Your browser does not support JavaScript!
 14 Mar 2020    16:00 WIB
Mencuci Piring Turunkan Resiko Terjadinya Asma dan Alergi, Benarkah?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa mencuci piring dengan tangan ternyata memiliki dampak positif terhadap kesehatan anak Anda dibandingkan dengan mencuci piring dengan menggunakan mesin. Mencuci piring dengan menggunakan tangan dapat menurunkan resiko terjadinya berbagai gangguan kesehatan akibat alergi seperti asma atau eksim pada anak. Hasil penelitian ini mendukung sebuah teori higienitas yang menyatakan bahwa semakin dini seorang anak terpapar oleh berbagai jenis kuman maka semakin baiklah fungsi sistem kekebalan tubuhnya. Jadi, bila seorang anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang berfungsi dengan baik, maka sistem kekebalan tubuh tersebut tidak akan salah "mengenali" suatu zat tidak berbahaya sebagai zat berbahaya, yang biasa terjadi pada reaksi alergi. Selain itu, para peneliti menduga karena mencuci piring dengan tangan tidaklah seefektif mencuci piring dengan mesin dalam hal menghilangkan kuman, maka lebih banyak kuman yang tertinggal yang membuat paparan terhadap kuman pun menjadi lebih banyak. Hal ini dapat menstimulasi sistem kekebalan tubuh untuk bekerja dengan lebih baik, yang juga menyebabkan lebih sedikit alergi. Akan tetapi, perlu diingat bahwa hasil penelitian ini hanya menunjukkan adanya hubungan antara cara mencuci piring dengan tangan dengan menurunnya resiko terjadinya berbagai reaksi alergi dan bukannya suatu hubungan sebab akibat. Pada penelitian ini, para peneliti bertanya pada orang tua dari sekitar 1.000 anak berusia 7 atau 8 tahun di Swedia mengenai riwayat kesehatan anak mereka, termasuk mengenai riwayat asma, eksim, dan alergi musiman. Para peneliti juga bertanya mengenai bagaimana cara keluarga tersebut membersihkan piringnya dan seberapa sering keluarga tersebut mengkonsumsi makanan fermentasi dan makanan yang diperoleh langsung dari sebuah pertanian. Selain berbagai faktor lain yang juga mempengaruhi reaksi alergi seorang anak seperti yang telah disebutkan di atas, para peneliti juga menyingkirkan berbagai faktor resiko lainnya yang telah dipercaya dapat menurunkan resiko terjadinya berbagai reaksi alergi seperti pemberian ASI dan ada tidaknya hewan peliharaan. Sekitar 12% keluarga yang ditanyai para peneliti ini mencuci piringnya dengan menggunakan tangan. Para peneliti kemudian menemukan bahwa anak-anak pada keluarga tersebut memiliki resiko alergi yang lebih rendah (sekitar 50%) dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga lain yang mencuci piring dengan menggunakan mesin pencuci piring. Para peneliti menemukan bahwa di antara anak-anak dari keluarga yang mencuci piringnya dengan tangan, sekitar 23% nya menderita eksim dan 1.7% nya menderita asma. Sementara itu, anak-anak dari keluarga yang mencuci piringnya dengan mesin cuci piring, sekitar 38% nya menderita eksim dan 7.3% nya menderita asma. Para peneliti juga menemukan bahwa anak-anak juga lebih jarang memiliki alergi bila mereka mengkonsumsi makanan atau sayuran yang telah difermentasi setidaknya 1 kali sebulan atau bila mereka sering mengkonsumsi makanan yang berasal dari pertanian setempat.   Sumber: newsmaxhealth
 26 Jan 2020    16:00 WIB
Berbagai Penyebab dan Pemicu Terjadinya Serangan Asma
