Your browser does not support JavaScript!
 04 Jul 2018    13:00 WIB
Sering Buang Air Kecil? Hati-Hati Diabetes Insipidus
Apa diabetes insipidus itu?Diabetes Insipidus adalah suatu keadaan dimana terjadi kekurangan hormon antidiuretik yang menyebabkan rasa haus yang berlebihan (polidipsi) dan pengeluaran sejumlah besar air kemih (poliuri). Diabetes insipidus terjadi akibat penurunan pembentukan hormon antidiuretik (vasopresin), yaitu hormon yang secara alami mencegah pembentukan air kemih yang terlalu banyak. Hormon ini dibuat di hipotalamus, kemudian disimpan dan dilepaskan ke dalam aliran darah oleh hipofisa posterior.Diabetes insipidus juga bisa terjadi jika kadar hormon antidiuretik normal tetapi ginjal tidak memberikan respon yang normal terhadap hormon ini (keadaan ini disebut diabetes insipidus nefrogenik). Apa penyebab dari diabetes insipidus?Diabetes insipidus dapat disebabkan oleh beberapa hal:•  Hipotalamus mengalami kelainan fungsi dan menghasilkan terlalu sedikit hormon antidiuretik •  Kelenjar hipofisa gagal melepaskan hormon antidiuretik ke dalam aliran darah •  Kerusakan hipotalamus atau kelenjar hipofisa akibat pembedahan •  Cedera otak (terutama patah tulang di dasar tengkorak) •  Tumor •  Sarkoidosis atau tuberkulosis •  Aneurisma atau penyumbatan arteri yang menuju ke otak •  Beberapa bentuk ensefalitis atau meningitis•  Histiositosis X (penyakit Hand-Schuller-Christian) Apa saja gejala dari diabetes insipidus?Diabetes insipidus dapat timbul secara perlahan maupun secara tiba-tiba pada segala usia. Seringkali satu-satunya gejala adalah rasa haus dan pengeluaran air kemih yang berlebihan. Sebagai kompensasi hilangnya cairan melalui air kemih, penderita bisa minum sejumlah besar cairan. Jika kompensasi ini tidak terpenuhi, maka dengan segera akan terjadi dehidrasi yang menyebabkan penurunan tekanan darah dan syok. Penderita akan terus berkemih dalam jumlah yang sangat banyak, terutama di malam hari. Apakah pengobatan untuk diabetes insipidus?Diabetes insipidus diobati dengan mengatasi penyebabnya.Vasopresin atau desmopresin asetat (modifikasi dari hormon antidiuretik) bisa diberikan sebagai obat semprot hidung beberapa kali sehari untuk mempertahankan pengeluaran air kemih yang normal. Namun penggunaan obat ini harus hati-hati dan mengikuti petunjuk dokter, karena jika terlalu banyak mengkonsumsi obat ini bisa menyebabkan penimbunan cairan, pembengkakan dan gangguan lainnya.Suntikan hormon antidiuretik diberikan kepada penderita yang akan menjalani pembedahan atau penderita yang tidak sadarkan diri. Kadang diabetes insipidus bisa dikendalikan oleh obat-obatan yang merangsang pembentukan hormon antidiuretik, seperti Chlorpropamide, Carbamazepine, Klofibrat dan berbagai diuretik (Tiazid). Tetapi obat-obat ini tidak dapat meringankan gejala secara total pada diabetes insipidus yang berat. SUmber: heltwell
 08 Jun 2018    16:00 WIB
Dampak Puasa Pada Penderita Diabetes
Pengeluaran hormon insulin pada orang yang sehat biasanya distimulasi oleh makan, yang akan meningkatkan jumlah gula yang disimpan di dalam hati dan otot dalam bentuk glikogen. Sebaliknya, saat berpuasa, kadar gula darah biasanya akan menurun, yang akan menyebabkan penurunan jumlah insulin yang dikeluarkan. Pada saat yang sama, kadar glukagon dan katekolamin akan meningkat, yang akan memicu terjadinya proses metabolisme glikogen (cadangan gula di dalam tubuh). Saat seseorang telah berpuasa selama beberapa jam, maka cadangan glikogen pun akan menurun dan rendahnya kadar hormon insulin di dalam darah akan memicu terjadinya peningkatan metabolisme lemak dari sel-sel lemak. Proses oksidasi asam lemak ini akan menghasilkan keton, yang dapat digunakan oleh berbagai organ tubuh seperti tulang, otot jantung, hati, ginjal, dan jaringan