Your browser does not support JavaScript!
 13 Aug 2019    16:00 WIB
Cara Mencegah Nyeri Kepala Diabetes
Fluktuasi kadar gula darah yang tiba-tiba dapat menyebabkan terjadinya nyeri kepala pada penderita diabetes. Jadi satu-satunya cara mengontrol hal tersebut supaya tidak terjadi adalah dengan menjaga kadar gula darah tidak naik terlalu tajam atau turun secara tiba-tiba. Nyeri kepala karena kadar gula darah yang rendah sering dihubungkan dengan pembuluh darah di otak. Otak membutuhkan suplay gukosa yang siap pakai supaya bisa berfungsi dengan baik. Jika suplay yang ada tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, maka akan menimbulkan nyeri kepala. Saat kadar gula darah turun, hormon stress juga dilepaskan dan dapat menyebabkan penyempitan dari pembuluh darah sehingga menyebabkan munculnya nyeri kepala. Beberapa orang dengan diabetes sering mengalami nyeri kepala karena kadar gul darah yang rendah dan kemudian diikuti dengan kadar gula darah yang tinggi. Hal ini terjadi karena pelepasan hormon yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah sebagai alat pengaturnya. Kadar gula darah yang tinggi juga dapat menyebabkan nyeri kepala juga. Jika kadar gula darah terlalu tinggi untuk waktu yang lama, tubuh akan mengeluarkan urin dalam jumlah lebih banyak dari normal, sehingga dapat menimbulkan dehidrasi. Dehidrasi sendiri dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit didalam cairan tubuh dan juga nyeri kepala. Cara untuk mencegah munculnya nyeri kepala diabetes: Cegah terjadinya peningkatan atau penurunan kadar gula darah yang tiba-tiba Minum air putih yang cukup Hindari makanan dan minuman yang mengandung kafein karena dapat menyebabkan nyeri kepala Hindari stress Olahraga yang teratur   Sumber: healthmeup
 08 Aug 2019    08:00 WIB
Apa Hubungan Antara Hipoglikemia dan Diabetes ?
Hipoglikemia adalah rendahnya kadar gula di dalam darah. Hal ini lebih sering terjadi pada penderita diabetes. Beberapa hal yang dapat menyebabkan hipoglikemia pada penderita diabetes adalah obat anti diabetes dan pola makan penderita. Gejala Hipoglikemia Hipoglikemia dapat menimbulkan berbagai masalah yang serius, terutama pada otak. Gejala hipoglikemia biasanya mulai timbul bila kadar gula darah di bawah 70 mg/dL. Setiap penderita diabetes memiliki gejala hipoglikemia yang berbeda-beda. Gejala awal hipoglikemia yang sering ditemukan adalah: Bingung Pusing Gemetar Rasa lapar Nyeri kepala Mudah tersinggung Denyut jantung meningkat Rasa berdebar-debar Kulit pucat Berkeringat dingin Badan terasa lemah Cemas Bila hipoglikemia ini tidak segera ditangani, maka gejala akan memburuk dan menyebabkan beberapa hal di bawah ini, yaitu: Penurunan kesadaran sampai pingsan dan koma Nyeri kepala bertambah hebat Mudah marah Gangguan konsentrasi Gangguan koordinasi Mati rasa di daerah mulut dan lidah Mimpi buruk   Obat Anti Diabetes dan Hipoglikemia Beberapa jenis obat oral diabetes dapat menyebabkan kadar gula darah rendah. Obat-obat tersebut adalah obat golongan sulfonil urea dan meglitinides. Obat golongan alfa glukosidase inhibitor, biguanid, dan tiazolidindion biasanya tidak menyebabkan hipoglikemia, akan tetapi bila digunakan bersama dengan obat anti diabetes lainnya maka dapat menyebabkan hipoglikemia. Obat diabetes lainnya yang dapat menyebabkan kadar gula darah rendah adalah glimepiride, nateglinide, prandin, dan sitagliptin. Selain obat diabetes, terdapat beberapa obat lain yang juga dapat menyebabkan kadar gula darah rendah bila digunakan bersamaan dengan obat anti diabetes adalah alkohol, aspirin, warfarin, allopurinol, dan probenesid. Perhatikan dosis insulin yang anda gunakan, karena penggunaan insulin dengan dosis yang berlebihan atau tidak sesuai dengan jumlah karbohidrat yang anda makan, dapat membuat anda mengalami hipoglikemia.   Diet dan Hipoglikemia Hipoglikemia dapat terjadi pada seorang penderita diabetes yang mengkonsumsi banyak karbohidrat sederhana. Hal ini disebut dengan hipoglikemia reaktif. Selain itu, hipoglikemia juga dapat terjadi apabila penderita diabetes: Lupa makan setelah minum obat anti diabetes Makan hanya sedikit Terlambat makan Tidak mau makan saat sakit Minum alkohol dan kemudian tidak makan Oleh karena itu, sangat penting untuk memperhatikan konsumsi makanan dan obat anti diabetes pada penderita diabetes. Olahraga yang terlalu berlebihan juga dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia.