Asma merupakan suatu inflamasi atau peradangan kronik pada saluran pernapasan. Penyebab asma dapat berbeda-beda bagi setiap orang. Akan tetapi, satu hal yang pasti adalah asma terjadi apabila saluran pernapasan yang memang sudah meradang dan sensitif pada penderita asma terpapar oleh suatu bahan pemicu, maka dapat menyebabkan saluran napas tersebut meradang, menyempit, dan dipenuhi oleh lendir sehingga terjadilah serangan asma. Pada saat serangan asma, maka terjadi beberapa hal di bawah ini, yaitu: Spasme otot di sekitar saluran napas Peradangan dan pembengkakan dinding saluran napas Produksi lendir berlebihan yang juga menyebabkan penyempitan saluran napas Berbagai hal di atas menyebabkan peningkatan resistensi dan bertambah sulitnya kerja pernapasan sehingga menyebabkan sesak napas, batuk, dan mengi (suara napas berbunyi ngik-ngik). Batuk pada asma terjadi akibat iritasi saluran napas dan usaha tubuh untuk mengeluarkan kelebihan lendir di dalam saluran napas. Salah satu cara pencegahan serangan asma yang terbaik adalah dengan menghindari paparan terhadap alergen (bila asma disebabkan oleh reaksi alergi) atau makanan atau keadaan tertentu yang memicu terjadinya serangan asma.   1.      Alergi Alergi merupakan penyebab tersering asma. Sekitar 80% penderita asma memiliki alergi terhadap bahan-bahan tertentu, seperti rumput, serbuk sari, lumut, bulu binatang, debu tungau, dan kecoa. Berdasarkan suatu penelitian, anak-anak yang lebih sering terpapar oleh kecoa di rumahnya memiliki resiko asma yang empat kali lebih tinggi daripada anak-anak yang jarang terpapar oleh kecoa. Terjadinya serangan asma setelah paparan debu biasanya disebabkan oleh alergi terhadap debu tungau.   2.      Makanan Alergi makanan dapat menyebabkan suatu reaksi alergi ringan hingga berat bahkan mengancam nyawa. Beberapa jenis makanan yang seringkali menyebabkan timbulnya reaksi alergi adalah: Telur Susu sapi Kacang Kedelai Gandum Ikan Udang dan kerang-kerangan lainnya Sayur dan buah-buahan Pengawet makanan juga dapat memicu terjadinya serangan asma.   3.      Olahraga Olahraga berat dapat menyebabkan penyempitan saluran napas pada sekitar 80% penderita asma. Pada beberapa orang, olahraga merupakan pemicu utama terjadinya serangan asma. Bila anda mempunyai asma akibat olahraga, maka anda akan merasa sesak napas, dada terasa berat, batuk, dan kesulitan bernapas dalam waktu 5-8 menit pertama sejak olahraga dimulai. Gejala ini biasanya akan mereda dalam waktu 20-30 menit setelah olahraga dimulai, akan tetapi sekitar 50% penderita akan kembali mengalami serangan asma 6-10 jam kemudian. Untuk mencegah serangan asma, mulailah berolahraga dengan melakukan pemanasan ringan kemudian tingkatkan secara perlahan.   4.      Asam Lambung Refluks gastroesofageal (GERD) merupakan suatu penyakit yang juga sering memicu terjadinya serangan asma. Keadaan ini sering terjadi di malam hari saat penderitanya berbaring. Pada keadaan normal, sebuah katup di antara lambung dan kerongkongan mencegah naiknya asam lambung ke dalam kerongkongan. Akan tetapi, pada GERD katup ini tidak dapat berfungsi dengan normal dan menyebabkan naiknya asam lambung ke dalam kerongkongan. Hal ini dapat memicu terjadinya iritasi dan peradangan pada saluran napas dan memicu terjadinya serangan asma. Anda diduga menderita asma akibat GERD bila anda menderita asma pada usia dewasa, tidak ada anggota keluarga lain yang memiliki riwayat asma, tidak ada riwayat alergi atau bronkitis, asma yang sulit dikendalikan, atau timbulnya batuk saat berbaring.   5.      Merokok Merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya asma. Bila anda menderita asma dan merokok, maka hal ini dapat memperburuk batuk dan mengi yang terjadi saat serangan asma. Wanita yang merokok saat hamil dapat meningkatkan resiko terjadinya mengi pada bayinya. Selain itu, ibu hamil yang merokok juga dapat mengganggu fungsi paru-paru bayinya. Berhenti merokok merupakan salah satu langkah pencegahan terbaik bila anda menderita asma.   6.      