Your browser does not support JavaScript!
 19 Jun 2019    08:00 WIB
Diabetes Gestasional Hanya Terjadi Pada Ibu Hamil
Diabetes gestasional merupakan suatu keadaan di mana wanita mengalami peningkatan kadar gula darah seperti penderita diabetes, akan tetapi hanya selama kehamilan. Gula darah biasanya kembali normal setelah persalinan. Apa Efeknya Pada Bayi Anda ? Tingginya kadar gula darah di dalam darah ibu menyebabkan peningkatan kadar gula darah di dalam tubuh bayi. Kelebihan gula pada tubuh bayi ini akan disimpan sebagai lemak dan menyebabkan bayi anda lebih besar daripada bayi lainnya. Lebih besarnya bayi anda dapat meningkatkan resiko terjadinya berbagai komplikasi pada bayi anda. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah: Cedera pada bayi saat proses persalinan karena ukurannya yang lebih besar Rendahnya kadar gula darah dan berbagai mineral saat lahir Jaundice (kulit dan bagian putih mata berwarna kekuningan) Kelahiran prematur Gangguan pernapasan sementara Perlu diingat bahwa tidak semua bayi berukuran besar mengalami berbagai komplikasi di atas. Bayi dari ibu yang menderita diabetes gestasional memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita diabetes atau obesitas pada suatu saat dalam kehidupannya. Apa Efeknya Pada Anda ? Diabetes gestasional dapat meningkatkan terjadinya berbagai komplikasi kehamilan. Berbagai komplikasi kehamilan yang dapat terjadi adalah: Keguguran Tekanan darah tinggi atau preeklampsia Kelahiran prematur Selain itu, anda memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk persalinan melalui proses pembedahan Caesar karena ukuran bayi anda yang lebih besar daripada jalan lahirnya. Akan tetapi, bukan berarti anda tidak dapat melahirkan melalui proses persalinan normal. Konsultasikan dengan dokter anda mengenai resiko dan keuntungan persalinan normal dan Caesar. Setelah persalinan, anda juga memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita diabetes tipe 2. Gaya hidup sehat dapat membantu mencegah terjadinya diabetes dan obesitas pada anda dan anak anda nantinya.  
 07 Jun 2019    18:00 WIB
Kafein dan Hubungannya Dengan Diabetes Tipe 2
Sebuah penelitian kecil yang dilakukan di Amerika, melakukan pengamatan pada para penyuka kopi yang terdiri dari 5 orang pria dan 5 orang wanita, yang rata-rata berusia 63 tahun dan menderita diabetes tipe 2 untuk mengevaluasi apa sebenarnya efek kafein pada kadar gula darah seseorang. Kadar gula darah para peserta penelitian telah berhasil dikendalikan dengan diet, olahraga, dan obat-obatan oral (yang dikonsumsi melalui mulut). Kadar HbA1c para peserta adalah sekitar 6.4%. Tidak ada peserta penelitian yang membutuhkan terapi insulin dan tidak ada peserta penelitian yang merokok atau menggunakan obat golongan psikotropika (obat penenang). Pada penelitian ini, para peneliti memberikan para peserta 500 mg kafein setiap harinya dan plasebo untuk mengetahui apa sebenarnya efek kafein pada kadar gula darah seseorang. Pemberian kafein dan plasebo dibagi menjadi 2 dosis, yang diberikan pada waktu sarapan dan makan siang. Para peneliti juga meminta para peserta penelitian untuk menggunakan alat pemeriksa kadar gula darah pada saat penelitian berlangsung sehingga kadar gula darah para peserta penelitian dapat diukur setiap waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saat para peserta penelitian mengkonsumsi kafein, kadar gula darah mereka di siang hari menjadi lebih tinggi dan hasil pemeriksaan kadar gula darah setelah makan (kadar gula darah post prandial) juga meningkat secara berlebihan. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa para peserta penelitian yang mengkonsumsi kafein mengalami penurunan kadar gula darah di pagi hari saat mereka baru saja bangun tidur. Para peneliti mengatakan bahwa masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efek kafein terhadap kadar gula darah seseorang.     Sumber: diabetescare
 02 Jun 2019    11:00 WIB
Apa Saja Gejala Diabetes Pada Anak?
