Your browser does not support JavaScript!
 14 Sep 2018    11:00 WIB
Penyakit Kulit Yang Paling Sering Menyerang Diabetes Tipe 2
Pasien dengan diabetes mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena masalah kulit, atau dari komplikasi kulit yang tidak diketahui lebih awal, lebih sering disebabkan oleh penurunan sensasi pada kulit. Kebanyakan kondisi kulit dapat dicegah dan diobati dengan baik jika ditemukan pada tahap awal. Tetapi jika masalah kulit tersebut tidak mendapat perhatian yang baik, sebuah kelainan kulit minor pada penderita diabetes dapat berubah menjadi kondisi yang berat dan membawa komplikasi yang serius. Kondisi kulit yang terkait dengan diabetes: Skleroderma diabetikum Kondisi ini menyebabkan penebalan pada kulit di bagian leher dan punggung atas. Kondisi ini sangat jarang terjadi pada diabetes tipe 2. Pengobatan memerlukan kadar gula darah yang stabil. Losion dan pelembab terkadang dapat membantu melembutkan kulit Diabetik dermopati Disebut juga shinspot, kondisi ini berkembang sebagai akibat dari perubahan suplai aliran darah ke kulit. Dermopati terlihat seperti lesi berbentuk melingkar atau oval yang mengkilat, biasanya muncul di permukaan kulit yang tipis misalnya di bagian bawah kaki. Lesi tidak terasa sakit walaupun terkadang dapat menimbulkan rasa gatal maupun sensasi terbakar. Biasanya tidak dibutuhkan terapi khusus. Diabetik bulosa Pada kasus yang jarang terjadi, pengidap diabetes sering mengalami lesi berbentuk bulosa. Lesi bulosa ini dapat terjadi di daerah jari, tangan, kaki dan lengan atas. Lesi bulosa ini biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri dan dapat sembuh sendiri. Lesi bulosa ini sering terjadi pada penderita diabetes berat dan juga diabetes neuropati. Dengan mengontrol kadar gula darah tetap normal maka akan terhindar dari penyakit kulit ini. Disemineted granuloma anulare Kondisi ini menyebabkan lesi kulit berbentuk cincin yang berbatas tegas di daerah kulit sekitar jari dan telinga. Lesi kulit ini juga dapat muncul di dada dan abdomen. Ruam bisa berwarna merah, merah kecoklatan atau sewarna dengan kulit. Biasanya tidak memerlukan terapi, tetapi terkadang diperlukan steroid topikal untuk pengobatannya misalnya seperti hidrokortison. Infeksi bakteri Infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus bisa menjadi masalah yang serius pada diabetes. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan inflamasi mulai dari kelenjar rambut. Infeksi ini sering terjadi di kelenjar di bulu mata dan infeksi kuku. Kebanyakan bakteri memerlukan pengobatan antibiotik, baik dalam bentuk pil maupun krim Infeksi jamur Infeksi jamur pada penderita diabetes sering disebabkan oleh kandida albikans. Wanita lebih mudah terkena infeksijamur ini, terutama didaerah vagina. Daerah lain yang sering diserang oleh jamur adalah di sudut bibir yang dikenal dengan istilah "angular cheilitis", yang akan terasa seperti sensasi terpotong di sudut bibir. Jamur juga sering muncul di kaki dan jari, juga di kuku (onikomikosis). Infeksi jamur yang berpotensi berbahaya disebabkan oleh Mucormycosis. Infeksi ini biasanya dimulai di lubang hidung dan dapat menyebar sampai ke mata dan otak.   Sumber: webmd
 21 Jun 2016    15:00 WIB
Penanganan Diabetes Tipe 2 Saat Berpuasa Part 2
