Your browser does not support JavaScript!
 28 May 2019    08:00 WIB
Apakah Pengobatan Bipolar Menyebabkan Peningkatan Berat Badan ?
Kelainan bipolar bisa diobati oleh berbagai pengobatan. Beberapa pengobatan ini dapat meningkatkan selera makanan atau mengubah metabolism yang menyebabkan berat badan meningkat. Apakah obat-obatan tersebut menyebabkan peningkatan berat badan, atau apakah itu efek sampingnya berbeda-beda pada setiap orang.  Begitu juga seberapa baik obat bipolar ini bekerja untu mengobati gejala-gejala bipolar juga berbeda tiap-tiap orang. Oleh karena ini menemukan pengobatan untuk penyakit bipolar ini memerlukan beberapa percobaan. Pada beberapa kasus, pengobatan yang meningkatkan berat badan mungkin diperlukan sementara sampai anda dapat mengendalikan gejala-gejala yang timbul. Kemudian anda dan dokter anda dapat mencari obat yang dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang, dan menimbulkan efek samping lebih sedikit. Pengobatan untuk kelainan bipolar mencakup mood stabilizers, antidepresan dan antipsikotik. Mood stabiizers Dipakai untuk mengobati kelainan bipolar, termasuk lithium, asam valproic, sodium divalproex, karbamazepin dan lamotrigine. Semua pengobatan ini diketahui meningkatkan berat badan, kecuali lamotrigine Antipsikotik Umumnya diresepkan untuk pengobatan bipolar, mencakup olanzapine, risperidone, quetipine, aripiprazole, ziprasidone dan asenapine. Beberapa pengobatan ini menyebabkan peningkatan berat badan jika dikonsumsi satuan., tetapi kebanyakan penderita bipolar memerlukan lebih dari satu obat untuk mengontrol gejala-gejalanya. Peningkatan berat badan muncul jika obat-obat antipsikotik dikombinasikan dengan mood stabilizer. Anak-anak dan orang dewasa dengan gangguan bipolar yang mendapat pengobatan ini cenderung untuk mengalami peningkatan berat badan dalam waktu singkat. Antidepresan Antidepresan dapat meningkatkan berat badan pada beberapa orang, tetapi reaksi dari pengobatan ini bervariasi untuk tiap-tiap orang. Paroxentine dan mirtazapine dapat menyebabkan peningkatan berat badan lebih cepat dibandingkan pengobatan antidepresan lainnya. Secara umum pengobatan antidepresan diperlukan resepdokter, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs) tidak menyebabkan peningkatan berat badan. Resiko peningkatan berat badan lebih sering terjadi pada orang yang lebih tua, termasuk antidepresan trisiklik dan beberapa monoamine oxidase inhibitor (MAOIs) Beberapa peningkatan berat badan tidak dapat dihindari ketika menggunakan obat-obatan karena diperlukan untuk mengobati gejala-gejala bipolar. Jika peningkatan berat badan merupakan masalah penting untuk anda, anda dapat membicarakan denga dokter anda. Pelajari lagi tips-tips makanan sehat, tetap aktif secara fisik dan menjalani psikoterapi dapat membantu anda mengurangi gejala-gejala bipolar. Bersabar dan berkonsultasilah dengan dokter anda untuk mendapatakan pengobatan yang terbaik untuk gejala-gejala bipolar anda dan dapat mengendalikan berat badan anda.   Sumber : mayoclinic    
 25 Oct 2018    11:00 WIB
Wow Resiko Bunuh Diri Bisa Terjadi Pada Penderita Bipolar
Gangguan bipolar atau kelainan manik depresi, merupakan suatu keadaan di mana seseorang mengalami episode kegembiraan (manik) dan depresi secara bergantian. Seseorang yang didiagnosa mengalami gangguan bipolar biasanya mengalami satu atau lebih episode depresi bergantian dengan satu atau lebih episode manik atau episode depresi dan manik secara bersamaan (campuran). Manik merupakan suatu keadaan di mana seseorang merasa senang atau gelisah yang disertai dengan energi berlebihan dalam waktu lama (setidaknya selama 1 minggu). Gejala manik adalah peningkatan energi, berbicara dan berpikir dengan cepat, sangat bawel, perhatian mudah teralihkan, ceroboh, perilaku agresif, menganggap atau berpikir dirinya hebat, penurunan kebutuhan tidur, merasa tidak terkalahkan, berselingkuh, pengeluaran berlebihan, dan kepercayaan diri berlebihan. Depresi merupakan suatu keadaan di mana seseorang merasa tidak bersemangat, tidak bertenaga, sedih, atau mudah marah dalam waktu lama, setidaknya selama 2 minggu. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah pesimistis, menarik diri dari lingkungan, adanya pikiran untuk bunuh diri atau berpikir tentang kematian, merasa sedih berlebihan, dan mudah marah atau mudah tersinggung. Penderita gangguan bipolar memiliki resiko tinggi untuk melakukan tindakan bunuh diri bila mereka tidak memperoleh pengobatan yang tepat. Sebanyak hampir 75% pria penderita depresi melakukan tindakan bunuh diri, sedangkan wanita memiliki resiko bunuh diri 2 kali lebih besar daripada pria.Faktor ResikoBeberapa hal yang meningkatkan resiko terjadinya tindakan bunuh diri adalah:•  Mengalami gangguan mental dan penyalahgunaan zat-zat terlarang•  Memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan mental atau penyalahgunaan zat-zat terlarang•  Pernah mencoba melakukan tindakan bunuh diri sebelumnya•  Memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami kekerasan fisik maupun seksual•  Memiliki anggota keluarga atau teman yang pernah mencoba melakukan tindakan bunuh diri•  Memiliki senjata api di rumahJangan pernah meninggalkan orang yang memiliki resiko tinggi atau menunjukkan tanda-tanda akan melakukan tindkaan bunuh diri sendirian. Mintalah bantuan petugas medis dan awasi perilaku orang tersebut. Tanda Adanya Keinginan Untuk Bunuh DiriBeberapa hal yang menandakan bahwa seseorang kemungkinan memiliki keinginan untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah:•  Membicarakan tentang tindakan bunuh diri•  Selalu membicarakan atau memikirkan tentang kematian•  Memberitahukan bahwa dirinya merasa putus asa, tidak berdaya, atau tidak berharga•  Mengatakan berbagai hal seperti "akan lebih baik bila aku tidak ada" atau "aku ingin kabur atau pergi dari semua ini"•  Memburuknya gejala depresi yang dialami•  Perubahan emosi mendadak dari sangat sedih menjadi sangat tenang atau terlihat bahagia•  Memiliki keinginan untuk mati atau melakukan berbagai tindakan berbahaya yang dapat menyebabkan kematian•  Kehilangan minat pada berbagai hal yang biasanya sangat disenangi atau dipedulikannya•  Mengunjungi atau menelepon orang-orang yang disayanginya•  Menyelesaikan berbagai permasalahan atau mengubah surat wasiat.Sumber: webmd
 14 Jun 2018    18:00 WIB
Apakah Saya Beresiko Mengalami Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar atau kelainan manik depresi, merupakan suatu keadaan di mana seseorang mengalami episode kegembiraan (mania) dan depresi secara bergantian. Seseorang yang didiagnosa mengalami gangguan bipolar biasanya mengalami satu atau lebih episode depresi bergantian dengan satu atau lebih episode manik atau episode depresi dan manik secara bersamaan (campuran). Mania merupakan suatu keadaan di mana seseorang merasa senang atau gelisah yang disertai dengan energi berlebihan dalam waktu lama (setidaknya selama 1 minggu). Gejala mania adalah peningkatan energi, berbicara dan berpikir dengan cepat, sangat bawel, perhatian mudah teralihkan, ceroboh, perilaku agresif, menganggap atau berpikir dirinya hebat, penurunan kebutuhan tidur, merasa tidak terkalahkan, berselingkuh, pengeluaran berlebihan, dan kepercayaan diri berlebihan. Depresi merupakan suatu keadaan di mana seseorang merasa tidak bersemangat, tidak bertenaga, sedih, atau mudah marah dalam waktu lama, setidaknya selama 2 minggu. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah pesimistis, menarik diri dari lingkungan, adanya pikiran untuk bunuh diri atau berpikir tentang kematian, merasa sedih berlebihan, dan mudah marah atau mudah tersinggung. Berbagai mania dan depresi ini seringkali terjadi bersamaan, sehingga orang tersebut dikatakan memiliki gangguan campuran antara mania dan depresi. Seseorang diduga menderita gangguan bipolar bila orang tersebut mengalami 4 atau lebih episode depresi, mania, dan atau gabungan keduanya dalam waktu 1 tahun.   