Anak yang memiliki kadar gula darah tinggi mungkin mengalami diabetes, yang membuatnya memerlukan penanganan secepatnya untuk menurunkan kadar gula darah yang tinggi. Di bawah ini terdapat beberapa tanda dan gejala yang menunjukkan tingginya kadar gula darah pada seorang anak.   Sering Haus Bila kadar gula di dalam darah tinggi, maka ginjal akan berusaha untuk mengeluarkan kelebihan gula tersebut dari dalam tubuh dalam bentuk air kemih. Akan tetapi, untuk memproduksi cukup banyak air kemih untuk mengeluarkan kelebihan gula tersebut, ginjal harus menarik cairan dari berbagai jaringan tubuh. Hal ini membuat anak menjadi lebih sering buang air kecil, yang dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi dan anak sering merasa haus.   Sering Lapar Karena tubuh tidak dapat mencerna makanan yang telah dikonsumsi dengan baik, maka anak-anak yang memiliki kadar gula darah yang tinggi juga sering merasa lapar. Rasa lapar merupakan suatu reaksi tubuh untuk memberitahu Anda bahwa tubuh Anda memerlukan kalori untuk bekerja.  Kadar gula darah tinggi tetapi tetap merasa lapar, mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kelebihan gula tersebut lebih banyak dikeluarkan melalui air kemih daripada digunakan untuk sumber energi tubuh.   Penurunan Berat Badan Karena tubuh tidak mampu menggunakan gula yang berada di dalam darah dan tidak dapat menyimpan kelebihan gula dalam bentuk cadangan makanan, maka tubuh akan menggunakan cadangan makanannya, yaitu lemak sebagai sumber tenaga untuk melakukan berbagai aktivitas, yang membuat anak mengalami penurunan berat badan.   Menderita Infeksi Jamur Bila anak Anda sering atau berulang kali mengalami infeksi jamur pada kemaluan (keputihan), maka hal ini juga dapat merupakan penanda tingginya kadar gula darah pada anak, termasuk pada bayi.  Hal ini dikarenakan jamur memerlukan gula sebagai makanannya, yang membuat pertumbuhan jamur menjadi tidak terkendali pada seseorang yang memiliki kadar gula darah tinggi, termasuk pada anak-anak.   Adanya Gula dan Keton Pada Air Kemih Ditemukannya gula dan keton pada air kemih pada saat dokter melakukan pemeriksaan air kemih juga merupakan penanda tingginya kadar gula darah di dalam tubuh seorang anak.  Adanya gula di dalam air kemih menunjukkan bahwa ginjal berusaha untuk mengeluarkan kelebihan gula di dalam darah melalui air kemih. Sedangkan ditemukannya keton di dalam air kemih merupakan penanda tubuh menggunakan lemak untuk menjalankan fungsinya. Keton merupakan suatu produk sampingan dari proses pencernaan lemak menjadi energi.   Sumber: ehow
 14 May 2019    16:00 WIB
Benarkah Pemanis Buatan Dapat Menyebabkan Terjadinya Diabetes?
Sebuah penelitian yang dilakukan di Israel menemukan bahwa pemanis buatan dapat mengubah komposisi normal dari bakteri baik di dalam usus seseorang. Hal ini tampaknya juga mempengaruhi bagaimana tubuh mengendalikan gula di dalam makanan yang Anda konsumsi, yang membuat kadar gula darah meningkat. Gangguan ini menyebabkan terjadinya gangguan toleransi glukosa, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya diabetes. Akan tetapi, banyak ahli lainnya menyarankan para pembaca untuk jangan salah mengartikan hasil penelitian ini. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai benar tidaknya hasil penelitian tersebut. Pada penelitian ini, para peneliti meneliti 3 jenis pemanis buatan, yaitu sakarin, sukralosa, dan aspartam pada 20 hewan percobaan (tikus). Beberapa hewan percobaan tersebut diberikan salah satu pemanis buatan tersebut di dalam air minumnya, sementara yang lainnya diberikan air gula atau hanya air putih. Kira-kira 11 minggu kemudian, para peneliti memberikan semua hewan percobaan sejumlah gula dan mengamati bagaimana reaksi tubuh mereka terhadap gula dengan mengukur kadar gula darah hewan percobaan tersebut. Tikus yang diberikan gula memiliki respon yang sama terhadap pemberian gula dengan tikus yang hanya diberikan air putih. Sementara itu, tikus yang diberikan pemanis buatan mengalami respon yang berbeda. Kadar gula darah pada tikus ini lebih tinggi daripada tikus lainnya yang hanya diberikan air gula dan air putih. Hal ini menunjukkan adanya gangguan pada tubuh tikus terhadap gula. Penelitian lebih lanjut juga menemukan adanya hubungan antara hal ini dengan jumlah bakteri baik di dalam usus. Para peneliti kemudian melanjutkan penelitiannya pada manusia. Para peneliti mengamati sekitar 381 orang yang tidak menderita diabetes yang merupakan sukarelawan pada penelitian ini. Mereka diminta untuk mengisi suatu kuisioner untuk mengetahui seberapa banyak pemanis buatan yang biasa mereka konsumsi.  Sekitar 40 orang peserta penelitian yang paling banyak mengkonsumsi pemanis buatan juga menunjukkan kadar gula darah yang lebih tinggi daripada 236 orang peserta penelitian lainnya yang tidak pernah mengkonsumsi pemanis buatan. Pada penelitian pendahuluan lainnya, para peneliti memberikan sakarin selama seminggu pada 7 orang sukarelawan yang tidak menderita diabetes dan biasanya tidak mengkonsumsi pemanis buatan. Para peneliti kemudian menemukan bahwa 4 orang di antara sukarelawan tersebut mengalami penurunan kemampuan untuk mengatur kada gula darah selama seminggu tersebut. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa jumlah bakteri baik di dalam usus mereka juga mengalami perubahan yang cukup signifikan selama seminggu, sedangkan ketiga orang lainnya hanya mengalami sedikit perubahan. Secara keseluruhan, berbagai penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan beberapa orang untuk mengatur kadar gula darah memang dapat terpengaruh oleh berbagai pemanis buatan tersebut. Walaupun penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh konsumsi pemanis buatan terhadap kemampuan seseorang untuk mengatur kadar gula darah, akan tetapi jumlah pemanis buatan yang diberikan pada para sukarelawan ini lebih banyak daripada yang biasa dikonsumsi oleh seseorang setiap harinya, walaupun masih dalam batas yang direkomendasikan setiap harinya. Sumber: foxnews
 08 May 2019    18:00 WIB
Dampak Puasa Bagi Penderita Diabetes
Pengeluaran hormon insulin pada orang yang sehat biasanya distimulasi oleh makan, yang akan meningkatkan jumlah gula yang disimpan di dalam hati dan otot dalam bentuk glikogen. Sebaliknya, saat berpuasa, kadar gula darah biasanya akan menurun, yang akan menyebabkan penurunan jumlah insulin yang dikeluarkan. Pada saat yang sama, kadar glukagon dan katekolamin akan meningkat, yang akan memicu terjadinya proses metabolisme glikogen (cadangan gula di dalam tubuh). Saat seseorang telah berpuasa selama beberapa jam, maka cadangan glikogen pun akan menurun dan rendahnya kadar hormon insulin di dalam darah akan memicu terjadinya peningkatan metabolisme lemak dari sel-sel lemak. Proses oksidasi asam lemak ini akan menghasilkan keton, yang dapat digunakan oleh berbagai organ tubuh seperti tulang, otot jantung, hati, ginjal, dan jaringan lemak sebagai sumber energi. Pada orang yang menderita diabetes, pengeluaran insulin akan mengalami gangguan. Pada seorang penderita diabetes tipe 1, pengeluaran glukagon (hormon yang berfungsi untuk mengubah cadangan glikogen menjadi gula) mungkin akan mengalami gangguan yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia. Selain itu, pada beberapa orang penderita diabetes tipe 1, pengeluaran epinefrin juga mengalami gangguan, yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia berulang. Pada penderita dengan defisiensi (kekurangan) insulin berat, puasa dalam waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya pemecahan glikogen (cadangan gula di dalam tubuh) secara berlebihan dan meningkatkan pemecahan lemak di dalam tubuh, yang dapat menyebabkan terjadinya hiperglikemia dan ketoasidosis. Sementara itu, orang yang menderita diabetes tipe 2 mungkin akan mengalami gangguan yang sama seperti penderita diabetes tipe 1 (hipoglikemia dan hiperglikemia) saat berpuasa dalam waktu lama, hanya saja ketoasidosis lebih jarang terjadi. Baca juga: Cara Mencegah Diabetes  Sumber: diabetesjournals
 04 Apr 2019    18:00 WIB
Cegah Gangguan Jantung Pada Penderita Diabetes Dengan Konsumsi Kayu Manis
Para ahli gizi di Amerika menemukan bahwa rempah-rempah yang mengandung banyak antioksidan dapat membantu menurunkan kadar trigliserida dan berbagai lemak berbahaya di dalam darah, sehingga juga dapat menurunkan resiko terjadinya gangguan jantung pada penderita diabetes. Kadar trigliserida di dalam darah biasanya meningkat setelah seseorang mengkonsumsi makanan tinggi lemak, yang tentu saja dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan jantung. Para peneliti menemukan bahwa mencampurkan sejumlah rempah-rempah yang mengandung banyak antioksidan ke dalam makanan ternyata dapat menurunkan kadar trigliserida hingga 30% dibandingkan dengan hanya mengkonsumsi makanan tersebut saja. Beberapa jenis rempah-rempah yang dimaksud di atas adalah bubuk bawang putih, rosemary, oregano, kayu manis, cengkih, paprika, kunyit, jahe, dan lada hitam. Berbagai penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa kayu manis dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dan berbagai jenis lemak darah lainnya. Pada penelitian ini, para peneliti menguji hasil penelitian sebelumnya tersebut dengan menyiapkan makanan pada 2 hari terpisah bagi 6 orang pria yang berusia di antara 30-65 tahun, yang memiliki berat badan berlebih tetapi dengan keadaan kesehatan yang baik. Menu makanan yang dihidangkan selama 2 hari tersebut adalah sama, yaitu terdiri dari ayam, roti, dan biskuit. Yang berbeda di antara makanan tersebut adalah para peneliti menambahkan 2 sendok makan rempah-rempah kaya antioksidan pada salah satu hari. Para peneliti kemudian mengamati para peserta penelitian selama 3 jam setelah makan dan mengambil contoh darah para peserta penelitian setiap 30 menit. Hasil pemeriksaan ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas antioksidan di dalam darah hingga 13% setelah para pria mengkonsumsi makanan yang mengandung rempah-rempah tersebut, yang dapat menurunkan resiko terjadinya gangguan jantung dan pembuluh darah serta gangguan kesehatan lainnya yang berhubungan dengan tingginya kadar lemak di dalam darah.     Sumber: newsmaxhealth
 04 Apr 2019    16:00 WIB
Hubungan Indeks Glikemik Dengan Diabetes
