Your browser does not support JavaScript!
Trauma Akibat Kdrt
Trauma akibat KDRT

Tidak ada satupun wanita atau pria yang bermimpi kalau akan terjadi kekerasan dalam sebuah pernikahan. Ketika sebuah kekerasan fisik sudah terjadi dalam pernikahan, hal tersebut bukan saja membahayakan tubuh dan fisik seseorang, namun efek emosional yang dialami korban juga dapat berlanjut panjang bahkan setelah kekerasan fisik tersebut berhenti. Minggu ini kita akan fokus membahas dampak dari KDRT, kekerasan emosional akan dibahas secara detil minggu depan.

Apa saja yang termasuk KDRT?

Berikut adalah tindakan yang termasuk kategori kekerasan:

• Meninju, menendang, menampar dan mencubit,

• Menarik secara kasar untuk menahan, yang membahayakan nyawa,

• Membakar (kulit, rambut, pakaian),

• Mengguncang secara kasar,

• Disiram (air biasa maupun air keras), dicekik, dipaksa menelan air,

• Memukul, mengigit, mencambuk (Beberapa budaya daerah masih membolehkan cambuk)

• Meracuni atau memberi sesuatu yang menyebabkan sakit penyakit.

• Segala bentuk cedera yang bersifat sengaja di bagian tubuh yang terlihat maupun tidak terlihat.

 

 

Bagaimana mengetahui tanda-tanda KDRT pada orang terdekat anda?

Tanda-tanda pertama yang dapat diperhatikan adalah tanda fisik seperti memar, bengkak, bencol, bekas luka bakar, bekas luka berdarah, atau patah tulang yang lebih dari satu, berulang dalam waktu dekat secara terus menerus, dan tidak memiliki penjelasan yang jelas atau masuk akal.

Korban KDRT sering kali menutup-nutupi bukti kekerasan tersebut karena merasa malu, namun tanda-tanda paling jelas selain dari tanda fisik adalah gelagat dan perilaku korban. Perilaku seperti tampak kaget ketika dipegang dan terlihat meringkuk untuk menutupi dirinya. Merasa takut berada dekat dengan benda tajam atau benda besar (seperti palu, dsb).

 

Bagaimana cara untuk keluar dari hubungan KDRT?

1. Safety first.

Proses kesembuhan hanya bisa terjadi ketika korban sudah merasa aman. Langkah ini adalah langkah tersulit dan terpanjang. Korban KDRT sering kali tetap tinggal di hubungan yang dijalani karena mempertimbangkan anak. Jika anda berada di dalam hubungan KDRT, segera cari bantuan ke orang terdekat anda, polisi dan psikiater. Safety artinya korban berada jauh secara fisik dan tidak dapat menggangu korban, agar korban bisa tidur dan istirahat dengan tenang.

 

2. Stabil dan support

Ketika korban sudah berada dalam lingkungan aman, kestabilan sangat dibutuhkan.Korban sering kali mengalami trauma karena perasaan takut kalau sewaktu-waktu akan terjadi kekerasan. Penting untuk menciptakan suasana yang stabil dan memberikan support ketika korban mengalami trigger masa lalu nya.

 

3. Menjahit luka emosional

Ketika korban sudah berada di lingkungan yang aman, stabil dan memiliki support orang terdekat, saatnya menjahit luka emosional dan luka batin yang dialami. Mengalami KDRT bukan berarti korban lemah atau sial. Korban harus kembali belajar bahwa tidak semua orang adalah kasar dan tidak dapat dipercaya. Masih banyak orang yang bisa dipercaya dan akan memperlakukan pasangannya dengan baik. Selalu utamakan kesehatan anda, fisik dan mental. Apabila anda membaca artikel ini dan sedang berada di hubungan KDRT, segera carilah bantuan. Anda tidak sendiri.

Apabila anda tau orang terdekat anda yang sedang mengalami KDRT, ulurkan bantuan. Kesehatan adalah harta paling berharga.

Minggu depan kita akan lanjutkan pembahasan kekerasan emotional pada rumah tangga.

Ditulis oleh: Cory Elisabeth

 

Sumber: GoodTherapy dan PsychCentral.

 

Baca Juga: Hindari Pelaku KDRT

Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.

 
 
Aug 18  -  4 min read