanan. Reaksi alergi terhadap makanan beragam dan bisa berpotensi fatal. Gejala yang dapat terjadi seperti sakit perut, ruam, gatal di kulit atau mulut, pembengkakan (misalnya bibir atau tenggorokan) atau sulit bernafas. Intoleransi makanan adalah ketidakmampuan tubuh untuk mencerna makanan tertentu, sebab itu penting untuk menyadari tipe intoleransi tubuh, semacam intoleransi laktosa. Gejalanya termasuk kram perut, kembung dan diare. Hal ini sangat penting bagi orang yang memiliki alergi terhadap makanan untuk mengidentifikasi apakah mereka benar mempunyai alergi terhadap makanan dan mencegah reaksi alergi terhadap makanan karena reaksi ini dapat menyebabkan penyakit yang merusak dan dalam  beberapa kasus, berakibat fatal.  Bagaimana Alergi makanan terjadi? Alergi makanan melibatkan dua fitur dari respon kekebalan tubuh manusia. Salah  satunya adalah produksi imunoglobulin E (IgE), sejenis protein yang disebut antibodi yang bersirkulasi di dalam darah. Yang lainnya adalah sel mast, sel tertentu yang terdapat pada seluruh jaringan tubuh, terutama di daerah-daerah tubuh yang rentan reaksi alergi, termasuk hidung dan tenggorokan, paru-paru, kulit, dan saluran pencernaan.  Kemampuan individu membentuk IgE yang melawan sesuatu yang jinak seperti makanan merupakan hal kemungkinan diwariskan. Umumnya, orang-orang yang berasal dari keluarga alergi terhadap sesuatu tidak selalu alergi makanan tapi mungkin alergi serbuk bunga, asma, atau gatal-gatal. Seseorang yang kedua orang tuanya memiliki reaksi alergi terhadap sesuatu, lebih mungkin mengalami reaksi alergi terhadap makanan dibanding seseorang yang hanya mempunyai satu orang tua yang memiliki alergi. Reaksi alergi tidak terjadi secara tiba-tiba. Untuk ini memerlukan waktu yang disebut proses sensitisasi, yaitu masa sejak kontak dengan alergen sampai terjadinya reaksi alergi. Reaksi alergi dapat terjadi kalau kadar imunoglobulin E sudah cukup banyak. Pada saat kontak pertama dengan allergen (dalam hal ini makanan), baru mulai timbul perlawanan dari tubuh yang mempunyai bakat atopik yaitu terbentuknya imunoglobulin yang spesifik terhadap alergen tersebut.. Bila kontak terhadap alergen ini berlangsung terus menerus, Misal terhadap suatu jenis makanan. Kadar imunoglobulin E yang spesifik terhadap makanan tertentu semakin banyak sampai suatu saat dapat menimbulkan reaksi alergi bila mengkonsumsi makanan tersebut lagi. Saat orang tersebut memakan makanan tersebut. Terjadi interaksi dengan IgE spesifik pada permukaan sel mast dan memicu sel untuk melepaskan bahan kimia seperti histamin. Tergantung pada jaringan di mana mereka dilepaskan, bahan kimia ini akan menyebabkan seseorang memiliki berbagai gejala alergi makanan. Jika sel mast melepaskan bahan kimia dalam telinga, hidung, dan tenggorokan, seseorang bisa merasakan gatal-gatal di mulut dan mungkin mengalami kesulitan bernapas atau menelan. Jika sel mast yang terkena berada di saluran pencernaan, orang mungkin mengalami sakit perut, muntah, atau diare. Bahan kimia yang dilepaskan oleh sel mast kulit, sebaliknya, dapat menimbulkan rasa gatal-gatal. Sumber: webmd