 24 Jul 2019    11:00 WIB
Tips Olahraga Untuk Mengatasi Nyeri Saraf Akibat Diabetes
Berolahraga teratur mungkin dapat membantu mengurangi atau mengendalikan nyeri saraf atau kesemutan pada anggota gerak anda. Berdasarkan sebuah penelitian, orang yang berjalan cepat di atas treadmill selama 1 jam setiap harinya selama 1 minggu dapat membantu memperlambat kerusakan saraf yang terjadi akibat diabetes. Kuncinya adalah berolahragalah secara teratur untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anda mengenai jenis olahraga dan berapa lama anda dapat melakukan olahraga tersebut.Pilihlah Olahraga AndaBerenang atau aerobik di dalam air merupakan beberapa jenis olahraga ringan yang tidak terlalu berat bagi tubuh anda. Air dapat membantu menyangga tubuh anda, sehingga mengurangi tekanan pada kaki anda yang nyeri. Yoga dan tai chi juga dapat menjadi pilihan olahraga lainnya. Berbagai gerakan yoga dan tai chi dapat membantu melatih keseimbangan tubuh dan relaksasi otot tubuh anda.Mulailah Dengan PerlahanMemulai kegiatan olahraga juga dapat menjadi suatu tantangan bagi anda. Mulailah dengan perlahan, berolahragalah selama 5 menit pada awalnya, kemudian tambahkanlah sedikit-sedikit setiap harinya. The American Diabetes Association menganjurkan agar anda berolahraga selama 30 menit setiap harinya selama 5 hari setiap minggunya. Jika anda telah mengalami kerusakan saraf dan takut jatuh saat berolahraga, pilihlah olahraga yang dapat membantu melatih keseimbangan anda.Cara Melatih Keseimbangan Latihan Duduk BerdiriLatihlah keseimbangan tubuh anda dengan cara latihan bangun dari kursi duduk anda. Lakukanlah 3 kali berturut-turut. Pada awal latihan, gunakanlah tangan anda untuk membantu anda berdiri dan menyeimbangkan tubuh anda. Kemudian saat anda telah mulai terbiasa dan lebih kuat, mulailah berlatih bangun dari kursi duduk anda tanpa bantuan tangan anda. Latihan Berdiri Satu KakiLatihan keseimbangan lainnya adalah angkatlah salah satu kaki anda dari atas lantai secara perlahan, sehingga anda hanya berdiri menggunakan satu kaki. Cobalah untuk bertahan dalam posisi ini selama 30 detik, kemudian tukar posisi kaki anda. Setelah anda telah mulai terbiasa, cobalah untuk melakukan hal ini dalam waktu yang lebih lama. Tujuannya adalah hingga anda dapat berdiri dengan satu kaki tanpa bantuan tangan anda. Jika anda takut jatuh, lakukanlah hal ini di dekat tempat yang dapat dijadikan pegangan. Latihan Berjalan di Atas TaliCara lain untuk melatih keseimbangan anda adalah dengan berpura-pura berjalan di atas satu tali. Berjalanlah dengan menempelkan tumit dan ibu jari kaki anda dalam satu garis (seperti gerak jalan para peragawati). Tekuklah sedikit lutut anda dan rentangkanlah tangan anda untuk membantu menyeimbangkan diri anda. Bila anda sudah terbiasa melakukan gerakan ini sambil berjalan maju, mulailah untuk melakukan hal ini dengan berjalan mundur.Periksakan Keadaan Kesehatan Anda Sebelum Mulai BerolahragaPeriksalah keadaan jantung, mata, dan kaki anda sebelum memulai suatu jenis olahraga baru. Periksalah juga keadaan kaki dan bagian tubuh anda yang lainnya setiap kali selesai berolahraga untuk melihat ada tidaknya luka. Rawatlah semua jenis luka lecet, lepuhan, kulit pecah-pecah, dan sebagainya dengan baik untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka.Pilih Sepatu yang SesuaiPilihlah sepatu olahraga yang terasa nyaman bagi anda. Sepatu yang nyaman dapat membantu anda terhindar dari berbagai cedera. Pastikan jari kaki anda dapat bergerak bebas di dalam sepatu anda untuk mencegah terbentuknya lepuhan atau luka lecet akibat gesekan dengan sepatu. Jangan Lupa Bawa CemilanSaat anda berolahraga, jangan lupa untuk membawa permen untuk berjaga-jaga bila kadar gula anda mendadak turun. Periksalah kadar gula