Your browser does not support JavaScript!
 04 Apr 2017    12:00 WIB
Tidak Bisa Ditutupi Lagi, Ini Tanda Bila Anda Mengalami Depresi. Coba Cek Deh!
Mungkin Anda sering mendengar kata-kata orang mengatakan bahwa dirinya mengalami depresi setiap kali sedang mengalami masalah yang kecil dan sepele. Sedikit-sedikit mengatakan depresi atau mungkin Anda sendiri juga begitu? Padahal bila Anda memahami dengan benar apa depresi itu maka adalah suatu yang keadaan yang lebih fatal. Depresi adalah sebuah kondisi gangguan psikologis dengan ciri adanya perasaan sedih atau kekosongan mendalam Seseorang yang mengalami depresi bisa melakukan hal yang nekat seperti melukai diri sendiri atau bahkan mencoba untuk bunuh diri. Oleh karena itu sebelum Anda panik atau melakukan sesuatu yang tidak baik. Penting untuk Anda ketahui bagaimana tanda seseorang mengalami depresi atau mungkin Anda yang mengalami depresi tersebut. Sehingga Anda bisa langsung melakukan konsultasi dengan psikiater. Berikut adalah beberapa tanda bila Anda mengalami depresi: Depresi merubah cara Anda berpikir Saat Anda merasa tertekan bahkan oleh sebuah masalah yang kecil dan sepertinya mudah diatasi. Anda bisa merasakan keinginan untuk bunuh diri dan keinginan ini rasanya memaksa begitu kuat di kepala Anda. Bila Anda mengalami hal ini maka segera lakukan konsultasi dengan psikiater. Anda menjadi sangat egois Saat seseorang mengalami depresi dapat membuatnya menjadi sangat egois dan tidak ingin memikirkan kondisi orang lain bahkan untuk orang yang disayanginya. Kondisi depresi membuat Anda merasa terpuruk dan hanya Anda yang perlu diperhatikan bukan orang lain. Depresi juga bisa disebabkan oleh gangguan kecemasan atau dapat menjadi penyebab gangguan kecemasan Studi menunjukkan bahwa depresi yang dialami oleh banyak orang adalah karena kecemasan dalam waktu yang lama. Hal ini sangat membantu untuk mendapatkan diagnosis ketika Anda merasa tertekan. Emosional dan mudah meledak Setiap saat Anda merasa begitu tertekan, setiap masalah yang dihadapi bisa memicu tangisan atau kemarahan Anda. Sehingga dengan mudahnya Anda bisa memaki atau bahkan memukul orang lain. Sulit tidur Pola tidur Anda sering terganggu? Bisa jadi ini juga merupakan tanda Anda mengalami depresi. Kondisi dimana Anda merasa sangat tertekan membuat pikiran Anda melayang dan tidak pernah tenang sehingga menjadi sulit tidur. Merasa diri sudah tidak berharga Meski banyak orang yang sayang pada Anda, tapi Anda merasa diri Anda sudah tidak berharga. Seolah-olah Anda sudah tidak memiliki kemampuan lagi. Apapun yang Anda lakukan Anda adalah orang yang salah dan tidak berguna. Bila Anda mengalami kondisi ini secara terus menerus, jangan didiamkan saja. Anda perlu , bantuan. Bantuan dari orang terdekat, sahabat baik dan juga tenaga medis. Baca juga: Cara Untuk Mencegah Terjadinya Depresi Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 27 Feb 2017    12:00 WIB
Apa Iya Aktif Di Media Sosial Bisa Buat Depresi?
