Your browser does not support JavaScript!
 14 Sep 2018    11:00 WIB
Penyakit Kulit Yang Paling Sering Menyerang Diabetes Tipe 2
Pasien dengan diabetes mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena masalah kulit, atau dari komplikasi kulit yang tidak diketahui lebih awal, lebih sering disebabkan oleh penurunan sensasi pada kulit. Kebanyakan kondisi kulit dapat dicegah dan diobati dengan baik jika ditemukan pada tahap awal. Tetapi jika masalah kulit tersebut tidak mendapat perhatian yang baik, sebuah kelainan kulit minor pada penderita diabetes dapat berubah menjadi kondisi yang berat dan membawa komplikasi yang serius. Kondisi kulit yang terkait dengan diabetes: Skleroderma diabetikum Kondisi ini menyebabkan penebalan pada kulit di bagian leher dan punggung atas. Kondisi ini sangat jarang terjadi pada diabetes tipe 2. Pengobatan memerlukan kadar gula darah yang stabil. Losion dan pelembab terkadang dapat membantu melembutkan kulit Diabetik dermopati Disebut juga shinspot, kondisi ini berkembang sebagai akibat dari perubahan suplai aliran darah ke kulit. Dermopati terlihat seperti lesi berbentuk melingkar atau oval yang mengkilat, biasanya muncul di permukaan kulit yang tipis misalnya di bagian bawah kaki. Lesi tidak terasa sakit walaupun terkadang dapat menimbulkan rasa gatal maupun sensasi terbakar. Biasanya tidak dibutuhkan terapi khusus. Diabetik bulosa Pada kasus yang jarang terjadi, pengidap diabetes sering mengalami lesi berbentuk bulosa. Lesi bulosa ini dapat terjadi di daerah jari, tangan, kaki dan lengan atas. Lesi bulosa ini biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri dan dapat sembuh sendiri. Lesi bulosa ini sering terjadi pada penderita diabetes berat dan juga diabetes neuropati. Dengan mengontrol kadar gula darah tetap normal maka akan terhindar dari penyakit kulit ini. Disemineted granuloma anulare Kondisi ini menyebabkan lesi kulit berbentuk cincin yang berbatas tegas di daerah kulit sekitar jari dan telinga. Lesi kulit ini juga dapat muncul di dada dan abdomen. Ruam bisa berwarna merah, merah kecoklatan atau sewarna dengan kulit. Biasanya tidak memerlukan terapi, tetapi terkadang diperlukan steroid topikal untuk pengobatannya misalnya seperti hidrokortison. Infeksi bakteri Infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus bisa menjadi masalah yang serius pada diabetes. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan inflamasi mulai dari kelenjar rambut. Infeksi ini sering terjadi di kelenjar di bulu mata dan infeksi kuku. Kebanyakan bakteri memerlukan pengobatan antibiotik, baik dalam bentuk pil maupun krim Infeksi jamur Infeksi jamur pada penderita diabetes sering disebabkan oleh kandida albikans. Wanita lebih mudah terkena infeksijamur ini, terutama didaerah vagina. Daerah lain yang sering diserang oleh jamur adalah di sudut bibir yang dikenal dengan istilah "angular cheilitis", yang akan terasa seperti sensasi terpotong di sudut bibir. Jamur juga sering muncul di kaki dan jari, juga di kuku (onikomikosis). Infeksi jamur yang berpotensi berbahaya disebabkan oleh Mucormycosis. Infeksi ini biasanya dimulai di lubang hidung dan dapat menyebar sampai ke mata dan otak.   Sumber: webmd
 01 Sep 2018    11:00 WIB
Efek Samping Suntik Insulin Bagi Penderita Diabetes
Saat ini penyakit diabetes masih sangat sulit disembuhkan. Penyakit diabetes melibatkan peningkatan kadar gula darah dan penurunan produksi dari insulin. Banyak pasien diabetes baik diabetes tipe 1 maupun 2 melakukan suntikan insulin untuk mengontrol kadar gula darah didalam tubuh tetap stabil. Pasien diabetes memerlukan suntikan insulin karena produksi insulin yang terus menerus menurun. Oleh karena itu pasien diabetes memerlukan suntikan insulin untuk menstabilkan kadar gula darah dan tetap sehat. Tetapi terkadang suntikan insulin bisa juga memberikan efek, walaupun jarang terjadi. Berikut adalah beberapa efek dari pasien diabetes. Efek samping suntikan insulin: Penurunan kadar gula darah. Saat Anda mulai menyuntik insulin, maka