Your browser does not support JavaScript!
 01 Dec 2017    18:00 WIB
Deteksi dini HIV dari gejala-gejala di mulut
Apakah HIV dan AIDS itu?HIV atau Human immunodeficiency virus  adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus HIV merusak daya tahan tubuh dengan menyerang sistem kekebalan/imunitas dengan  menghancurkan sel-sel darah putih tertentu secara progresif dan menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sindrom atau kumpulan gejala penyakit yang timbul akibat virus HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Dengan rusaknya sistem kekebalan akan mempermudah semua jenis virus masuk ke tubuh manusia tanpa takut diserang oleh imun tubuh lagi.   Bagaimana penularan HIV ? Melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom sehingga memungkinkan cairan mani atau cairan vagina yang mengandung virus HIV masuk ke dalam tubuh pasangannya Dari seorang ibu hamil yang HIV positif kepada bayinya selama masa kehamilan, waktu persalinan dan/atau waktu menyusui. Melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV. Lewat pemakaian alat suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, terutama terjadi pada pemakaian bersama alat suntik di kalangan pengguna narkoba suntik. Apa saja gejala-gejala HIV di mulut ?Gejala-gejala di mulut seringkali merupakan tanda awal infeksi HIV. Infeksi jamur Infeksi jamur kandida (candidiasis) adalah salah satu tanda yang paling awal dan paling umum ditemukan pada penderita HIV/AIDS. Secara klinis candidiasis tampak sebagai bercak putih atau kombinasi bercak putih dan kemerahan yang dapat terjadi di bagian manapun di rongga mulut. Terkadang bercak ini mudah berdarah dan terdapat daerah kemerahan di bawah bercak putih, disertai rasa sakit dan rasa seperti terbakar. Infeksi virus Kondisi imun yang melemah juga membuka kesempatan yang lebih lebar bagi infeksi virus, yang paling umum adalah virus herpes dan human Papillomavirus (HPV)biasanya menyerang bibir dan sisi lidah. Selain itu juga dapat terjadi lesi oral yang mengarah kepada keganasan, yang paling sering adalah sarcoma Kaposi. Mulut Kering (xerostomia)Penderita HIV/AIDS umumnya mengalami kondisi mulut kering (dry mouth/xerostomia) karena obat-obatan yang dikonsumsi maupun karena penyakitnya itu sendiri. Dikombinasi dengan penurunan sistem imun, mulut yang kering membuat penderita lebih mudah untuk mengalami karies dentis dan penyakit periodontal HIV. Peyakit periodontal HIV Penyakit periodontal sebetulnya dapat terjadi pada siapa saja, namun khusus pada pasien dengan gangguan sistem imun seperti HIV/AIDS, memiliki tampilan yang khas. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, pada gusi kondisi ini dahulu disebut HIV-gingivitis dan kini disebut linear gingival erythema (LGE), terlihat sebagai lesi merah seperti pita di daerah gusi. LGE dapat terasa sakit dan mudah berdarah, dan dapat berkembang menjadi penyakit periodontal yang khas yaitu necrotizing ulcerative periodontitis (NUP) yang dahulu disebut HIV-periodontitis, di mana tulang dan jaringan lunak mengalami kerusakan yang sangat cepat dan progresif. Umumnya berujung dengan kehilangan gigi, dan seringkali disertai rasa sakit yang berat dan mudah berdarah.   Baca Juga: Mencegah HIV Dengan Pengobatan Truvada   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.