Ada banyak hal yang dapat membuat seseorang mengalami depresi. Seperti pola kehidupan yang tidak sehat, seperti pola tidur yang tidak baik. Selain itu dikatakan juga ada hal yang dapat membuat seseorang mengalami depresi yaitu terlalu aktif di media sosial. Gangguan interaksi sosial Saat seseorang terlalu aktif di media sosial biasanya akan menyebabkan kecanduan yang mempengaruhi interaksi sosial dengan orang lain. Kebiasaan bergaul secara tidak langsung dapat mengganggu interaksi sosial. Padahal pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Tidur menjadi tidak teratur Kebiasaan terlalu aktif di media sosial seringkali dapat mengganggu pola tidur seseorang. Kurang tidur, tidur tidak teratur, dan terlalu banyak tidur dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi. Hal ini disebabkan oleh aktivitas otak terganggu karena kebiasaan tidur yang tidak teratur. Gangguan psikologis Media sosial seringkali menjadi ajang ‘pamer’. Banyak orang memamerkan apa yang dimilikinya. Seperri baru membeli baju baru, mobil baru atau baru memiliki pasangan baru. Untuk orang yang mungkin terobsesi dengan hal-hal tersebut, maka akan mencoba melakukan hal lain agar terlihat lebih hebat. Kondisi seperti ini bisa menimbulkan masalah psikologis seperti rasa cemas, rendah diri, temperamen, stress dan depresi. Meskipun Anda bisa mendapatkan banya manfaat dari media sosial, namun harus Anda perhatikan hal-hal penting diatas jangan sampai justru Anda menjadi depresi. Baca juga: 3 Makanan Yang Dapat Memperburuk Depresi Sumber: kawankumagz
 22 Feb 2017    15:00 WIB
Dapatkah Depresi Membuat Anda Mengalami Serangan Jantung?
Sejak tahun 1980, para ahli telah berspekulasi mengenai ada tidaknya hubungan antara penyakit jantung dan depresi. Para ahli pun melakukan penelitian, yang menunjukkan bahwa depresi mungkin memiliki peranan dalam terjadinya gangguan jantung. Selain itu, terdapat beberapa alasan mengapa seorang penderita depresi lebih sering mengalami penyakit jantung seperti: Penderita depresi lebih sering merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, dan jarang berolahraga Seorang penderita depresi lebih jarang mengkonsumsi obat jantung walaupun jika mereka menderita penyakit jantung Stress mental yang terjadi akibat depresi dapat meningkatkan pembentukan plak lemak di dalam pembuluh darah Depresi dapat meningkatkan produksi radikal bebas dan asam lemak, yang dapat merusak dinding pembuluh darah Orang yang paling sering menderita penyakit jantung yang berhubungan dengan depresi adalah orang lanjut usia. Orang lanjut usia adalah kelompok orang yang paling jarang mencari bantuan medis untuk mengatasi depresi yang dideritanya. Sekitar 19-30% orang yang berusia 65 tahun atau lebih mengalami berbagai gejala dan tanda depresi. Wanita biasanya lebih sering mengalami depresi dibandingkan dengan pria. Selain itu, orang yang hidup sendirian juga lebih sering menderita depresi. Sebuah penelitian yang dilakukan di sebuah universitas di Amerika menemukan bahwa orang lanjut usia yang mengalami beberapa gejala depresi memiliki resiko yang lebih tinggi (40% lebih tinggi) untuk menderita penyakit jantung koroner.  Pada penelitian ini para peneliti mengamati sekitar 4.500 orang lanjut usia yang sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan jantung maupun penyakit jantung. Sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa seorang penderita depresi, berapa pun usianya, memiliki resiko yang lebih tinggi (4 kali lipat) untuk mengalami serangan jantung dalam waktu 14 tahun mendatang selama penelitian berlangsung. Walaupun penelitian mengenai apakah depresi berhubungan dengan terjadinya penyakit jantung masih berada dalam tahap awal, para peneliti menduga bahwa depresi memang merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung seperti halnya tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol darah yang tinggi.       Sumber: howstuffworks
 05 Jan 2017    08:00 WIB
Bolehkah Minum Obat Anti Depresi Saat Hamil???