Sinusitis dan Infeksi Saluran Napas Atas Lainnya Sinusitis merupakan peradangan pada saluran lendir sinus. Hal ini menyebabkan produksi lendir yang berlebihan di dalam sinus. Saat sinus meradang, maka saluran napas juga ikut meradang dan menyebabkan timbulnya gejala asma. Pencegahan dan pengobatan yang tepat pada infeksi sinus dapat mencegah dan mengatasi serangan asma akibat infeksi ini. Selain itu, flu dan bronkitis juga dapat memicu terjadinya serangan asma. Penyebabnya dapat bakteri atau virus dan merupakan salah satu penyebab asma tersering pada anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun. Peningkatan sensitivitas saluran napas atas yang membuat saluran napas lebih mudah menyempit dapat berlangsung selama 2 bulan setelah infeksi saluran napas atas.   7.      Obat-obatan Sebagian besar penderita asma memiliki alergi terhadap aspirin dan juga obat-obatan lainnya. Obat-obatan lainnya adalah obat anti inflamasi seperti ibuprofen, naproxen, dan beta blocker. Bila anda memiliki alergi terhadap obat apapun, beritahu dokter anda setiap kali anda berobat.   8.      Penyebab Lainnya Iritan Berbagai iritan yang dapat memicu terjadinya serangan asma adalah asap rokok, asap perapian, asap pembakaran sampah atau kayu, bau-bauan kuat seperti parfum atau zat pembersih lantai. Selain itu, polusi udara lainnya dan debu atau uap pabrik juga dapat memicu terjadinya serangan asma. Cuaca Udara dingin, perubahan suhu, dan perubahan kelembaban udara juga dapat menyebabkan terjadinya serangan asma. Emosi Stress, cemas, sedih, berteriak, marah, atau tertawa terbahak-bahak juga dapat memicu terjadinya serangan asma.   Sumber: webmd
 18 Jan 2020    08:00 WIB
Mengenal Bronkitis Asmatika
Bernapas merupakan suatu proses yang dimulai dari menghirup udara melalui hidung dan mulut yang kemudian akan mengalir melalui saluran napas yaitu bronkus yang kemudian akan membuka dan membuat udara dapat masuk ke dalam paru-paru anda, di mana terjadi pertukaran antara oksigen dan karbondioksida di dalam darah sebelum kembali diedarkan ke seluruh tubuh melalui jantung. Bila terjadi peradangan pada saluran napas ini, maka akan membuat udara sulit mencapai ke dalam paru-paru anda. Hal ini mengakibatkan berkurangnya volume udara yang masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan timbulnya sesak napas. Selain itu, anda juga akan mengalami batuk dan mengi (suara napas berbunyi ngik-ngik) yang diakibatkan oleh usaha tubuh untuk memperoleh lebih banyak oksigen melalui saluran udara yang menyempit. Bronkitis dan asma diakibatkan oleh peradangan pada saluran napas. Bronkitis merupakan peradangan pada saluran napas yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Bronkitis kronik dapat dipicu oleh paparan jangka panjang oleh iritan lingkungan seperti asap rokok, debu, atau berbagai bahan kimia. Asma merupakan peradangan pada saluran napas yang menyebabkan penyempitan saluran napas akibat kontraksi otot di sekitar saluran napas dan pembengkakan saluran napas yang menyebabkan penyempitan saluran napas. Jika bronkitis dan asma terjadi secara bersamaan, maka disebut dengan bronkitis asmatika.   Penyebab Terdapat banyak pemicu yang dapat menyebabkan pelepasan zat-zat inflamasi. Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya bronkitis asmatika adalah: Asap rokok Polusi udara Alergen seperti serbuk sari, lumut, debu, bulu binatang, atau makanan termasuk pengawet makanan seperti MSG Bahan-bahan kimia Obat-obatan tertentu seperti aspirin dan beta blocker Olahraga Perubahan cuaca, seperti cuaca dingin Infeksi virus atau bakteri Emosi seperti tertawa atau menangis   Gejala Gejala bronkitis asmatika merupakan kombinasi gejala bronkitis dan asma berupa: Sesak napas Mengi Batuk Dada terasa berat Produksi lendir berlebihan Bronkitis disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus dan dapat menular, akan tetapi bronkitis asmatika biasanya tidak menular.   Apakah Saya Menderita Bronkitis Asmatika ? Bila anda mengalami beberapa gejala di atas, segera hubungi dokter anda untuk memperoleh pemeriksaan lebih lanjut. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, menanyakan riwayat penyakit anda dan keluarga anda, serta melakukan beberapa pemeriksaan di bawah ini, yaitu: Spirometri, yang merupakan suatu pemeriksaan fungsi paru di mana anda akan diminta untuk menghirup dan menghembuskan napas melalui suatu saluran yang tersambung pada spirometer Pemeriksaan untuk memeriksa volume udara maksimal yang dapat anda hembuskan dalam satu kali tarikan napas Pemeriksaan foto rontgern dada untuk mengetahui adanya gangguan pada paru-paru yang menyebabkan batuk dan gangguan pernapasan lainnya   Pengobatan Pengobatan bronkitis asmatika sebagian besar sama dengan pengobatan untuk asma dan bronkitis yang berupa: Bronkodilator kerja cepat seperti albuterol yang berfungsi untuk membuka saluran napas dan meredakan gejala dalam waktu singkat Kombinasi kortikosteroid inhalasi dan bronkodilator kerja panjang Leukotrien Kromolin atau teofilin Antibiotika bila disebabkan oleh infeksi bakteri Selain itu, pengobatan juga dapat dilakukan dengan menghindari pemicu serangan asma, seperti: Cucilah seprai dan selimut anda dengan air hangat Bersihkan lantai, karpet, dan langit-langit rumah anda dari debu secara teratur Jangan biarkan binatang peliharaan anda masuk ke dalam kamar anda Jangan merokok dan jauhilah orang yang merokok   Sumber: webmd    
 25 Dec 2019    18:00 WIB
Kenalilah Berbagai Jenis Asma
Asma merupakan suatu keadaan di mana saluran pernapasan mengalami penyempitan akibat reaksi yang berlebihan terhadap rangsangan tertentu. Berbagai gejala asma yang sering ditemukan adalah sesak napas, mengi (suara napas berbunyi "ngik-ngik"), dan batuk. Mengetahui jenis asma yang anda alami dapat membantu anda dan dokter anda dalam memberikan pengobatan yang paling tepat bagi anda.   Asma Akibat Alergi Alergi dan asma seringkali berhubungan. Salah satu penyakit alergi kronik yang sering terjadi adalah rhinitis alergika. Serangan asma seringkali dipicu oleh rhinitis alergika ini. Rhinitis alergika merupakan peradangan pada lapisan dalam hidung akibat suatu alergen (bahan yang menimbulkan alergi). Gejala rhinitis alergika yang biasanya ditemukan adalah hidung meler, hidung tersumbat, sering bersin, pembengkakan mukosa hidung, lendir berlebihan, mata berair, dan nyeri tenggorokan. Batuk juga sering terjadi akibat turunnya lendir dari hidung ke tenggorokan.   Asma Akibat Olahraga Asma jenis ini biasanya dipicu oleh olahraga atau aktivitas fisik. Pada asma akibat olahraga, penyempitan saluran pernapasan biasanya mencapai puncaknya 5-20 menit setelah olahraga dimulai, yang membuat anda mengalami kesulitan bernapas. Selain itu, anda mungkin juga mengalami mengi dan batuk saat serangan asma terjadi.   Asma Dominan Batuk (Cough Variant Asthma) Gejala yang paling menonjol pada asma jenis ini adalah batuk hebat, yang seringkali salah terdiagnosa sebagai batuk. Asma jenis ini seringkali dipicu oleh infeksi saluran pernapasan dan olahraga. Beberapa hal lainnya yang dapat menyebabkan batuk hebat dan lama selain asma adalah post nasal drip (adanya lendir yang turun dari hidung ke tenggorokan), rhinitis kronik, sinusitis (radang sinus), atau refluks gastroesofageal (GERD).   Asma Okupasional Asma okupasional merupakan asma yang terjadi akibat pekerjaan. Serangan asma baisanya terjadi saat anda bekerja dan menyebabkan anda kesulitan bernapas. Banyak penderita asma jenis ini mengalami hidung meler, hidung tersumbat, iritasi mata, atau batuk. Beberapa pekerjaan yang dapat memicu serangan asma adalah peternak hewan, petani, penata rambut, perawat, pelukis, dan tukang kayu.   Asma Nokturnal Jika anda menderita asma, maka serangan asma biasanya lebih sering terjadi saat malam hari atau saat waktu tidur, karena asma sangat dipengaruhi oleh siklus tidur dan bangun seseorang. Pada asma jenis ini, penderitanya biasanya mengalami batuk, mengi, dan kesulitan bernapas di malam hari. Lebih seringnya serangan asma pada malam hari diduga diakibatkan oleh peningkatan paparan oleh alergen, dinginnya suhu udara, posisi terlentang, atau bahkan hormon. Memburuknya asma pada malam hari dapat mengganggu waktu tidur anda dan bahkan kematian akibat asma lebih sering terjadi pada malam hari.   Penyakit Lainnya Dengan Gejala Mirip Asma Terdapat beberapa penyakit lain yang memiliki gejala mirip asma, misalnya asma kardiak, yang merupakan salah satu jenis gagal jantung yang beberapa gejalanya mirip dengan serangan asma. Gangguan atau disfungsi pada pita suara juga seringkali menyebabkan timbulnya mengi yang tidak membaik dengan pemberian obat anti asma.   Sumber: webmd
 23 Dec 2019    18:00 WIB
Ayah Perokok Berisiko Memiliki Anak Asma
Saat Anda sedang merencanakan kehamilan, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh ibu sebelum kehamilan seperti seperti meningkatkan asupan asam folat dan berhenti merokok atau minum alkohol. Namun bagaimana dengan calon ayah? Sering orang berpendapat bahwa calon ayah tidak perlu melakukan perubahan pola hidup, namun ternyata menurut sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa seorang calon ayah yang merokok memiliki risiko bayi yang menderita asma.  Berdasarkan sebuah penelitian yang dipaparkan oleh European Respiratory Society (ERS) Kongres Internasional di Munich, Jerman, dan merupakan penelitian pertama yang meneliti hubungan antara kebiasaan ayah yang merokok dengan kesehatan pernapasan anak-anaknya.  Penelitian tersebut memberikan bukti bahwa sejarah orang tua yang buruk memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan masa depan anak, diterbitkan dalam jurnal Science. Penelitian yang dipimpin oleh Prof Sarah Robertson dari University of Adelaide di Australia mengatakan sebagai contoh bahwa orang tua yang obesitas/ kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko anaknya untuk terkena penyakit gangguan metabolik "Dalam 10 tahun terakhir ini komunitas ilmu pengetahuam telah serius membahas masalah ini" kata Prof Robertson, "dan hanya dalam 5 tahun terakhir bahwa kami telah mulai memahami mekanisme bagaimana hal ini terjadi."  Dia menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki pola hidup, seperti pola makan yang buruk atau kebiasaan merokok, hal ini akan tersimpan dalam sel telur dan sperma dan akan berpengaruh pada pertumbuhan janin.  Dalam penelitian terbaru yang dipimpin oleh Dr Cecile Svanes dari University of Bergen di Norwegia, para peneliti menggunakan kuesioner untuk menilai kebiasaan merokok lebih dari 13.000 pria dan wanita.  Penelitian ini difokuskan pada beberapa pasangan yang mempunyai kebiasaan merokok sebelum terjadi kehamilan dengan kejadian asma pada anak-anak mereka dan pada pasangan yang telah menghentikan kebiasaan merokok.  Dalam penelitian tersebut di temukan bahwa seorang calon ayah yang mempunyai kebiasaan merokok sebelum terjadi kehamilan ternyata memiliki risiko lebih besar mempunyai anak yang mengalami asma non alergi. Selain itu risiko anak mengalami asma meningkat apabila calon ayah mulai merokok pada usia sebelum 15 tahun dan risiko ini semakin meningkat berdasarkan berapa lama calon ayah merokok.    Sumber: medicalnewstoday 
 11 Dec 2019    08:00 WIB
Pertolongan Pertama Pada Serangan Asma
Asma disebabkan oleh peradangan saluran napas yang menyebabkan saluran napas menyempit dan memproduksi lebih banyak lendir. Beberapa gejala terjadinya serangan asma adalah kesulitan berjalan atau berbicara yang disebabkan oleh sesak napas atau bibir atau kuku jari berubah menjadi biru. Beberapa langkah pertolongan pertama pada serangan asma yang dapat anda lakukan adalah: Ketahuilah obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita jika memungkinkan Posisikan penderita pada posisi yang nyaman dan longgarkan pakaiannya Jika orang tersebut membawa obat asma, seperti inhaler, bantulah orang tersebut untuk menggunakannya Jika orang tersebut tidak membawa obat asma apapun, gunakanlah obat pada kotak pertolongan pertama atau gunakanlah obat penderita asma lainnya Bila penderita memiliki inhaler, mintalah penderita untuk menghembuskan napas kemudian masukkanlah inhaler tersebut ke dalam mulut penderita Tekan inhaler satu kali dan mintalah penderita untuk menghirup napas secara perlahan melalui mulut dan menahan napasnya selama 10 detik. Lakukanlah hal ini sebanyak 4 kali dengan interval sekitar 1 menit. Tunggulah selama 4 menit Bila penderita masih mengalami gangguan napas setelah penggunaan inhaler sebanyak 4 kali, ulangilah pemberian obat melalui inhaler tersebut Jika keadaan penderita tetap tidak membaik, terus berikan obat melalui inhaler sebanyak 4 tekanan setiap 4 menit hingga ambulans tiba atau telah sampai di rumah sakit Jika penderita mengalami serangan asma berat, berikan 6-8 kali tekanan inhaler setiap 5 menit Bila penderita mengalami penurunan kesadaran bukan berarti keadaan penderita membaik, hal ini dapat merupakan tanda keadaan penderita justru memburuk Jangan menduga bahwa serangan asma telah membaik bila tidak lagi terdengar mengi (suara napas berbunyi ngik-ngik) Bawalah penderita ke rumah sakit untuk memperoleh pemeriksaan mengenai keparahan serangan asma yang terjadi dan pengobatan apa yang dapat dilakukan, terutama bila serangan asma yang terjadi cukup berat   Sumber: webmd
 29 Oct 2019    16:00 WIB
Makanan yang Perlu Dihindari Oleh Para Penderita Asma
Sebagian besar penderita asma biasanya tidak perlu menghindari atau mengkonsumsi makanan tertentu untuk mengurangi gejala atau memicu terjadinya serangan asma, akan tetapi, pada beberapa kasus terdapat beberapa jenis makanan yang dapat membuat gejala asma memburuk. Beberapa jenis makanan tersebut adalah: Telur Susu sapi Kacang Ikan Berbagai produk yang terbuat dari royal jelly Berbagai produk yang terbuat dari jamur Beberapa jenis pewarna dan pengawet makanan Beberapa jenis pewarna dan pengawet makanan yang dapat memicu terjadinya serangan asma adalah: Tartrazine (E102) merupakan pewarna makanan yang dapat ditemukan pada berbagai jenis makanan dan beberapa jenis obat-obatan Asam benzoate (E210) merupakan pengawet makanan yang dapat ditemukan pada beberapa jenis produk olahan buah dan minuman bersoda Natrium metabisulfit (E220-227) merupakan pengawet makanan yang dapat ditemukan pada wine, bir buatan sendiri, minuman bersoda, beberapa jenis daging olahan, dan beberapa jenis salad siap saji Beberapa jenis makanan serta beberapa jenis pewarna dan pengawet makanan dapat memicu terjadinya serangan asma atau membuat gejala asma semakin memburuk. Selain itu, beberapa orang mungkin mengalami reaksi alergi seperti bentol-bentol, timbulnya bercak kemerahan pada kulit, mual, muntah, dan diare. Akan lebih baik bila Anda mencatat berbagai jenis makanan yang Anda konsumsi untuk menemukan makanan mana yang menyebabkan timbulnya reaksi alergi atau memicu terjadinya serangan asma. Selain dapat memicu terjadinya serangan asma atau membuat gejala asma memburuk, ternyata terdapat beberapa jenis makanan lain yang dapat membantu melindungi tubuh dari serangan asma dan meningkatkan fungsi paru. Para peneliti di Belanda menemukan bahwa mengkonsumsi lebih banyak buah dan sayuran dapat membantu meningkatkan fungsi paru. Selain itu, vitamin C dan E juga dapat membantu mengurangi inflamasi (peradangan) di dalam paru. Mengkonsumsi makanan sehat dan seimbang serta mengkonsumsi banyak buah dan sayuran dapat membantu tubuh melawan infeksi flu dan batuk, yang telah diketahui dapat membuat gejala asma memburuk.     Sumber: webmd
 15 Sep 2019    16:00 WIB
Pengobatan dan Pencegahan Infeksi Toksoplasma Saat Hamil
Bagaimana Menegakkan Diagnosa Toksoplasmosis Saat Hamil?Untuk menegakkan diagnosa toksoplasmosis, maka dokter biasanya akan melakukan suatu pemeriksaan darah untuk memeriksa adanya antibodi terhadap parasit toksoplasma. Akan tetapi, karena hasil pemeriksaan awal kadangkala berupa positif palsu, maka pemeriksaan darah ini biasanya akan diulang kembali dalam waktu 2-3 minggu setelah pemeriksaan pertama.Apakah Bayi Saya Telah Tertular Toksoplasma?Jika saat anda hamil, hasil pemeriksaan toksoplasma menunjukkan bahwa anda baru saja mengalami infeksi toksoplasma, maka dokter anda akan melakukan berbagai pemeriksaan lainnya untuk memeriksa apakah bayi anda juga telah terinfeksi oleh toksoplasma. Salah satu pemeriksaan untuk memastikan penularan toksoplasma pada bayi anda adalah dengan melakukan amniosintesis. Tindakan amniosintesis ini memang beresiko menyebabkan terjadinya keguguran, walaupun sangat rendah (1%). Pemeriksaan amniosintesis dapat dilakukan kapan saja setelah kehamilan berusia 15 minggu. Pada amniosintesis, dokter akan memasukkan sebuah jarum kecil ke dalam perut ibu untuk mengambil contoh cairan amnion yang berada di sekeliling janin anda di dalam kandungan. Contoh cairan amnion ini kemudian akan diperiksa apakah terdapat antibodi terhadap toksoplasma. Akan tetapi, hasil dari pemeriksaan amniosintesis ini hanya dapat memastikan apakah bayi anda telah terinfeksi oleh toksoplasma atau tidak dan tidak dapat memeriksa sejauh mana gangguan perkembangan yang telah terjadi pada bayi anda.Pengobatan Toksoplasmosis Saat HamilJika anda mengalami toksoplasmosis saat hamil, maka toksoplasmosis biasanya akan diatasi dengan pemberian antibiotika. Mulailah pengobatan sedini mungkin. Spiramisin merupakan antibiotika yang dapat mengurangi resiko penularan infeksi toksoplasma pada bayi anda dan membatasi keparahan infeksi pada bayi anda. Setelah lahir, bayi anda mungkin harus melalui berbagai pemeriksaan meliputi pemeriksaan darah, pemeriksaan mata, dan pemeriksaan foto rontgen atau CT scan untuk memeriksa apakah bayi anda telah tertular oleh toksoplasma. Jika bayi anda terbukti telah terinfeksi oleh toksoplasmosis, maka bayi anda harus menerima berbagai pengobatan pada tahun pertama kehidupannya atau mungkin lebih lama.Pencegahan Infeksi Toksoplasma Saat HamilBeberapa hal yang dapat anda lakukan untuk mencegah infeksi toksoplasma adalah:•  Hindari kontak dengan kotoran kucing dan kucing liar•  Masaklah makanan hingga matang dan simpanlah pada kulkas yang bersuhu 5°C atau kurang•  Bersihkanlah buah dan sayuran yang akan dikonsumsi dengan baik•  Bersihkanlah talenan, celemek, dan pisau anda dengan air panas serta sabun setelah digunakan untuk mengolah makanan mentah•  Selalu gunakan sarung tangan saat berkebun atau saat menyentuh tanah atau pasir dan cucilah tangan dengan baik setelahnyaSumber: webmd
 13 Jun 2019    11:00 WIB
Bahayanya Penyakit Seks Menular Mycoplasma genitalium