 01 Dec 2017    16:00 WIB
Tips Perawatan Penderita HIV/AIDS di Rumah
Saat seseorang mengalami infeksi HIV seringkali merasa bahwa kehidupannya telah berakhir. Padahal kehidupan ini harus terus berjalan. Jangan biarkan seolah-olah hidup ini telah berakhir. Karena menjaga kesehatan adalah hal yang sangat penting terutama untuk orang yang menderita HIV karena daya tahan tubuhnya biasanya akan sangat menurun dan jangan sampai menularkan HIV pada orang lain.   Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para penderita HIV-AIDS saat dirumah: Beberapa hal yang dapat  dilakukan untuk menjaga kesehatan adalah:•  Cari tahu dan pelajarilah apa itu HIV untuk membantu anda mengambil keputusan dalam pengobatan anda•  Lakukanlah imunisasi dan konsumsilah obat-obatan yang diperlukan untuk mencegah berbagai infeksi seperti pneumonia atau kanker yang lebih sering terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah•  Carilah dukungan dari teman, sahabat, atau anggota keluarga anda•  Jangan merokok karena penderita HIV lebih mudah mengalami serangan jantung atau kanker paru-paru. Merokok dapat meningkatkan resiko anda menderita keduanya•  Jangan menggunakan berbagai obat-obatan terlarang•  Batasi konsumsi alkohol anda•  Masaklah makanan anda dengan baik sehingga anda tidak menderita berbagai penyakit yang ditularkan melalui makanan•  Konsumsilah diet sehat dan seimbang untuk menjaga agar sistem kekebalan tubuh anda tetap kuat. Pelajarilah cara-cara mengatasi penurunan berat badan akibat HIV•  Berolahragalah secara teratur untuk mengurangi stress dan memperbaiki kualitas hidup anda serta mencegah timbulnya rasa sangat lelah akibat HIV Hal-hal yang Dapat Dilakukan Oleh Pasangan atau Anggota Keluarga PenderitaBeberapa hal yang dapat anda lakukan untuk membantu pasangan atau anggota keluarga anda yang menderita HIV adalah:•  Berilah dukungan emosional pada pasangan atau anggota keluarga anda, anda dapat belajar menjadi pendengar yang baik dan terus semangati dan dukung pasangan atau anggota keluarga anda tersebut•  Lindungilah diri anda sendiri terhadap infeksi HIV atau infeksi lainnya dengan tidak menggunakan jarum suntik yang sama dengan penderita atau melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan apapun (kondom)•  Jagalah kebersihan diri anda, rumah anda, lingkungan sekitar rumah anda, dan penderita untuk mencegah terjadinya infeksi•  Rawat dan jagalah kesehatan diri anda sendiri. Bila anda merasa stress, anda dapat memberitahu masalah anda pada orang lain atau mencari bantuan ahli bila diperlukan•  Pelajarilah bagaimana cara memberikan obat-obatan pada penderita dan carilah bantuan saat keadaan gawat darurat Pemilihan PengobatanDokter anda harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti resistensi obat dan efek samping obat untuk menentukan pengobatan terbaik bagi infeksi HIV yang anda alami. Akan tetapi, pada beberapa orang, HIV akan berkembang menjadi AIDS yang sangat berbahaya bagi jiwa anda. Walaupun tidak dapat menyembuhkan, pengobatan HIV dapat membantu mereka yang menderita HIV hidup lebih lama dan lebih sehat. Dengan demikian mereka dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan dapat melakukan berbagai keputusan penting dalam hidupnya.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: webmd
 01 Dec 2017    13:00 WIB
Ini Mitos dan Fakta Penularan Virus HIV/AIDS