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wanita yang mengkonsumsi obat SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitors) selama hamil tidak akan membuat bayinya lahir dengan berat badan lahir rendah. Saat seorang wanita hamil, mereka pasti merasa sangat khawatir mengenai makanan dan segala sesuatu yang mereka konsumsi karena dapat berpengaruh pada kesehatan bayi yang dikandungnya. Salah satu hal yang paling dikhawatirkan oleh para wanita hamil adalah bolehkah mengkonsumsi obat saat hamil, termasuk obat anti depresi. Pada zaman dahulu, banyak wanita hamil yang terpaksa menghentikan pengobatan depresinya karena takut mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Akibatnya, bila mereka tidak segera melanjutkan pengobatan segera setelah bayi mereka lahir, kekambuhan pun seringkali terjadi. Akan tetapi, sebuah penelitian baru menemukan bahwa obat anti depresi golongan SSRI yang dikonsumsi selama hamil tidak akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi di dalam kandungan.  Para ahli juga tidak menemukan adanya perbedaan pertumbuhan yang signifikan pada anak dari lahir hingga berusia 12 bulan, yang dilahirkan oleh ibu yang mengkonsumsi SSRI saat hamil dengan yang tidak mengkonsumsi SSRI saat hamil. Penelitian lainnya juga menemukan bahwa penggunaan SSRI pada wanita hamil tidak berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya kematian bayi.   Baca juga: Posisi Tidur Terbaik Bagi Ibu Hamil   Berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai hal ini sebelum Anda memutuskan untuk melanjutkan atau menghentikan konsumsi obat anti depresi Anda saat hamil.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthline
 29 Oct 2016    15:00 WIB
Dampak Depresi Pada Kehamilan Anda
Depresi dapat terjadi pada siapa saja, baik pria dan wanita, serta dapat terjadi kapan saja, baik anak-anak, remaja, orang dewasa, orang lanjut usia, bahkan wanita hamil. Sekitar 10-20% wanita mengalami gejala depresi selama kehamilan.Penyebab Terjadinya Depresi Selama KehamilanTerdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya depresi saat hamil, yaitu:•  Pernah mengalami depresi sebelumnya atau mengalami gangguan dismorfik premenstrual, yaitu bentuk berat dari sindrom premenstrual•  Usia saat kehamilan, semakin muda usia anda saat hamil, maka semakin tinggi resiko anda menderita depresi saat hamil•  Tidak memiliki anggota keluarga lainnya•  Kurangnya dukungan sosial•  Jumlah anak yang dimiliki. Semakin banyak jumlah anak yang anda miliki, maka semakin tinggi kemungkinan terjadinya depresi pada kehamilan berikutnya•  Adanya permasalahan dalam pernikahan•  Merasa senang sekaligus sedih mengenai kehamilanDampak Depresi Pada Wanita HamilBeberapa hal yang dapat terjadi bila seorang wanita hamil mengalami depresi adalah:•  Depresi dapat menyebabkan wanita hamil kurang dapat mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam hal kebiasaan tidur dan makan•  Depresi dapat meningkatkan kemungkinan penggunaan zat-zat berbahaya, yang dapat membahayakan anda dan bayi di dalam kandungan anda. Zat-zat berbahaya tersebut adalah rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang•  Depresi dapat mengganggu kemampuan anda untuk menjalin hubungan atau membentuk ikatan dengan bayi di dalam kandungan andaDampak Kehamilan Pada Penderita DepresiBeberapa hal yang dapat terjadi pada penderita depresi akibat kehamilan adalah:•  Stress akibat kehamilan dapat membuat gejala depresi semakin memburuk atau kambuh•  Meningkatkan resiko terjadinya depresi paska melahirkanApa yang Harus Dilakukan?Jadikan kesehatan anda sebagai prioritas utama dalam kehidupan anda saat anda hamil. Kurangilah berbagai pekerjaan rumah atau kantor untuk membuat anda merasa lebih rileks. Diskusikan semua hal yang membuat anda merasa khawatir pada teman atau pasangan atau keluarga anda. Dengan demikian, anda mungkin dapat memperoleh dukungan yang anda perlukan. Jika semua langkah di atas tidak dapat membuat anda merasa lebih baik, maka terapi baik konseling maupun obat anti depresi dapat membantu mengatasi gejala depresi yang anda alami. Telah tersedia berbagai obat anti depresi yang dapat dikonsumsi selama kehamilan (walau hanya dalam waktu singkat). Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai efek penggunaan obat anti depresi dalam jangka panjang pada bayi anda. Berkonsultasilah dengan dokter anda mengenai manfaat dan resiko obat anti depresi yang anda konsumsi. Baca juga: Tanda Bahaya Saat Kehamilan Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 01 Sep 2016    18:00 WIB
Depresi Dapat Diketahui Melalui Pemeriksaan Darah, Benarkah?