Penyebab Penyebab pasti gangguan bipolar ini masih tidak diketahui, akan tetapi para ahli menemukan bahwa gangguan bipolar ini dapat diturunkan karena adanya faktor genetika yang berperan. Beberapa penelitian telah menduga bahwa beberapa faktor dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi otak yang mengakibatkan timbulnya berbagai gejala depresi dan mania tersebut. Beberapa faktor yang diduga berperan adalah stress, penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, dan kurang tidur.   Siapa yang Beresiko? Gangguan bipolar dapat mengenai pria dan wanita, tidak tergantung pada ras ataupun status sosial ekonomi. Wanita penderita gangguan bipolar biasanya lebih sering mengalami episode depresi dan campuran dibandingkan pria. Pria penderita gangguan bipolar biasanya mengalami episode mania pada saat pertama kali mengalaminya, sedangkan wanita biasanya mengalami episode depresi saat pertama kali mengalaminya. Gangguan bipolar dapat mengenai semua usia, akan tetapi biasanya mulai timbul pada orang berusia 25 tahun.   Apakah Kelainan Ini Diturunkan? Berbagai penelitian telah menemukan bahwa penderita gangguan bipolar biasanya memiliki setidaknya satu anggota keluarga yang juga mengalami gangguan ini. Bila salah satu orang tua menderita gangguan bipolar, maka anaknya memiliki peluang menderita gangguan ini sebesar 10-25%. Bila kedua orang tua menderita gangguan bipolar, maka anaknya memiliki peluang menderita gangguan ini sebesar 10-50%. Bila salah satu anak mengalami gangguan ini, maka kemungkinan anak lainnya menderita gangguan ini adalah sebesar 10-25%. Sebuah penelitian pada kembar identik menemukan bahwa gangguan bipolar tidak hanya disebabkan oleh faktor genetika, karena tidak semua orang kembar menderita gangguan bipolar ini bila kembarannya mengalami gangguan ini, walaupun memiliki resiko hingga 40-70%. Para peneliti menemukan bahwa gangguan bipolar ini tidak hanya disebabkan oleh 1 gen, tetapi oleh beberapa gen, di mana setiap gen ini berperan dalam proses terjadinya gangguan.   Gaya Hidup dan Gangguan Bipolar Kurangnya tidur meningkatkan resiko terjadinya episode mania pada seorang penderita gangguan bipolar. Selain itu, obat anti depresi, terutama bila obat ini diberikan sebagai terapi tunggal juga dapat memicu terjadinya episode mania atau memicu berubahnya episode depresi menjadi mania. Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan juga dapat memicu timbulnya gejala gangguan bipolar ini. Sebuah penelitian menemukan bahwa sekitar 50% penderita gangguan bipolar juga mengalami penyalahgunaan zat atau alkohol. Penderita gangguan bipolar seringkali menggunakan alkohol atau obat-obatan untuk mengurangi rasa tidak bahagia saat depresi atau sebagai salah satu tindakan ceroboh dan impulsif pada saat episode mania terjadi.   Stress dan Gangguan Bipolar Beberapa orang kadang mengalami gangguan bipolar setelah mengalami kejadian traumatis atau kejadian lainnya yang membuat orang tersebut sangat tertekan dan stress dalam hidupnya. Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya gangguan bipolar adalah: Perubahan musim Liburan Pindah kerja Kehilangan pekerjaannya Kuliah Perselisihan dalam keluarga Pernikahan Kematian orang terdekat atau anggota keluarga Stress sendiri sebenarnya tidak menyebabkan terjadinya gangguan bipolar. Akan tetapi pada beberapa orang yang memang telah rentan terhadap gangguan bipolar, mengatasi stress dan memiliki gaya hidup sehat dapat membantu mencegah terjadinya gangguan bipolar ini.   Sumber: webmd  
 24 Jan 2017    12:00 WIB
Makanan Berbahaya Bagi Penderita Gangguan Bipolar