Apa Itu Indeks Glikemik?Indeks glikemik merupakan suatu ukuran bagi makanan yang mengandung karbohidrat untuk menentukan efek karbohidrat tersebut pada kadar gula darah anda. Semakin rendah indeks glikemik suatu makanan, maka semakin kecil pula efeknya pada kadar gula darah anda (tidak menyebabkan peningkatan kadar gula darah yang besar) dan sebaliknya. Dengan menentukan indeks glikemik anda tidak perlu lagi menghitung jumlah karbohidrat di dalam makanan tertentu. Indeks glikemik dapat menunjukkan apa dampak sebenarnya dari makanan tersebut terhadap kadar gula darah anda. Nilai indeks glikemik suatu makanan dipengaruhi oleh struktur suatu makanan, jenis zat tepung di dalamnya (amilosa atau amilopektin), dan bagaimana proses pengolahannya. Semakin banyak proses pengolahan suatu makanan, maka semakin tinggilah nilai indeks glikemiknya dan sebaliknya. Pembagian Pengukuran Indeks Glikemik Indeks Glikemik Sangat RendahIndeks glikemik disebut sangat rendah bila suatu makanan tidak memiliki efek sama sekali terhadap kadar gula darah anda (indeks glikemik 0) dan hanya mengandung kurang dari 5 gram karbohidrat sederhana atau bila suatu makanan memiliki indeks glikemik kurang dari 20 dan mengandung kurang dari 7 gram karbohidrat sederhana. Indeks Glikemik RendahIndeks glikemik disebut rendah bila suatu makanan memiliki indeks glikemik kurang dari atau sama dengan 55 atau bila kadar karbohidrat sederhana di dalam makanan tersebut lebih dari 5 gram tetapi kurang dari atau sama dengan 12 gram. Indeks Glikemik SedangIndeks glikemik disebut sedang bila suatu makanan memiliki indeks glikemik antara 56-69. Indeks Glikemik TinggiIndeks glikemik disebut tinggi bila suatu makanan memiliki indeks glikemik lebih dari atau sama dengan 70. Jumlah karbohidrat sederhana suatu makanan adalah hasil pengurangan jumlah karbohidrat total dengan jumlah serat di dalam suatu makanan. Karbohidrat sederhana merupakan karbohidrat yang mudah dicerna oleh tubuh, yang berpengaruh cukup besar terhadap kadar gula darah anda. Nilai indeks glikemik suatu makanan ditentukan dengan cara mengukur kadar gula darah anda 2 jam setelah mengkonsumsi suatu makanan, yang kemudian akan dibandingkan dengan kadar gula darah 2 jam setelah mengkonsumsi roti putih atau gula pasir. Mengapa Indeks Glikemik Penting?Mengkonsumi diet dengan nilai indeks glikemik yang rendah telah terbukti berhubungan dengan penurunan resiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes tipe 2, sindrom metabolik (suatu keadaan di mana terjadi peningkatan kadar kolesterol total, tekanan darah, kadar gula darah, dan penumpukkan lemak perut yang terjadi secara bersamaan), stroke, depresi, penyakit ginjal kronik, batu empedu, kelainan saraf bawaan, mioma, kanker payudara, kanker usus besar, kanker prostat, dan kanker pankreas. Anda dapat memperoleh berbagai manfaat di atas dengan terus mengkonsumsi berbagai jenis makanan dengan indeks glikemik yang sangat rendah atau rendah. Sumber: whfoods
 01 Mar 2019    08:00 WIB
Nutrisi Buah Ara Baik Untuk Diabetes
Kandungan Nutrisi di Dalam Buah AraSetiap 100 gram buah ara mengandung 250 kalori. Buah ara terutama mengandung karbohidrat, kalsium, dan serat. Selain itu, buah ara juga mengandung vitamin B kompleks, vitamin C, vitamin K, zat besi, magnesium, kalium, fosfor, dan berbagai antioksidan.1.  Mencegah KankerBuah ara mengandung banyak antioksidan, yaitu katekin, rutin, dan asam klorogenik yang dapat menghambat metabolisme sel-sel karsinogenik. Antioksidan ini juga melindungi sel-sel tubuh yang sehat dari efek berbahaya radikal bebas. Banyaknya serat yang terdapat di dalam buah ara telah terbukti dapat menurunkan resiko terjadinya kanker payudara dan kanker usus besar secara signifikan.2.  Menutrisi KulitBuah ara mengandung banyak vitamin C dan vitamin B yang dapat membantu menutrisi dan meremajakan kulit. Buah ara juga mengandung antioksidan yang dapat melindungi kulit dari oksidasi radikal bebas. Kandungan zat antiinflamasi (anti radang) di dalam buah ara dapat mengurangi pembentukan jerawat dan bisul. Asam lemak omega 3 yang terdapat di dalamnya juga dapat digunakan sebagai pelembaba kulit.3.  Menurunkan Kadar KolesterolMengkonsumsi buah ara dapat menurunkan resiko terjadinya penyakit jantung koroner. Buah ara juga mengandung banyak pektin (serat larut air) yang dapat membantu menyerap dan mengeluarkan kolesterol dari dalam tubuh tanpa mempengaruhi tubuh anda. Mengkonsumsi daun buah ara juga dapat membantu menurunkan kadar trigliserida.4.  