darah anda sebelum dan setelah berolahraga untuk membantu mengetahui efek olahraga pada kadar gula darah anda. Kadar gula darah yang aman untuk mulai berolahraga adalah antara 100-250 mg/dL. Bila kadar gula darah harian anda mencapai lebih dari 250 mg/dL dan anda memiliki diabetes tipe 1, maka periksalah ada tidaknya keton di dalam air kemih anda. Jika ditemukan keton pada kadar sedang atau tinggi di dalam air kemih anda, maka tundalah kegiatan olahraga anda hingga kadar keton di dalam air kemih anda turun. Baca juga: Obat Golongan Statin Tingkatkan Resiko DiabetesSumber: medicinenet
 05 Jul 2019    08:00 WIB
Mengenal Apa Itu Diabetes Tipe 2
Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling sering terjadi. Tidak seperti diabetes tipe 1, pada diabetes tipe 2, terdapat insulin di dalam tubuh penderitanya. Akan tetapi, produksi insulin ini tidak mencukupi atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin ini dengan baik (resistensi insulin). Resistensi insulin merupakan suatu keadaan di mana tubuh membentuk insulin dalam jumlah yang cukup tetapi tubuh tidak dapat mengenali dan menggunakan insulin sebagaimana mestinya. Gangguan produksi maupun gangguan penggunaan insulin ini menyebabkan gula tidak dapat digunakan oleh sel-sel tubuh. Hal ini menyebabkan semua sel-sel tubuh tersebut tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Gangguan fungsi sel-sel tubuh dapat menyebabkan berbagai hal, yaitu: Dehidrasi. Peningkatan kadar gula di dalam darah membuat tubuh berusaha mengeluarkannya melalui air kemih, yang menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil. Pengeluaran gula melalui ginjal ini juga menyebabkan pengeluaran air dalam jumlah besar dan mengakibatkan terjadinya dehidrasi Koma diabetikum hiperosmolar non ketotik. Gangguan ini terjadi bila penderita diabetes tipe 2 yang mengalami dehidrasi berat tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan cairannya. Komplikasi ini dapat membahayakan jiwa penderita Kerusakan berbagai organ dan pembuluh darah. Seiring dengan berlalunya waktu, tingginya kadar gula darah dapat menyebabkan kerusakan pada saraf dan pembuluh darah kecil di mata, ginjal, jantung, dan meningkatkan resiko terjadinya aterosklerosis (pengerasan dinding pembuluh darah akibat penumpukan lemak) pada pembuluh darah besar yang dapat menyebabkan terjadinya stroke dan serangan jantung Siapa Saja yang Beresiko ? Siapa saja dapat menderita diabetes tipe 2. Akan tetapi resiko ini meningkat pada: Orang yang menderita obesitas atau kelebihan berat badan Wanita yang memiliki riwayat diabetes gestasional Ada anggota keluarga yang menderita diabetes tipe 2 Penderita sindrom metabolic (suatu keadaan di mana terjadi peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, penurunan kadar HDL, dan tekanan darah tinggi) Penuaan. Penuaan membuat berbagai sel tubuh mengalami penurunan toleransi terhadap gula Apa Penyebab Diabetes Tipe 2 ? Walaupun lebih sering terjadi daripada diabetes tipe 1, akan tetapi penyebabnya lebih tidak dimengerti. Hal ini disebabkan oleh banyaknya penyebab yang menyebabkan terjadinya diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 juga dapat diturunkan dalam keluarga, akan tetapi gen yang menyebabkan tidak diketahui. Gejala Diabetes Tipe 2 Gejala diabetes tipe 2 yang dialami oleh penderitanya dapat berbeda-beda. Gejala-gejala yang dapat ditemukan adalah: Peningkatan rasa haus Peningkatan rasa lapar, terutama setelah makan Mulut kering Mual dan kadang muntah Peningkatan frekuensi buang air kecil Badan terasa lemah dan mudah lelah Penglihatan kabur Mati rasa atau kesemutan pada tangan atau kaki Infeksi berulang pada kulit atau saluran kemih   Apakah Saya Menderita Diabetes ? Untuk mengetahui dan menentukan apakah anda menderita