Jika Anda atau seseorang yang Anda cintai menderita gangguan bipolar, maka Anda tentunya telah mengetahui betapa pentingnya mengkonsumsi obat bipolar secara teratur dan memiliki gaya hidup sehat. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa ada beberapa jenis makanan dan suplemen yang juga dapat membantu atau justru memperburuk gangguan bipolar??? Gangguan bipolar sendiri sebenarnya merupakan suatu gangguan kompleks di mana penderitanya mengalami perubahan mood yang dramatis atau tidak normal, berganti-ganti antara manik (rasa senang berlebihan) dengan depresi (rasa sedih berlebihan). Episode manik dan depresi ini dapat bervariasi dari ringan hingga sangat berat. Perubahan mood antara manik dan depresi dapat terjadi setiap beberapa hari atau minggu. Akan tetapi, dapat pula terjadi secara mendadak. Suatu gejala dikatakan episode manik atau depresi bila gejala tersebut tidak hanya mengganggu mood tetapi juga tidur, energi, kemampuan berpikir, fungsi sosial, dan perilaku penderita. Gangguan ini harus berlangsung selama setidaknya beberapa hari yang menyebabkan terjadinya perubahan pada diri perilaku.   Baca juga: Apa Itu Gangguan Bipolar?   Makanan dan Gangguan Bipolar Mengenai makanan, sebenarnya tidak ada diet khusus yang perlu dilakukan oleh seorang penderita bipolar. Akan tetapi, mengkonsumsi diet sehat dan seimbang dapat membantu penderita menjaga berat badannya agar tetap sehat. Bagi penderita bipolar dianjurkan untuk menghindari gaya makan Barat yang terdiri dari banyak daging merah, lemak jenuh, lemak trans, dan karbohidrat sederhana dikarenakan pola makan ini telah diketahui dapat meningkatkan resiko terjadinya obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan jantung. Akan tetapi, pola makan ini sebenarnya tidak mempengaruhi gejala gangguan bipolar secara langsung. Selain itu, dianjurkan agar penderita bipolar mengkonsumsi berbagai jenis buah dan sayuran, mengurangi konsumsi kopi atau minuman berkafein lainnya (tetapi jangan berhenti mengkonsumsi kafein secara mendadak, kurangilah jumlah kafein yang Anda konsumsi setiap harinya secara perlahan serta berolahraga secara teratur. Karena seorang penderita bipolar memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita obesitas, maka menjaga agar berat badannya tetap ideal sangat penting untuk menjaga kesehatannya. Mengurangi konsumsi kafein dapat membantu penderita tidur lebih nyenyak di malam hari, yang sangat penting bagi seorang penderita gangguan bipolar. Walaupun kafein dapat membantu memperbaiki mood penderita saat sedang merasa depresi, akan tetapi kafein dapat mengganggu tidur penderita. Selain itu, kafein juga dapat menurunkan efek sedative dari obat-obatan bipolar seperti benzodiazepine, yang sering digunakan untuk mengatasi rasa cemas dan manik. Selain itu, hindarilah konsumsi makanan tinggi lemak saat Anda akan mengkonsumsi obat bipolar karena dapat memperlambat mula kerja obat. Oleh karena itu, berkonsultasilah dengan dokter Anda sebelum mengkonsumsi obat atau suplemen tertentu. Jika Anda mengkonsumsi MAO inhibitor (salah satu jenis obat anti depresan), dianjurkan untuk menghindari berbagai jenis makanan yang mengandung tiramin karena dapat memicu terjadinya peningkatan tekanan darah. Beberapa jenis makanan yang mengandung banyak tiramin adalah: Pisang yang terlalu matang dan kulit pisang Bir Keju fermentasi Daging kalengan Beberapa jenis wine seperti Chianti Kecap asin dalam jumlah banyak Mintalah pada dokter Anda daftar makanan yang perlu Anda hindari saat mengkonsumsi obat MAO inhibitor.   Suplemen dan Gangguan Bipolar Selain makanan, mengkonsumsi suplemen minyak ikan tampaknya juga baik bagi para penderita gangguan bipolar. Sejumlah ahli percaya bahwa minyak ikan merupakan suplemen yang sangat penting bagi seorang penderita gangguan bipolar karena minyak ikan memiliki peranan yang sangat penting bagi fungsi otak dan perilaku penderita. Menurut sebuah penelitian, penderita gangguan bipolar yang mengkonsumsi suplemen minyak ikan lebih jarang mengalami episode depresi. Oleh karena itu, dianjurkan agar para penderita gangguan bipolar mengkonsumsi ikan yang mengandung banyak asam lemak omega 3 seperti ikan tuna dan salmon setidaknya 2 kali seminggu atau konsumsilah 0.5-1.8 gram suplemen minyak ikan setiap harinya. Jika Anda merupakan seorang vegetarian, Anda dapat memperoleh asam lemak omega 3 melalui kacang walnut, flaxseed, dan minyak canola. Akan tetapi, jangan mengkonsumsi suplemen herbal bila Anda sedang mengkonsumsi obat bipolar. Beberapa suplemen herbal yang dimaksud adalah St. John’s Wort dan SAM karena dapat berinteraksi dengan obat anti depresi dan obat bipolar lainnya.   