Dengan melakukan pemeriksaan darah, Anda dapat mengetahui bagaimana keadaan kesehatan Anda, mulai dari kadar kolesterol darah Anda hingga kadar hormonal Anda. Tidak lama lagi, mungkin ada gangguan kesehatan lainnya yang dapat diketahui hanya dengan melakukan pemeriksaan darah, yaitu gangguan depresi. Saat ini, para peneliti sedang mengembangkan suatu pemeriksaan darah yang dapat mengidentifikasi gangguan mood ini.  Selama bertahun-tahun, para dokter telah mendiagnosa para penderita depresi dengan menanyakan penderita berbagai macam pertanyaan untuk mengetahui seberapa sering dan beratnya gejala depresi yang dialami oleh penderita. Beberapa gejala depresi yang dapat ditemukan adalah merasa sedih, perubahan pola tidur atau pola makan, dan merasa sangat lelah. Kendalanya adalah gejala yang dialami oleh penderita seringkali hampir mirip atau tertutupi oleh gejala gangguan kesehatan fisik atau mental lainnya. Selain itu, para dokter juga harus bergantung pada pandangan penderita untuk mengetahui apakah gejala yang mereka alami benar-benar merupakan gejala depresi.  Pada pemeriksaan darah baru ini, akan dilakukan pemeriksaan terhadap suatu biomarker khusus di dalam darah yang disebut dengan RDA marker, suatu molekul pembawa pesan suatu kode genetika DNA tertentu.  Pada sebuah penelitian baru-baru ini, para peneliti menemukan bahwa orang yang menderita depresi dan yang tidak menderita depresi memiliki suatu RDA marker khusus. RDA marker ini dapat membedakan seorang penderita depresi dan bukan seorang penderita depresi (orang dewasa) dengan keakuratan hingga 72-80%, yang mana sama dengan cara diagnosa yang telah sering dilakukan saat ini (bertanya secara langsung pada penderita). Selain itu, pemeriksaan darah ini juga dapat membedakan penderita mana yang akan berespon terhadap terapi kognitif, suatu terapi konseling untuk mengatasi depresi. Para peneliti mengatakan bahwa pemeriksaan darah ini tetap tidak dapat menggantikan pemeriksaan langsung dokter-pasien yang telah dilakukan hingga saat ini. Pemeriksaan ini hanya bertujuan sebagai pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosa.  Baca juga: Dapatkan Tubuh Langsing Singset Dengan Panduan Diet Sesuai Golongan Darah Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: womenshealthmag
 20 Aug 2016    15:00 WIB
Kurang Tidur Tingkatkan Resiko Depresi Pada Remaja
Kekurangan waktu tidur ternyata tidak hanya mengganggu kesehatan anak remaja anda, tetapi juga dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi. Masa remaja sendiri sebenarnya merupakan suatu masa yang cukup berat dalam kehidupan anak anda, suatu masa di mana mereka sedang berusaha mencari jati dirinya dengan emosi yang meledak-ledak, yang membuat mereka lebih rentan terhadap depresi. Sekitar 11% remaja mengalami depresi saat mereka berusia 18 tahun. Berdasarkan sebuah penelitian di Amerika, para remaja yang tidak memiliki waktu tidur yang cukup memiliki resiko 4 kali lebih besar untuk mengalami gangguan depresi dibandingkan anak-anak lain seusia mereka. Remaja yang depresi pun biasanya memiliki waktu tidur yang kurang. CDC (Centers for Disease Control) merekomendasikan agar para remaja setidaknya tidur selama 9-10 jam setiap malamnya. Orang tua pun memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan anaknya memperoleh waktu tidur yang cukup. Anak-anak harus diajarkan untuk tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap harinya. Sebuah penelitian lain yang dilakukan di Swedia menemukan bahwa kurangnya waktu tidur dan paparan berlebihan terhadap media (televisi) tampaknya memiliki hubungan dengan terjadinya gangguan jiwa pada remaja. Sebuah penelitian lainnya di Stockholm menemukan bahwa para remaja yang menggunakan obat-obatan terlarang dan sering bolos sekolah lebih mudah mengalami depresi. Kurangnya olahraga, kurangnya waktu tidur, dan terlalu banyak menghabiskan waktu melihat internet dapat membuat remaja lebih rentan terhadap depresi dan bahkan membuat mereka berpikiran untuk bunuh diri. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hubungan antara penggunaan internet dan terjadinya depresi. Para peneliti menduga bahwa penggunaan internet merupakan salah satu cara para remaja ini untuk menghindari interaksi sosial atau dapat juga merupakan tempat mereka mencari pertolongan. Sebenarnya, depresi sendiri dapat terjadi baik pada orang dewasa maupun pada remaja. Akan tetapi, para remaja lebih rentan mengalami kurangnya waktu tidur. Hal ini mungkin diakibatkan oleh perubahan irama sirkardian (pengatur tidur dan bangun di dalam tubuh manusia) yang terjadi selama remaja, yang membuat para remaja ini ingin tidur lebih malam dan bangun lebih siang. Selain itu, saat para remaja ini memasuki sekolah menengah atas (SMA) pun memiliki lebih banyak tugas dan ujian. Kadangkala, mereka pun harus mulai bekerja. Kemajuan teknologi pun memiliki peranan dalam berkurangnya waktu tidur para remaja ini, berbagai permainan, telepon genggam, dan tablet yang ada sekarang ini membuat para remaja semakin sering bermain internet dan semakin enggan untuk tidur. Baca juga: Kurang Tidur Membuat Anda Mudah Lupa, Benarkah? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: npr
 08 Aug 2016    11:00 WIB
Depresi Membuat Anda Mudah Lupa, Benarkah?
Apakah anda sering lupa di mana anda meletakkan barang anda? Kunci rumah atau dompet anda? Atau ingatkah anda apa yang anda makan kemarin malam? Bila anda pernah mengalami beberapa contoh ini atau bahkan sering, maka anda mungkin sedang mengalami penurunan daya ingat. Berbeda dari anggapan kebanyakan orang, daya ingat yang buruk tidak selalu terjadi pada saat anda memasuki masa lanjut usia. Anak-anak pun dapat mengalaminya (mudah lupa). Jadi berapa pun usia anda, baik muda maupun tua, anda dapat mengalami penurunan daya ingat. Salah satu hal yang seringkali menyebabkan terjadinya penurunan daya ingat dan bahkan mengganggu fungsi kognitif anda adalah depresi. Saat orang mengalami depresi, maka mereka akan mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan mengingat kembali berbagai hal karena pikiran mereka sedang dipenuhi oleh berbagai pikiran negatif sama seperti perasaan mereka. Depresi dapat terjadi pada siapa saja dan usia berapa pun, termasuk pada anak-anak yang masih kecil yang seringkali mengalami berbagai situasi yang penuh dengan tekanan. Beberapa hal yang dapat membuat seseorang merasa stress adalah kematian seseorang yang dicintai, kurangnya penghargaan dari anggota keluarga yang lain, dan berbagai alasan lainnya. Berbagai emosi negatif yang dirasakan seperti marah, takut, dan cemas juga dapat membuat seseorang menjadi pelupa dan sulit berkonsentrasi. Tidak peduli seberapa keras mereka berusaha, penderita depresi akan sangat sulit untuk berkonsentrasi dan mengingat kembali berbagai hal karena mereka telah terfokus pada emosi negatif dan situasi menyakitkan yang terjadi dalam kehidupan mereka.Sumber: lifespan
 27 Jul 2016    12:00 WIB
Kebanyakan NgePath Sebabkan Iri Hati hingga Depresi
Media sosial, seperti Path kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup berbagai kalangan, dari anak-anak hingga dewasa. Namun ternyata, terlalu sering menggunakan Path memiliki dampak yang serius terhadap kesehatan psikologi seseorang.   Fenomena ini bukan hanya fenomena yang terjadi dikalangan anak muda. Banyak diantara mereka yang telah menginjak usia paruh baya menggangap Path sebagai bagian dalam hidup mereka. Mengecek Path di tempat kerja, di rumah, di jalan, atau di tempat-tempat dengan Wi-Fi gratis. ‘Up to date’ terhadap apapun yang teman-teman mereka lakukan seringkali menjadi kegiatan sehari-hari mereka.   