Your browser does not support JavaScript!
 30 Aug 2017    18:00 WIB
Jangan Sampai Pelebaran Pembuluh Darah (Aneurisma) Terjadi Pada Anda
Tahukah Anda dengan Yang disebut Aneurisma? Aneurisma adalah tonjolan pada dinding pembuluh darah  yang disebabkan oleh melemahnya dinding pembuluh darah. Aneurisma dapat terjadi pada setiap pembuluh darah, tetapi aneurisma yang paling berbahaya adalah  yang terbentuk di pembuluh darah otak. Pecahnya pembuluh darah diotak dapat menyebabkan kematian dalam waktu setengah jam. Aneurisma sering sulit untuk dideteksi sampai terjadinya pembuluh darah yang pecah. Namun ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari hal tersebut terjadi, seperti: Pelajari riwayat keluarga Anda Apabila ada dua anggota keluarga Anda yang memiliki aneurisma. Ada baiknya Anda melakukan pemeriksaan. Disarankan untuk melakukan setiap lima tahun sekali  Kenali gejala aneurisma Apabila Anda mengalami sakit mata, khususnya nyeri datang dari belakang mata, serta pandangan kabur dan kelumpuhan pada wajah, Anda harus segera melakukan konsultasi  dengan dokter Anda. Segera lakukan pemeriksaan penunjang seperti scan kepala. Pemeriksaan yang dilakukan  Ada beberapa pemeriksaan kepala yang bisa dilakukan sesuai dengan kondisi Anda, seperti: Computerized tomography (CT) Magnetic resonance imaging (MRI) Tes cairan serebrospinal Angiogram Cerebral Melakukan pola hidup yang sehat Stop merokok Stop konsumsi alkohol Pola makan yang sehat Berolahraga Hindari stress Gunakan obat dengan benar Terus menerus menggunakan obat yang mengandung amfetamin dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi rentan terjadi aneurisma. Sumber: wikihow  
 06 Jan 2014    15:00 WIB
Aneurisma otak
Aneurisma merupakan salah satu jenis kelainan pembuluh darah otak, dimana terdapat kelemahan pada sebagian dinding pembuluh darah. Dinding pembuluh darah yang tipis membentuk tonjolan seperti balon yang mudah pecah setiap saat. Puncak usia terjadi kasus pecahnya aneurisma adalah usia > 40 tahun. Pecahnya aneurisma dalam otak menimbulkan perdarahan otak yang gejalanya bervariasi, mulai dari sakit kepala, mual, muntah, kaku kuduk, kelemahan anggota gerak, gangguan fungsi kelopak mata, kejang, hingga penurunan kesadaran, tergantung dari lokasi dan tingkat keparahannya. Untuk mendeteksi adanya aneurisma dalam otak perlu dilakukan pencitraan radiologi seperti MRI / MRA, CT Scan, CT Angiografi, dan DSA (Digital Substraction Angiography) yang merupakan baku emas (gold standard) pemeriksaan pembuluh darah otak. Pengobatan aneurisma yang pecah ada 2 cara, yaitu dengan clipping dan coiling pembuluh darah otak. Tujuan pengobatan adalah mencegah agar pembuluh darah yang pecah tidak semakin parah. Clipping merupakan tindakan operasi pemasangan clip (penjepit) pada aneurisma yang pecah, sehingga perdarahan tidak berlanjut. Sedangkan tindakan coiling adalah tindakan memasukkan coil melalui akses pembuluh darah ke lokasi target kelainan, sehingga darah tidak lagi masuk ke dalam kantong aneurisma yang pecah tersebut. Belakangan ini tindakan coiling / embolisasi mulai banyak digemari oleh para dokter sehingga banyak dipilih dalam pengobatan aneurisma. Tindakan clipping dan coiling juga memiliki risiko yaitu pecahnya pembuluh darah pada saat tindakan. Tindakan yang diambil, apakah clipping atau coiling aneurisma ditentukan oleh lokasi, bentuk, ukuran aneurisma, dan kondisi penderitanya.