Bagi penderita diabetes tipe 2 dengan kadar gula darah yang terkendali baik hanya dengan mengubah pola makan, maka resiko terjadinya gangguan kesehatan tertentu saat berpuasa cukup rendah. Akan tetapi, mereka tetap saja memiliki resiko untuk mengalami hiperglikemia setelah sahur dan berbuka puasa, apalagi bila penderita makan secara berlebihan. Membagi porsi makan menjadi 2-3 kali setiap harinya saat berbuka dapat membantu mencegah terjadinya hiperglikemia. Selain itu, penderita juga dianjurkan untuk tetap berolahraga tetapi dengan intensitas yang lebih ringan dan waktu yang lebih singkat untuk mencegah terjadinya hipoglikemia. Waktu berolahraga juga harus diubah, yaitu 2 jam setelah berbuka puasa. Pada orang lanjut usia yang juga menderita diabetes tipe 2 tetapi tetap ingin berpuasa, maka mereka mungkin memilliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita trombosis (terbentuknya bekuan darah di dalam pembuluh darah).   Bila Penderita Menggunakan Insulin Masalah yang akan dihadapi oleh para penderita diabetes tipe 2 yang menggunakan insulin sama dengan yang akan dihadapi oleh para penderita diabetes tipe 1, hanya saja dengan resiko hipoglikemia yang lebih renah. Tujuannya adalah menjaga kadar insulin basal tetap sesuai dengan kebutuhan dan untuk mengatasi resistensi insulin yang telah ada. Jadi, diperlukan kombinasi antara insulin kerja sedang hingga panjang serta insulin kerja pendek yang diberikan sebelum makan (saat sahur dan berbuka puasa). Walaupun resiko terjadinya hipoglikemia memang lebih rendah, akan tetapi bukan berarti penderita yang menggunakan insulin terbebas dari resiko, terutama bila penderita tersebut telah menggunakan terapi insulin selama bertahun-tahun. Resiko terjadinya hipoglikemia ini terutama paling tinggi pada para penderita diabetes tipe 2 yang telah berusia lanjut. Penderita diabetes tipe 2 yang menggunakan insulin tetapi tetap ingin berpuasa dianjurkan untuk menggunakan kombinasi antara insulin kerja panjang, sedang, dan pendek. Di mana insulin kerja panjang akan disuntikan 2 kali sehari sebelum berbuka dan sahur. Satu suntikan insulin kerja sedang sebelum berbuka puasa. Akan tetapi, beberapa orang penderita mungkin juga membutuhkan suntikan insulin kerja pendek sebelum berbuka puasa untuk mengatasi kelebihan kalori yang dikonsumsi saat berbuka puasa dan sebelum sahur.   Sumber: diabetesjournals
 21 Jun 2016    12:00 WIB
Penanganan Diabetes Tipe 2 Saat Berpuasa Part 1
Bagi penderita diabetes tipe 2 dengan kadar gula darah yang terkendali baik hanya dengan mengubah pola makan, maka resiko terjadinya gangguan kesehatan tertentu saat berpuasa cukup rendah. Akan tetapi, mereka tetap saja memiliki resiko untuk mengalami hiperglikemia setelah sahur dan berbuka puasa, apalagi bila penderita makan secara berlebihan. Membagi porsi makan menjadi 2-3 kali setiap harinya saat berbuka dapat membantu mencegah terjadinya hiperglikemia. Selain itu, penderita juga dianjurkan untuk tetap berolahraga tetapi dengan intensitas yang lebih ringan dan waktu yang lebih singkat untuk mencegah terjadinya hipoglikemia. Waktu berolahraga juga harus diubah, yaitu 2 jam setelah berbuka puasa. Pada orang lanjut usia yang juga menderita diabetes tipe 2 tetapi tetap ingin berpuasa, maka mereka mungkin memilliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita trombosis (terbentuknya bekuan darah di dalam pembuluh darah).   Bila Penderita Mengkonsumsi Obat Anti Diabetes Oral Secara umum, pilihan obat anti diabetes oral yang dianjurkan adalah obat yang berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas insulin, karena akan menurunkan resiko terjadinya hipoglikemia, dibandingkan dengan obat oral lainnya yang hanya berfungsi untuk meningkatkan sekresi (pengeluaran) insulin. Metformin Penderita diabetes yang mengkonsumsi metformin saja mungkin dapat berpuasa dengan aman karena kemungkinan terjadinya hipoglikemia sangat kecil. Akan tetapi, waktu pemberian obat dianjurkan untuk diubah selama penderita berpuasa. Dianjurkan agar Anda mengkonsumsi 2/3 dosis harian sebelum waktu berbuka puasa dan 1/3 sisanya dikonsumsi sebelum sahur. Glitazon Penderita diabetes yang mengkonsumsi obat anti diabetes oral golongan glitazon memiliki resiko hipoglikemia yang rendah karena obat ini bekerja dengan cara meningkatkan sensitivitas insulin. Selain itu, selama berpuasa penderita biasanya tidak memerlukan perubahan dosis obat. Sulfonilurea Obat golongan sulfonilurea diduga tidak cocok digunakan saat seseorang berpuasa karena dapat meningkatkan resiko terjadinya hipoglikemia. Oleh karena itu, penderita diabetes yang mengkonsumsi klorpropamid sangat tidak dianjurkan untuk berpuasa karena memiliki resiko yang sangat tinggi untuk mengalami hipoglikemia dalam jangka waktu lama dan tak terduga. Insulin Kerja Singkat Beberapa obat insulin kerja singkat seperti repaglinide dan nateglinide dapat digunakan karena memiliki waktu kerja yang singkat. Dosis yang dianjurkan adalah 2 kali sehari, yaitu sebelum berbuka puasa dan sebelum sahur.   Sumber: diabetesjournals
 12 Jan 2015    11:00 WIB
Kafein dan Hubungannya Dengan Diabetes Tipe 2
Sebuah penelitian kecil yang dilakukan di Amerika, melakukan pengamatan pada para penyuka kopi yang terdiri dari 5 orang pria dan 5 orang wanita, yang rata-rata berusia 63 tahun dan menderita diabetes tipe 2 untuk mengevaluasi apa sebenarnya efek kafein pada kadar gula darah seseorang. Kadar gula darah para peserta penelitian telah berhasil dikendalikan dengan diet, olahraga, dan obat-obatan oral (yang dikonsumsi melalui mulut). Kadar HbA1c para peserta adalah sekitar 6.4%. Tidak ada peserta penelitian yang membutuhkan terapi insulin dan tidak ada peserta penelitian yang merokok atau menggunakan obat golongan psikotropika (obat penenang). Pada penelitian ini, para peneliti memberikan para peserta 500 mg kafein setiap harinya dan plasebo untuk mengetahui apa sebenarnya efek kafein pada kadar gula darah seseorang. Pemberian kafein dan plasebo dibagi menjadi 2 dosis, yang diberikan pada waktu sarapan dan makan siang. Para peneliti juga meminta para peserta penelitian untuk menggunakan alat pemeriksa kadar gula darah pada saat penelitian berlangsung sehingga kadar gula darah para peserta penelitian dapat diukur setiap waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saat para peserta penelitian mengkonsumsi kafein, kadar gula darah mereka di siang hari menjadi lebih tinggi dan hasil pemeriksaan kadar gula darah setelah makan (kadar gula darah post prandial) juga meningkat secara berlebihan. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa para peserta penelitian yang mengkonsumsi kafein mengalami penurunan kadar gula darah di pagi hari saat mereka baru saja bangun tidur. Para peneliti mengatakan bahwa masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efek kafein terhadap kadar gula darah seseorang.     Sumber: diabetescare
 10 Jan 2015    16:00 WIB
Mengenal Apa Itu Diabetes Tipe 2
Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling sering terjadi. Tidak seperti diabetes tipe 1, pada diabetes tipe 2, terdapat insulin di dalam tubuh penderitanya. Akan tetapi, produksi insulin ini tidak mencukupi atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin ini dengan baik (resistensi insulin). Resistensi insulin merupakan suatu keadaan di mana tubuh membentuk insulin dalam jumlah yang cukup tetapi tubuh tidak dapat mengenali dan menggunakan insulin sebagaimana mestinya. Gangguan produksi maupun gangguan penggunaan insulin ini menyebabkan gula tidak dapat digunakan oleh sel-sel tubuh. Hal ini menyebabkan semua sel-sel tubuh tersebut tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Gangguan fungsi sel-sel tubuh dapat menyebabkan berbagai hal, yaitu: Dehidrasi. Peningkatan kadar gula di dalam darah membuat tubuh berusaha mengeluarkannya melalui air kemih, yang menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil. Pengeluaran gula melalui ginjal ini juga menyebabkan pengeluaran air dalam jumlah besar dan mengakibatkan terjadinya dehidrasi Koma diabetikum hiperosmolar non ketotik. Gangguan ini terjadi bila penderita diabetes tipe 2 yang mengalami dehidrasi berat tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan cairannya. Komplikasi ini dapat membahayakan jiwa penderita Kerusakan berbagai organ dan pembuluh darah. Seiring dengan berlalunya waktu, tingginya kadar gula darah dapat menyebabkan kerusakan pada saraf dan pembuluh darah kecil di mata, ginjal, jantung, dan meningkatkan resiko terjadinya aterosklerosis (pengerasan dinding pembuluh darah akibat penumpukan lemak) pada pembuluh darah besar yang dapat menyebabkan terjadinya stroke dan serangan jantung   Siapa Saja yang Beresiko ? Siapa saja dapat menderita diabetes tipe 2. Akan tetapi resiko ini meningkat pada: Orang yang menderita obesitas atau kelebihan berat badan Wanita yang memiliki riwayat diabetes gestasional Ada anggota keluarga yang menderita diabetes tipe 2 Penderita sindrom metabolic (suatu keadaan di mana terjadi peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, penurunan kadar HDL, dan tekanan darah tinggi) Penuaan. Penuaan membuat berbagai sel tubuh mengalami penurunan toleransi terhadap gula   Apa Penyebab Diabetes Tipe 2 ? Walaupun lebih sering terjadi daripada diabetes tipe 1, akan tetapi penyebabnya lebih tidak dimengerti. Hal ini disebabkan oleh banyaknya penyebab yang menyebabkan terjadinya diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 juga dapat diturunkan dalam keluarga, akan tetapi gen yang menyebabkan tidak diketahui.   Gejala Diabetes Tipe 2 Gejala diabetes tipe 2 yang dialami oleh penderitanya dapat berbeda-beda. Gejala-gejala yang dapat ditemukan adalah: Peningkatan rasa haus Peningkatan rasa lapar, terutama setelah makan Mulut kering Mual dan kadang muntah Peningkatan frekuensi buang air kecil Badan terasa lemah dan mudah lelah Penglihatan kabur Mati rasa atau kesemutan pada tangan atau kaki Infeksi berulang pada kulit atau saluran kemih   Apakah Saya Menderita Diabetes ? Untuk mengetahui dan menentukan apakah anda menderita diabetes atau tidak, dokter biasanya menyarankan agar anda melakukan pemeriksaan darah, berupa kadar gula darah puasa dan kadar gula darah sewaktu.   Komplikasi Diabetes yang Dapat Terjadi Komplikasi pada diabetes biasanya terjadi bila kadar gula darah tidak terkontrol dalam waktu yang cukup lama. Retinopati Retinopati merupakan kelainan pada mata yang terjadi akibat kerusakan pada saraf atau pembuluh darah mata. Penderita diabetes tipe 2 mungkin telah memiliki kelainan pada matanya yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Akan tetapi, tidak semua penderita diabetes mengalami gangguan penglihatan. Mengontrol kadar gula darah dan kolesterol tetap dalam batas normal merupakan salah satu cara pencegahan gangguan mata yang terbaik. Kerusakan Pada Ginjal Semakin lama anda telah menderita diabetes, maka semakin tinggi resiko anda menderita kerusakan pada ginjal. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal pada penderita diabetes lama. Kerusakan Saraf dan Gangguan Pada Pembuluh Darah Kerusakan pada saraf dan pengerasan dinding pembuluh darah dapat menyebabkan timbulnya mati rasa dan gangguan sirkulasi pada kaki. Hal ini menyebabkan peningkatan resiko terjadinya infeksi dan terbentuknya luka terbuka (ulkus), di mana luka sulit menyembuh dan meningkatkan kemungkinan tindakan amputasi. Kerusakan pada saraf dapat menyebabkan terjadinya gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, dan diare.   Sumber: webmd