Penyakit HIV-AIDS seringkali menjadi penyakit yang sangat menyeramkan bagi semua orang. Hal inilah yang membuat banyak orang merasa takut untuk berhubungan secara langsung dengan para penderita HIV-AIDS. Rasa takut yang berlebihan terkadang memunculkan banyak mitos menyesatkan.   Padahal tidak semua mitos semua benar, mitos apa sajakah itu? Ayo disimak ulasan dibawah ini: HIV-AIDS memang dapat menular dengan berbagai cara, namun Agar informasi yang beredar tentang HIV/AIDS tidak menyesatkan dan tidak memunculkan prasangka serta stigma buruk terhadap ODHA (orang dengan HIV/AIDS), kenali mitos dan fakta seputar virus dan penyakit mematikan berikut ini: HIV/AIDS Bisa Disembuhkan Lewat Pengobatan Alternatif Fakta: Tak sedikit orang mengklaim mampu menyembuhkannya secara alternatif, sehingga membuat orang banyak percaya untuk menggunakan pengobatan alternatif. Namun kenyataannya sampai sekarang ini belum ditemukan obat untuk mengalahkan HIV/AIDS. Usia di atas 50 Tidak akan Tertular HIV/AIDS Fakta: Tidak benar, ada banyak kasus HIV/AIDS yang ditemukan pada usia di atas itu. Virus ini bisa menyerang segala usia. Pasangan yang sama-sama kena HIV/AIDS, tak perlu pakai ‘pengaman’ Fakta: Tidak benar. Para ahli menilai justru bila mereka tidak menggunakan kondom, bisa menyebabkan kondisi penyakit semakin parah dan proses pengobatan menjadi lebih sulit. HIV/AIDS hanya bisa menularkan kaum gay dan pengguna narkoba Fakta: HIV/AIDS dapat menginfeksi siapa saja. Bahkan, bayi, wanita, manula di atas 50 tahun, remaja, kulit hitam, putih dan hispanik. Orang-orang yang memiliki perilaku berisiko HIV/AIDS tetap dapat terinfeksi. HIV/AIDS tidak bisa tertular lewat seks oral Fakta: Sekali lagi, ini tidak benar dan ini mitos yang sangat berbahaya. Kondom harus tetap digunakan setiap kali melakukan hubungan seksual, anal, dan oral. Setelah Anda mengetahui tentang mitos diatas, jangan mudah percaya mitos-mitos yang berkembang. Jauh lebih baik tanyakan kepada dokter dan tenaga medis lain yang jauh lebih mengerti tentang hal ini.   Baca Juga: Mencegah HIV Dengan Pengobatan Truvada   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: About
 01 Dec 2017    10:00 WIB
Berbagai Gejala Infeksi HIV Berdasarkan Stadiumnya
HIV-AIDS merupakan kondisi yang selalu dianggap mengerikan oleh hampir kebanyakan orang. Namun tidak semua orang tahu apa beda dari HIV dan AIDS. HIV adalah virus yang menyerang manusia, sedangkan AIDS adalah sebutan tahap akhir dari infeksi HIV. Banyak orang yang statusnya adalah HIV, namun buka berarti dia akan terkena AIDS.   Agar Anda lebih mengerti mengenai gejala infeksi HIV berdasarkan stadiumnya, berikut adalah uraian yang dapat Anda simak: Stadium IInfeksi HIV memiliki 3 stadium. Stadium pertama disebut dengan infeksi akut ataru serokonversi, yang biasanya terjadi dalam waktu 2-6 minggu setelah terinfeksi oleh HIV. Pada keadaan ini, sistem kekebalan tubuh anda masih berusaha melawan HIV. Berbagai gejala yang terjadi pada stadium pertama ini biasanya sama dengan berbagai infeksi virus lainnya dan seringkali dikira sebagai flu. Gejala dapat berlangsung selama 1-2 minggu dan kemudian sembuh total. Beberapa gejala yang dapat anda temukan adalah:•  Nyeri kepala•  Diare•  Mual dan muntah•  Merasa sangat lelah•  Nyeri otot•  Nyeri tenggorokan•  Adanya bercak-bercak kemerahan pada kulit yang tidak gatal, biasanya terjadi pada daerah batang tubuh•  DemamStadium II (Periode Tanpa Gejala)Setelah melewati stadium pertama atau saat sistem kekebalan tubuh anda tidak dapat melawan infeksi HIV (kalah), berbagai gejala di atas pun akan menghilang dan infeksi HIV pun memasuki stadium kedua, yang dapat berlangsung lama tanpa menimbulkan gejala apapun (periode asimptomatik). Pada stadium ini, penderita biasanya tidak menyadari dirinya telah terinfeksi oleh HIV dan menularkannya pada orang lain. Stadium ini dapat berlangsung selama 10 tahun atau lebih. Pada tahap ini, HIV membunuh sel CD4 secara perlahan dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh anda. Anda dapat memeriksa kadar CD4 anda melalui pemeriksaan darah. Pada keadaan normal, CD4 biasanya berjumlah antara 450-1.400 sel/µL. Jumlah ini dapat berubah-ubah tergantung pada keadaan kesehatan seseorang. Akan tetapi, penderita HIV biasanya mengalami penurunan kadar CD4 secara konstan, yang membuatnya rentan terhadap berbagai infeksi lain.Stadium IIIStadium III adalah saat penderita HIV telah mengalami AIDS (acquired immune deficiency syndrome), yaitu saat CD4 berjumlah kurang dari 200 sel/µL. Selain penurunan kadar CD4, seorang penderita HIV dapat didiagnosa AIDS bila ia menderita sarkoma Kaposi (suatu jenis kanker kulit) atau pneumonia pneumokistik (suatu gangguan paru-paru). Berbagai obat HIV dapat membantu membangun kembali sistem kekebalan tubuh anda, walaupun juga memiliki berbagai efek samping. Orang yang memiliki kadar CD4 yang sangat rendah juga harus mengkonsumsi obat-obatan lain untuk mencegah terjadinya infeksi oportunistik. Obat-obatan ini harus dikonsumsi hingga telah terjadi peningkatan kadar CD4. Beberapa penderita HIV mungkin tidak menyadari dirinya menderita HIV hingga mengalami beberapa gejala di bawah ini, yaitu:•  Selalu merasa lelah•  Mengalami pembesaran kelenjar getah bening leher atau selangkangan•  Demam yang berlangsung selama lebih dari 10 hari•  Berkeringat di malam hari•  Mengalami penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas•  Adanya bintik keunguan pada kulit yang tidak dapat hilang•  Sesak napas•  Diare berat dan telah berlangsung lama•  Menderita infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, atau vagina•  Mudah memar atau mengalami perdarahan tanpa penyebab yang jelas Untuk kondisi yang satu ini selalu tanyakan pada ahlinya, sehingga Anda tidak membuat kesimpulan yang salah dan merugikan orang lain.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.    Sumber: webmd
 01 Dec 2017    08:00 WIB
Bunga ini Dipercaya Mencegah Virus HIV
Geranium adalah salah satu jenis bunga yang berbentuk kecil dan biasanya tumbuh bergerombol. Bunga ini memiliki warna ungu, biru, pink, atau putih. Selama ini bunga geranium diketahui sebagai tanaman yang bisa mencegah gigitan nyamuk. Namun baru-baru ini peneliti menemukan bahwa ekstrak bunga geranium dipercayai bisa menyembuhkan AIDS. Peneliti dari Jerman mengungkap bahwa ekstrak tanaman geranium bisa mencegah virus HIV mengenai sel manusia. Virus HIV terbagi menjadi dua jenis, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Kedua virus tersebut bertanggung jawab menyebabkan penyakit AIDS pada manusia. Peneliti mengungkap bahwa ekstrak bunga geranium berpotensi untuk menjadi obat baru untuk mencegah virus HIV-1. Penelitian yang dilakukan di German research Centre for Environmental Health, Munich juga menemukan bahwa ekstrak geranium bisa mencegah virus untuk melakukan replikasi jenis baru dari HIV-1 dan melindungi sel kekebalan tubuh serta sel darah dari infeksi virus HIV tersebut. Para peneliti tersebut juga menemukan jika bunga Geranium mampu melindungi sel darah dan system imunitas tubuh dari infeksi virus, dengan kata lain, Geranium mampu mencegah penyebaran HIV. Peneliti telah melakukan beberapa percobaan klinis untuk mengetahui apakah efek bunga geranium aman untuk dikonsumsi manusia. Di jerman, peneliti juga telah melegalkan penggunaan ekstrak ini sebagai obat herbal untuk mencegah HIV. Ekstrak geranium cukup menjanjikan untuk digunakan sebagai obat melawan HIV-1. Selain itu, geranium juga bisa didapatkan dan disimpan dengan mudah.   Baca juga: Berbagai Gejala Infeksi HIV Berdasarkan Stadiumnya   Ekstrak dari bunga Geranium ini memiliki cara kerja yang berbeda dari semua obat-obat anti HIV-1 yang telah digunakan dalam uji klinis. Hal ini menjadikan bunga Geranium sangat penting digunakan dalam pengobatan anti HIV sebagai supplemen. Selain itu penggunaan ektrak geranium dalam pengobatan anti HIV sangat menjanjikan karena hanya membutuhkan sumber daya sedikit, mudah dikembangkan dan tidak membutuhkan proses pendinginan. Berdasarkan data WHO, lebih dari 35 juta orang di dunia terkena virus HIV, kebanyakan adalah HIV-1. JIka tak segera dirawat HIV bisa menyebabkan penyakit AIDS yang sangat membahayakan dan bisa menghilangkan nyawa. Penemuan ini bisa menjadi salah satu sinar terang untuk pengembangan obat HIV/AIDS di masa depan.   Sumber : dailymail
 18 May 2017    18:00 WIB
Deteksi Dini Infeksi HIV Dengan Memeriksan Mulut Anda
Pada orang yang telah diketahui mengalami infeksi HIV, adanya gangguan kognitif, perubahan perilaku, atau berbagai gangguan motorik menandakan bahwa orang tersebut mengalami demensia akibat AIDS (ADC). Akan tetapi, terdapat berbagai gangguan lain yang juga dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif tersebut seperti gangguan metabolik, infeksi, penyakit otak degeneratif, stroke, tumor, dan sebagainya. Untuk menyingkirkan berbagai kemungkinan penyebab lain di atas, dokter anda mungkin harus melakukan berbagai pemeriksaan untuk menentukan penyebab berbagai gejala yang anda alami. Pemeriksaan Radiologi CT Scan dan MRICT scan dan MRI dapat mendeteksi adanya perubahan di dalam otak yang mendukung diagnosa ADC. Perubahan otak pada penderita ADC akan terus memburuk seiring dengan berlalunya waktu, oleh karena itu pemeriksaan ini harus dilakukan berulang kali secara teratur. Pemeriksaan ini juga dapat membantu menyingkirkan berbagai penyebab lainnya seperti infeksi, stroke, dan tumor otak.CT scan atau MRI kepala dapat menunjukkan adanya atrofi (pengecilan) otak dan berbagai perubahan lainnya pada berbagai bagian otak yang memang terjadi pada penderita ADC. PET Scan dan SPECT ScanKedua pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya ketidaknormalan pada metabolisme otak yang dapat ditemukan pada penderita ADC ataupun gangguan lainnya.Pemeriksaan LaboratoriumTidak ada pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan untuk memastikan diagnosa ADC. Pemeriksaan laboratorium hanya dapat digunakan untuk menyingkirkan berbagai kemungkinan penyebab lainnya yang dapat menyebabkan gejala yang sama. Pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG)Pemeriksaan EEG digunakan untuk mengukur aktivitas listrik di dalam otak. Pada penderita ADC stadium lanjut, akan tampak penurunan aktivitas listrik di dalam otak (lebih lambat daripada normal). EEG juga dapat digunakan untuk melihat apakah seseorang sedang mengalami serangan kejang.Pemeriksaan NeuropsikologisPemeriksaan neuropsikologis merupakan pemeriksaan yang dapat digunakan memeriksa kemampuan kognitif, dengan hasil yang paling akurat.Pemeriksaan ini dapat memberikan gambaran yang paling tepat tentang gangguan yang terjadi sehingga dapat membantu dokter dalam menentukan pengobatan terbaik untuk mengatasi gangguan yang anda alami. Pada pemeriksaan ini, anda akan diminta untuk menjawab berbagai pertanyaan dan melakukan berbagai hal untuk melihat beberapa hal di bawah ini, yaitu:•    Bagaimana mood anda•    Tingkat kecemasan anda•    Apakah anda pernah mengalami delusi atau halusinasi•    Bagaimana kemampuan kognitif anda. Yang termasuk dalam kemampuan kognitif adalah daya ingat, konsentrasi, orientasi waktu dan tempat (mengetahui siang dan malam serta di mana anda berada), kemampuan berbahasa, dan kemampuan untuk menyelesaikan suatu tugas serta mengikuti suatu perintah atau instruksi tertentu•    Memeriksa kemampuan menganalisis, berpikir abstrak, dan menyelesaikan masalahSumber: webmd
 18 May 2017    15:00 WIB
Benarkah Pengobatan HIV Tersembunyi Dalam Saus Soy?
Tahukah anda apa itu saus soy? Bila anda merupakan seorang penggemar sushi, maka anda pasti pernah melihat dan bahkan mengkonsumsinya. Saus soy merupakan saus yang seringkali digunakan saat anda memakan sushi. Baru-baru ini, para ahli telah menemukan bahwa sebuah molekul penguat rasa di dalam saus soy yang mungkin dapat digunakan sebagai pengobatan infeksi HIV. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati bagaimana sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap berbagai bahan kimia di dalam makanan. Para peneliti kemudian menemukan bahwa sebuah molekul, yaitu EFdA mungkin dapat digunakan untuk mengobati infeksi HIV. EFdA dapat digunakan untuk mengobati infeksi HIV, karena molekul ini memiliki cara kerja yang mirip dengan semua obat HIV lainnya, yaitu membantu mencegah replikasi HIV. Hal ini merupakan suatu penemuan baru yang menggembirakan karena banyak penderita HIV yang telah mengalami resistensi terhadap obat-obatan HIV yang banyak digunakan sehingga diperlukan penggantian obat. Akan tetapi, para peneliti menemukan bahwa EFdA ini lebih jarang menyebabkan resistensi, karena lebih cepat teraktivasi dan proses metabolismenya di dalam hati dan ginjal juga tidak secepat obat HIV lainnya.Para peneliti juga menemukan bahwa molekul ini (EFdA) dapat bekerja lebih baik hingga 10 kali lipat bagi infeksi HIV yang belum mengalami resistensi terhadap obat HIV (tenofovir) dan 70 kali lipat pada  infeksi HIV yang telah mengalami resistensi terhadap tenofovir.Sumber: foxnews
 18 May 2017    12:00 WIB
Tips Diet Sehat Bagi Para Penderita HIV/AIDS
Bila anda terinfeksi oleh HIV, melakukan pengobatan, dan tidak mengalami komplikasi apapun; maka diet anda adalah sama dengan diet orang pada umumnya. Walaupun tidak ada menu atau diet khusus bagi penderita HIV, diet sehat dan seimbang tetaplah penting. Diet sehat dapat membuat anda merasa lebih sehat, menghindari terjadinya berbagai komplikasi, dan menjaga kesehatan anda secara keseluruhan.   Tips Diet Sehat 9 ketentuan umum dalam diet sehat adalah: Konsumsilah banyak buah dan sayuran (5-6 porsi sehari) Pilihlah gandum karena memiliki lebih banyak nutrisi dan serat Pilihlah daging bebas lemak, seperti ikan dan ayam serta konsumsilah kacang-kacangan, polong-polongan, dan produk susu rendah lemak Konsumsilah lemak tidak jenuh dalam jumlah sedang, seperto pada minyak olive dan kacang-kacangan Batasi konsumsi gula, makanan manis, dan lemak jenuh Hindari lemak trans Jangan berdiet secara berlebihan karena membuang terlalu banyak kalori dapat berbahaya bagi kesehatan anda. Selain itu, mengkonsumsi berbagai vitamin dan suplemen dalam dosis tinggi juga dapat berbahaya. Berkonsultasilah dengan dokter anda terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi vitamin atau suplemen apapun Jangan hanya mengkonsumsi makanan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh anda karena dapat membahayakan kesehatan anda. Makanlah juga untuk kesehatan anda secara keseluruhan. Penderita HIV memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung, kanker, osteoporosis, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya. Diet sehat dan seimbang dapat membantu mencegah timbulnya berbagai gangguan di atas Hubungi dokter anda bila anda mengalami gangguan makan seperti hilangnya nafsu makan, mual, atau penurunan berat badan yang tidak diinginkan. Penuhilah setengah piring anda dengan sayur dan buah-buahan, dan setengahnya lagi dengan gandum dan protein. Penurunan berat badan yang tidak diinginkan merupakan hal yang sering terjadi pada penderita HIV. Hal ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius. Untuk mencegahnya, konsumsilah makanan tinggi kalori dan protein. Penurunan berat badan akibat HIV ini sering terjadi, terutama pada penderita HIV berat atau yang tidak diobati. Akan tetapi, berat badan berlebih pun memiliki resiko pula. Penderita HIV dengan berat badan berlebih memiliki resiko mengalami penyakit jantung dan diabetes yang lebih tinggi. Oleh karena itu, diet sehat dan menjaga berat badan anda merupakan langkah pengobatan yang penting bagi penderita HIV.   Sumber: webmd
 18 May 2017    11:00 WIB
Vaksin Bagi Penderita HIV/AIDS
Jika anda terinfeksi oleh HIV atau menderita AIDS, maka anda membutuhkan pertahanan lebih terhadap berbagai infeksi seperti flu akibat penurunan sistem kekebalan tubuh anda yang membuat anda sulit melawan berbagai infeksi. Vaksin atau imunisasi dapat membantu tubuh anda mempertahan dirinya dari berbagai infeksi. Akan tetapi, bila anda menderita HIV/AIDS, maka efek imunisasi yang anda alami dapat berbeda dengan efek imunisasi pada orang lain yang tidak menderita HIV/AIDS.Tidak semua vaksin aman diberikan pada penderita HIV/AIDS. Vaksin yang dibuat dari virus hidup yang dilemahkan dapat menyebabkan penderita HIV/AIDS mengalami infeksi ringan. Penderita HIV/AIDS hanya dapat menerima vaksin tertentu yang tidak lagi mengandung virus atau bakteri hidup di dalamnya.Efek Samping VaksinSiapapun dapat mengalami beberapa efek samping vaksin di bawah ini, baik anda menderita HIV/AIDS ataupun tidak. Beberapa efek samping tersebut adalah:•    Nyeri, kemerahan, atau pembengkakan pada bekas tempat suntikan vaksin•    Badan terasa lemah•    Merasa lelah•    Mual Bila anda menderita HIV/AIDS, maka terdapat beberapa efek samping tambahan saat anda menerima vaksin, yaitu:•    Vaksin dapat meningkatkan jumlah HIV di dalam tubuh anda•    Vaksin mungkin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya bila kadar CD4 (salah satu jenis sel darah putih) anda terlalu rendah. Mengkonsumsi obat antiretrovirus kuat sebelum pemberian vaksin mungkin dapat membantu bila kadar CD4 anda rendah•    Vaksin yang berisi virus hidup yang telah dilemahkan dapat membuat anda mengalami infeksi yang seharusnya dicegah melalui pemberian vaksin tersebut. Oleh karena itu, anda sebaiknya menghindari menerima vaksin berisi virus hidup seperti cacar air atau flu. Selain itu, hindarilah kontak dekat dengan seseorang yang baru saja menerima vaksin berisi virus hidup tersebut selama 2-3 minggu. Vaksin MMR (measles, mumps, dan rubella) merupakan satu-satunya vaksin berisi virus hidup yang kadangkala masih boleh diberikan pada penderita HIV/AIDS. Akan tetapi, hindari vaksin MMR bila kadar CD4 anda kurang dari 200, mengalami gejala HIV, mengalami gejala AIDSVaksin yang Diperlukan Oleh Penderita HIV Bagi Seluruh Orang Dewasa Dengan HIV PositifHepatitis B (HBV)Vaksin hepatitis B diberikan dalam 3 kali suntikan dalam waktu 6 bulan. Vaksin tidak diberikan bila anda sedang menderita hepatitis atau bila anda masih memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis B. Lakukanlah pemeriksaan darah untuk memeriksa kekebalan setelah anda menerima 3 kali suntikan vaksin hepatitis B. Jika kadar kekebalan anda terlalu rendah, maka anda mungkin membutuhkan pemeriksaan lainnya. Vaksin ini efektif selama sekitar 10 tahun. InfluenzaVaksin influenza hanya diberikan satu kali melalui suntikan. Ulangilah pemberian vaksin setiap tahunnya untuk memperoleh perlindungan terbaik. MMR (Measles, Mumps, Rubella)Vaksin MMR diberikan melalui 1 atau 2 kali suntikan. Anda tidak perlu menerima vaksin ini bila anda lahir sebelum tahun 1957. Vaksin MMR merupakan satu-satunya vaksin yang mengandung virus hidup yang boleh diberikan pada penderita HIV positif, akan tetapi hanya bila jumlah CD4 anda lebih dari 200. PneumoniaVaksin pneumonia ini dapat diberikan melalui 1 atau 2 kali suntikan. Lakukanlah vaksinasi ini segera setelah anda terdiagnosa HIV, kecuali bila anda telah menerima vaksin ini dalam waktu 5 tahun terakhir. Vaksin ini akan efektif dalam waktu 2-3 minggu setelah pemberian. Bila anda menerima vaksin saat jumlah CD4 anda kurang dari 200, maka ulangi pemberiannya setelah jumlah CD4 anda mencapai 200. Ulangi pemberian vaksin setiap 5 tahun. DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus) atau DT (Difteria dan Tetanus)Vaksin DT atau DPT diberikan melalui satu suntikan dan diulang setiap 10 tahun. Pemberian vaksin dilakukan segera setelah anda mengalami luka seperti luka terbuka yang lebar yang harus dijahit. Hanya Bagi Beberapa Orang Dewasa Dengan HIV PositifHepatitis A (HAV)Vaksin hepatitis A diberikan dalam 2 suntikan dalam waktu 6 bulan. Pemberian vaksin ini dianjurkan pada:•    Pekerja di bidang kesehatan•    Pria yang berhubungan seksual dengan pria•    Pengguna obat yang diberikan melalui suntikan •    Penderita penyakit hati kronik•    Penderita hemophilia•    Orang yang berpergian ke negara tertentuVaksin ini efektif selama setidaknya 20 tahun. Kombinasi Hepatiti A dan BDiberikan melalui 3 suntikan dalam waktu 1 tahun. Vaksin ini diberikan pada orang yang memerlukan vaksin hepatitis A dan B. Meningitis Bakterial (Haemophilus influenza tipe B)Vaksin ini diberikan melalui 1 suntikan. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anda sebelum menerima vaksin ini. Meningitis Bakterial (Meningococcal)Vaksin ini diberikan melalui 1 suntikan. Direkomendasikan bagi mahasiswa, pelajar, anggota militer, dan orang yang berpergian ke negara tertentu. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.Sumber: webmd
 10 May 2017    08:00 WIB
Perbedaan Antara Lupus dan HIV
Tentunya sebagian besar orang di dunia pernah mendengar tentang HIV, akan tetapi bagaimana dengan lupus? Mengapa kedua penyakit ini berhubungan? Hal ini dikarenakan saat Anda menderita lupus, maka hasil pemeriksaan laboratorium terhadap HIV juga seringkali terganggu. Baik lupus maupun HIV merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.  Di bawah ini terdapat beberapa perbedaan antara lupus dan HIV yang dapat membantu Anda membedakan keduanya.   Lupus Lupus merupakan suatu penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh tidak dapat membedakan antara sel tubuh yang sehat dan antigen. Saat seseorang terkena lupus, maka jaringan sehat seringkali ikut terpengaruh. Jaringan sehat yang sering terkena adalah kulit, sendi, suhu tubuh, darah, paru-paru, dan bahkan ginjal. Hal ini menyebabkan Anda mengalami pembengkakan dan radang. Karena lupus merupakan penyakit autoimun, maka sistem kekebalan tubuh Anda pun tidak dapat mendeteksi antigen sehingga dapat menginfeksi berbagai bagian tubuh. Terdapat berbagai jenis lupus, akan tetapi yang paling sering adalah lupus eritematosus sistemik. Jenis lupus lainnya adalah diskoid, terinduksi oleh obat, dan neonatus. Wanita lebih sering terkena lupus dibandingkan dengan pria.  Para ahli masih belum mengetahui apa penyebab pasti dari lupus, akan tetapi mereka menduga bahwa terjadinya lupus berhubungan dengan adanya stimulasi genetik dan lingkungan. Karena wanita lebih sering terkena lupus daripada pria, maka para ahli menduga bahwa hormon estrogen juga memiliki peranan dalam terjadinya lupus.  Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya lupus adalah kebiasaan merokok, radiasi sinar UV, stress yang sangat berat, obat-obatan tertentu, infeksi, dan berbagai jenis zat kimia.  Beberapa gejala lupus yang dapat ditemukan adalah serositis (radang pada lapisan serosa), ulkus atau luka terbuka pada lapisan mukosa, radang sendi, fotosensitivitas, anemia, kejang, adanya bercak kemerahan pada pipi, bercak kemerahan bersisik pada kulit. Sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan lupus.   HIV HIV merupakan human immunodeficiency virus, yang merupakan virus penyebab terjadinya AIDS. HIV bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu jenis virus. AIDS lah yang merupakan suatu penyakit.  Seseorang yang terinfeksi HIV memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, yang membuatnya lebih mudah terkena berbagai infeksi dan penyakit. Bila hal ini terus berlangsung maka dapat terjadi AIDS.  Penurunan sistem kekebalan tubuh, baik pada penderita lupus maupun HIV menyebabkan penderita seringkali menderita berbagai penyakit lain. Baik HIV maupun AIDS dapat ditularkan melalui darah dan kontak seksual. Beberapa tAnda awal infeksi HIV adalah demam, menggigil, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri tenggorokan, berkeringat di malam hari, pembesaran kelenjar getah bening, adanya bercak kemerahan pada kulit, badan terasa lemah, dan penurunan berat badan.  Karena gejala infeksi HIV dan lupus agak mirip, maka banyak orang sulit membedakan keduanya. Salah satu pembeda antara lupus dan HIV adalah adanya bercak kemerahan yang berbentuk seperti kupu-kupu pada pipi. Bercak ini hanya ditemukan pada penderita lupus.  Seperti halnya lupus, sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan infeksi HIV maupun AIDS.   Sumber: differencebetween