Your browser does not support JavaScript!
 23 Jan 2018    16:00 WIB
Bagaimana Mengobati Tumor Otak?
Jenis pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi tumor otak tergantung pada jenis, ukuran, dan lokasi tumor, serta keadaan kesehatan penderita secara keseluruhan. Terapi juga dilakukan untuk menurunkan resiko kekambuhan tumor. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa pilihan pengobatan tumor otak   Baca juga: 8 Makanan yang Buruk Bagi Kesehatan Otak Anda   Tindakan Pembedahan Tindakan pembedahan merupakan pengobatan lini pertama untuk mengatasi tumor otak. Melalui tindakan pembedahan, tumor dapat diangkat seluruhnya atau sebagian, tergantung pada ukuran, lokasi, dan resikonya. Salah satu tindakan pembedahan tingkat lanjut adalah pembedahan kepala di mana pasien tetap sadar (awake craniotomy). Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko kerusakan saraf saat tumor berada pada area otak yang rawan.   Terapi Radiasi Pada terapi radiasi, tumor dihancurkan dengan cara menyinarinya dengan sinar energi tinggi (sinar x-ray). Terapi radiasi ini dapat bersifat eksternal (radiasi konvensional) atau internal (brachytherapy).   Radiosurgery Radiosurgery merupakan tindakan pembedahan yang menggunakan sinar radiasi yang difokuskan pada suatu area kecil pada tumor untuk membuat ukuran tumor menjadi lebih kecil atau menghentikan pertumbuhan tumor. Radiosurgery merupakan terapi non invasif dan tanpa nyeri, yang dapat dilakukan oleh pasien rawat jalan. Terapi ini sangat cocok untuk mengatasi tumor kepala resiko tinggi yang tidak bisa dioperasi. Karena terapi ini tidak merusak jaringan sehat di sekitar tumor, maka hal ini dapat menurunkan resiko terjadinya efek samping dari 20-30% menjadi 1-2%.   Kemoterapi Kemoterapi merupakan pemberian obat kemo dalam bentuk pil atau melalui infus untuk menghancurkan sel-sel tumor.   Targeted Drug Therapy Pada targeted drug therapy, obat hanya diberikan pada suatu area abnormal spesifik di dalam tumor untuk menghancurkan tumor.   Berbagai jenis terapi di atas ini dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau terapi kombinasi. Pada beberapa kasus, glioma ringan biasanya tidak menimbulkan gejala sehingga pengobatan biasanya tidak diperlukan. Tumor biasanya hanya perlu dimonitor secara teratur.   Efek Samping Terapi Pengobatan tumor kepala dapat menimbulkan beberapa efek samping, yang dapat bervariasi mulai dari fatigue (rasa amat sangat lelah), sakit kepala, dan iritasi kulit kepala akibat terapi radiasi hingga kerusakan otak akibat tindakan pembedahan. Pasien yang menerima kemoterapi biasanya akan mengalami mual, muntah, dan rambut rontok. Sementara itu, pasien yang menjalani prosedur radiosurgery dapat mengalami sakit kepala dan mual. Tindakan pembedahan pada tumor yang terletak sangat berdekatan dengan saraf atau lokasi rawan atau sensitif lainnya di dalam otak dapat mempengaruhi fungsi tubuh tertentu, misalnya penglihatan, kemampuan berbicara, dan pergerakan. Pada kasus ini, pasien biasanya membutuhkan terapi rehabilitasi fisik paska operasi.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthxchange
 12 Dec 2017    18:00 WIB
Vaksin Tetanus Dapat Membantu Mengobati Tumor Otak, Benarkah?
Sebuah penelitian kecil menemukan petunjuk bahwa vaksin tetanus ternyata memiliki manfaat lain selain dari mencegah terjadinya tetanus. Satu dosis vaksin tetanus dapat membuat seorang penderita tumor otak yang mematikan untuk hidup lebih lama saat diberikan bersamaan dengan pengobatan tumor tersebut. Hal ini dikarenakan pemberian vaksin membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih "waspada", yang membuat pengobatan pun menjadi lebih efektif.   Baca juga: Apa Efek Samping Vaksin DPT?   Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekitar 12 orang penderita tumor otak. Beberapa orang di antaranya yang telah menerima vaksin tetanus dapat hidup beberapa tahun lebih lama dibandingkan dengan penderita lainnya yang tidak pernah diberikan vaksin tetanus. Walaupun hasil penelitian ini tampak menjanjikan, akan tetapi karena penelitian ini hanya merupakan sebuah penelitian kecil, maka perlu dilakukan penelitian yang lebih besar untuk memastikan hasil penelitian ini. Penelitian ini berfokus pada pengobatan glioblastoma, sejenis tumor otak yang sering ditemukan dan cukup ganas. Tumor otak ini dapat kembali tumbuh dan membunuh penderitanya, bahkan setelah penderita melakukan tindakan pembedahan untuk mengangkat tumor. Berbagai pengobatan yang digunakan untuk mengobati tumor ini pun hanya memiliki sedikit efek. Sekitar setengah dari penderita glioblastoma meninggal dalam waktu 15 bulan setelah diagnosa. Pada penelitian ini, para peneliti menggunakan imunoterapi sebagai dasar penelitiannya. Imunoterapi merupakan suatu terapi yang menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker. Pada