Minuman Beralkohol dan Gangguan Bipolar Sebenarnya seorang penderita gangguan bipolar sangat tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi minuman beralkohol, akan tetapi sebagian besar penderita gangguan bipolar seringkali menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan lainnya. Penyalahgunaan ini biasanya dikarenakan penderita ingin mengatasi moodnya yang terus berubah-ubah. Selain itu, minuman beralkohol juga merupakan pemicu utama dari terjadinya depresi pada banyak orang yang secara genetik memang rentan terhadap depresi atau gangguan bipolar.   Jeruk Bali dan Obat Bipolar Berkonsultasilah dengan dokter Anda sebelum mengkonsumsi jeruk bali atau meminum jus jeruk bali bersamaan dengan obat bipolar Anda. Hal ini dikarenakan jus jeruk bali dapat meningkatkan kadar beberapa jenis obat bipolar serta obat anti kejang yang dapat menyebabkan terjadinya keracunan.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: webmd
 09 Jun 2015    09:00 WIB
Mengenal Bipolar Syndrom, Gangguan Jiwa Bersifat Episodik
Masih ingat film Silver Lining Playbook yang dimainkan Bradley Cooper? Berperan sebagai Pat Solitano, seorang guru matematika yang sakit hati karena dikhianati istrinya, Pat menjadi tak bisa mengendalikan diri. Emosinya meledak-ledak, mudah tersinggung, dan rapuh. Setelah diperiksa, ia ternyata didiagnosis mengidap bipolar disorder. Sebenarnya penyakit apakah ini?   Gangguan bipolar (bipolar disorder) adalah gangguan pada perasaan seseorang akibat masalah otak, ditandai dengan perpindahan (swing) mood, pikiran, dan perubahan perilaku. Penderita mengalami perubahan mood yang dramatis, dari episode manic dan episode depresi selama periode waktu tertentu. Episode manik ditandai dengan kondisi mood yang sangat meningkat (hipertimik) atau irritable (mudah marah dan tersinggung), episode depresi ditandai dengan mood yang sangat menurun (hipotimik). Di antara kedua episode mood tersebut terdapat masa mood yang normal (eutimik). Istilah bipolar merujuk pada kondisi pasien yang mengalami perpindahan mood antara dua kutub atau spektrum emosi yang berlawanan tersebut.   Awam sering menyebutnya ketidakstabilan mood, tetapi gejala ini baru dapat disebut gangguan bila telah memenuhi kriteria waktu tertentu, seperti untuk episode manic, dibutuhkan kondisi mood hipertimik dalam rentang waktu minimal seminggu atau bahkan kurang dari seminggu. Pada fase ini penderita bipolar menjadi serba aktif, melakukan tindakan-tindakan yang berisiko tinggi, dan kadang-kadang deal bisnis yang berlebihan tanpa berpikir karena judgment-nya terganggu.   Pada episode depresi, dibutuhkan waktu minimal 2 minggu terus-menerus berada dalam kondisi mood hipotimik. Ada beberapa gejala dari episode depresi, di antaranya setiap hari sedih, mengurung diri, pesimis, hingga aktivitasnya menurun. Bahkan, bila penderita bipolar sedang dalam puncak episode depresi, seringkali muncul keinginan untuk bunuh diri. Bisa dipastikan disebut gangguan, bila fungsi pekerjaan atau kehidupan sosialnya terganggu. Saat terjadi gangguan, terkadang pasien perlu dirawat di rumah sakit.   Jadi, bipolar itu adalah gangguan jiwa yang sifatnya episodik, ditandai dengan gejala-gejala episode depresi, manik, dan hipomanik. Tetapi bisa juga campuran, satu rentang tertentu dua gejala bisa ada, depresi dan manik, saling bergantian. Baca juga: Apakah pengobatan bipolar menyebabkan peningkatan berat badan? Sumber: Play Buzz
 03 May 2015    18:00 WIB
Konsumsi Minyak Ikan Bantu Perbaiki Mood Penderita Gangguan Bipolar, Benarkah?