kadar gula darah Anda akan langsung turun. Penurunan kadar gula darah dapat menimbulkan gejala berkeringat, mual atau nafas yang cepat. Jika kadar gula darah menurun dengan drastis maka bisa menyebabkan pasien pingsan Iritasi kulit atau inflamasi yang disebabkan oleh jarum suntik. Pada pasien yang harus meyuntikkan insulin sebagai pengobatan rutin maka tindakan ini bisa menyebabkan kerusakan pada jaringan kulit. Ketika kadar gula darah menurun, maka metabolisme juga ikut menurun. Hal ini juga bisa menyebabkan perubahan metabolik pada otak yang bisa menimbulkan gejala kejang. Kondisi ini memang jarang terjadi tetapi memerlukan penanganan dokter segera. Pusing yang disebabkan oleh penurunan kadar gula darah. Otak akan bekerja lebih lambat dan hal ini bisa menimbulkan racun ke tubuh Anda. Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah) merupakan efek samping utama saat melakukan suntikan insulin. Terlalu banyak kadar insulin di dalam tubuh juga bisa menyebabkan penurunan tekanan darah. Hal ini bisa menyebabkan kepala pusing, rasa melayang, kelemahan dan denyut jantung meningkat. Pada kasus yang ekstrim, suntikan insulin justru bisa menyebabkan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah). Kondisi tersebut bisa menimbulkan gejala rasa haus berlebihan, sering berkemih dan lemas Untuk beberapa pasien diabetes, suntikan insulin bisa menyebabkan alergi pada kulit dan menimbulkan gejala pembengkakan dan rasa gatal. Efek samping yang sangat jarang terjadi dari penyuntikan insulin adalah muntah, kemerahan di kulit pada daerah sekitar tempat penyuntikan, denyut jantung yang tidak stabil, penurunan konsentrasi. Kontrollah kadar gula darah Anda sealami mungkin dengan membatasi konsumsi makanan yang manis. Pemanis buatan sendiri sebenarnya bisa menimbulkan bahaya. Pastikan Anda menyuntikkan insulin 30 menit sebelum Anda makan. Anda bisa menyuntikkan insulin pada lengan, paha atau perut. Konsultasikan dengan dokter Anda bagaimana cara penyuntikan insulin dengan baik dan benar, juga bagaimana penanganan jika timbul efek samping dari pemberian insulin.  Baca juga: Tips Berolahraga Untuk Membantu Mengatasi Nyeri Saraf Akibat Diabetes Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: boldsky
 22 Jul 2018    13:00 WIB
Kualitas Tidur Dan Makan Bisa Menyebabkan Diabetes
Kata diabetes mungkin sudah tidak asing bagi kita. Orang juga mengenalnya sebagai penyakit gula. Lebih mencengangkan dan membuat kita miris adalah sekita 10 juta penduduk Indonesia mengidap ini sehingga kita menempati peringkat 7 dengan pasien terbanyak di dunia. Diabetes tidak mengenal usia dan status mau muda, tua, kaya ataupun miskin bisa mengalamai diabetes. Sobat sehat tentu tidak mau mengalami hal ini bukan? Nah kita artikel kali ini, kita akan membahas penelitian baru yang berkenaan pola hidup kita terutama kurang tidur, nyemil dan resiko terkena diabetes. Guys, nyemil sesekali tentu tidak mengapa. Namun ketika nyemil menjadi kebiasaan kita terutama di malam hari pada waktu jam tidur maka resiko yang kita hadapi adalah obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Keinginan kita untuk nyemil terutama nyemil junk food erat kaitannya dengan pola tidur kita yang buruk Dalam suatu pertemuan tahunan the Associated Professional Sleep Societies yang disebut SLEEP 2018 yang diadakan di Baltimore, menyajikan hasil penemuan mereka tentang hal ini. Salah satu peneliti dari  University of Arizona di Tucson meneliti 3.105 orang dewasa dari 23 wilayah metropolitan di seluruh Amerika Serikat terkait dengan kebiasaan ngemil di malam hari, kualitas tidur, dan masalah kesehatan yang didiagnosis. Sekitar 60 persen responden mengaku ngemil larut malam secara teratur, sementara dua pertiga dari mereka mengatakan bahwa sulit tidur membuat mereka ingin nyemil camilan yang tidak sehat. Hal ini memberikan kesimpulan bahwa kurang tidur bisa menjadi predicator atau faktor ke depan yang membuat orang ngidam atau ingin nyemil camilan yang tidak sehat yang pada akhirnya meningkatkan resiko seorang terkena diabetes. Guys, tidur sangat erat kaitannya dengan metabolisme tubuh kita. Kalau tidur kita tidak sehat atau mengalami gangguan maka metabolisme tubuh kita juga akan mengalami ganguan. Di Amerika sendiri dilaporkan sekitar 50 hingga 70 juta penduduknya mengalami gangguan tidur menurut the American Sleep Association. Sebab itu kita perlu memandang serius perkara ini. Sobat sehat tentu ingin tetap sehat dan bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik lagi bukan?  