diabetes atau tidak, dokter biasanya menyarankan agar anda melakukan pemeriksaan darah, berupa kadar gula darah puasa dan kadar gula darah sewaktu. Komplikasi Diabetes yang Dapat Terjadi Komplikasi pada diabetes biasanya terjadi bila kadar gula darah tidak terkontrol dalam waktu yang cukup lama. Retinopati Retinopati merupakan kelainan pada mata yang terjadi akibat kerusakan pada saraf atau pembuluh darah mata. Penderita diabetes tipe 2 mungkin telah memiliki kelainan pada matanya yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Akan tetapi, tidak semua penderita diabetes mengalami gangguan penglihatan. Mengontrol kadar gula darah dan kolesterol tetap dalam batas normal merupakan salah satu cara pencegahan gangguan mata yang terbaik. Kerusakan Pada Ginjal Semakin lama anda telah menderita diabetes, maka semakin tinggi resiko anda menderita kerusakan pada ginjal. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal pada penderita diabetes lama. Kerusakan Saraf dan Gangguan Pada Pembuluh Darah Kerusakan pada saraf dan pengerasan dinding pembuluh darah dapat menyebabkan timbulnya mati rasa dan gangguan sirkulasi pada kaki. Hal ini menyebabkan peningkatan resiko terjadinya infeksi dan terbentuknya luka terbuka (ulkus), di mana luka sulit menyembuh dan meningkatkan kemungkinan tindakan amputasi. Kerusakan pada saraf dapat menyebabkan terjadinya gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, dan diare.   Sumber: webmd
 26 Jun 2019    16:00 WIB
Benarkah Diabetes Sebabkan Degenerasi Otak?
Diabetes tipe 2 telah dikenal dapat mempengaruhi otak penderitanya, bahkan menyebabkan hilangnya bagian otak tertentu. Dengan menggunakan pemeriksaan MRI, para peneliti telah dapat mempelajari bagaimana struktur otak 614 penderita diabetes yang rata-rata berusia 62 tahun, yang telah menderita diabetes selama setidaknya 10 tahun. Para peneliti kemudian menemukan bahwa menderita diabetes dalam jangka panjang memiliki hubungan dengan hilangnya jaringan otak, yang menyebabkan terjadinya atrofi (pengecilan) otak. Para ahli menduga bahwa atrofi otak yang terjadi ini mungkin merupakan dampak langsung diabetes terhadap jaringan otak.Selain atrofi otak, para ahli menduga bahwa terdapat gangguan otak lain yang terjadi pada penderita diabetes yang disebabkan oleh adanya gangguan pada pembuluh darah yang seringkali terjadi pada penderita diabetes, yang dapat menyebabkan terjadinya stroke. Para peneliti juga menemukan bahwa jaringan otak yang paling banyak hilang merupakan jaringan otak di bagian gray matter, di mana sel-sel saraf yang berhubungan dengan berbagai organ tubuh terletak.Pengecilan ukuran gray matter ini seringkali merupakan tanda awal dimulainya proses neurodegeneratif, yang menyebabkan penderita diabetes memiliki resiko terkena penyakit Alzheimer yang lebi tinggi.Hal ini bukan berarti semua penderita diabetes akan mengalami penyakit Alzheimer, para peneliti hanya menduga bahwa keadaan ini dapat memperburuk gangguan fungsi kognitif dan kemampuan berpikir seiring dengan semakin bertambahnya usia penderita dan menyebabkan peningkatan resiko terjadinya Alzheimer. Penelitian ini juga menemukan bahwa setiap 10 tahun, otak penderita diabetes tampak 2 tahun lebih tua daripada orang yang tidak menderita diabetes, terutama pada bagian gray matter. Hal ini juga menunjukkan bahwa semakin lama anda menderita diabetes, maka kerusakan yang terjadi pada otak anda juga akan semakin berat. Oleh karena itu, pengendalian kadar gula darah sangat penting untuk mencegah atau mengurangi berbagai kerusakan yang terjadi pada otak dan kemampuan berpikir. Sumber: foxnews
 19 Jun 2019    08:00 WIB
Diabetes Gestasional Hanya Terjadi Pada Ibu Hamil
