Your browser does not support JavaScript!
 01 Jul 2014    11:00 WIB
Migrain Dapat Semakin Memburuk Saat Menopause
Penelitian terbaru mengungkapkan jika banyak wanita yang mengidap migrain mengeluh kepada dokternya jika serangan migrain yang mereka rasakan semakin memburuk sebelum dan selama masa menopause. Wanita yang menderita migrain, ternyata mengalami kenaikan serangan migrain sampai 50-60% saat mereka memasuki masa pre-menopause dan waktu menopause. Sebenarnya hal ini sudah banyak dikeluhkan oleh para wanita, dan saat ini para ahli sedang mencari bukti-buktinya. Masa pre-menopause adalah waktu dimana tubuh mengalami transisi ke masa menopause (saat menstruasi berhenti). Masa pre-menopause dapat berlangsung beberapa tahun, dan seringnya ditandai pada menstruasi yang tidak teratur, rasa panas pada pipi dan masalah tidur. Masa pre-menopause biasanya dimulai pada usia 40 tahunan dan menopause biasanya terjadi rata-rata pada usia 51 tahun. Pada penelitian ini, para ilmuwan melakukan survey terhadap lebih dari 3.600 wanita berusia 35-65 tahun. Wanita-wanita tersebut diklasifikasi berdasarkan frekuensi nyeri kepalanya. Jika wanita tersebut mengalami nyeri kepala lebih dari 10 hari dalam sebulan maka wanita tersebut akan masuk ke kelompok nyeri kepala frekuensi tinggi. Kelompok wanita tersebut juga dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok premenopause, perimenopause dan postmenopause. Ternyata ditemukan sebanyak 8% wanita premenopause mengalami peningkatan serangan migrain, 12,2% pada kelompok wanita perimenopause dan sebanyak 12% pada kelompok wanita menopause. Wanita mengalami serangan migrain biasanya pada beberapa hari sebelum menstruasi, saat hormon estrogen dan progesteron mengalami penurunan. Para peneliti menduga jika penyebab yang sama juga menjadi alasan mengapa serangan migrain semakin meningkat pada wanita yang masuk menopause. Untuk meredakan nyeri migrain tersebut, para peneliti menyarankan untuk mengkonsultasikan dengan dokter mengenai pengobatan migrain, apakah mereka harus menambahkan dosis obat migrain atau menggantinya dengan jenis obat migrain yang lain.   Sumber: webmd
 03 Jun 2014    11:30 WIB
Perbedaan Migrain dan Migrain Kronis
Walaupun kedua penyakit ini memiliki nama yang hampir sama, tetapi migrain dan kronik migrain merupakan kondisi yang berbeda. Banyak orang dengan migrain tidak akan berakhir menjadi migrain kronis, tetapi dengan memiliki migrain akan meningkatkan resiko terkena migrain kronis di kemudian hari. Nyeri kepala migrain disebut juga episodik migrain. Serangan episodik migrain sering terjadi. Orang yang mengalami episodik migrain bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan mengalami serangan nyeri kepala migrain. Tetapi orang dengan migrain kronis dapat mengalami migrain selama 15 hari bahkan lebih. Sebagai tambahan, periode migrain kronik berlangsung paling tidak pada tiga bulan terakhir. Karakteristik dari episodik migrain Sayangnya belum ada tes yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis migrain. Pertama dokter mungkin akan menanyakan penyebab dari gejala yang dirasakan kemudian memberikan penjelasan yang memungkinkan penyakit tersebut terjadi, termasuk efek samping dari obat dan tumor otak. Saat semua faktor penyebab disingkirkan, doker Anda akan memeriksa riwayat sakit kepala Anda dan gejala yang Anda alami selama mengalami nyeri kepala. Karakteristik dari episodik migrain termasuk: Minimal telah mengalami 5 kali serangan migrain seumur hidupnya Nyeri kepala berlangsung kurang dari 15 hari setiap bulannya. Nyeri kepala yang berlangsung kurang lebih 24 jam Seberapa sering kedua kondisi tersebut terjadi? Episodik migrain lebih sering terjadi dibandingkan migrain kronik. Bahkan faktanya  American Migraine Prevalence and Prevention study (AMPP) menemukan episodik migrain terjadi pada 17,1% wanita di Amerika dan 5,6% pria di Amerika. Sementara migrain kronis hanya terjadi pada 1,3% wanita di Amerika dan 0,5% pria di Amerika. Wanita berusia 40-49 tahun lebih sering terserang kronik migrain. Pengobatan Episodik migrain dapat dengan mudah diobati dengan obat yang dijual bebas di pasaran. Penyembuhan bergantung paa beratnya nyeri kepala yang dirasakan dan frekuensi serangan. Jika obat bebas tidak membantu Anda meredakan nyeri mungkin Anda memerlukan obat resep dokter. Pengobatan untuk migrain kronis cukup berbeda. Obat bebas mungkin dapat meredakan nyeri sedikit yang dirasakan karena migrain kronik, tetapi migrain kronik yang berat memerlukan jenis obat yang lebih kuat lagi. Beberapa dokter akan mencoba memberikan resep yang mencegah serangan terjadi untuk para penderita kronik migrain. Penelitian terbaru di bidang neurologi membuktikan bahwa sebanyak sepertiga dari pasien dengan migrain kronis menggunakan obat preventif untuk mencegah munculnya serangan migrain. Apakah episodik migrain bisa berubah menjadi migrain kronis? Sering mengalami serangan migrain tidak berarti Anda akan mengalami migrain kronis di kemudian hari. Bahkan faktanya hanya 2,5% orang yang terdiagnosa episodik migrain akan mengalami serangan yang lebih buruk.   Sumber: healthline
 26 May 2014    13:30 WIB
Migrain Dapat Menyebabkan Terjadinya Stroke, Benarkah?
Sebuah penelitian menemukan bahwa orang lanjut usia yang menderita migrain memiliki resiko 2 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke tersembunyi. Stroke tersembunyi merupakan suatu cedera otak yang tidak bergejala, yang disebabkan oleh adanya bekuan darah yang menyebabkan gangguan aliran darah yang menuju ke otak. Para peneliti menduga bahwa cedera otak ini merupakan salah satu faktor resiko penyebab terjadinya stroke di masa yang akan datang. Walaupun migrain dapat menyebabkan meningkatkan resiko terjadinya stroke iskemik, bukan berarti setiap orang yang menderita migrain pasti akan mengalami stroke. Akan tetapi, penderita migrain yang juga memiliki resiko gangguan pembuluh darah harus lebih memperhatikan keadaan kesehatannya.  Perubahan gaya hidup seperti berolahraga secara teratur dan mengkonsumsi diet sehat (rendah lemak dan banyak mengkonsumsi buah serta sayuran) dapat membantu menurunkan resiko stroke. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekelompok orang lanjut usia dengan berbagai ras di Amerika. Sekitar 100 orang peserta penelitian memiliki riwayat serangan migrain, sementara 450 peserta lainnya tidak pernah menderita migrain. Sekitar 41% peserta penelitian merupakan pria yang rata-rata berusia 71 tahun. Karena ras Hispanik dan orang kulit hitam memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita stroke, maka sekitar 65% peserta penelitian merupakan ras Hispanik. Dengan menggunakan pemeriksaan MRI, para peneliti membandingkan gambaran otak peserta yang menderita migrain dengan peserta yang tidak pernah menderita migrain. Setelah mempertimbangkan bebagai faktor resiko stroke lainnya, penelitian ini menunjukkan bahwa peserta yang menderita migrain memiliki resiko 2 kali lebih tinggi untuk menderita stroke tersembunyi. Pada penelitian ini, para peneliti juga menemukan bahwa resiko stroke tersembunyi meningkat, baik pada orang yang menderita migrain dengan aura maupun migrain tanpa aura. Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti menduga bahwa mengobati migrain mungkin dapat membantu menurunkan resiko terjadinya stroke.   Walaupun penelitian ini telah berhasil menemukan adanya hubungan antara migrain dan stroke, tetapi penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa migrain dapat menyebabkan stroke. Oleh karena itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.   Sumber: newsmaxhealth
 23 May 2014    14:00 WIB
Mengatasi Migrain dan Nyeri Kepala
Setiap orang yang pernah mengalami migrain dan nyeri kepala yang membandel karena migrain dan nyeri kepala dapat melemahkan mereka. Rasa nyeri yang berlebihan dapat membuat tubuh bisa berfungsi dengan baik. Tetapi dengan tehnik pengobatan yang baik maka para penderita migrain dapat hidup dengan lebih baik. Anda dapat menemukan pengobatan dengan obat-obatan, pengobatan alternatif dan mempelajari cara-cara mengurangi stress dan rileks.Berikut adalah cara mengatasi migrain dan nyeri kepala:    •    Ikutilah rencana pengobatan nyeri kepalaHindari pengobatan yang tidak dianjurkan oleh dokter Anda    •    Mengurangi stress emosionalAmbillah waktu untuk lebih rileks dan menjauh dari situasi yang menimbulkan stress. Pelajari tehnik relaksasi seperti bernafas dalam dan relaksasi otot.    •    Mengurangi stress fisikIstirahat yang cukup dan tidur yang cukup akan membuat Anda lebih rileks lagi sehingga Anda bisa menghadapi masalah di esok hari. Saat Anda duduk dalam waktu yang lama, cobalah berdiri setiap 1 jam. Tenangkan rahang, leher dan bahu Anda.    •    Berolahraga dengan teraturBerolahraga secara teratur minimal 20 menit tiga kali seminggu    •    Tetap menjaga rutinitasJagalah rutinintas hidup Anda seperti makan dengan teratur dan tidur dengan waktu yang sama setiap harinya    •    Berhenti merokokMerokok dapat memicu munculnya nyeri kepala, terutama nyeri kepala cluster menjadi lebih buruk lagi. Tanyakan kepada dokter Anda mengenai program untuk berhenti merokok yang efektif.    •    Mengetahui faktor pemicu dari nyeri kepalaCatatlah apa saja yang bisa menimbulkan nyeri kepada, dan hindarilah di waktu akan datang.    •    Terapi pencegahanWanita yang sering mengalami nyeri kepala pada masa menstruasi dapat melakukan terapi pencegahan ketika mereka mengetahui masa menstruasi akan datang.Sumber: webmd
 07 May 2014    13:30 WIB
Benarkah Keluhan Migrain Berkurang Seiring Dengan Semakin Bertambahnya Usia Anda?
Sebuah penelitian baru di Swedia menemukan bahwa seiring dengan semakin bertambahnya usia anda, gejala migrain anda pun akan berkurang, di mana serangan migrain menjadi lebih jarang, lebih singkat, dan tidak terlalu nyeri. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati secara acak 374 penderita migrain, yang terdiri dari 200 wanita dan 174 pria, yang berusia rata-rata 55 tahun. Pengamatan berlangsung selama 12 tahun, yaitu dari tahun 1994-2006. Pada awal penelitian, para penderita mengalami sekitar 1-6 kali serangan migrain setiap bulannya. Pada tahun 2005 dan 2006, para peneliti menelepon setiap penderita yang diamati dan menanyakan bagaimana keadaan migrain mereka sekarang ini. Dalam waktu 12 tahun pengamatan, para peneliti menemukan bahwa sekitar 30% (110 orang) penderita tidak lagi mengalami serangan migrain. Sekitar 91% dari 110 orang ini tidak lagi mengalami serangan migrain dalam waktu 2 tahun terakhir. Di antara 264 orang lainnya yang tetap mengalami serangan migrain, para peneliti menemukan bahwa serangan migrain lebih jarang terjadi, lebih singkat, dan dengan gejala yang lebih ringan. Sekitar 80% orang di antaranya mengatakan bahwa mereka mengalami perubahan frekuensi serangan migrain, yaitu 80% di antaranya mengatakan bahwa serangan migrain menjadi lebih jarang dan 20% di antaranya mengatakan bahwa serangan migrain menjadi lebih sering. 55% dari 264 orang mengatakan bahwa mereka mengalami perubahan dalam lama serangan migrain berlangsung. Sekitar 66% dari mereka mengatakan bahwa serangan migrain berlangsung lebih singkat dan 34% lainnya mengatakan bahwa serangan migrain berlangsung lebih lama. 66% dari 264 orang tersebut mengatakan bahwa intensitas serangan migrain yang mereka alami mengalami perubahan, yaitu 83% di antaranya hanya mengalami nyeri ringan dan 17% sisanya mengalami nyeri yang lebih berat. Dan hanya sekitar 1.6% (6 orang) yang mengalami migrain kronik, yaitu serangan migrain yang berlangsung selama lebih dari 15 hari dalam 1 bulan. Akan tetapi, para peneliti tidak mengetahui siapa yang akan mengalami kesembuhan. Mereka menduga bahwa faktor genetika mungkin turut berperan, terutama pada wanita. Penelitian ini menunjukkan bahwa penderita wanita yang memiliki anggota keluarga lain yang juga mengalami migrain akan terus mengalami serangan migrain. Terapi sedini mungkin dapat membantu membuat serangan migrain menjadi lebih jarang, lebih singkat, dan tidak terlalu berat. Selain itu, terapi dini juga dapat menurunkan resiko terjadinya migrain kronik. Akan tetapi, perlu diingat bahwa tidak semua penderita migrain akan mengalami perbaikan gejala seiring dengan semakin bertambahnya usia mereka. Beberapa penderita mungkin akan terus mengalami serangan migrain seumur hidupnya. Selain itu, penderita migrain juga perlu memperhatikan beberapa hal lainnya yang juga dapat mempengaruhi serangan migrain seperti menjaga berat badan tetap sehat, menghindari penggunaan obat sakit kepala dan kafein secara berlebihan, dan mengatasi berbagai gangguan tidur.Sumber: webmd