The American Heart Association (AHA) menganjurkan agar setiap orang mengkonsumsi ikan setidaknya 2 kali setiap minggunya. Beberapa jenis ikan yang baik untuk dikonsumsi adalah albacore tuna, herring, mackerel, salmon, dan trout. Jika Anda tidak menyukai ikan, maka AHA menganjurkan Anda untuk mengkonsumsi 0.5-1.8 gram minyak ikan setiap harinya dalam bentuk suplemen. Dengan demikian, Anda pun dapat mencukupi kebutuhan EPA dan DHA yang diperlukan oleh tubuh Anda. Selain dapat membantu menjaga kesehatan jantung Anda, para ahli menduga bahwa konsumsi minyak ikan juga dapat membantu seorang penderita gangguan bipolar. Hal ini dikarenakan suplemen minyak ikan memiliki peranan penting terhadap fungsi otak dan perilaku seseorang. Para ahli menemukan bahwa asam lemak omega 3 di dalam minyak ikan mungkin dapat membantu para penderita gangguan bipolar, terutama bagi mereka yang memiliki resiko tinggi terhadap gangguan jantung dan pembuluh darah atau yang memiliki kadar trigliserida yang tinggi.   Baca juga: Apakah Aman Memberikan Suplemen Minyak Ikan Pada Anak?   Para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi lebih banyak asam lemak omega 3 yang banyak ditemukan pada minyak ikan berhubungan dengan peningkatan volume otak di beberapa bagian otak, terutama pada bagian otak yang berhubungan dengan mood dan perilaku. Hasil dari sebuah penelitian yang mengamati sekitar 75 orang penderita gangguan bipolar menemukan bahwa asam lemak omega 3 memiliki manfaat yang lebih baik daripada plasebo. Manfaat yang dimaksud di sini adalah menurunkan terjadinya serangan depresi pada seorang penderita gangguan bipolar. Akan tetapi, secara keseluruhan, bukti manfaat minyak ikan pada seorang penderita gangguan bipolar sebenarnya masih tidak konsisten sehingga masih diperlukan lebih banyak penelitian mengenai hal ini sebelum para dokter dapat menganjurkan konsumsi suplemen minyak ikan bagi seorang penderita gangguan bipolar. Jika Anda merupakan seorang vegetarian sehingga tidak memungkinkan bagi Anda untuk mengkonsumsi minyak ikan, maka Anda dapat mengganti minyak ikan dengan beberapa jenis kacang-kacangan seperti kacang walnut, biji flaxseed, dan minyak canola. Hal ini dikarenakan ketiganya juga mengandung ALA (alpha linoleic acid), yang di dalam tubuh akan diubah menjadi asam lemak omega 3.   Sumber: webmd
 18 Apr 2015    11:00 WIB
Gangguan Bipolar Syndrom Masih Bisa Diobati
Bipolar adalah gangguan pada alam perasaan (mood) yang berubah-ubah dalam periode waktu tertentu. Satu ketika, penderita mengalami depresi sehingga menjadi murung, diam, atau menarik dari lingkungan. Di waktu lain, ia mengalami manik (mania) yang ditunjukkan dengan semangat menggebu dalam beraktivitas, tak pernah lelah, dan tak tidur berhari-hari.   Berbeda dengan depresi atau manik yang dialami manusia pada umumnya, gejala pada penderita bipolar terjadi secara berulang dan berlangsung seumur hidup. Gejala yang muncul terkadang bercampur atau berubah sangat cepat. Baca Juga: Sex Sesuai Dosis Pangkas Stress dan Bikin Awet Muda   Gangguan bipolar terdiri dari dua jenis, yakni gangguan bipolar tipe 1 dan bipolar tipe 2. Gangguan bipolar tipe 1 merupakan penyakit kronis yang sering kambuh dan bersifat episodik, dalam arti ada periode sakit dan ada periode normal. Kekambuhan bisa dipicu oleh stresor psikososial, misalnya pertengkaran, percerian, atau kehilangan orang tercinta.   Gangguan bipolar tipe 2 umumnya lebih ringan. Periode kekambuhannya lebih ringan dan ada episode hipomania dan episode depresi mayor. Gejalanya lebih singkat waktunya, dan tidak mencolok.   