Diabetes gestasional merupakan suatu keadaan di mana wanita mengalami peningkatan kadar gula darah seperti penderita diabetes, akan tetapi hanya selama kehamilan. Gula darah biasanya kembali normal setelah persalinan. Apa Efeknya Pada Bayi Anda ? Tingginya kadar gula darah di dalam darah ibu menyebabkan peningkatan kadar gula darah di dalam tubuh bayi. Kelebihan gula pada tubuh bayi ini akan disimpan sebagai lemak dan menyebabkan bayi anda lebih besar daripada bayi lainnya. Lebih besarnya bayi anda dapat meningkatkan resiko terjadinya berbagai komplikasi pada bayi anda. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah: Cedera pada bayi saat proses persalinan karena ukurannya yang lebih besar Rendahnya kadar gula darah dan berbagai mineral saat lahir Jaundice (kulit dan bagian putih mata berwarna kekuningan) Kelahiran prematur Gangguan pernapasan sementara Perlu diingat bahwa tidak semua bayi berukuran besar mengalami berbagai komplikasi di atas. Bayi dari ibu yang menderita diabetes gestasional memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita diabetes atau obesitas pada suatu saat dalam kehidupannya. Apa Efeknya Pada Anda ? Diabetes gestasional dapat meningkatkan terjadinya berbagai komplikasi kehamilan. Berbagai komplikasi kehamilan yang dapat terjadi adalah: Keguguran Tekanan darah tinggi atau preeklampsia Kelahiran prematur Selain itu, anda memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk persalinan melalui proses pembedahan Caesar karena ukuran bayi anda yang lebih besar daripada jalan lahirnya. Akan tetapi, bukan berarti anda tidak dapat melahirkan melalui proses persalinan normal. Konsultasikan dengan dokter anda mengenai resiko dan keuntungan persalinan normal dan Caesar. Setelah persalinan, anda juga memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita diabetes tipe 2. Gaya hidup sehat dapat membantu mencegah terjadinya diabetes dan obesitas pada anda dan anak anda nantinya.  
 07 Jun 2019    18:00 WIB
Kafein dan Hubungannya Dengan Diabetes Tipe 2
Sebuah penelitian kecil yang dilakukan di Amerika, melakukan pengamatan pada para penyuka kopi yang terdiri dari 5 orang pria dan 5 orang wanita, yang rata-rata berusia 63 tahun dan menderita diabetes tipe 2 untuk mengevaluasi apa sebenarnya efek kafein pada kadar gula darah seseorang. Kadar gula darah para peserta penelitian telah berhasil dikendalikan dengan diet, olahraga, dan obat-obatan oral (yang dikonsumsi melalui mulut). Kadar HbA1c para peserta adalah sekitar 6.4%. Tidak ada peserta penelitian yang membutuhkan terapi insulin dan tidak ada peserta penelitian yang merokok atau menggunakan obat golongan psikotropika (obat penenang). Pada penelitian ini, para peneliti memberikan para peserta 500 mg kafein setiap harinya dan plasebo untuk mengetahui apa sebenarnya efek kafein pada kadar gula darah seseorang. Pemberian kafein dan plasebo dibagi menjadi 2 dosis, yang diberikan pada waktu sarapan dan makan siang. Para peneliti juga meminta para peserta penelitian untuk menggunakan alat pemeriksa kadar gula darah pada saat penelitian berlangsung sehingga kadar gula darah para peserta penelitian dapat diukur setiap waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saat para peserta penelitian mengkonsumsi kafein, kadar gula darah mereka di siang hari menjadi lebih tinggi dan hasil pemeriksaan kadar gula darah setelah makan (kadar gula darah post prandial) juga meningkat secara berlebihan. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa para peserta penelitian yang mengkonsumsi kafein mengalami penurunan kadar gula darah di pagi hari saat mereka baru saja bangun tidur. Para peneliti mengatakan bahwa masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efek kafein terhadap kadar gula darah seseorang.     Sumber: diabetescare
 02 Jun 2019    11:00 WIB
Apa Saja Gejala Diabetes Pada Anak?