Maka kita perlu memperhatikan kualitas tidur kita. Tidur malam yang nyenyak membantu kebiasaan makan atau diet kita yang sehat dan juga menjaga metabolisme tubuh kita. Jadi sobat sehat semua, jangan begadang kalau tidak perlu. Jika sobat mengalami masalah sulit tidur dan tidak tahu penyebabnya, ada baiknya sobat datang ke dokter atau rumah sakit yang berkompeten untuk mengatasi sleep disorder yang dialami sobat sehat. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang. Sumber : www.medicalnewstoday.com, sains.kompas.com
 04 Jul 2018    13:00 WIB
Sering Buang Air Kecil? Hati-Hati Diabetes Insipidus
Apa diabetes insipidus itu?Diabetes Insipidus adalah suatu keadaan dimana terjadi kekurangan hormon antidiuretik yang menyebabkan rasa haus yang berlebihan (polidipsi) dan pengeluaran sejumlah besar air kemih (poliuri). Diabetes insipidus terjadi akibat penurunan pembentukan hormon antidiuretik (vasopresin), yaitu hormon yang secara alami mencegah pembentukan air kemih yang terlalu banyak. Hormon ini dibuat di hipotalamus, kemudian disimpan dan dilepaskan ke dalam aliran darah oleh hipofisa posterior.Diabetes insipidus juga bisa terjadi jika kadar hormon antidiuretik normal tetapi ginjal tidak memberikan respon yang normal terhadap hormon ini (keadaan ini disebut diabetes insipidus nefrogenik). Apa penyebab dari diabetes insipidus?Diabetes insipidus dapat disebabkan oleh beberapa hal:•  Hipotalamus mengalami kelainan fungsi dan menghasilkan terlalu sedikit hormon antidiuretik •  Kelenjar hipofisa gagal melepaskan hormon antidiuretik ke dalam aliran darah •  Kerusakan hipotalamus atau kelenjar hipofisa akibat pembedahan •  Cedera otak (terutama patah tulang di dasar tengkorak) •  Tumor •  Sarkoidosis atau tuberkulosis •  Aneurisma atau penyumbatan arteri yang menuju ke otak •  Beberapa bentuk ensefalitis atau meningitis•  Histiositosis X (penyakit Hand-Schuller-Christian) Apa saja gejala dari diabetes insipidus?Diabetes insipidus dapat timbul secara perlahan maupun secara tiba-tiba pada segala usia. Seringkali satu-satunya gejala adalah rasa haus dan pengeluaran air kemih yang berlebihan. Sebagai kompensasi hilangnya cairan melalui air kemih, penderita bisa minum sejumlah besar cairan. Jika kompensasi ini tidak terpenuhi, maka dengan segera akan terjadi dehidrasi yang menyebabkan penurunan tekanan darah dan syok. Penderita akan terus berkemih dalam jumlah yang sangat banyak, terutama di malam hari. Apakah pengobatan untuk diabetes insipidus?Diabetes insipidus diobati dengan mengatasi penyebabnya.Vasopresin atau desmopresin asetat (modifikasi dari hormon antidiuretik) bisa diberikan sebagai obat semprot hidung beberapa kali sehari untuk mempertahankan pengeluaran air kemih yang normal. Namun penggunaan obat ini harus hati-hati dan mengikuti petunjuk dokter, karena jika terlalu banyak mengkonsumsi obat ini bisa menyebabkan penimbunan cairan, pembengkakan dan gangguan lainnya.Suntikan hormon antidiuretik diberikan kepada penderita yang akan menjalani pembedahan atau penderita yang tidak sadarkan diri. Kadang diabetes insipidus bisa dikendalikan oleh obat-obatan yang merangsang pembentukan hormon antidiuretik, seperti Chlorpropamide, Carbamazepine, Klofibrat dan berbagai diuretik (Tiazid). Tetapi obat-obat ini tidak dapat meringankan gejala secara total pada diabetes insipidus yang berat. SUmber: heltwell
 08 Jun 2018    16:00 WIB
Dampak Puasa Pada Penderita Diabetes