Gangguan bipolar sering berkembang di akhir masa remaja seseorang atau dewasa awal. Setidaknya setengah dari semua kasus dimulai sebelum usia 25 tahun. Sebanyak 79 persen kasus bipolar disebabkan oleh faktor genetik. Tetapi gen ini baru akan memicu bipolar jika penderita mengalami stres psikososial yang tak mampu diatasinya.   Terdapat beberapa cara untuk mengenali gejala gangguan bipolar, yakni melakukan pemeriksaan dengan cara wawancara klinis dan diagnosis dini. Wawancara psikiatrik adalah tools utama dalam memeriksa status mental individu.   Sama dengan penyakit kronis lainnya, pengobatan yang tepat bisa membuat penderita bipolar hidup normal dan membuat prestasi membanggakan. Mengontrol emosi dan mood penderita adalah cara terbaik untuk pengobatan.   Penderita bipolar juga perlu mendapat kenyamanan dan kehangatan dari orang-orang di sekitarnya. Diperlukan kesabaran dan optimisme dari orang-orang terdekat agar penderita menjalani pengobatan hingga tuntas.   Sumber: Health Care
 14 Apr 2015    16:00 WIB
Makanan yang Sebaiknya Dihindari Oleh Penderita Gangguan Bipolar
Beberapa rekomendasi diet untuk membantu seorang penderita gangguan bipolar adalah: Batasi konsumsi kafein dan jangan berhenti mengkonsumsi kafein secara mendadak Hindari berbagai jenis makanan yang mengandung lemak tinggi untuk menurunkan resiko terjadinya obesitas Batasi konsumsi garam jika penderita juga memiliki tekanan darah tinggi. Akan tetapi, bila Anda mengkonsumsi obat lithium, maka jangan batasi konsumsi garam Anda karena rendahnya konsumsi garam dapat meningkatkan kadar lithium di dalam darah Hindari berbagai jenis makanan yang Anda ketahui dapat memicu timbulnya gejala gangguan bipolar Selain itu, Anda pun harus berhati-hati saat mengkonsumsi berbagai jenis suplemen herbal karena beberapa tanaman herbal mungkin dapat berinteraksi dengan obat bipolar yang Anda konsumsi.   Kafein Membatasi konsumsi kafein juga dapat membantu Anda tidur lebih nyenyak, karena tidur yang nyenyak sangatlah penting bagi seorang penderita gangguan bipolar. Akan tetapi, bila Anda sedang mengalami episode depresi, maka pemberian kafein dapat membantu meningkatkan mood Anda. Selain itu, kafein juga dapat menurunkan efek sedatif beberapa jenis obat-obatan yang Anda gunakan seperti benzodiazepin yang banyak digunakan untuk mengatasi rasa cemas dan episode mania pada seorang penderita gangguan bipolar.   Lemak Karena makanan yang mengandung banyak lemak dapat menghambat kerja beberapa jenis obat bipolar sehingga obat memerlukan waktu yang lebih lama untuk berefek, maka dianjurkan agar para penderita bipolar menghindari atau membatasi konsumsi makanan tinggi lemak.   Tiramin Bila Anda mengkonsumsi obat golongan MAO inhibitor, maka hindarilah berbagai jenis makanan yang mengandung tiramin. Hal ini dikarenakan makanan tersebut dapat menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi berat pada orang yang mengkonsumsi obat golongan MAO inhibitor. Beberapa jenis makanan yang mengandung tiramin adalah: Pisang yang terlalu matang Kulit pisang Bir Keju fermentasi Daging lama Beberapa jenis wine seperti Chianti Saus soy dalam jumlah banyak   Suplemen Herbal Hindari juga konsumsi beberapa jenis suplemen herbal bila Anda sedang mengkonsumsi berbagai jenis obat bipolar. Beberapa jenis suplemen herbal yang harus Anda hindari adalah St.John’s wort dan SAM-e. Hal ini dikarenakan keduanya dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat anti depresi dan obat bipolar. Berkonsultasilah dengan dokter Anda terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi suplemen apapun.   Sumber: webmd
 30 Mar 2015    14:00 WIB
Apakah Ada Diet Khusus Bagi Seorang Penderita Gangguan Bipolar?