Anak yang memiliki kadar gula darah tinggi mungkin mengalami diabetes, yang membuatnya memerlukan penanganan secepatnya untuk menurunkan kadar gula darah yang tinggi. Di bawah ini terdapat beberapa tanda dan gejala yang menunjukkan tingginya kadar gula darah pada seorang anak.   Sering Haus Bila kadar gula di dalam darah tinggi, maka ginjal akan berusaha untuk mengeluarkan kelebihan gula tersebut dari dalam tubuh dalam bentuk air kemih. Akan tetapi, untuk memproduksi cukup banyak air kemih untuk mengeluarkan kelebihan gula tersebut, ginjal harus menarik cairan dari berbagai jaringan tubuh. Hal ini membuat anak menjadi lebih sering buang air kecil, yang dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi dan anak sering merasa haus.   Sering Lapar Karena tubuh tidak dapat mencerna makanan yang telah dikonsumsi dengan baik, maka anak-anak yang memiliki kadar gula darah yang tinggi juga sering merasa lapar. Rasa lapar merupakan suatu reaksi tubuh untuk memberitahu Anda bahwa tubuh Anda memerlukan kalori untuk bekerja.  Kadar gula darah tinggi tetapi tetap merasa lapar, mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kelebihan gula tersebut lebih banyak dikeluarkan melalui air kemih daripada digunakan untuk sumber energi tubuh.   Penurunan Berat Badan Karena tubuh tidak mampu menggunakan gula yang berada di dalam darah dan tidak dapat menyimpan kelebihan gula dalam bentuk cadangan makanan, maka tubuh akan menggunakan cadangan makanannya, yaitu lemak sebagai sumber tenaga untuk melakukan berbagai aktivitas, yang membuat anak mengalami penurunan berat badan.   Menderita Infeksi Jamur Bila anak Anda sering atau berulang kali mengalami infeksi jamur pada kemaluan (keputihan), maka hal ini juga dapat merupakan penanda tingginya kadar gula darah pada anak, termasuk pada bayi.  Hal ini dikarenakan jamur memerlukan gula sebagai makanannya, yang membuat pertumbuhan jamur menjadi tidak terkendali pada seseorang yang memiliki kadar gula darah tinggi, termasuk pada anak-anak.   Adanya Gula dan Keton Pada Air Kemih Ditemukannya gula dan keton pada air kemih pada saat dokter melakukan pemeriksaan air kemih juga merupakan penanda tingginya kadar gula darah di dalam tubuh seorang anak.  Adanya gula di dalam air kemih menunjukkan bahwa ginjal berusaha untuk mengeluarkan kelebihan gula di dalam darah melalui air kemih. Sedangkan ditemukannya keton di dalam air kemih merupakan penanda tubuh menggunakan lemak untuk menjalankan fungsinya. Keton merupakan suatu produk sampingan dari proses pencernaan lemak menjadi energi.   Sumber: ehow
 14 May 2019    16:00 WIB
Benarkah Pemanis Buatan Dapat Menyebabkan Terjadinya Diabetes?
Sebuah penelitian yang dilakukan di Israel menemukan bahwa pemanis buatan dapat mengubah komposisi normal dari bakteri baik di dalam usus seseorang. Hal ini tampaknya juga mempengaruhi bagaimana tubuh mengendalikan gula di dalam makanan yang Anda konsumsi, yang membuat kadar gula darah meningkat. Gangguan ini menyebabkan terjadinya gangguan toleransi glukosa, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya diabetes. Akan tetapi, banyak ahli lainnya menyarankan para pembaca untuk jangan salah mengartikan hasil penelitian ini. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai benar tidaknya hasil penelitian tersebut. Pada penelitian ini, para peneliti meneliti 3 jenis pemanis buatan, yaitu sakarin, sukralosa, dan aspartam pada 20 hewan percobaan (tikus). Beberapa hewan percobaan tersebut diberikan salah satu pemanis buatan tersebut di dalam air minumnya, sementara yang lainnya diberikan air gula atau hanya air putih. Kira-kira 11 minggu kemudian, para peneliti memberikan semua hewan percobaan sejumlah gula dan mengamati bagaimana reaksi tubuh mereka terhadap gula dengan mengukur kadar gula darah hewan percobaan tersebut. Tikus yang diberikan gula memiliki respon yang sama terhadap pemberian gula dengan tikus yang hanya diberikan air putih. Sementara itu, tikus yang diberikan pemanis buatan mengalami respon yang berbeda. Kadar gula darah pada tikus ini lebih tinggi daripada tikus lainnya yang hanya diberikan air gula dan air putih. Hal ini menunjukkan adanya gangguan pada tubuh tikus terhadap gula. Penelitian lebih lanjut juga menemukan adanya hubungan antara hal ini dengan jumlah bakteri baik di dalam usus. Para peneliti kemudian melanjutkan penelitiannya pada manusia. Para peneliti mengamati sekitar 381 orang yang tidak menderita diabetes yang merupakan sukarelawan pada penelitian ini. Mereka diminta untuk mengisi suatu kuisioner untuk mengetahui seberapa banyak pemanis buatan yang biasa mereka konsumsi.  