Pengeluaran hormon insulin pada orang yang sehat biasanya distimulasi oleh makan, yang akan meningkatkan jumlah gula yang disimpan di dalam hati dan otot dalam bentuk glikogen. Sebaliknya, saat berpuasa, kadar gula darah biasanya akan menurun, yang akan menyebabkan penurunan jumlah insulin yang dikeluarkan. Pada saat yang sama, kadar glukagon dan katekolamin akan meningkat, yang akan memicu terjadinya proses metabolisme glikogen (cadangan gula di dalam tubuh). Saat seseorang telah berpuasa selama beberapa jam, maka cadangan glikogen pun akan menurun dan rendahnya kadar hormon insulin di dalam darah akan memicu terjadinya peningkatan metabolisme lemak dari sel-sel lemak. Proses oksidasi asam lemak ini akan menghasilkan keton, yang dapat digunakan oleh berbagai organ tubuh seperti tulang, otot jantung, hati, ginjal, dan jaringan lemak sebagai sumber energi. Pada orang yang menderita diabetes, pengeluaran insulin akan mengalami gangguan. Pada seorang penderita diabetes tipe 1, pengeluaran glukagon (hormon yang berfungsi untuk mengubah cadangan glikogen menjadi gula) mungkin akan mengalami gangguan yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia. Selain itu, pada beberapa orang penderita diabetes tipe 1, pengeluaran epinefrin juga mengalami gangguan, yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia berulang. Pada penderita dengan defisiensi (kekurangan) insulin berat, puasa dalam waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya pemecahan glikogen (cadangan gula di dalam tubuh) secara berlebihan dan meningkatkan pemecahan lemak di dalam tubuh, yang dapat menyebabkan terjadinya hiperglikemia dan ketoasidosis. Sementara itu, orang yang menderita diabetes tipe 2 mungkin akan mengalami gangguan yang sama seperti penderita diabetes tipe 1 (hipoglikemia dan hiperglikemia) saat berpuasa dalam waktu lama, hanya saja ketoasidosis lebih jarang terjadi. Baca juga: Cara Mencegah Diabetes  Sumber: diabetesjournals
 15 Apr 2018    16:00 WIB
Fakta Mengenai Diabetes Tipe 1
Ada dua tipe dari diabetes yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Walaupun keduanya dapat diterapi dengan obat-obatan dan insulin, diabetes tipe 1 bisa lebih berbahaya dibandingkan diabetes tipe 2.   Berikut adalah beberapa fakta mengenai diabetes tipe 1 yang harus Anda ketahui: Diabetes tipe 1 merupakan jenis penyakit autoimunPada kasus diabetes tipe 1, pankreas berhenti memproduksi insulin, yaitu hormon yang membantu Anda mendapatkan energi dari makanan yang Anda konsumsi. Pankreas mempunyai sel yang memproduksi insulin yang disebut sel beta dan ketika sistem imunitas tubuh menyerang sel ini, maka Anda akan terkena dibetes tipe 1. Tidak ada penyebab pasti mengapa hal tersebut bisa terjadi dan sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat mengobati dengan tuntas. Faktor genetik dan lingkungan mempunyai peranan penting dalam menyebabkan penyakit ini. Tidak seperti diabetes tipe 2, diabetes tipe 1 tidak disebabkan oleh pola makan ataupun gaya hidup Anda.   Bisa menyerang siapa sajaKarena diet dan gaya hidup tidak memiliki pengaruh apapun terhadap penyakit ini, siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang dewasa dapat terkena penyakit ini. Seseorang yang terdiagnosa diabetes tipe 1 harus bergantung pada insulin seumur hidupnya. Setiap keterlambatan pemberian insulin akan mendatangkan konsekuensi yang mematikan.   Merupakan penyakit yang sangat sulit untuk ditanganikarena ketergantungan seorang penderita diabetes tipe 1 terhadap insulin, dosis pemberian insulin bisa menjadi sangat tinggi. Terkadang pemberian insulin harus melalui jalur infus atau dengan melakukan suntikan berkali-kali. Setiap hari membutuhkan perjuangan yang konstan dan perhatian yang penuh. Kekurangan insulin dapat menyebabkan kadar gula darah menurun drastis atau naik sangat tinggi dan menimbulkan reaksi fatal.   Tanda dan gejala banyak menyerupai diabetes tipe 2Selalu merasa kehausan, buang air kecil sering, pusing, rasa melayang, peningkatan nafsu makan, penurunan berat badan yang tiba-tiba, bau aseton, sering tidak sadar, adalah beberapa gejala dari diabetes tipe 1 dan 2. Diabetes tipe 1 tidak dapat disembuhkan oleh insulin dan perawatannya juga dapat sangat menyulitkan bagi keluarga karena akan sering berhubungan dengan unit gawat darurat dan perawatan intensif. Dengan obat-obatan dan perawatan yang sesuai, penderita diabetes tipe 1 dapat hidup secara normal walaupun memang akan membutuhkan banyak kerja keras dan usaha.   Sumber: magforwomen