lemak sebagai sumber energi. Pada orang yang menderita diabetes, pengeluaran insulin akan mengalami gangguan. Pada seorang penderita diabetes tipe 1, pengeluaran glukagon (hormon yang berfungsi untuk mengubah cadangan glikogen menjadi gula) mungkin akan mengalami gangguan yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia. Selain itu, pada beberapa orang penderita diabetes tipe 1, pengeluaran epinefrin juga mengalami gangguan, yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia berulang. Pada penderita dengan defisiensi (kekurangan) insulin berat, puasa dalam waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya pemecahan glikogen (cadangan gula di dalam tubuh) secara berlebihan dan meningkatkan pemecahan lemak di dalam tubuh, yang dapat menyebabkan terjadinya hiperglikemia dan ketoasidosis. Sementara itu, orang yang menderita diabetes tipe 2 mungkin akan mengalami gangguan yang sama seperti penderita diabetes tipe 1 (hipoglikemia dan hiperglikemia) saat berpuasa dalam waktu lama, hanya saja ketoasidosis lebih jarang terjadi. Baca juga: Cara Mencegah Diabetes  Sumber: diabetesjournals
 15 Apr 2018    16:00 WIB
Fakta Mengenai Diabetes Tipe 1
Ada dua tipe dari diabetes yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Walaupun keduanya dapat diterapi dengan obat-obatan dan insulin, diabetes tipe 1 bisa lebih berbahaya dibandingkan diabetes tipe 2.   Berikut adalah beberapa fakta mengenai diabetes tipe 1 yang harus Anda ketahui: Diabetes tipe 1 merupakan jenis penyakit autoimunPada kasus diabetes tipe 1, pankreas berhenti memproduksi insulin, yaitu hormon yang membantu Anda mendapatkan energi dari makanan yang Anda konsumsi. Pankreas mempunyai sel yang memproduksi insulin yang disebut sel beta dan ketika sistem imunitas tubuh menyerang sel ini, maka Anda akan terkena dibetes tipe 1. Tidak ada penyebab pasti mengapa hal tersebut bisa terjadi dan sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat mengobati dengan tuntas. Faktor genetik dan lingkungan mempunyai peranan penting dalam menyebabkan penyakit ini. Tidak seperti diabetes tipe 2, diabetes tipe 1 tidak disebabkan oleh pola makan ataupun gaya hidup Anda.   Bisa menyerang siapa sajaKarena diet dan gaya hidup tidak memiliki pengaruh apapun terhadap penyakit ini, siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang dewasa dapat terkena penyakit ini. Seseorang yang terdiagnosa diabetes tipe 1 harus bergantung pada insulin seumur hidupnya. Setiap keterlambatan pemberian insulin akan mendatangkan konsekuensi yang mematikan.   Merupakan penyakit yang sangat sulit untuk ditanganikarena ketergantungan seorang penderita diabetes tipe 1 terhadap insulin, dosis pemberian insulin bisa menjadi sangat tinggi. Terkadang pemberian insulin harus melalui jalur infus atau dengan melakukan suntikan berkali-kali. Setiap hari membutuhkan perjuangan yang konstan dan perhatian yang penuh. Kekurangan insulin dapat menyebabkan kadar gula darah menurun drastis atau naik sangat tinggi dan menimbulkan reaksi fatal.   Tanda dan gejala banyak menyerupai diabetes tipe 2Selalu merasa kehausan, buang air kecil sering, pusing, rasa melayang, peningkatan nafsu makan, penurunan berat badan yang tiba-tiba, bau aseton, sering tidak sadar, adalah beberapa gejala dari diabetes tipe 1 dan 2. Diabetes tipe 1 tidak dapat disembuhkan oleh insulin dan perawatannya juga dapat sangat menyulitkan bagi keluarga karena akan sering berhubungan dengan unit gawat darurat dan perawatan intensif. Dengan obat-obatan dan perawatan yang sesuai, penderita diabetes tipe 1 dapat hidup secara normal walaupun memang akan membutuhkan banyak kerja keras dan usaha.   Sumber: magforwomen
 15 Apr 2018    11:00 WIB
Konsumsi Protein Hewani Berlebihan Tingkatkan Resiko Diabetes, Benarkah?
Secara umum, orang dewasa biasanya mengkonsumsi sekitar 90 gram protein setiap harinya dan orang yang mengkonsumsi lebih banyak protein biasanya memiliki indeks massa tubuh yang lebih besar. Berdasarkan sebuah penelitian di Eropa ditemukan bahwa orang yang mengkonsumsi banyak protein, terutama protein hewani memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami diabetes tipe 2.   Akan tetapi, penelitian ini tidak membandingkan berapa banyak jumlah protein yang dikonsumsi para peserta penelitian. Peneliti hanya membandingkan diet atau makanan yang dikonsumsi oleh peserta yang mengalami diabetes dan peserta yang tidak mengalami diabetes di kemudian hari.   Penelitian ini melakukan pengamatan pada peserta (orang dewasa di Eropa) selama 12 tahun. Beberapa hal yang diamati oleh para peneliti adalah diet (menu makan peserta), aktivitas fisik, tinggi badan, berat badan, dan lingkar pinggang. Para peneliti kemudian melihat siapa di antara peserta yang mengalami diabetes.   Sebuah penelitian lainnya pun telah menemukan bahwa semakin banyak protein yang anda konsumsi, terutama protein hewani berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya diabetes pada masa yang akan datang.   Penelitian lainnya di Belanda menemukan bahwa setiap penambahan protein sebanyak 10 gram setiap harinya dapat meningkatkan resiko terjadinya diabetes hingga 6% (setelah mempertimbangkan berbagai faktor resiko diabetes lainnya).   Penelitian ini membagi peserta penelitian menjadi 5 kelompok berdasarkan pada jumlah protein yang mereka konsumsi setiap harinya. Penelitian ini kemudian menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi protein paling banyak (sekitar 111 gram) setiap harinya, memiliki resiko diabetes yang lebih tinggi, yaitu 17% lebih tinggi daripada orang yang mengkonsumsi protein paling sedikit (sekitar 72 gram) setiap harinya. Dan orang yang mengkonsumsi sekitar 78 gram protein hewani setiap harinya memiliki resiko diabetes yang lebih tinggi (22% lebih tinggi) daripada orang yang mengkonsumsi sekitar 36 gram protein setiap harinya.   Hasil penelitian ini tampaknya memiliki hubungan yang cukup kuat pada wanita yang mengalami obesitas. Hal lainnya yang juga meningkatkan resiko diabetes akibat mengkonsumsi protein hewani adalah berbagai nutrisi lain yang ikut terkonsumsi seperti lemak jenuh, kolesterol, dan natrium.   Walaupun demikian, protein nabati (berasal dari tumbuh-tumbuhan) ternyata tidak berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya diabetes. Sebuah penelitian lain mengenai hubungan antara protein nabati dan resiko diabetes justru menemukan bahwa berbagai jenis protein nabati (kacang-kacangan dan gandum) justru dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes.   Oleh karena itu, akan lebih baik bila anda mengganti protein hewani anda dengan protein nabati untuk mencegah terjadinya diabetes. Hal ini bukan berarti anda tidak boleh mengkonsumsi daging sama sekali, anda tetap dapat mengkonsumsi daging sapi, ayam, ikan, maupun susu dan produk olahannya; tetapi dalam jumlah yang normal (tidak berlebihan), terutama bila anggota keluarga anda ada yang menderita diabetes.   Sebaiknya jangan mengkonsumsi daging sapi atau babi lebih dari 2 kali seminggu dan jangan mengkonsumsi daging ayam atau ikan lebih dari 4 kali seminggu. Batasi juga konsumsi susu, yogurt, keju, dan berbagai jenis daging olahan lainnya.   Sumber: foxnews
 10 Apr 2018    08:00 WIB
Mengapa Penderita Diabetes Lebih Rawan Penyakit Jantung?