Path ibarat sebuah jendela kecil yang memungkinkanmu melihat kehidupan teman-teman. Mereka yang memiliki rumah indah, mereka yang sering berlibur ke tempat-tempat eksotis, menggunakan barang-barang mahal yang bermerek. Path benar-benar dapat menampilkan gaya hidup seseorang.   Jika seseorang mempunyai kebiasaan menguntit temannya di Path, kemudian menyadari bahwa hidup orang itu jauh lebih baik dari hidup mereka. Hal ini bisa membuatseseorang merasa buruk dan terpuruk tentang dirinya sendiri. Penggunaan Path secara berlebihan ini dapat memicu rasa iri hati, yang akhirnya dapat menyebabkan depresi dan kesedihan yang ekstrim. Oleh karena itu, mari mulai batasi penggunaan Path dalam kehidupan sehari-hari J   Baca juga: Bagaimana Depresi Berhubungan Dengan Bunuh Diri   Sumber: App Tekno
 26 Jun 2016    08:00 WIB
Berbagai Jenis Depresi dan Dampaknya Pada Kehidupan
Depresi merupakan perasaan sedih atau acuh tak acuh yang disertai dengan berbagai gejala lain yang berlangsung selama setidaknya 2 minggu berturut-turut dan cukup berat hingga mengganggu aktivitas anda sehari-hari. Depresi dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja, baik pada anak-anak atau orang dewasa dan saat kehilangan orang tercinta atau saat mengalami suatu peristiwa traumatis atau saat pergantian musim atau bahkan setelah melahirkan.Depresi MusimanDepresi musiman biasanya lebih sering terjadi pada orang yang tinggal di negara dengan 4 musim, di mana perubahan mood sesuai dengan perubahan musim yang sedang berlangsung. Penderita akan merasa ceria dan bersemangat di musim panas, dan kemudian merasa sedih dan tidak bersemangat saat musim dingin dimulai. Timbulnya gejala depresi musiman biasanya terjadi pada akhir musim gugur dan awal musim dingin. Depresi musiman mengenai sekitar 3-20% penduduk dunia, tergantung pada di mana mereka tinggal. Depresi PostpartumBaby blues merupakan depresi yang terjadi pada seorang wanita yang baru saja melahirkan dan dapat mengenai 3 dari 4 ibu baru. Bila gejala depresi yang terjadi semakin berat dan berlangsung lama, bahkan setelah bayi anda bertumbuh, maka hal ini disebut dengan depresi postpartum.Depresi postpartum memiliki gejala yang mirip dengan gejala depresi pada umumnya. Ibu yang mengalami depresi postpartum juga dapat mempengaruhi kehidupan anaknya. Ibu yang depresi mungkin lebih sulit untuk merasa senang saat bersama bayinya dan sulit membangun suatu ikatan dengan bayinya.Depresi Pada Anak-anakDepresi pada anak dapat mengganggu kemampuan anak untuk bermain, berteman, dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Gejala depresi pada anak mirip dengan gejala depresi pada orang dewasa, akan tetapi beberapa anak mungkin tampak sebagai anak yang "bermasalah", yang seringkali terlibat dalam berbagai hal yang berbahaya dan mudah marah. Menegakkan diagnosa depresi pada anak-anak biasanya lebih sulit.Bagaimana Mendiagnosa Depresi?Tidak ada pemeriksaan darah yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya depresi. Untuk menegakkan depresi, para dokter biasanya bergantung pada gejala yang dialami oleh penderita. Dokter anda juga akan menanyakan mengenai riwayat kesehatan anda dan obat-obat yang anda gunakan. Untuk menentukan jenis dan keparahan depresi yang terjadi, dokter akan mengamati perubahan mood, perilaku, dan bagaimana anda melakukan aktivitas sehari-hari.Dampak Depresi Pada Kehidupan Sehari-hariTanpa pengobatan, perubahan fisik dan emosional pada penderita depresi dapat mempengaruhi pekerjaan, aktivitas, dan hubungan anda dan pasangan anda. Penderita depresi seringkali merasa kesulitan untuk berkonsentrasi dan membuat suatu keputusan. Penderita biasanya juga menarik diri atau tidak lagi merasa tertarik untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya sangat disukainya, termasuk berhubungan seksual. Pada keadaan berat, depresi dapat membahayakan keselamatan jiwa anda. Baca juga: Hobi Tepat Atasi Stress Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd