Your browser does not support JavaScript!
Bakteri Usus Ibu Dapat Membantu Menambal Kebocoran Sawar Darah Otak Bayi, Benarkah?
Bakteri Usus Ibu Dapat Membantu Menambal Kebocoran Sawar Darah Otak Bayi, Benarkah?

Pada sebuah penelitian yang dilakukan pada tikus, para peneliti menemukan bahwa bakteri usus sang ibu ternyata memproduksi berbagai nutrien yang dapat membantu proses pembentukan sawar darah otak anaknya.

Tahukah Anda bahwa mikroorganisme alias berbagai jenis bakteri yang hidup dan terdapat di dalam tubuh manusia ternyata berjumlah lebih banyak daripada sel-sel tubuh manusia tersebut? Bila dibandingkan, maka jumlah mikroorganisme di dalam tubuh manusia dengan jumlah sel tubuh manusia adalah 10:1. Berbagai mikroorganisme ini terdapat di mulut, kulit, dan usus.

Walaupun para peneliti telah menemukan ribuan jenis bakteri yang terbukti dapat membantu berbagai fungsi tubuh manusia, akan tetapi para ahli tersebut masih belum menemukan apa sebenarnya fungsi sisa bakteri lainnya.

Di antara berbagai jenis mikroorganisme tersebut, para ahli menduga bahwa bakteri usus merupakan yang terpenting. Hal ini dikarenakan bakteri usus tersebut dapat membantu proses pencernaan makanan dan membantu melatih kekuatan sistem kekebalan tubuh seseorang.

Pada penelitian baru ini, para peneliti berhasil menemukan satu lagi fungsi lain dari bakteri usus tersebut yaitu membantu proses pembentukan sawar darah otak pada janin yang sedang berkembang di dalam rahim sang ibu.

Sawar darah otak sebenarnya merupakan suatu kumpulan sel yang saling berhubungan yang bergabung dengan protein dan membentuk suatu lapisan pelindung di antara aliran darah dan sistem saraf.

Lapisan pelindung ini berfungsi untuk mencegah terjadinya infeksi otak, menyingkirkan berbagai racun dari aliran darah otak, dan mengatur aliran nutrisi yang menuju ke otak.

Pada penelitian ini, para peneliti yang mengamati proses perkembangan janin tikus menemukan bahwa diperlukan waktu sekitar 3 minggu bagi janin untuk bertumbuh di dalam rahim, di mana sawar darah otaknya biasa telah terbentuk di hari ke 17.

Untuk memastikan apa sebenarnya kegunaan bakteri usus pada proses pembentukan sawar darah otak, maka para peneliti pun melakukan penelitian ini. Para peneliti mengembangbiakan para tikus percobaan pada suatu tempat yang benar-benar steril, alias bebas dari segala jenis kuman. Setelah beberapa waktu, maka para tikus yang dikembangbiakkan secara khusus ini (hanya memiliki sedikit bakteri usus) pun memiliki anak.

Para peneliti kemudian menemukan bahwa anak-anak dari tikus tersebut hanya memiliki kadar protein pengikat sawar darah otak yang sedikit. Protein ini merupakan protein yang berfungsi untuk menyambungkan berbagai sel di dalam sawar darah otak dan membuatnya menjadi suatu lapisan.

Akibatnya adalah sawar darah otak ini tidak dapat menutup sempurna dan membuat berbagai hal yang seharusnya tidak dapat masuk ke dalam otak menjadi dapat masuk ke dalam otak (bocor). Kebocoran ini pun dapat menyebabkan terjadinya kerusakan saraf di dalam otak, terutama di suatu bagian otak yang disebut dengan hipokampus, yang memiliki peranan penting dalam mengendalikan stress dan membentuk daya ingat.

Bagian otak lainnya yang turut terpengaruh oleh kebocoran sawar darah otak ini adalah korteks frontal, yang berfungsi untuk mengatur proses berpikir dan membuat keputusan. Selain itu, striatum, bagian otak yang berfungsi untuk mengkoordinasikan gerakan juga terpengaruh. Berbagai gangguan ini akan terus terjadi hingga tikus memasuki masa dewasa.

Akan tetapi, satu hal baik lainnya yang ditemukan para peneliti dalam penelitian ini adalah bahwa kerusakan pada sawar darah otak ini ternyata dapat diperbaiki. Transplantasi bakteri usus dari tikus sehat ke dalam tikus yang dikembangbiakkan dengan kondisi khusus ini ternyata mampu mengatasi kebocoran ini, yang tentu saja juga dapat membantu mengatasi berbagai perubahan di dalam otak. Tikus ini pun akhirnya membentuk protein pengikat baru dan menutup kebocoran pada sawar darah otaknya.

Untuk menemukan jenis bakteri apa sebenarnya yang sangat penting dalam proses pembentukan sawar darah otak, maka para peneliti pun mengembangbiakkan tikus dengan jenis bakteri tertentu. Para peneliti kemudian menemukan 2 jenis bakteri yang dapat membantu “menambal” kebocoran pada sawar darah otak yaitu Clostridium tyrobutyricum dan Bacteroides thetaiotaomicron.

Kedua jenis bakteri tersebut secara alami memproduksi suatu asam lemak rantai pendek, yang diperlukan oleh protein pengikat agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Para peneliti juga menemukan bahwa memberikan asam lemak rantai pendek tersebut secara langsung juga dapat membantu memperbaiki kebocoran pada sawar darah otak. Akan tetapi, para peneliti masih tidak dapat memastikan apakah proses ini dapat membantu memulihkan sel-sel saraf yang telah rusak di dalam otak.

Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti pun memberikan peringatan khusus pada wanita hamil yang ingin mengkonsumsi antibiotika. Dianjurkan agar mereka berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui apakah antibiotika yang mereka gunakan dapat mempengaruhi bakteri usus.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa bakteri usus dapat mempengaruhi permeabilitas sawar darah otak di sepanjang hidup. Selain itu, efek ini mungkin juga dipengaruhi oleh beberapa hal seperti komposisi dan variasi bakteri usus seseorang. Oleh karena itu, beberapa hal yang juga mempengaruhi komposisi bakteri usus seseorang seperti makanan yang dikonsumsi, olahraga, dan aktivitas sosial mungkin juga turut berperan dalam kemampuan permeabilitas sawar darah otak.

 

 

Sumber: healthline

Editor Dokter.id
Jan 05  -  4 min read