Baik Bagi Penderita DiabetesDaun buah ara ternyata bermanfaat bagi penderita diabetes dengan cara menurunkan kebutuhan insulin yang diperlukan untuk menstabilkan kadar gula darah. Selain itu, kalium di dalam daun buah ara juga dapat membantu mengendalikan kada gula darah dan membantu mencegah terjadinya peningkatan kadar gula darah.5.  Manfaat LainnyaBerbagai manfaat lain dari buah ara bagi kesehatan anda adalah:•  Membantu mencegah terjadinya degenerasi makula akibat penuaan (karotenoid)•  Menurunkan resiko terjadinya peningkatan tekanan darah dan membantu memperbaiki mood (kalium)•  Teh daun buah ara baik dikonsumsi oleh penderita bronkitis dan asma untuk membantu meredakan gejala serta membantu mengatasi nyeri tenggorokan•  Membantu perkembangan dan menguatkan tulang (kalsium)•  Membantu memperbaiki tulang yang rusak atau retak (fosfor)•  Membantu proses pencernaan dan mencegah sembelit (serat)Sumber: foodtofitness
 11 Feb 2019    10:00 WIB
Hubungan Antara Hepatitis C dan Diabetes
Hepatitis C merupakan infeksi virus hepatitis C pada hati yang menyebabkan hati membengkak akibat peradangan pada sel-sel hati. Keadaan ini dapat menyebabkan gangguan pada fungsi hati.Virus hepatitis C dapat ditularkan melalui darah. Tidak ada vaksin yang dapat mencegah terjadinya infeksi virus hepatitis C ini. Hati merupakan organ yang berfungsi untuk membantu pencernaan makanan, tempat penyimpanan cadangan makanan (gula/glukosa), mencegah terjadinya infeksi, dan membuang berbagai zat beracun dari dalam tubuh.Hubungan Hepatitis C dan DiabetesSelain mengganggu fungsi hati, hepatitis C ternyata juga dapat menyebabkan terjadinya diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 biasanya terjadi akibat hepatitis C kronik (penyakit telah terjadi dalam waktu yang lama). Hal ini terjadi akibat gangguan salah satu fungsi hati yaitu gangguan penyimpanan glukosa, di mana hati tidak mampu menyimpan kelebihan glukosa di dalam darah sehingga kadar gula darah meningkat (hiperglikemia). Sebaliknya, diabetes juga dapat menyebabkan terjadinya hepatitis C. Hal ini terjadi akibat kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol dalam waktu lama menyebabkan hati harus bekerja lebih keras hingga akhirnya meradang. Menurut the American Diabetes Association(ADA), sekitar 80% penderita diabetes mengalami penumpukkan glukosa yang berlebihan pada hati yang menyebabkan hati lebih sulit melawan berbagai infeksi, termasuk infeksi virus hepatitis C.Terapi Insulin dan Hepatitis CInsulin merupakan salah satu obat diabetes yang banyak digunakan, terutama bila kadar gula darah anda tidak dapat dikendalikan dengan pemberian obat anti diabetika oral. Akan tetapi, bila anda juga menderita hepatitis C, maka penggunaan insulin mungkin harus kembali dipertimbangkan. Insulin dapat menyebabkan perubahan metabolisme hati dan menurunkan kemampuan hati untuk melawan berbagai infeksi. KomplikasiMenderita diabetes dan hepatitis C dapat menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi lain, seperti sirosis hati (menyebabkan peningkatan kadar insulin yang dapat mempengaruhi pengobatan diabetes) dan gagal hati yang dapat berakibat fatal. Anda mungkin membutuhkan tindakan transplantasi hati untuk mengatasi kedua komplikasi berbahaya ini. Walaupun tidak semua penderita hepatitis C akan mengalami diabetes dan sebaliknya, akan tetapi mereka tetap memiliki resiko yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penderita dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan sedini mungkin sehingga dapat mendeteksi gangguan lain sedini mungkin dan memperoleh pengobatan secepatnya. Sumber: healthline
 10 Feb 2019    11:00 WIB
Gaya Hidup Menyebabkan Asam Urat dan Diabetes