Sekitar 40 orang peserta penelitian yang paling banyak mengkonsumsi pemanis buatan juga menunjukkan kadar gula darah yang lebih tinggi daripada 236 orang peserta penelitian lainnya yang tidak pernah mengkonsumsi pemanis buatan. Pada penelitian pendahuluan lainnya, para peneliti memberikan sakarin selama seminggu pada 7 orang sukarelawan yang tidak menderita diabetes dan biasanya tidak mengkonsumsi pemanis buatan. Para peneliti kemudian menemukan bahwa 4 orang di antara sukarelawan tersebut mengalami penurunan kemampuan untuk mengatur kada gula darah selama seminggu tersebut. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa jumlah bakteri baik di dalam usus mereka juga mengalami perubahan yang cukup signifikan selama seminggu, sedangkan ketiga orang lainnya hanya mengalami sedikit perubahan. Secara keseluruhan, berbagai penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan beberapa orang untuk mengatur kadar gula darah memang dapat terpengaruh oleh berbagai pemanis buatan tersebut. Walaupun penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh konsumsi pemanis buatan terhadap kemampuan seseorang untuk mengatur kadar gula darah, akan tetapi jumlah pemanis buatan yang diberikan pada para sukarelawan ini lebih banyak daripada yang biasa dikonsumsi oleh seseorang setiap harinya, walaupun masih dalam batas yang direkomendasikan setiap harinya. Sumber: foxnews
 08 May 2019    18:00 WIB
Dampak Puasa Bagi Penderita Diabetes
Pengeluaran hormon insulin pada orang yang sehat biasanya distimulasi oleh makan, yang akan meningkatkan jumlah gula yang disimpan di dalam hati dan otot dalam bentuk glikogen. Sebaliknya, saat berpuasa, kadar gula darah biasanya akan menurun, yang akan menyebabkan penurunan jumlah insulin yang dikeluarkan. Pada saat yang sama, kadar glukagon dan katekolamin akan meningkat, yang akan memicu terjadinya proses metabolisme glikogen (cadangan gula di dalam tubuh). Saat seseorang telah berpuasa selama beberapa jam, maka cadangan glikogen pun akan menurun dan rendahnya kadar hormon insulin di dalam darah akan memicu terjadinya peningkatan metabolisme lemak dari sel-sel lemak. Proses oksidasi asam lemak ini akan menghasilkan keton, yang dapat digunakan oleh berbagai organ tubuh seperti tulang, otot jantung, hati, ginjal, dan jaringan lemak sebagai sumber energi. Pada orang yang menderita diabetes, pengeluaran insulin akan mengalami gangguan. Pada seorang penderita diabetes tipe 1, pengeluaran glukagon (hormon yang berfungsi untuk mengubah cadangan glikogen menjadi gula) mungkin akan mengalami gangguan yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia. Selain itu, pada beberapa orang penderita diabetes tipe 1, pengeluaran epinefrin juga mengalami gangguan, yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia berulang. Pada penderita dengan defisiensi (kekurangan) insulin berat, puasa dalam waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya pemecahan glikogen (cadangan gula di dalam tubuh) secara berlebihan dan meningkatkan pemecahan lemak di dalam tubuh, yang dapat menyebabkan terjadinya hiperglikemia dan ketoasidosis. Sementara itu, orang yang menderita diabetes tipe 2 mungkin akan mengalami gangguan yang sama seperti penderita diabetes tipe 1 (hipoglikemia dan hiperglikemia) saat berpuasa dalam waktu lama, hanya saja ketoasidosis lebih jarang terjadi. Baca juga: Cara Mencegah Diabetes  Sumber: diabetesjournals