Your browser does not support JavaScript!
 09 Aug 2019    16:00 WIB
Kenali Infeksi HPV Pada Pria
Infeksi HPV (human papilloma virus) lebih sering diketahui masyarakat sebagai salah satu penyebab terjadinya kanker serviks. Akan tetapi, HPV ternyata juga menginfeksi pria. Infeksi HPV pada pria dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kemaluan pada pria. Selain itu, HPV juga dapat menyebabkan terbentuknya kutil pada kemaluan baik pada pria atau wanita.  Kadang-kadang infeksi HPV pada pria tidak menimbulkan gejala apapun dan akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan.   Resiko Infeksi HPV Pada Pria Berbagai hal yang dapat terjadi akibat infeksi HPV pada pria adalah: Meningkatkan resiko kanker kemaluan, seperti kanker anus atau kanker penis. Kedua jenis kanker ini jarang terjadi pada pria, terutama bila pria tersebut memiliki daya tahan tubuh yang baik Kutil pada kemaluan   Gejala Infeksi HPV Pada Pria Infeksi HPV yang beresiko tinggi menyebabkan kanker biasanya tidak bergejala, baik pada pria maupun wanita. Gejala pertama yang biasanya terjadi adalah timbulnya kutil pada kemaluan. Hal ini biasanya disebabkan oleh HPV yang beresiko kanker rendah. HPV jenis ini biasanya menyebabkan timbulnya kutil dan bukan kanker.   Apakah Saya Beresiko Terkena Kanker ? Untuk mendiagnosa kutil pada kemaluan biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Tidak ada pemeriksaan rutin pada pria untuk mengidentifikasi HPV beresiko kanker tinggi. Akan tetapi, dokter biasanya sangat menganjurkan agar pria homoseksual dan biseksual yang beresiko tinggi menderita kanker anus maupun penis untuk melakukan pemeriksaan pap smear anal.   Pengobatan Bagi Infeksi HPV Tidak ada pengobatan khusus yang dapat diberikan bagi penderita yang tidak mengalami gejala apapun. Untuk mengobati kutil pada kemaluan, dokter biasanya memberikan salep atau melakukan tindakan pembedahan untuk mengangkat kutil. Dokter biasanya tidak menyarankan terapi dini bagi penderita kutil pada kemaluan, karena kutil biasanya dapat hilang dengan sendirinya. Selain itu, kutil biasanya membutuhkan jangka waktu tertentu untuk timbul seluruhnya, sehingga pada penderita yang melakukan pengobatan dini mungkin memerlukan pengobatan ulangan untuk mengatasi kutil yang tumbuh setelah pengobatan pertama selesai. Kanker anus dapat diobati dengan kombinasi kemoterapi dan radiasi atau dengan tindakan pembedahan. Pengobatan khusus pada kanker anus ini tergantung pada stadium kanker, ukuran kanker, dan seberapa jauh kanker telah menyebar. Vaksin HPV (gardasil) biasanya diberikan pada pria berusia 9-26 tahun untuk mencegah terjadinya kutil kemaluan yang disebabkan oleh HPV 6 dan 11. Selain itu, gardasil juga merupakan salah satu pencegahan kanker anus.   Infeksi HPV dan Seks Bila anda atau pasangan anda menderita infeksi HPV, maka baik anda berdua kemungkinan besar telah terinfeksi HPV. Infeksi HPV lebih mudah diatasi pada pria daripada wanita yang biasanya memerlukan waktu 2 tahun atau kurang. HPV yang menyebabkan kanker serviks biasanya tidak menimbulkan gangguan kesehata bagi pasangan anda. Jika pasangan anda terinfeksi HPV bukan berarti pasangan anda telah berhubungan seksual dengan orang lain, karena virus ini dapat berada di dalam tubuh anda tanpa menimbulkan gejala apapun.   Pencegahan Penyebaran HPV Tidak berhubungan seksual merupakan salah satu cara pencegahan infeksi HPV yang terbaik. Resiko penyebaran HPV rendah bila anda hanya berhubungan seksual dengan satu orang dan orang tersebut hanya berhubungan seksual dengan anda. Penggunaan kondom juga dapat mencegah penyebaran HPV, walaupun tidak 100% karena HPV menyebar melalui kontak kulit. HPV masih dapat menular melalui kulit yang tidak tertutup oleh kondom.  
 22 Aug 2017    15:00 WIB
Vaksin HPV Mampu Cegah Kanker Serviks Makin Parah?
Seperti yang Kita ketahui ada semboyan yang mengatakan "Mencegah lebih baik dari pada mengobati". Hal ini juga berlaku untuk mencegah terjadinya risiko kanker. Penyakit Kanker yang sering dialami wanita adalah kanker payudara dan kanker serviks (kanker leher rahim). Namun dewasa ini masih banyak wanita yang enggan memeriksakan diri ke dokter kandungan, kendati sudah memiliki berbagai keluhan. Padahal, bila seorang wanita yang benar mengalami kanker serviks dan hal ini dibiarkan tanpa pengobatan maka akan menjadi semakin ganas. Di Indonesia, setiap harinya 40-45 perempuan terdiagnosis kanker serviks dan 20-25 diantaranya meninggal karenanya. Dampak yang dapat ditimbulkan kanker serviks pada perempuan sangat banyak, dikarenakan kasus kanker serviks terbanyak muncul pada saat perempuan berada dalam usia produktif yaitu antara 30-50 thn. Dampak ini diantaranya gangguan kualitas hidup psikis, fisik dan kesehatan seksual, Dampak sosial dan ekonomi (finansial), Pengaruh pada perawatan, pendidikan anak dan suasana kehidupan keluarga. Dalam 99% kasus, kanker serviks terjadi sebagai akibat dari riwayat infeksi dengan jenis risiko tinggi HPV. Seringkali, infeksi HPV tidak menimbulkan gejala. Sehingga sulit untuk dibedakan penderita yang terinfeksi dan keadaan normal. Biasanya baru bergejala saat kanker serviks sudah memasuki stadium akhir.  Apakah seseorang yang sudah terkena infeksi HPV perlu diberikan vaksin HPV? Sebaiknya vaksin ini diberikan sebelum seseorang mengalami kanker serviks, namun berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa vaksin HPV aman bagi wanita yang sudah terkena infeksi HPV. Tetapi wanita-wanita ini tidak akan mendapat manfaat yang penuh dari vaksin ini. Vaksin ini tidak dapat mengobati infeksinya, tetapi dapat melindungi wanita terhadap 4 jenis virus yang belum tentu diderita semuanya secara sekaligus. Jadi, jika sebelumnya seorang wanita belum terkena infeksi oleh sebagian jenis virus yang ada dalam vaksin, maka dia akan diproteksi terhadap sebagian jenis virus yang belum pernah dideritanya. Sebelum kanker serviks mengegrogoti kesehatan Anda, lakukan pencegaham sedini mungkin seperti berhubungan intim yang sehat, tidak berganti-ganti pasangan dan menjaga pola hidup sehat dan melakukan vaksinasi untuk pencegahan kanker serviks.  Baca juga: Waspada gejala-gejala kanker serviks  Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang  Sumber: anakui
 31 Jul 2015    18:00 WIB
Pernah Vaksin HPV Bukan Berarti Anda Bebas dari Infeksi HPV Lho!
Jika Anda pernah menerima vaksin HPV saat masih muda, maka hal ini berarti bahwa Anda tidak perlu khawatir akan tertular penyakit HPV lagi bukan? Jawabannya adalah salah. Sebuah penelitian baru di Amerika menemukan bahwa para wanita yang pernah menerima Gardasil (salah satu jenis vaksin HPV) masih memiliki resiko untuk tertular virus ini. Gardasil dapat diberikan pada perempuan yang berusia antara 9-26 tahun dan laki-laki yang berusia antara 9-15 tahun. Pada penelitian ini, para peneliti dari the University of Texas Medical Branch di Galveston menganalisa data dari 592 orang wanita yang berusia antara 20-26 tahun. Delapan orang wanita di antara para peserta penelitian tersebut telah menerima Gardasil, sementara sisanya tidak pernah menerima vaksin HPV jenis appaun. Para peserta yang pernah menerima Gardasil memang memiliki resiko yang lebih kecil untuk tertular salah satu jenis HPV, yaitu antara HPV 6, 11, 16, atau 18 karena vaksin tersebut memang melindungi penerimanya dari infeksi salah satu dari keempat jenis HPV di atas. Hanya sekitar 11% wanita yang pernah menerima Gardasil terinfeksi oleh salah satu dari keempat jenis HPV di atas dibandingkan dengan 20% peserta yang tidak pernah menerima vaksin HPV apapun. Para peneliti menemukan bahwa para wanita yang telah menerima vaksin HPV ini ternyata pernah menderita infeksi HPV sebelum menerima vaksin. Para peneliti mengatakan bahwa vaksin HPV tidak dapat melindungi penerimanya dari infeksi HPV yang telah terjadi sebelum orang tersebut menerima vaksin HPV. Hal mengejutkan yang juga ditemukan oleh para peneliti dalam penelitian ini adalah bahwa 60% wanita yang telah menerima Gardasil akhirnya terinfeksi oleh HPV resiko tinggi yang memang tidak dilindungi oleh vaksin, dibandingkan dengan 40% wanita yang tidak pernah menerima vaksin HPV sama sekali. Para peneliti tetap menemukan hasil yang sama walaupun mereka telah mempertimbangkan berbagai hal lainnya yang dapat meningkatkan resiko infeksi HPV seperti berapa banyak pasangan seksual yang dimiliki oleh para wanita tersebut. Akan tetapi, para peneliti mengatakan bahwa karena penelitian ini hanya dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dan dengan jumlah peserta yang sedikit, maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kebenaran penemuan mereka. Kesimpulannya adalah melakukan hubungan seks yang aman sangatlah penting untuk menjaga kesehatan tubuh Anda, tidak perduli apakah Anda telah menerima vaksinasi HPV atau belum. Walaupun penggunaan kondom tidak dapat memberikan perlindungan 100% terhadap HPV (karena HPV ditularkan melalui kontak antar kulit), akan tetapi penggunaan kondom tetap dapat menurunkan resiko tertular HPV. Selain melalui hubungan seks biasa (penetrasi penis ke dalam vagina), seks anal dan seks oral pun dapat menularkan infeksi HPV di antara pasangan seksual.   Baca juga: Efek Samping dari Vaksin HPV   Sumber: womenshealthmag
 30 Jan 2015    15:00 WIB
Kesalahan yang Membuat Anda Lebih Mudah Tertular Oleh HPV
Berdasarkan sebuah penelitian baru di Amerika, sekitar 10% wanita yang mulai menerima vaksin HPV ternyata tidak pernah menyelesaikan rangkaian vaksinasi tersebut, yang tentu saja akan membuat vaksin menjadi kurang efektif. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisa data dari sebuah survei kesehatan di Amerika, yang terdiri dari 27.000 orang dewasa di Amerika. Para peneliti kemudian menemukan bahwa mulai dari tahun 2010, sekitar 75% wanita yang berusia antara 18-26 tahun tidak melakukan vaksinasi HPV. Selain itu, sekitar 10% wanita yang menerima setidaknya 1 dosis vaksin HPV tidak kembali melanjutkan penyuntikkan vaksin hingga selesai (vaksinasi HPV terdiri dari 3 dosis). Karena para ahli sampai saat ini masih tidak mengetahui seberapa baik perlindungan yang diperoleh para wanita ini dengan hanya menerima 1 atau 2 dosis vaksin, maka para peneliti menganjurkan agar para wanita menerima keseluruhan vaksin HPV untuk memperoleh manfaat yang optimal dari penyuntikan vaksin. Vaksin HPV yang telah diluncurkan sejak 7 tahun lalu diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya infeksi dari 4 jenis HPV yang paling sering menyebabkan terjadinya kanker serviks (kanker leher rahim) dan kutil kemaluan. Vaksin HPV ini juga berfungsi untuk membantu mencegah terjadinya kanker vulva dan vagina serta mencegah terjadinya kanker anus baik pada pria maupun wanita. HPV sebenarnya merupakan penyakit menular seksual yang paling sering ditemukan di Amerika. Menurut CDC, setidaknya setengah dari seluruh pria dan wanita yang aktif berhubungan seksual pernah tertular oleh HPV di sepanjang hidupnya. Akan tetapi, karena pemberian vaksin HPV dibagi menjadi 3 dosis, maka banyak wanita yang tidak berhasil menyelesaikan rangkaian vaksin HPV ini. Dosis vaksin kedua biasanya diberikan 1-2 bulan setelah pemberian dosis pertama. Dosis ketiga biasanya diberikan 6 bulan setelah pemberian dosis pertama. Jika Anda telah melewatkan waktu pemberian dosis kedua dari vaksin HPV, maka bukan berarti Anda tidak lagi dapat menerima dosis kedua dan ketiga. Menurut sebuah penelitian lainnya yang juga dilakukan di Amerika, menunda pemberian dosis lanjutan dari vaksin HPV tidak akan menghilangkan keefektifan pemberian vaksin HPV lengkap. Efektivitas vaksin hanya akan berkurang bila Anda sama sekali tidak menerima dosis kedua dan ketiga dari rangkaian vaksin HPV. Para ahli menganjurkan agar pemberian vaksin HPV kembali dilakukan saat wanita telah berusia 26 tahun, baik bagi para wanita yang belum pernah menerima vaksin sebelumnya atau bagi para wanita yang hanya menerima 1 dosis vaksin saat mereka berusia lebih muda. Saat yang terbaik untuk menerima vaksin HPV adalah saat seorang perempuan masih berusia antara 11-12 tahun, akan tetapi bukan berarti Anda tidak boleh menerima vaksin bila Anda telah melewati usia tersebut.     Sumber: womenshealthmag
 21 Nov 2014    14:00 WIB
Kebiasaan Buruk yang Dapat Meningkatkan Resiko Tertular HPV
Pada sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika, para pria yang mengkonsumsi paling banyak minuman beralkohol, yaitu lebih dari 2.5 porsi minuman beralkohol setiap harinya memiliki resiko yang lebih tinggi (13% lebih tinggi) untuk mengalami infeksi HPV (human papilloma virus) dibandingkan dengan pria lain yang hanya mengkonsumsi sedikit minuman alkohol. Selain itu, seorang peminum alkohol juga memiliki resiko lebih tinggi untuk terinfeksi oleh HPV penyebab kanker, yaitu sekitar 35% lebih tinggi. Mengapa demikian? Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa pria yang mengkonsumsi lebih banyak minuman beralkohol juga cenderung lebih banyak berhubungan seks dengan banyak wanita. Akan tetapi, perlu diingat bahwa penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan sebab akibat dan hanya menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dengan penurunan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi HPV. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa bahkan bila Anda hanya mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah sedang, hal ini tetap saja dapat mengganggu kemampuan sistem kekebalan tubuh Anda untuk melindungi Anda dari berbagai jenis infeksi dan mengganggu kemampuan tubuh Anda untuk membentuk antibodi terhadap suatu penyakit. Hal ini dapat menyebabkan Anda menjadi lebih mudah mengalami flu, batuk, dan bahkan infeksi HPV. Berdasarkan sebuah penelitian lainnya, sebagian besar pria memang akan berkontak dengan HPV pada suatu saat selama hidupnya, akan tetapi Anda mungkin tidak menyadarinya karena infeksi ini biasanya tidak menimbulkan gejala apapun. Akan tetapi, beberapa jenis HPV dapat menyebabkan terjadinya kutil kemaluan, dan beberapa jenis HPV lainnya juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker anus, kanker penis, kanker mulut, dan kanker tenggorokan. Dan Anda tentu saja dapat menularkan HPV ini pada pasangan Anda. Karena HPV ditularkan melalui kontak langsung antara kulit penderita dengan orang lain, maka penggunaan kondom dapat mengurangi resiko penularan, akan tetapi mungkin tidak dapat mencegah terjadinya infeksi hingga 100%. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk mempertimbangkan penggunaan vaksin HPV untuk melindungi diri Anda dari infeksi HPV, terutama bila Anda memiliki lebih dari 1 pasangan seksual.     Sumber: menshealth
 24 Oct 2014    10:00 WIB
Apa Hubungan Antara Minuman Beralkohol dan Infeksi HPV yang Tidak Kunjung Sembuh?
Lebih dari setengah orang dewasa yang aktif secara seksual akan terpapar oleh HPV selama hidupnya. Sebagian besar penderita memang dapat sembuh dari infeksi HPV ini, akan tetapi terdapat juga beberapa orang yang sulit sembuh dari infeksi HPV ini (infeksi HPV persisten), yang diduga terjadi akibat konsumsi minuman beralkohol. Yang dimaksud dengan infeksi persisten adalah suatu keadaan di mana infeksi terus berlangsung (tidak juga menyembuh) dan tergantung pada jenis virus yang menginfeksi, hal ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan berat. Berdasarkan sebuah penelitian, mengkonsumsi minuman beralkohol ternyata dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi persisten terhadap HPV pada seorang wanita. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati lebih dari 9.000 orang wanita di Korea mengenai riwayat infeksi HPV dan menanyakan berbagai pertanyaan seputar kebiasaan konsumsi minuman beralkohol mereka.  Para peneliti ini kemudian menemukan bahwa para wanita yang sering mengkonsumsi minuman beralkohol memiliki resiko 3 kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi HPV dibandingkan dengan wanita yang tidak mengkonsumsi minuman beralkohol.  Selain itu, para wanita yang telah mengkonsumsi minuman beralkohol selama 5 tahun atau lebih memiliki resiko lebih dari 2 kali lipat untuk mengalami infeksi HPV yang persisten dibandingkan dengan para wanita yang baru mulai mengkonsumsi minuman beralkohol (kurang dari 5 tahun). Para peneliti juga menemukan bahwa kemungkinan seorang wanita untuk mengalami infeksi HPV yang persisten akan semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya jumlah minuman beralkohol yang mereka konsumsi setiap kalinya. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan 2 hal, yang pertama adalah bahwa konsumsi minuman beralkohol dapat menyebabkan terjadinya defisiensi folat, yang dapat menyebabkan perubahan DNA, yang dapat memicu terjadinya kanker.  Yang kedua adalah para peneliti menemukan bahwa hampir 10% wanita yang mengkonsumsi alkohol ternyata juga merokok. Tembakau dapat menyebabkan penurunan kekuatan sistem kekebalan tubuh, yang membuat tubuh semakin sulit melawan infeksi virus ini.     Sumber: foxnews
 18 Aug 2014    14:00 WIB
Vaksin HPV, Kembali Menyebabkan Kematian Seorang Remaja Perempuan!
Kematian mendadak seorang remaja perempuan berusia 12 tahun di Waukesha, Wisconsin, beberapa jam setelah menerima vaksin HPV, Gardasil membuat keluarganya sangat terkejut dan membuat media setempat bertanya-tanya bagaimana hal ini dapat terjadi. Seorang reporter di WISN 12 mewawancara seorang dokter dari departemen kesehatan setempat untuk mengetahui apa yang terjadi. Dokter tersebut mengatakan hal yang sama seperti CDC yang menyatakan bahwa reaksi alergi berat yang dapat menyebabkan kematian setelah pemberian suatu vaksin tertentu sangatlah jarang terjadi, yaitu hanya sekitar 1 dari 1.000.000 dosis vaksin. Vaksin HPV merupakan vaksin yang diberikan untuk mencegah infeksi HPV jenis tertentu yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit menular seksual dan kanker leher rahim. Pada saat berita mengenai Meredith Prohaska banyak diberitakan di media, ternyata terdapat orang tua lainnya yang menghubungi media berita setempat mengenai reaksi alergi berat yang dialami oleh putrinya yang berusia 17 tahun, yang membuatnya memerlukan perawatan di rumah sakit setempat. Selain reaksi alergi berat yang dapat membahayakan jiwa penerimanya, vaksin HPV ternyata juga memiliki beberapa efek samping lainnya seperti: • Menopause dini atau kemandulan • Narkolepsi (sejenis gangguan tidur) • Gangguan autoimun • Sindrom Guillain Barre • Stroke • Emboli pembuluh darah vena • Apendisitis (radang usus buntu) • Kejang • Sinkop (pingsan) • Berbagai reaksi alergi Sumber: healthimpactnews