 15 Apr 2018    11:00 WIB
Konsumsi Protein Hewani Berlebihan Tingkatkan Resiko Diabetes, Benarkah?
Secara umum, orang dewasa biasanya mengkonsumsi sekitar 90 gram protein setiap harinya dan orang yang mengkonsumsi lebih banyak protein biasanya memiliki indeks massa tubuh yang lebih besar. Berdasarkan sebuah penelitian di Eropa ditemukan bahwa orang yang mengkonsumsi banyak protein, terutama protein hewani memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami diabetes tipe 2.   Akan tetapi, penelitian ini tidak membandingkan berapa banyak jumlah protein yang dikonsumsi para peserta penelitian. Peneliti hanya membandingkan diet atau makanan yang dikonsumsi oleh peserta yang mengalami diabetes dan peserta yang tidak mengalami diabetes di kemudian hari.   Penelitian ini melakukan pengamatan pada peserta (orang dewasa di Eropa) selama 12 tahun. Beberapa hal yang diamati oleh para peneliti adalah diet (menu makan peserta), aktivitas fisik, tinggi badan, berat badan, dan lingkar pinggang. Para peneliti kemudian melihat siapa di antara peserta yang mengalami diabetes.   Sebuah penelitian lainnya pun telah menemukan bahwa semakin banyak protein yang anda konsumsi, terutama protein hewani berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya diabetes pada masa yang akan datang.   Penelitian lainnya di Belanda menemukan bahwa setiap penambahan protein sebanyak 10 gram setiap harinya dapat meningkatkan resiko terjadinya diabetes hingga 6% (setelah mempertimbangkan berbagai faktor resiko diabetes lainnya).   Penelitian ini membagi peserta penelitian menjadi 5 kelompok berdasarkan pada jumlah protein yang mereka konsumsi setiap harinya. Penelitian ini kemudian menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi protein paling banyak (sekitar 111 gram) setiap harinya, memiliki resiko diabetes yang lebih tinggi, yaitu 17% lebih tinggi daripada orang yang mengkonsumsi protein paling sedikit (sekitar 72 gram) setiap harinya. Dan orang yang mengkonsumsi sekitar 78 gram protein hewani setiap harinya memiliki resiko diabetes yang lebih tinggi (22% lebih tinggi) daripada orang yang mengkonsumsi sekitar 36 gram protein setiap harinya.   Hasil penelitian ini tampaknya memiliki hubungan yang cukup kuat pada wanita yang mengalami obesitas. Hal lainnya yang juga meningkatkan resiko diabetes akibat mengkonsumsi protein hewani adalah berbagai nutrisi lain yang ikut terkonsumsi seperti lemak jenuh, kolesterol, dan natrium.   Walaupun demikian, protein nabati (berasal dari tumbuh-tumbuhan) ternyata tidak berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya diabetes. Sebuah penelitian lain mengenai hubungan antara protein nabati dan resiko diabetes justru menemukan bahwa berbagai jenis protein nabati (kacang-kacangan dan gandum) justru dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes.   Oleh karena itu, akan lebih baik bila anda mengganti protein hewani anda dengan protein nabati untuk mencegah terjadinya diabetes. Hal ini bukan berarti anda tidak boleh mengkonsumsi daging sama sekali, anda tetap dapat mengkonsumsi daging sapi, ayam, ikan, maupun susu dan produk olahannya; tetapi dalam jumlah yang normal (tidak berlebihan), terutama bila anggota keluarga anda ada yang menderita diabetes.   Sebaiknya jangan mengkonsumsi daging sapi atau babi lebih dari 2 kali seminggu dan jangan mengkonsumsi daging ayam atau ikan lebih dari 4 kali seminggu. Batasi juga konsumsi susu, yogurt, keju, dan berbagai jenis daging olahan lainnya.   Sumber: foxnews
 10 Apr 2018    08:00 WIB
Mengapa Penderita Diabetes Lebih Rawan Penyakit Jantung?
Diabetes mellitus adalah kondisi kronis yang dapat menyebabkan komplikasi dari waktu ke waktu. Komplikasi ini bisa meliputi penyakit jantung koroner yang dapat menyebabkan serangan jantung, penyakit cerebro-vaskular yang dapat menyebabkan stroke, retinopati (penyakit pada mata) yang dapat menyebabkan kebutaan, nefropati (penyakit ginjal) yang dapat menyebabkan gagal ginjal. dan seringnya perlu hemodialisis, dan neuropati (penyakit saraf) yang bisa menyebabkan ulserasi pada kaki yang mungkin memerlukan amputasi. Banyak dari komplikasi ini tidak memberikan gejala pada tahap awal, dan sebagian besar dapat dicegah atau diperkecil dengan kombinasi perawatan medis yang rutin dan pemantauan gula darah.   Penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner (PJK) merupakan komplikasi utama penderita Diabetes Mellitus. Sejumlah besar pasien mungkin bahkan tidak tahu bahwa mereka memiliki penyakit jantung - suatu kondisi yang disebut silent emyocardial ischmia. Diabetes Tipe 2 dianggap setara dengan penyakit arteri koroner karena efek buruknya sama buruknya dengan penyakit jantung. Salah satu penelitian terbesar untuk jantung, The Framingham Heart Study, menyatakan bahwa kehadiran diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung dua kali pada pria dan tiga kali pada wanita.   Diabetes tetap menjadi faktor risiko kardiovaskular utama bahkan bila dibandingkan dengan beberapa faktor pencetus lain seperti bertambahnya usia, hipertensi, merokok, hiperkolesterolemia, dan pembesaran jantung. Hal ini karena pasien yang menderita diabetes memiliki kejadian penyumbatan kompleks yang signifikan lebih tinggi dan membuat mereka rentan terhadap risiko jantung.   Seorang penderita diabetes rentan mengalami penyakit jantung, hal ini dikarenakan adanya kadar gula tinggi dalam pembuluh darah, gula cenderung merusak lapisan dalam pembuluh darah dan membuat darah lebih tebal, yang pada gilirannya membuat pasien lebih rentan terhadap penyakit jantung. Sehingga seseorang yang menderita diabetes perlu mengatur gula darah untuk mengendalikan risiko penyakit jantung.   Bagaimana Cara Mencegah Diabetes? Berhenti merokok: Perubahan gaya hidup paling penting. Seseorang perlu berhenti merokok. Ini adalah satu-satunya aspek terpenting dalam mencegah penyakit jantung bagi penderita diabetes. Olahraga teratur direkomendasikan: Penting untuk mengidentifikasi jenis latihan yang harus dilakukan dan dilakukan dengan teratur. Sudah terbukti dengan baik bahwa memulai olahraga dengan tiba-tiba untuk seseorang yang telah lama tidak melakukan olahraga justru memicu terjadinya serangan jantung. Tekanan Darah Tinggi harus dikontrol: Dengan modifikasi gaya hidup atau pengobatan, maka tekanan darah tinggi bisa dikendalikan. Sejumlah besar obat tekanan darah tersedia namun beberapa jenis obat tertentu memiliki efek yang lebih bermanfaat pada pasien diabetes. Kolesterol yang buruk membuat Anda lebih rentan terhadap masalah jantung: Kolesterol darah kadang kala tidak normal pada penderita diabetes. Sangat penting untuk melakukan tes darah untuk mengukur kadar kolesterol dan trigliserida dan memodifikasi makanan jika diperlukan.   Penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner (PJK) merupakan komplikasi utama penderita diabetes mellitus. Jadi rubah pola hidup Anda dengan baik sejak sekarang, jangan menunda.   Baca juga: Mengalami Kencing Manis Bukan Berarti Hidup Anda Berakhir, Ini Anjuran Yang Dapat Diikuti Agar Selalu Sehat   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur  Tanya dokter sekarang     Sumber: food.ndtv.com
 15 Mar 2018    08:00 WIB
Pola Makan Bagi Penderita Diabetes Gestasional
Diabetes gestasional merupakan jenis diabetes yang hanya terjadi pada wanita hamil, yang sebelumnya tidak menderita diabetes. Sama seperti pada diabetes pada umumnya, pada diabetes gestasional ibu hamil akan memiliki kadar gula darah yang lebih tinggi daripada normal. Mengubah pola makan merupakan pengobatan pertama dan yang biasa dilakukan untuk mengatasi diabetes gestasional. Kebutuhan kalori dan nutrisi selama hamil perlu diformulasi khusus. Hal ini biasanya tergantung pada: Usia kehamilan Berat badan dan indeks massa tubuh sebelum hamil Berapa banyak kenaikan berat badan yang terjadi selama hamil Tingkat aktivitas fisik Kadar gula darah Memiliki pola makan yang sehat dan seimbang dianjurkan bila Anda mengalami diabetes gestasional untuk membantu Anda mengendalikan kadar gula darah dan memastikan agar Anda dan bayi Anda tetap mendapatkan nutrisi yang diperlukan. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa nutrisi penting yang sangat penting bagi wanita hamil yang tetap harus dikonsumsi walaupun Anda menderita diabetes gestasional.   Baca juga: Komplikasi Kehamilan yang Mungkin Terjadi Pada Wanita Obesitas   Kalsium Selama hamil, Anda harus mengkonsumsi sekitar 1.000 mg kalsium setiap harinya untuk membantu perkembangan gigi dan tulang bayi Anda dan tetap menjaga cadangan kalsium tubuh Anda.   Zat Besi Zat besi dapat ditemukan di dalam hati, daging, ikan, kembang tahu, sereal gandum, sayuran berdaun hijau, dan telur. Ada 2 jenis zat besi yaitu zat besi heme dan zat besi non heme. Zat besi heme biasanya berasal dari hewan dan dapat ditemukan pada daging merah, daging unggas, ikan, makanan laut, dan hati. Batasi konsumsi zat besi Anda, yaitu tidak lebih dari 50 gram zat besi setiap minggunya pada trimester pertama karena seperti halnya vitamin A bila dikonsumsi berlebihan, zat besi justru dapat menyebabkan kelainan bawaan. Zat besi non heme biasanya berasal dari tumbuhan dan makanan yang diperkaya oleh zat besi, seperti sayuran berdaun hijau, kembang tahu, dan serela gandum. Vitamin C dapat membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih baik. Jadi, dianjurkan untuk mengkonsumsi zat besi bersama dengan vitamin C. Manfaat mengkonsumsi zat besi saat hamil adalah mencegah terjadinya anemia dan membantu memenuhi kebutuhan zat besi bayi Anda.   Asam Folat Asam folat dapat ditemukan di dalam sayuran berdaun hijau, ragi, kaldu daging, buah golongan sitrus, jus buah jeruk, kacang, dan makanan yang diperkaya oleh asam folat seperti sereal. Sangat penting untuk mencukupi kebutuhan asam folat harian Anda berapa pun usia kehamilan Anda.   Selain berbagai nutrisi penting di atas, Anda juga perlu menambahkan jumlah kalori (200-300 kalori) dan protein yang Anda konsumsi pada trimester kedua untuk mencukupi kebutuhan bayi Anda sehingga ia dapat berkembang dengan baik pada trimester kedua dan ketiga. Akan tetapi, hal ini tergantung pada berat badan, indeks massa tubuh, dan kadar gula darah Anda.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthxchange