Your browser does not support JavaScript!
Cek Sakit Anda
Dengan menekan button Cek Sekarang maka Anda menyetujui Syarat & Ketentuan serta Kebijakan Privasi.
 
Dokter Indonesia
Kepada YTH. Dokter,

Pertanyaan ini seputar bapak saya yang berumur 80 thn. Beliau menderita parkinson dan untuk jalan sangat pelan. Tgl 17 Maret, beliau ditemukan mengorok jam 9 Pagi. Lalu kita coba bangunkan, beliau tidak bisa bangun bangun. Lalu beliau di bawa ke RSPAD dengan ambulans dan dimasukan ke ICU sejak 17 maret.

Sejak masuk ke RS sampai hari ini tanggal 22 April, beliau masih tidak sadar dan tidak bisa membuka mata. Waktu minggu ke 2 setelah di ICU, kadang beliau masih 1/2 sadar. Kalau telapak kaki digaruk, kadang masih bisa menendang nendang. Tapi sekarang malah beliau malah tidak respons dan kesadaran lebih menurun daripada dulu.

Dianosis dokter RSPAD, bagian otak tengah ada penyumbatan darah. Dan oksigen ke otak berkurang.
Dan sudah diberikan tranfusi macam macam sejak masuk.

Yang saya tanyakan, apakah beliau masih bisa sembuh? beliau sudah 1 bulan di ICU, bagaimana sebaiknya yang harus kami lakukan sebagai keluarga? menunggu apa sebaiknya ada hal lain yang bisa dilakukan?

Terima kasih atas perhatiaanya.
Dok , Karna sebelumnya tidak pernah terjadi begini.Jadi saya menstruasi bulan ini terjadi tgl 10 April . Dan baru saja selesai 1 minggu tiba2 hari ini 21 April keluar bercak darah merah kemuda2.n dan tiba2 berubah menjadi coklat dan sekarang saya pakaikan pembalut tidak muncul lagi darah tsb. dan juga sebelumnya saya tidak punya keluhan apapun. Lantas hal ini wajar kh terjadi ? Terimakasih.
Hallo dok , saya mau tanya seputar menstruasi. Jadi tgl 10 April 2019 kemarin saya mulai menstruasi untuk bulan ini , dan tiba2 sekarang tgl 21 April 2019 saya mengalami menstruasi lagi. Wajar kh hal demikian ? Karna ini baru pertama kalinya saya 1 bulan 2x menstruasi.Terimakasih.
Selamat Malam Dok,

Akhir-akhir ini saya mempunyai masalah dengan telinga saya. Telinga sebelah kanan saya memiliki gangguan mendengar apa yang saya ucapkan tetapi saya dapat mendengar suara orang lain dan telinga saya berbunyi terus di dalam. Saya sudah periksa di dokter umum tetapi kata dokternya, tidak ada sesuatu yang aneh dengan telinga saya. Setelah beberapa hari, telinga saya tidak sembuh-sembuh. Bagaimana ya Dokter untuk mengoatinya. apakah ini ada hubungannya dengan masuk angin atau panas dalam saya?
terimakasih dok
Halo dok, alhir-akhir ini dada saya terasa sakit, berdebar, kesulitan bernapas, serta terasa panas dibagian dada, kadang suka mual juga dok, kira-kira ini penyakit apa ya dok? Mohon bantu dijawab ya dok terima kasih
22 Apr 2019 11:00 WIB
Halo teman-teman pasti kita semua pernah merasakan sakit yang namanya radang tenggorokan. Jangankan makan, telan ludah saja sakit. Wah menyiksa, serba salah dan yang pasti sangat mengganggu kegiatan kita sehari-hari, bahkan kita bisa terserang demam gara-gara sakit radang tenggorokan. Nah penyakit yang paling banyak dan sering menyerang kita ini patut kita pelajari bersama. Sakit tenggorokan adalah rasa sakit, kering, atau gatal di tenggorokan. Nyeri di tenggorokan adalah salah satu gejala yang paling umum. Dan lebih dari 13 juta orang berkunjung ke dokter setiap tahun karena penyakit yang mengganggu ini. Sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan oleh infeksi, dan banyak hal bisa menjadi pemicunya, seperti, makanan berminyak (gorengan), kurang minum air putih, demam kelenjar, radang amandel dan croup, demam jerami (rinitis alergi), merokok atau terpapar asap rokok dan udara dalam ruangan kering (karena AC atau pemanas), juga bisa disebabkan oleh gastro-esofageal reflux - refluks isi lambung yang asam di jaringan makanan kita. Radang tenggorokan dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: Faringitis mempengaruhi area tepat di belakang mulut. Ini adalah infeksi virus seperti pilek dan flu. Tonsilitis adalah pembengkakan dan kemerahan pada amandel, jaringan lunak di bagian belakang mulut. Laringitis adalah pembengkakan dan kemerahan pada kotak suara, atau laring. Infeksi Streptococcus pyogenes, jenis sakit tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri, dan memerlukan perawatan dengan antibiotik untuk mencegah komplikasi. Ada beberapa macam tes atau diagnosa yang biasanya dokter lakukan ketika memeriksa kita yang sedang menderita radang tenggorokan. Untuk mengenali gejalanya. Biasanya dokter akan bertanya lebih dahulu gejala yang kita rasakan, seperti, apakah kita memiliki rasa sakit atau sensasi gatal di tenggorokan, rasa sakit yang memburuk ketika menelan atau berbicara, nyeri, menyentuh sekitar leher kita untuk memastikan apakah ada pembengkakan atau pembesaran kelenjar getah bening atau tidak, amandel memerah, bercak putih atau nanah pada amandel kita, suara serak atau teredam. Dokter juga biasa merekomendasikan tes darah. Tes darah yang dapat dilakukan termasuk pemeriksaan darah lengkap (FBC) untuk memeriksa jumlah sel darah putih atau tes mono spot untuk demam kelenjar. Mengambil sampel ludah atau cairan di tenggorokan kita dengan menggunakan batang kapas usap yang disikat di belakang tenggorokan kita. Ini mungkin tidak nyaman, tetapi dilakukan dengan sangat cepat. Batang kapas usap tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk diuji apakah mengandung bakteri atau virus atau keduanya. Ada juga test kit untuk deteksi cepat Streptococcus grup A yang dapat memberikan hasil dalam beberapa menit. Kita juga perlu mengetahui gejala infeksi umum yang menyebabkan sakit tenggorokan seperti: Demam. Batuk. Hidung beringus. Bersin. Pegal-pegal. Sakit kepala. Mual atau muntah. Sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan oleh infeksi virus dan sembuh dengan sendirinya, tetapi ada beberapa langkah perawatan yang bisa kita lakukan untuk melawan infeksi. Berikut adalah beberapa caranya: Beristirahat sebanyak mungkin. Minum banyak cairan (jangan khawatir jika kita tidak ingin makan terlalu banyak selama beberapa hari). Minum air hangat dengan madu dan lemon bisa menenangkan bagi sakit tenggorokan. Berkumur dengan segelas air hangat dengan setengah sendok teh garam di dalamnya setidaknya dua kali sehari (hanya untuk anak-anak dan orang dewasa). Mengambil obat sakit tenggorokan tenggorokan atau semprotan anestesi dapat membantu, tetapi tidak dianjurkan untuk anak kecil. Pereda nyeri untuk sakit tenggorokan. Parasetamol atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen dapat membantu meringankan rasa sakit pada tenggorokan yang sakit. Dokter kita mungkin merekomendasikan parasetamol yang dikombinasikan dengan ibuprofen untuk sakit tenggorokan yang tidak berkurang dengan parasetamol atau ibuprofen saja. Aspirin juga dapat membantu meredakan sakit tenggorokan, tetapi obat-obatan yang mengandung aspirin tidak boleh digunakan oleh anak di bawah 16 tahun yang mengalami demam, terutama jika anak tersebut juga memiliki gejala influenza atau cacar air. Ini karena aspirin dapat menyebabkan kondisi serius yang disebut sindrom Reye pada anak-anak. Orang dengan tukak lambung atau duodenum, kondisi perdarahan atau yang minum obat antikoagulan (seperti warfarin) tidak boleh minum aspirin atau ibuprofen. Untuk orang-orang dengan sakit tenggorokan kronis, satu atau 2 dosis obat kortikosteroid kadang-kadang diresepkan untuk mengurangi keparahan gejala dan membantu kita merasa lebih baik lebih cepat. Ini bisa menjadi pilihan jika tenggorokan kita sangat sakit sehingga sulit menelan. Antibiotik dan sakit tenggorokan. Kebanyakan orang tidak membutuhkan antibiotik untuk sakit tenggorokan. Itu karena kebanyakan sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, yang tidak terpengaruh oleh antibiotik. Dan jangan lupa tetap berkonsultasi dengan dokter kita yah, sebelum mengambil langkah perawatan apapun, khususnya bagi yang mengalami sakit radang tenggorokan yang parah. Salam sehat!!!   Sumber : www.healthline.com, www.mayoclinic.org, www.mydr.com.au, www.webmd.com, www.nhsinform.scot
22 Apr 2019 08:00 WIB
Halo sahabat setia Dokter.ID! tahu dong penyakit yang mematikan dan paling ditakuti oleh banyak orang di berbagai Negara. Yaitu SARS (Virus Severe Acute Respiratory Syndrome), virus ini pernah menyerang negara kita Indonesia, namun virus ini asalnya bukan dari Negara kita. lalu kok bisa warga Indonesia terserang virus ini, sebenarnya dari mana asal virus ini? Dan apa gejalanya? Wah…kita pasti banyak bertanya-tanya, biar gak penasaran, mari kita bahas bersama. Namun sebelumnya kita perlu tahu seberapa besar virus SARS melanda, hingga menjadi wabah penyakit yang menakutkan. Virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) kian menakutkan. Sejauh ini, jumlah korban tewas akibat penyakit ini mencapai 78 orang dari 2.000 kasus lebih. Tak heran sejumlah negara dari berbagai belahan dunia memberlakukan darurat SARS.  SARS telah menyebar di 18 negara. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WHO) Cina menjadi negara yang paling banyak ditemukan kasus penyakit yang belum ditemukan obatnya ini. Sebanyak 46 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang dilaporkan diduga terinfeksi SARS di negeri itu.  Sedangkan Hongkong menempati urutan kedua kasus SARS setelah Cina. Sejauh ini, jumlah penderita SARS di Hongkong mencapai 708 orang dan enam penderita telah meninggal dunia. Sementara di Jepang, dilaporkan 14 orang diduga tertular SARS.  Penyakit sindrom saluran pernapasan akut (SARS) ini diduga pertama kali muncul di selatan Cina, wilayah Guangdong. Diduga virus ini berasal dari hewan. Virus ini kemudian menyebar di sejumlah negara. Kanada, Vietnam, Jerman, Amerika Serikat, Taiwan, Thailand, Swiss, Italia, dan Australia telah melaporkan warganya terserang SARS. Bahkan, wabah ini telah melanda Amerika Latin.  Jadi arti dari SARS sendiri adalah penyakit pernapasan virus akut yang disebabkan oleh coronavirus. Coronavirus adalah virus dari familia Coronaviridae yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia, mamalia, dan burung. seperti babi, anjing, kucing, tikus, kelinci, sapi, dan ayam. Kita yang terserang virus SARS ini, akan mempunyai beberapa macam gejala dan gejala biasanya terjadi sekitar 2 hingga 10 hari setelah bersentuhan dengan virus. Dalam beberapa kasus, SARS mulai cepat atau lambat setelah kontak (penularan) pertama. Tidak diketahui berapa lama seseorang bisa menular sebelum atau setelah gejala muncul. Gejala utamanya adalah: Batuk. Sulit bernafas. Demam lebih besar dari 100,4 ° F (38,0 ° C). Gejala pernapasan lainnya Gejala yang paling umum adalah: Menggigil dan gemetar. Batuk, biasanya mulai 2 hingga 3 hari setelah gejala lainnya. Demam. Sakit kepala. Nyeri otot. Gejala yang kurang umum termasuk: Batuk yang menghasilkan dahak (dahak). Diare. Pusing. Mual dan muntah. Hidung beringus. Sakit tenggorokan. Pada beberapa orang, gejala paru-paru memburuk selama minggu kedua sakit, bahkan setelah demam telah berhenti. Jika kita ada mengalami gejala-gejala di atas, segera pergi ke rumah sakit untuk menjalankan tes laboratorium karena dapat membantu mengidentifikasi SARS-CoV. Pengujian reaksi transkripsi-polimerase berantai (RT-PCR) dapat mendeteksi virus dalam darah, feses, dan sekresi hidung. Pengujian serologis dapat mendeteksi antibodi SARS-CoV dalam darah. Jika seseorang memiliki antibodi, mereka juga kemungkinan mengalami infeksi. Dokter juga dapat menggunakan kultur virus. Ini melibatkan memasukkan jaringan atau cairan tubuh yang sama kecil ke dalam wadah dengan beberapa sel di mana virus dapat tumbuh. Jika virus tumbuh, sel-sel akan berubah. Tes-tes ini mungkin tidak dapat diandalkan jika digunakan pada tahap awal infeksi. Dalam hal pengobatan, ini akan tergantung pada seberapa parah kasus kita. Jika gejala kita ringan, kita mungkin diizinkan untuk tetap di rumah. Tetapi jika penyakit semakin parah, kita mungkin harus pergi ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut, seperti mendapatkan cairan atau oksigen. Sayangnya tidak ada obat yang bekerja melawan virus yang menyebabkan SARS. Tetapi kita mungkin mendapatkan antibiotik untuk melawan infeksi lain saat kita pulih. Dan seperti kata pepatah, lebih baik mencegah dari pada mengobati. Kita dapat menurunkan peluang untuk mendapatkannya di tempat pertama dengan beberapa langkah sederhana: Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air, atau gunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol. Jangan menyentuh mata, hidung, atau mulut kita dengan tangan yang kotor. Pakailah sarung tangan sekali pakai jika kita memiliki kontak dengan air kencing, kotoran, air liur seseorang, atau cairan tubuh lainnya. Bersihkan permukaan seperti meja dengan disinfektan, dan cuci barang pribadi dengan sabun dan air panas. Jika kita berada di sekitar seseorang dengan SARS, kenakan masker bedah untuk menutupi hidung dan mulut kita. Demikian penjelasan tentang SARS hari ini, untung keterangan lebih lanjut bisa hubungi petugas kesehatan kita. salam sehat!!!   Sumber : medlineplus.gov, edition.cnn.com, www.britannica.com, www.medicalnewstoday.com, www.webmd.com
21 Apr 2019 18:00 WIB
Sebenarnya tidak ada acuan mengenai berapa lama waktu tidur yang cukup bagi anak-anak pada berbagai usia karena setiap anak membutuhkan lama tidur yang berbeda-beda pula. Usia 1-4 Minggu → 15.5-16.5 Jam/HariBayi baru lahir biasanya memiliki waktu tidur yang singkat yaitu sekitar 2-4 jam setiap kali tidur. Bayi prematur mungkin membutuhkan waktu tidur yang lebih lama dan bayi yang rewel mungkin membutuhkan waktu tidur yang lebih singkat.Karena bayi baru lahir belum memiliki irama sirkardian (pengatur waktu tidur) sehingga pola tidur mereka tidak berhubungan dengan siang atau malam hari. Bayi baru lahir biasanya tidak memiliki pola tidur sama sekali.Usia 3 Bulan → 15 Jam/HariSaat ini bayi anda telah mulai dapat beradaptasi sehingga ia mulai memiliki pola tidur yang teratur. Waktu tidur terlama bayi anda setiap kali tidur adalah sekitar 4-6 jam dan lebih sering terjadi di malam hari.Waktu tidur siang bayi anda saat ini adalah sekitar 5 jam dan waktu tidur di malam hari adalah sekitar 10 jam.Usia 6 Bulan → 14 Jam/HariTujuan utama anda saat ini adalah menciptakan kebiasaan tidur yang sehat bagi bayi anda karena ia telah mulai dapat berinteraksi dengan orang lain dan pola tidurnya pun telah lebih teratur.Bayi biasanya akan tidur siang sebanyak 3 kali yang kemudian akan berkurang menjadi 2 kali saat ia berusia 6 bulan, yang membuat mereka dapat tidur lebih lama di malam hari, bahkan selama semalam penuh. Waktu tidur siang bayi anda saat ini adalah sekitar 4 jam dan waktu tidur di malam hari adalah sekitar 10 jam.Usia 9 Bulan → 14 Jam/HariSaat ini bayi anda telah dapat tidur lebih lama di malam hari yaitu sekitar 11 jam setiap harinya dengan waktu tidur siang yang lebih singkat yaitu sekitar 3 jam setiap harinya.Usia 1 Tahun → 14 Jam/HariSaat ini, waktu tidur siang anak anda mungkin telah berkurang menjadi 1 kali setiap harinya dan hanya membutuhkan 2.5 jam tidur siang dan 11.5 jam waktu tidur di malam hari setiap harinya.Usia 3 Tahun → 12 Jam/HariAnak-anak berusia 3 tahun biasanya akan pergi tidur pada pukul 7-9 malam dan bangun sekitar pukul 6-8 pagi. Pada saat ini sebagian besar anak masih tidur siang selama sekitar 1 jam di siang hari, dan tidur selama 11 jam di malam hari.Usia 4 Tahun → 11.5 Jam/HariAnak anda mulai jarang tidur siang atau bahkan tidak tidur siang sama sekali dan tidur selama 11.5 jam setiap malamnya.Usia 5-12 Tahun → 9-11 Jam/HariSeiring dengan semakin bertambahnya usia anda, waktu tidurnya di malam hari pun mulai sedikit berkurang. Anak anda pun mulai tidur lebih malam dari sebelumnya.Usia 12-16 Tahun → 8.5-9 JamAnak remaja anda tetap membutuhkan tidur yang cukup untuk menjaga kesehatannya, beberapa anak bahkan membutuhkan waktu tidur yang lebih lama dari beberapa tahun sebelumnya. Sumber: webmd
21 Apr 2019 16:00 WIB
Hai guys! Kalau ada lirik lagu bilang, lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati, wah lebih baik tidak keduanya yah, karena sama-sama menyiksa bikin kita tidak bisa tidur. Nah, tapi apa sih penyebab sakit gigi, mari kita bahas. Sakit gigi adalah rasa sakit yang terjadi di dalam atau di sekitar gigi. Rasa sakit berasal dari gigi atau gusi dan struktur tulang di sekitarnya. Seseorang biasanya merasakan sakit gigi sebagai sakit konstan atau intermiten yang tidak hilang. Perubahan suhu, bisa merangsang sakit gigi. Dalam kasus lain, sakit gigi dapat terjadi secara spontan tanpa stimulasi. Odontalgia adalah nama lain untuk sakit gigi. Kita tahu betul sulit rasanya untuk mengabaikan rasa sakit gigi saat makan, bicara, bekerja dan dalam menjalani kegiatan kita sehari-hari. Karena rasa sakitnya yang menimbulkan nyeri terus-menerus sangat mengganggu kita, hingga bikin kita buyar konsentrasi (gagal fokus). Sakit gigi juga dapat disebabkan oleh rasa sakit di bagian lain dari tubuh kita. Penyebab umum sakit gigi termasuk: Cidera mulut atau rahang. Ini dapat terjadi dari trauma benda tumpul ke area wajah. Infeksi sinus. Drainase dari infeksi sinus dapat menyebabkan sakit gigi. Kerusakan gigi. Ketika bakteri menyebabkan kerusakan gigi, saraf di gigi kita mungkin terpapar, menyebabkan rasa sakit. Gigi berlubang atau terinfeksi. Kadang-kadang disebut abses gigi, kondisi ini digambarkan sebagai kantong nanah di gigi. Makanan atau puing-puing lain tersangkut di gigi kita. Materi organik dan anorganik yang tersangkut di gigi kita dapat menyebabkan tekanan di antara gigi. Gigi atau gigi bungsu yang dimahkotai. Jika kita memiliki gigi bungsu masuk, serta menembus gusi, mereka mungkin menekan gigi lain. Gangguan sendi temporomandibular. TMJ diklasifikasikan sebagai nyeri pada sendi rahang kita, tetapi juga dapat mempengaruhi gigi kita. Penyakit gusi. Penyakit gusi seperti gingivitis atau penyakit periodontal dapat menyebabkan sakit gigi atau sakit. Kebiasaan buruk kita yang suka menggiling atau mengepalkan gigi pada malam hari yang dapat menyebabkan rasa sakit tambahan. Evaluasi dan diagnosis oleh seorang profesional gigi dapat menentukan jenis sakit gigi yang kita derita, dan sumbernya. Berikut adalah tipe-tipe sakit gigi: Tajam, Sensitivitas atau Nyeri Gigi Berselang: Sensitivitas terhadap dingin dapat menunjukkan resesi gusi, kehilangan enamel akibat menyikat gigi yang terlalu lama atau penuaan, keausan dan robek atau rongga gigi kecil. Sensitivitas terhadap panas juga dapat menandakan rongga kecil, tetapi bisa juga merupakan hasil dari abses, retakan atau kerusakan parah. Sakit Gigi Kronis: Jika satu atau lebih gigi kita terkena sakit kronis, kerusakan saraf bisa menjadi penyebabnya. Kerusakan saraf dapat terjadi akibat penggilingan gigi, kerusakan gigi yang parah, atau trauma pada gigi karena cedera. Nyeri intens, berdenyut: Nyeri intens, berdenyut, kadang disertai dengan wajah bengkak, sering merupakan tanda infeksi atau abses. Rasa menyakitkan ketika makan: Jika itu menyakitkan bagi kita untuk makan, pelakunya bisa karena pembusukan gigi, atau sedikit patah (retak) pada gigi. Back-of-the-Jaw Pain: Nyeri di belakang rahang mungkin berhubungan dengan gigi bungsu impaksi (molar belakang). Tetapi bisa juga merupakan tanda TMD atau penggilingan gigi, yang keduanya dapat menyebabkan nyeri rahang, dan rasa sakit di seluruh area tulang wajah lainnya. Sakit gigi berkisar pada tingkat keparahan, terutama dalam hal sensitivitas gigi dan tingkat nyeri. Nyeri intermiten mungkin tampak sedikit lebih dari gangguan sesekali, sementara nyeri kronis mungkin mendorong kita untuk segera mengambil tindakan. Cara terbaik untuk menghindari sakit gigi dan masalah gigi lainnya adalah menjaga gigi dan gusi kita tetap sehat. Untuk melakukan ini, kita harus: Batasi asupan makanan dan minuman bergula, kita harus menggunakannya sesekali dan hanya pada waktu makan. Sikat gigi kita dua kali sehari menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride - dengan lembut sikatlah juga gusi dan lidah kita. Bersihkan sela-sela gigi menggunakan benang gigi dan, jika perlu, gunakan obat kumur. Jangan merokok, ini bisa memperburuk masalah gigi. Dan jika kita sudah mengalaminya, bisa mencoba hal-hal di bawah ini: Gunakan obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas. Menggunakan obat-obatan seperti ibuprofen (Advil, Motrin), acetaminophen (Tylenol), dan aspirin dapat menghilangkan rasa sakit ringan dari sakit gigi. Menggunakan pasta atau gel mati rasa - sering dengan benzocaine - dapat membantu meredakan rasa sakit cukup lama hingga kita tertidur. Jangan menggunakan produk apa pun dengan benzocaine untuk merawat bayi atau anak di bawah usia 2. Jaga agar kepala kita tetap tinggi. Menyangga kepala kita lebih tinggi dari tubuh kita dapat menjaga agar darah tidak mengalir ke kepala kita. Jika darah terkumpul di kepala kita, itu mungkin mengintensifkan sakit gigi dan mungkin membuat kita tetap terjaga. Hindari makan makanan yang asam, dingin, atau keras sebelum tidur. Makanan-makanan ini dapat memperburuk gigi kita dan semua rongga yang mungkin telah terbentuk. Usahakan menghindari makanan yang memicu rasa sakit. Bilas gigi kita dengan obat kumur. Gunakan obat kumur yang mengandung alkohol untuk mendisinfeksi dan mematikan gigi kita. Gunakan kompres es sebelum tidur. Bungkus kantong es dengan kain dan letakkan di bagian sisi wajah yang sakit. Ini bisa membantu mengurangi rasa sakit sehingga kita bisa beristirahat. Jika sakit gigi kita masih mengganggu, segera pergi ke dokter gigi. Salam sehat!!!   Sumber : www.healthline.com, www.medicinenet.com, www.gentledental-mi.com, www.yourdentistryguide.com, www.nhsinform.scot
21 Apr 2019 11:00 WIB
Dewasa ini, hampir setiap penyakit selalu menggunakan antibiotik dan berbahayalah adalah ada beberapa orang yang minum antibiotik tanpa pengawasan seorang dokter alias membeli sendiri obat tersebut tanpa pernah tahu apakah memang dirinya membutuhkan antibiotik atau tidak. Atau untuk beberapa orang yang bila sudah berobat ke dokter merasa ada yang kurang bila belum diberikan antibiotik. Padahal perlu Anda ketahui tidak semua kondisi membutuhkan antibiotik. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, jadi bila seorang dokter menemukan indikasi bahwa Anda mengalami infeksi bakteri maka akan diberikan antibiotik. Pemberian antibiotik pun memiliki dosis yang berbeda-beda. Tidak semua antibiotik harus dimakan 3 kali dalam sehari. Agar Anda lebih tahu ada alasan mengapa antibiotik tidak harus selalu diminum saat kondisi tubuh Anda tidak sehat. Ini adalah alasannya: 1.      Antibiotik benar-benar tidak efektif terhadap infeksi virus Antibiotik bekerja hanya terhadap infeksi bakteri dan karena itu tidak berguna apabila Anda mengalami infeksi virus. Untuk mengetahui apakah Anda mengalami infeksi bakteri atau infeksi virus tentu harus berdasarkan pemeriksaan dokter secara langsung. Minum antibiotik tanpa mengetahui penyebabnya hanya akan membuat penyakit menjadi lebih buruk. 2.      Resistensi antibiotik Saat Anda minum antibiotik secara terus menerus tanpa indikasi yang tepat dan minum dengan dosis yang tidak dianjurkan dokter. Seperti disarankan oleh dokter untuk dihabiskan, kemudian karena sudah tidak mengalami keluhan Anda menghentikannya begitu saja. Bila Anda melakukan hal seperti ini terus maka akan mengakibatkan terjadinya resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik adalah kondisi ketika dimana bakteri dalam tubuh manusia menjadi resisten atau kebal terhadap antibiotik. Sehingga saat tubuh Anda benar-benar terinfeksi bakteri, antibiotik tersebut sudah tidak mempan untuk digunakan. 3.      Penyalahgunaan meningkatkan jumlah kuman resisten terhadap obat Terlalu banyak penggunaan antibiotik juga menyebabkan peningkatan jumlah kuman yang  resisten terhadap obat dan hal ini akan memberikan beban berat pada industri farmasi karena harus terus menciptakan obat versi yang baru. 4.      Buang-buang uang Kebanyakan antibiotik memiliki harga yang cukup mahal. Jadi bila Anda membeli antibiotik hanya untuk mengatasi flu ringan hal ini akan membuat Anda membuang uang Anda secara sia-sia. Selain itu apabila Anda sudah mengalami resistensi antibiotik nantinya Anda akan mengeluarkan uang lebih banyak karena Anda harus melakukan pengujian untuk mengetahui antibiotik mana yang masih mempan untuk Anda dan semakin tinggi jenis antibiotik biasanya harganya akan semakin mahal. 5.      Menimbulkan efek samping yang tidak perlu dan berbahaya Minum antibiotik tanpa resep hanya akan menimbulkan efek samping yang tidak perlu dan berbahaya. Setiap obat yang masuk kedalam tubuh Anda tentu akan menimbulkan efek samping terlebih lagi adalah antibiotik. Apabila Anda konsumsi antibiotik secara sembarangan nantinya bisa menyebabkan infeksi jamur di sekitar mulut, saluran pencernaan atau miss V, diare, muntah, mual. 6.      Menimbulkan reaksi alergi Konsumsi antibiotik tanpa pengawasan dokter bisa saja menimbulkan reaksi alergi seperti ruam, pembengkakan pada wajah dan lidah, hingga kesulitan bernapas. Hal ini disebut dengan reaksi anafilaksis. Melihat kondisi yang bisa ditimbulkan penggunaan antibiotik tanpa pengawasan dokter, apakah Anda masih ingin minum antibiotik secara sembarangan? Baca juga: Perlukah Antibiotik pada Pengobatan Diare Anak? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