Sebenarnya tidak ada diet khusus bagi seorang penderita gangguan bipolar. Akan tetapi, mengkonsumsi diet sehat dan seimbang juga merupakan hal yang penting bagi penderita untuk membantu menjaga berat badan dan keadaan kesehatannya secara keseluruhan. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang penderita bipolar saat memilih makanan yang akan dikonsumsinya.   Hindari Makanan Bergaya “Barat” Hindarilah berbagai jenis makanan bergaya “barat” yang terdiri dari banyak daging merah, lemak jenuh, lemak trans, dan karbohidrat sederhana. Hal ini dikarenakan berbagai jenis makanan ini dapat meningkatkan resiko terjadinya obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan jantung. Selain itu, menghindari atau membatasi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh dan karbohidrat sederhana dapat membantu menjaga kesehatan Anda secara keseluruhan, akan tetapi sebenarnya tidak memiliki dampak langsung pada perburukkan atau perbaikan gejala gangguan bipolar.   Konsumsi Diet Sehat dan Seimbang Konsumsilah diet sehat dan seimbang, yang terdiri dari berbagai jenis makanan yang mengandung banyak nutrisi. Beberapa makanan yang dimaksud adalah buah segar, sayuran, kacang-kacangan, daging tanpa lemak, gandum, ikan, telur, produk susu rendah lemak, berbagai produk olahan kedelai, dan biji-bijian. Berbagai jenis makanan ini dapat membantu menyediakan nutrisi yang cukup yang diperlukan oleh tubuh untuk menjaga kesehatannya secara keseluruhan dan mencegah terjadinya berbagai jenis penyakit.   Batasi Jumlah Kalori yang Dikonsumsi dan Olahraga Secara Teratur Tujuan utama dari memperhatikan berapa jumlah kalori yang Anda konsumsi setiap harinya dan melakukan olahraga secara teratur adalah untuk menjaga berat badan Anda tetap ideal. Beberapa penelitian menemukan bahwa seorang penderita gangguan bipolar memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami berat badan berlebih atau obesitas. Oleh karena itu, berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai cara apa saja yang harus Anda lakukan untuk mencegah terjadinya peningkatan berat badan saat melakukan pengobatan gangguan bipolar.   Sumber: webmd
 18 Mar 2015    16:00 WIB
Apakah Penderita Gangguan Bipolar Boleh Mengkonsumsi Minuman Beralkohol?
Sebagian besar pengobatan kejiwaan tidak menganjurkan para penderita untuk mengkonsumsi minuman beralkohol, akan tetapi para penderita gangguan bipolar justru seringkali mengalami penyalahgunaan minuman beralkohol dan obat-obatan lainnya. Penyalahgunaan yang terjadi ini mungkin terjadi karena penderita berusaha untuk mengobati dirinya sendiri atau untuk mengatasi mood yang terus berubah-ubah. Penyalahgunaan minuman beralkohol dan obat-obatan juga dapat menyebabkan timbulnya berbagai gejala yang menyerupai gangguan bipolar. Alkohol merupakan suatu depresan. Hal inilah yang membuat banyak orang menggunakannya sebagai pengganti obat penenang saat sedang mengalami hari yang sangat buruk atau untuk membantu mengurangi rasa tertekan yang dirasakan. Walaupun beberapa penderita gangguan bipolar berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol saat mereka mengalami depresi, akan tetapi sebagian besar penderita gangguan bipolar justru akan mengkonsumsi minuman beralkohol lebih banyak saat mereka sedang mengalami depresi. Menurut the National Institute of Mental Health, seorang penderita gangguan bipolar memiliki resiko 5 kali lipat lebih tinggi untuk menyalahgunakan minuman beralkohol yang akan berakibat pada ketergantungan dibandingkan dengan populasi umum. Hubungan antara gangguan bipolar dan penyalahgunaan zat seperti minuman beralkohol dan obat-obatan sangatlah luar biasa. Alkohol merupakan salah satu zat yang dapat memicu terjadinya episode depresi pada sebagian besar orang yang memang rentan terhadap gangguan depresi atau gangguan bipolar. Ketergantungan dan penyalahgunaan zat ini dapat sangat mengganggu pengobatan gangguan bipolar.   Sumber: webmd