Diabetes mellitus adalah kondisi kronis yang dapat menyebabkan komplikasi dari waktu ke waktu. Komplikasi ini bisa meliputi penyakit jantung koroner yang dapat menyebabkan serangan jantung, penyakit cerebro-vaskular yang dapat menyebabkan stroke, retinopati (penyakit pada mata) yang dapat menyebabkan kebutaan, nefropati (penyakit ginjal) yang dapat menyebabkan gagal ginjal. dan seringnya perlu hemodialisis, dan neuropati (penyakit saraf) yang bisa menyebabkan ulserasi pada kaki yang mungkin memerlukan amputasi. Banyak dari komplikasi ini tidak memberikan gejala pada tahap awal, dan sebagian besar dapat dicegah atau diperkecil dengan kombinasi perawatan medis yang rutin dan pemantauan gula darah.   Penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner (PJK) merupakan komplikasi utama penderita Diabetes Mellitus. Sejumlah besar pasien mungkin bahkan tidak tahu bahwa mereka memiliki penyakit jantung - suatu kondisi yang disebut silent emyocardial ischmia. Diabetes Tipe 2 dianggap setara dengan penyakit arteri koroner karena efek buruknya sama buruknya dengan penyakit jantung. Salah satu penelitian terbesar untuk jantung, The Framingham Heart Study, menyatakan bahwa kehadiran diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung dua kali pada pria dan tiga kali pada wanita.   Diabetes tetap menjadi faktor risiko kardiovaskular utama bahkan bila dibandingkan dengan beberapa faktor pencetus lain seperti bertambahnya usia, hipertensi, merokok, hiperkolesterolemia, dan pembesaran jantung. Hal ini karena pasien yang menderita diabetes memiliki kejadian penyumbatan kompleks yang signifikan lebih tinggi dan membuat mereka rentan terhadap risiko jantung.   Seorang penderita diabetes rentan mengalami penyakit jantung, hal ini dikarenakan adanya kadar gula tinggi dalam pembuluh darah, gula cenderung merusak lapisan dalam pembuluh darah dan membuat darah lebih tebal, yang pada gilirannya membuat pasien lebih rentan terhadap penyakit jantung. Sehingga seseorang yang menderita diabetes perlu mengatur gula darah untuk mengendalikan risiko penyakit jantung.   Bagaimana Cara Mencegah Diabetes? Berhenti merokok: Perubahan gaya hidup paling penting. Seseorang perlu berhenti merokok. Ini adalah satu-satunya aspek terpenting dalam mencegah penyakit jantung bagi penderita diabetes. Olahraga teratur direkomendasikan: Penting untuk mengidentifikasi jenis latihan yang harus dilakukan dan dilakukan dengan teratur. Sudah terbukti dengan baik bahwa memulai olahraga dengan tiba-tiba untuk seseorang yang telah lama tidak melakukan olahraga justru memicu terjadinya serangan jantung. Tekanan Darah Tinggi harus dikontrol: Dengan modifikasi gaya hidup atau pengobatan, maka tekanan darah tinggi bisa dikendalikan. Sejumlah besar obat tekanan darah tersedia namun beberapa jenis obat tertentu memiliki efek yang lebih bermanfaat pada pasien diabetes. Kolesterol yang buruk membuat Anda lebih rentan terhadap masalah jantung: Kolesterol darah kadang kala tidak normal pada penderita diabetes. Sangat penting untuk melakukan tes darah untuk mengukur kadar kolesterol dan trigliserida dan memodifikasi makanan jika diperlukan.   Penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner (PJK) merupakan komplikasi utama penderita diabetes mellitus. Jadi rubah pola hidup Anda dengan baik sejak sekarang, jangan menunda.   Baca juga: Mengalami Kencing Manis Bukan Berarti Hidup Anda Berakhir, Ini Anjuran Yang Dapat Diikuti Agar Selalu Sehat   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur  Tanya dokter sekarang     Sumber: food.ndtv.com
 15 Mar 2018    08:00 WIB
Pola Makan Bagi Penderita Diabetes Gestasional
Diabetes gestasional merupakan jenis diabetes yang hanya terjadi pada wanita hamil, yang sebelumnya tidak menderita diabetes. Sama seperti pada diabetes pada umumnya, pada diabetes gestasional ibu hamil akan memiliki kadar gula darah yang lebih tinggi daripada normal. Mengubah pola makan merupakan pengobatan pertama dan yang biasa dilakukan untuk mengatasi diabetes gestasional. Kebutuhan kalori dan nutrisi selama hamil perlu diformulasi khusus. Hal ini biasanya tergantung pada: Usia kehamilan Berat badan dan indeks massa tubuh sebelum hamil Berapa banyak kenaikan berat badan yang terjadi selama hamil Tingkat aktivitas fisik Kadar gula darah Memiliki pola makan yang sehat dan seimbang dianjurkan bila Anda mengalami diabetes gestasional untuk membantu Anda mengendalikan kadar gula darah dan memastikan agar Anda dan bayi Anda tetap mendapatkan nutrisi yang diperlukan. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa nutrisi penting yang sangat penting bagi wanita hamil yang tetap harus dikonsumsi walaupun Anda menderita diabetes gestasional.   Baca juga: Komplikasi Kehamilan yang Mungkin Terjadi Pada Wanita Obesitas   Kalsium Selama hamil, Anda harus mengkonsumsi sekitar 1.000 mg kalsium setiap harinya untuk membantu perkembangan gigi dan tulang bayi Anda dan tetap menjaga cadangan kalsium tubuh Anda.   Zat Besi Zat besi dapat ditemukan di dalam hati, daging, ikan, kembang tahu, sereal gandum, sayuran berdaun hijau, dan telur. Ada 2 jenis zat besi yaitu zat besi heme dan zat besi non heme. Zat besi heme biasanya berasal dari hewan dan dapat ditemukan pada daging merah, daging unggas, ikan, makanan laut, dan hati. Batasi konsumsi zat besi Anda, yaitu tidak lebih dari 50 gram zat besi setiap minggunya pada trimester pertama karena seperti halnya vitamin A bila dikonsumsi berlebihan, zat besi justru dapat menyebabkan kelainan bawaan. Zat besi non heme biasanya berasal dari tumbuhan dan makanan yang diperkaya oleh zat besi, seperti sayuran berdaun hijau, kembang tahu, dan serela gandum. Vitamin C dapat membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih baik. Jadi, dianjurkan untuk mengkonsumsi zat besi bersama dengan vitamin C. Manfaat mengkonsumsi zat besi saat hamil adalah mencegah terjadinya anemia dan membantu memenuhi kebutuhan zat besi bayi Anda.   Asam Folat Asam folat dapat ditemukan di dalam sayuran berdaun hijau, ragi, kaldu daging, buah golongan sitrus, jus buah jeruk, kacang, dan makanan yang diperkaya oleh asam folat seperti sereal. Sangat penting untuk mencukupi kebutuhan asam folat harian Anda berapa pun usia kehamilan Anda.   Selain berbagai nutrisi penting di atas, Anda juga perlu menambahkan jumlah kalori (200-300 kalori) dan protein yang Anda konsumsi pada trimester kedua untuk mencukupi kebutuhan bayi Anda sehingga ia dapat berkembang dengan baik pada trimester kedua dan ketiga. Akan tetapi, hal ini tergantung pada berat badan, indeks massa tubuh, dan kadar gula darah Anda.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthxchange
 10 Feb 2018    16:00 WIB
Hubungan Indeks Glikemik Dengan Diabetes
Apa Itu Indeks Glikemik?Indeks glikemik merupakan suatu ukuran bagi makanan yang mengandung karbohidrat untuk menentukan efek karbohidrat tersebut pada kadar gula darah anda. Semakin rendah indeks glikemik suatu makanan, maka semakin kecil pula efeknya pada kadar gula darah anda (tidak menyebabkan peningkatan kadar gula darah yang besar) dan sebaliknya. Dengan menentukan indeks glikemik anda tidak perlu lagi menghitung jumlah karbohidrat di dalam makanan tertentu. Indeks glikemik dapat menunjukkan apa dampak sebenarnya dari makanan tersebut terhadap kadar gula darah anda. Nilai indeks glikemik suatu makanan dipengaruhi oleh struktur suatu makanan, jenis zat tepung di dalamnya (amilosa atau amilopektin), dan bagaimana proses pengolahannya. Semakin banyak proses pengolahan suatu makanan, maka semakin tinggilah nilai indeks glikemiknya dan sebaliknya. Pembagian Pengukuran Indeks Glikemik Indeks Glikemik Sangat RendahIndeks glikemik disebut sangat rendah bila suatu makanan tidak memiliki efek sama sekali terhadap kadar gula darah anda (indeks glikemik 0) dan hanya mengandung kurang dari 5 gram karbohidrat sederhana atau bila suatu makanan memiliki indeks glikemik kurang dari 20 dan mengandung kurang dari 7 gram karbohidrat sederhana. Indeks Glikemik RendahIndeks glikemik disebut rendah bila suatu makanan memiliki indeks glikemik kurang dari atau sama dengan 55 atau bila kadar karbohidrat sederhana di dalam makanan tersebut lebih dari 5 gram tetapi kurang dari atau sama dengan 12 gram. Indeks Glikemik SedangIndeks glikemik disebut sedang bila suatu makanan memiliki indeks glikemik antara 56-69. Indeks Glikemik TinggiIndeks glikemik disebut tinggi bila suatu makanan memiliki indeks glikemik lebih dari atau sama dengan 70. Jumlah karbohidrat sederhana suatu makanan adalah hasil pengurangan jumlah karbohidrat total dengan jumlah serat di dalam suatu makanan. Karbohidrat sederhana merupakan karbohidrat yang mudah dicerna oleh tubuh, yang berpengaruh cukup besar terhadap kadar gula darah anda. Nilai indeks glikemik suatu makanan ditentukan dengan cara mengukur kadar gula darah anda 2 jam setelah mengkonsumsi suatu makanan, yang kemudian akan dibandingkan dengan kadar gula darah 2 jam setelah mengkonsumsi roti putih atau gula pasir. Mengapa Indeks Glikemik Penting?Mengkonsumi diet dengan nilai indeks glikemik yang rendah telah terbukti berhubungan dengan penurunan resiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes tipe 2, sindrom metabolik (suatu keadaan di mana terjadi peningkatan kadar kolesterol total, tekanan darah, kadar gula darah, dan penumpukkan lemak perut yang terjadi secara bersamaan), stroke, depresi, penyakit ginjal kronik, batu empedu, kelainan saraf bawaan, mioma, kanker payudara, kanker usus besar, kanker prostat, dan kanker pankreas. Anda dapat memperoleh berbagai manfaat di atas dengan terus mengkonsumsi berbagai jenis makanan dengan indeks glikemik yang sangat rendah atau rendah. Sumber: whfoods
 08 Jan 2018    11:00 WIB
Komplikasi Diabetes: Pengobatan Nyeri Saraf Diabetikum
Nyeri saraf yang disebabkan oleh diabetes atau yang juga dikenal dengan nama neuropati perifer diabetikum dapat bersifat berat, konstan, dan sulit diobati. Gejala awalnya dapat berupa rasa kesemutan, yang kemudian akan diikuti oleh mati rasa dan nyeri. Untuk mengatasinya, di bawah ini ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan.   Kendalikan Kadar Gula Darah Anda Hal penting pertama yang perlu Anda lakukan untuk mengatasi semua komplikasi diabetes adalah dengan mengendalikan kadar gula darah Anda. Pastikan kadar gula darah Anda selalu dalam batas normal atau mendekati normal dengan mengkonsumsi obat anti diabetes. Berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai jenis dan dosis obat yang diperlukan.   Konsumsi Obat Anti Nyeri Untuk mengatasi nyeri, Anda dapat mengkonsumsi obat anti nyeri. Jenis obat anti nyeri yang digunakan biasanya tergantung pada tingkat keparahan nyeri. Bila rasa nyeri tidak terlalu berat, Anda biasanya dapat mengkonsumsi: Obat golongan NSAID seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen Asetaminofen Capsaicin yang biasa ditemukan dalam bentuk koyo Lidokain krim atau gel. Lidokain merupakan obat bius yang dapat membuat area yang terasa nyeri menjadi mati rasa   Baca juga: 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Diabetes   Bila rasa nyeri cukup berat atau Anda tidak tahan dengan efek samping obat anti nyeri di atas, maka dokter dapat memberikan obat lainnya untuk mengatasi nyeri, seperti: Obat antidepresan Obat anti kejang Obat golongan opioid Akan tetapi, ketiga jenis obat di atas memerlukan resep dokter.   Pengobatan Lainnya Selain berbagai obat di atas, ada beberapa pengobatan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri, seperti: Tindakan pembedahan untuk menghancurkan saraf atau mengeluarkan saraf yang terjepit Memasang implan yang bertujuan untuk mengurangi nyeri Stimulasi listrik pada saraf   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: webmd
 05 Jan 2018    08:00 WIB
Tips Berolahraga Untuk Para Penderita Diabetes
Karena olahraga memiliki manfaat yang sangat baik bagi seorang penderita diabetes, maka sangat dianjurkan agar para penderita diabetes rajin berolahraga. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para penderita diabetes sebelum mereka mulai berolahraga seperti di bawah ini.   Ketahui Berapa Banyak Olahraga yang Anda Perlukan Berolahragalah selama 30 menit setiap hari, 5 hari setiap minggunya. Beberapa pilihan olahraga yang dapat Anda lakukan adalah berenang, berdansa, atau memanjat gunung. Intinya adalah pilihlah olahraga yang membuat jantung Anda berdenyut lebih cepat tetapi tidak membuat Anda mencapai batas. Mulailah secara perlahan, misalnya dengan berjalan kaki selama 15 menit 2 kali sehari, kemudian setelah Anda terbiasa, Anda dapat menambahkan lama dan kesulitan olahraga Anda.   Selalu Lindungi Kaki Anda Karena penderita diabetes biasanya mengalami mati rasa pada kakinya, maka sangat penting untuk selalu melindungi kaki Anda selama berolahraga. Hal ini dikarenakan luka pada penderita diabetes biasanya lebih sulit sembuh dan dapat menyebabkan terjadinya komplikasi berbahaya seperti gangrene. Selalu gunakan kaus kaki dan sepatu olahraga setiap kali Anda berolahraga untuk mengurangi resiko terjadinya luka pada kaki, terutama bila Anda mengalami kerusakan saraf atau gangguan sirkulasi. Pastikan ukuran sepatu Anda sesuai dan membuat jari-jari kaki dapat bergerak bebas. Selain itu, selalu periksa kaki Anda setiap hari, bahkan bila Anda tidak berolahraga pada hari itu.   Baca juga: 9 Tips Untuk Hidup Sehat Walaupun Menderita Diabetes   Perhatikan Kadar Gula Darah Anda Olahraga dapat mempengaruhi kadar gula darah Anda secara langsung dan di sepanjang hari. Jika Anda mengkonsumsi obat anti diabetes atau insulin yang dapat menurunkan kadar gula darah, periksalah kadar gula darah Anda 30 menit sebelum mulai berolahraga, kemudian setiap 30 menit selama Anda berolahraga untuk memastikan kadar gula darah Anda tetap stabil. Pada hari olahraga Anda, jangan menyuntikkan insulin pada tangan dan kaki Anda, suntiklah di bagian tubuh lain. Selain itu, jangan berolahraga saat insulin berada pada efek maksimumnya. Bertanyalah pada dokter Anda kapan insulin mencapai efek maksimumnya karena dapat berbeda-beda tergantung pada dosis obat Anda. Anda diperbolehkan untuk olahraga bila kadar gula darah Anda berada antara 100-250 mg/dl sebelum berolahraga. Bila kadar gula darah Anda kurang dari 100 mg/dl, segera mengemil makanan yang mengandung karbohidrat seperti buah atau biskuit. Bila kadar gula darah Anda mencapai 250 mg/dl atau lebih, periksalah kadar keton pada air kemih. Jika kadar keton tinggi, maka berolahraga bukanlah pilihan yang tepat karena akan membuat Anda merasa tidak enak badan. Bila kadar gula darah Anda mencapai 300 mg/dl, tundalah olahraga hingga kadar gula darah Anda turun. Segera berhenti berolahraga jika Anda: Merasa gemetar, cemas, lemah, atau bingung Berkeringat lebih banyak daripada biasanya Merasa berdebar-debar Mengalami sakit kepala Berbagai gejala di atas dapat merupakan tanda bahwa kadar gula darah Anda menurun atau rendah, yang dapat terjadi selama atau beberapa jam setelah berolahraga.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: webmd