Halo sahabat setia Dokter.ID! salam sehat untuk kita semua, kembali lagi dengan pembahasan menarik tentang salah satu penyakit seksual menular yang cukup berbahaya, bernama Mycoplasma Genitalium. Mycoplasma Genitalium adalah anggota dari mycoplasmas genital. Mycoplasma genitalium (MG) merupakan jenis bakteri yang dapat menyebabkan sexually transmitted diseases (STD), baik pada pria maupun wanita. Mycoplasma genitalium (MG) adalah bakteri yang menginfeksi uretra, leher rahim dan anus. Kita dapat tertular penyakit ini, dari melakukan hubungan seks dengan seseorang yang memilikinya. Bahkan jika sekalipun kita tidak melakukan "semua jalan" dengan seks vaginal (penetrasi), kita tetap dapat bisa terkena penyakit MG melalui sentuhan atau gesekan seksual. Para ilmuwan telah mengetahui tentang bakteri ini sejak 1980-an, tetapi sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa lebih dari 1 dari 100 orang dewasa mungkin mengidapnya. Penyakit MG tidak selalu menyebabkan gejala, jadi mungkin ketika kita terkena penyakit ini, kita tidak menyadarinya. Pada pria, gejalanya adalah: Debit berair dari penis kita. Rasa terbakar, menyengat, atau sakit saat kita buang air kecil (radang uretra / uretritis). Gejala untuk wanita adalah: Debit dari vagina kita. Rasa sakit saat berhubungan seks. Pendarahan setelah berhubungan seks. Rasa sakit di daerah panggul kita di bawah pusar. Keputihan yang tidak normal. Nyeri saat buang air kecil. Tanpa pengobatan yang memadai, infeksi serviks dapat menyebar ke tuba Fallopii (tabung yang mengarah dari ovarium ke rahim) dan menyebabkan penyakit radang panggul (PID). Ini mungkin tanpa gejala, tetapi mungkin ada: Demam. Sakit perut. Dan jika tidak diobati, PID (pelvic inflammatory disease)dapat menyebabkan jaringan parut tuba Fallopii dan kehamilan ektopik atau tuba (dalam tuba Fallopii) atau akhirnya infertilitas. Dan waktu antara terinfeksi dan mengembangkan gejala, biasanya sekitar 2 hingga 35 hari. Tidak ada tes khusus untuk MG. Jadi biasanya dokter akan melakukan tes amplifikasi asam nukleat (NAAT). Untuk tes ini, kita mungkin harus memberikan sampel kencing kita. Dokter mungkin juga menggunakan swab untuk mengambil sampel dari vagina, leher rahim, atau uretra kita. MG bisa menjadi masalah rumit untuk diobati. Antibiotik umum seperti penisilin membunuh bakteri dengan merusak dinding sel kuman. Tetapi bakteri MG tidak memiliki dinding sel, jadi obat ini tidak bekerja dengan baik. Biasanya dokter akan memberikan azithromycin (Zithromax, Zmax) terlebih dahulu. Jika itu tidak berhasil, dokter mungkin memberi kita moxifloxacin (Avelox). Dokter kita mungkin juga fokus pada perawatan kondisi lain yang dapat disebabkan oleh MG, seperti uretritis, PID, atau servisitis. Dan perlu diketahui, ketika seseorang terkena atau tertular penyakit ini, dan dalam tahap (proses) pemulihan, kita tidak boleh melakukan hubungan seks terlebih dahulu atau harus menggunakan kondom 100% ketika ingin melakukan hubungan seksual, baiknya tunggu pulih dengan sempurna dan  kita atau pasangan kita perlu melakukan tes MG negative. Dan bagaimana cara kita tercegah terkena penyakit menular seksual ini, ada beberapa cara, yaitu dengan: Menggunakan kondom untuk hubungan seks vaginal dan anal. Mikoplasma harus diobati dengan antibiotik. Antibiotik dapat berupa dosis tunggal atau dengan penggunaan yang lebih lama. Tentu saja Kursus pengobatan berulang mungkin diperlukan. Penting agar kita menghindari seks selama 7 hari setelah memulai perawatan. Ini untuk mencegah kita menginfeksi orang lain (jangan melakukan seks sebelum pengobatan antibiotik selesai). Lakukan seks yang lebih aman. Tes tindak lanjut harus dilakukan untuk memastikan bahwa pengobatan telah membersihkan infeksi. Semua pasangan seksual perlu dihubungi, diuji, dan, jika diindikasikan, diobati. Bahkan jika pasangan tidak memiliki gejala, mereka mungkin dapat menularkan infeksi ke pasangan seksual lainnya. Demikian pembahasan kita tentang penyakit menular mycoplasma genitalium, jika ada yang mengalami gejala di atas silahkan segera berkonsultasi dengan dokter.   Sumber : stipu.nsw.gov.au, www.webmd.com, www.mshc.org.au, www.sahealth.sa.gov.au