Perubahan gaya hidup membuat semakin meningkatnya penderita berat badan berlebih dan obesitas. Hal ini juga menyebabkan peningkatan angka kejadian penyakit diabetes dan gout. Gout merupakan suatu radang sendi yang disebabkan oleh berlebihannya kadar asam urat di dalam darah. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya nyeri hebat mendadak, pembengkakan dan kemerahan pada sendi. Artritis gout paling sering mengenai sendi ibu jari kaki, akan tetapi juga dapat mengenai sendi kaki, pergelangan kaki, lutut, sendi tangan, dan pergelangan tangan. Diabetes merupakan suatu keadaan di mana terjadi peningkatan kadar gula di dalam darah, yang dapat disebabkan oleh makan terlalu banyak dan kurang banyak bergerak. Gout dan diabetes tipe 2 seringkali terjadi secara bersamaan pada orang dengan kondisi fisik tertentu, terutama pada penderita obesitas. Di bawah ini terdapat beberapa hal yang dapat membantu anda mengurangi resiko terjadinya gout dan diabetes.   Turunkan Berat Badan Untuk mencegah gout, diabetes tipe 2, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya, menjaga berat badan anda merupakan salah satu hal yang penting. Selain itu, menjaga lingkar perut anda juga sangat penting, terutama bila BMI (body mass index) anda berada di antara 25-34.9. Lingkar perut yang dianjurkan pada wanita adalah 89 cm dan 101 cm pada pria.   Olahraga Teratur Berolahraga secara teratur dapat membantu mengendalikan berat badan anda dan dapat menurunkan tekanan darah anda. Kedua hal ini dapat membantu menurunkan kadar asam urat anda dan dengan demikian dapat menurunkan resiko terjadinya gout. Selain itu, berolahraga juga memperbaiki kadar gula pada penderita intoleransi glukosa yang beresiko tinggi menderita diabetes tipe 2 di kemudian hari. Seorang ahli menganjurkan agar anda melakukan olahraga sedang selama 30 menit selama setidaknya 5 hari dalam seminggu. Jika anda sedang mengalami serangan gout atau mengalami kerusakan sendi akibat masalah berat badan, maka jenis dan lama olahraga yang boleh anda lakukan pun menjadi terbatas. Konsultasikan dengan dokter anda mengenai olahraga apa yang boleh anda lakukan dan berapa lama sebelum anda mulai berolahraga.   Berhenti Mengkonsumsi Alkohol Sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi 2-4 gelas minuman beralkohol setiap minggunya meningkatkan resiko terjadinya gout sebanyak 25%. Resiko terkena gout bahkan meningkat sebanyak 200% pada orang yang mengkonsumsi bir sebanyak 2 gelas setiap harinya. Bir dan minuman beralkohol lainnya diduga dapat meningkatkan kadar asam urat di dalam darah. Akan tetapi, tidak demikian dengan wine. Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan dan tidak terkendali (binge) juga merupakan salah satu faktor resiko utama gout. Selain menurunkan resiko gout, mengurangi 2 gelas bir setiap harinya juga dapat menurunkan berat badan lebih cepat dan dengan demikian juga dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes tipe 2.   Hindari Minuman Manis Sebuah penelitian menemukan bahwa minuman yang dimaniskan dengan gula atau mengandung fruktosa cukup tinggi, seperti pada minuman soda, dapat meningkatkan resiko terjadinya gout. Bahkan jus jeruk pun dapat meningkatkan resiko terjadinya gout. Menghindari konsumsi minuman manis juga merupakan salah satu cara yang baik untuk mengurangi jumlah kalori dalam diet anda, menurunkan berat badan anda, dan memperbaiki kadar gula darah anda (bila anda menderita diabetes).   Diet Gout Diet gout merupakan diet yang bertujuan untuk mengendalikan produksi asam urat dengan mengurangi konsumsi makanan tinggi purin. Makanan tinggi purin menyebabkan peningkatan kadar asam urat di dalam tubuh. Beberapa makanan tinggi purin adalah hati atau jeroan lainnya, ikan teri, lobster, udang, kerang, ikan haring, ikan mackerel, sapi, babi, dan domba. Bukan berarti anda sama sekali tidak boleh mengkonsumsi berbagai makanan di atas, anda hanya perlu untuk membatasinya menjadi 1 porsi setiap harinya.   Susu dan Produk Susu Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi susu skim atau susu rendah lemak atau memakan produk susu rendah lemak dapat membantu menurunkan resiko terjadinya gout. Selain itu, mengkonsumsi produk susu rendah lemak juga dapat membantu menurunkan resiko terjadinya diabetes tipe 2.   Sumber: webmd