penelitian ini, para peneliti menggunakan sebuah strategi spesifik yaitu vaksin sel dendritik. Pada keadaan ini, para peneliti mengangkat sel darah tertentu dari seorang penderita dan melengkapi mereka dengan sebuah zat kimia tertentu yang dapat ditemukan di dalam tumor. para peneliti kemudian mengembalikan sel ini ke dalam tubuh penderita, di mana mereka akan "melatih" sistem kekebalan tubuh untuk membunuh sel kanker. Para peserta penelitian di dalam penelitian ini telah melalui berbagai pengobatan seperti tindakan pembedahan, radiasi, dan kemoterapi. Kemudian para peserta penelitian menerima satu dosis vaksin DPT dan 3 kali suntikan yang terdiri dari sel tubuh mereka sendiri yang telah dimodifikasi seperti di atas, yang masing-masing berjarak 2 minggu. Para peneliti kemudian membagi para peserta penelitian menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok pertama mendapat dosis kedua vaksin DPT (dosis sangat kecil) pada tempat di mana sel-sel tubuhnya akan disuntikkan kembali keesokkan harinya. Sedangkan kelompok ke 2 hanya menerima plasebo. Para peneliti menduga bahwa suntikan vaksin tetanus mini ini akan membuat sistem kekebalan tubuh terstimulasi pada daerah kulit tersebut sehingga tubuh pun menjadi lebih siap menghadapi apa yang akan datang berikutnya. Penyuntikan sel dilanjutkan setiap bulannya hingga hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan bahwa tumor terus berkembang. Di antara para peserta penelitian pada kelompok ke 2, hanya 1 orang yang dapat bertahan hidup selama 2 tahun setelah diagnosa ditegakkan. Ia berhasil bertahan hidup selama sekitar 3.5 tahun. Hasil ini lebih baik pada para peserta penelitian yang menerima vaksin tetanus mini. 4 orang di antara para peserta di kelompok pertama dapat hidup selama lebih dari 2 tahun, sementara itu 1 orang di antaranya dapat bertahan hidup selama hampir 5 tahun, dan 1 orang lainnya dapat bertahan hidup selama hampir 6 tahun. Salah seorang di antara peserta penelitian berhasil bertahan hidup hingga sekarang, dialah Sandy Hillburn, 68 tahun dari Fort Lee, New Jersey. Saat pertama kali didiagnosa menderita glioblastoma, dokternya memberitahunya bahwa ia hanya akan hidup selama 2-3 bulan lagi. Akan tetapi, keluarganya pun kemudian membawanya ke Duke University Medical Center di Carolina Utara karena mereka memiliki reputasi yang sangat baik mengenai glioblastoma. Ia pun ditawari kesempatan untuk ikut serta dalam sebuah penelitian. Ia pun segera menerima tawaran tersebut dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan. Beberapa tahun sejak itu, ia pun masih dapat menghadiri acara pernikahan putranya dan melihat kelahiran 5 orang cucunya. Hingga saat ini pun ia masih sering bermain sepak bola bersama 6 orang cucu laki-lakinya di Ohio dan Boston. Hillburn tetap datang ke Duke sebulan sekali untuk menerima suntikan sel. Para peneliti pun masih tidak mengetahui mengapa ia dapat bertahan hidup hingga sekarang ini.   Sumber: huffingtonpost
 14 Sep 2017    11:00 WIB
Pengangkatan Tumor Otak yang Dilakukan Melalui Hidung
Sebelum orang yang sudah meninggal dijadikan mumi, bangsa Mesir kuno mengambil otak jenazah melalui hidung. Kini, metode yang sama dipakai para dokter bedah untuk mengoperasi tumor otak. Akses ke tumor yang terdapat di kelenjar pituitari dan area lain di bagian bawah tengkorak sulit dilakukan karena area ini dekat dengan saraf dan pembuluh darah yang menuju otak, kepala, dan tulang belakang.   Beberapa tahun belakangan ini para dokter bedah mengembangkan metode operasi bedah otak yang tidak invasive melalui hidung menggunakan selang endoksopik. Selang yang dipakai dalam operasi ini berukuran sangat kecil dan dilengkapi dengan kamera telekopis. "Metode terbaru ini akan meminimalkan dampak yang tidak diinginkan," kata Dr.Pablo Recinos, dokter bedah saraf dari Cleveland Clinic, Ohio, AS, yang pertama kali menggunakan teknik ini.   Pada operasi ini diperlukan dua orang dokter, satu orang melakukan bedah dan dokter lain (biasanya dokter THT), mengendalikan endoskop.  Selama proses operasi, selang akan dimasukkan dari lubang hidung ke sinus dan menghilangkan sekat tipis yang memisahkan bagian atas hidung dengan bawah tengkorak. Kemudian dokter akan membuka membran otak di sekelilingnya, barulah masuk ke otak. Dokter selanjutnya akan menghilangkan tumor menggunakan selang endoksopi.   Setelah tumor diangkat, dokter akan memperbaiki jaringan yang rusak akibat proses pemasukan selang. Menurut Recinos, dibandingkan metode bedah konvensional, cara ini memungkinkan dokter menghilangkan seluruh tumor. Metode ini juga membuat perawatan pasien  lebih cepat dengan kesembuhan yang lebih singkat dibanding metode sebelumnya. Baca juga: Tips Untuk Mempercepat Proses Penyembuhan Paska Operasi Caesar   Sumber: Healthy