21 Apr 2019 08:00 WIB
Halo sahabat! Pernahkah kalian dengar nama bakteri Staphylococcus yang menyebabkan MRSA , bakteri ini bertanggung jawab atas beberapa infeksi yang sulit diobati pada manusia. Staphylococcus atau "staph" merupakan bakteri yang resistan terhadap antibiotik. Bakteri Staph, seperti jenis bakteri lainnya, biasanya hidup di kulit dan hidung kita, tanpa menimbulkan masalah. Staph dapat menyebabkan infeksi serius, terutama pada orang yang sakit atau lemah. MRSA berbeda dari jenis staph lain karena tidak dapat diobati dengan antibiotik tertentu seperti metisilin. Infeksi MRSA lebih sulit diobati daripada infeksi staph biasa. Ini karena staph yang dikenal sebagai MRSA tidak merespon dengan baik terhadap banyak antibiotik umum yang digunakan untuk membunuh bakteri. Ketika methicillin dan antibiotik lain tidak membunuh bakteri yang menyebabkan infeksi, menjadi lebih sulit untuk menghilangkan infeksi. Bakteri lebih mungkin berkembang ketika antibiotik digunakan terlalu sering. Dengan waktu yang panjang, antibiotik dapat berubah sehingga antibiotik tidak lagi berfungsi dengan baik. MRSA umumnya mengakibatkan infeksi kulit dan jaringan ringan seperti jerawat, bisul, abses, atau infeksi pada luka. Area yang terinfeksi bisa jadi tampak merah, bengkak dan terasa sakit atau mengeluarkan nanah. Terkadang, gejala yang lebih parah seperti infeksi aliran darah, infeksi paru-paru atau necrotising fasciitis (kerusakan jaringan) dapat terjadi. Dan penyebaran MRSA seperti halnya semua bakteri staph, dapat menyebar dari satu orang ke orang lain melalui kontak biasa atau melalui benda yang terkontaminasi. Ini bisa siapa saja di lingkungan perawatan kesehatan atau di masyarakat. MRSA biasanya tidak menyebar melalui udara seperti flu biasa atau virus flu, kecuali seseorang menderita pneumonia MRSA dan batuk. Cara penularan infeksi MRSA terutama adalah melalui kontak langsung dengan luka, cairan tubuh dan area yang terkontaminasi. Faktor risiko lainnya termasuk kontak dalam jarak dekat, goresan pada kulit akibat luka atau infus, kebersihan pribadi yang tidak baik dan kondisi tempat tinggal yang terlalu padat. Kita bisa tercegah dari MRSA ini dengan: Menjaga kebersihan pribadi. Cuci tangan yang bersih dengan sabun cair dan air kalau tampak kotor atau terkena cairan tubuh. Kalau tidak tampak kotor, bersihkan tangan dengan pembersih tangan berbasis alkohol 70-80%. Ini adalah alternatif yang efektif. Kenakan sarung tangan saat menangani barang-barang kotor lalu cuci tangan yang bersih setelahnya. Hindari berbagi barang pribadi seperti handuk, pakaian atau seragam, pisau cukur atau gunting kuku. Perawatan luka yang tepat. Hindari kontak langsung dengan luka atau benda-benda yang terkontaminasi cairan dari luka. Segera bersihkan kulit yang terluka dan tutup yang benar dengan plester tahan air. Cuci tangan sebelum dan setelah menyentuh luka. Segera konsultasikan dengan dokter jika muncul gejala infeksi. Hindari olahraga yang membutuhkan kontak fisik atau menggunakan kamar kecil umum jika kita memiliki luka terbuka. Penggunaan antibiotik yang aman. Hanya minum antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Ikuti saran dokter saat minum antibiotik. Tingkatkan kebersihan pribadi saat minum antibiotik untuk melindungi diri sendiri dan mencegah penyebaran bakteri: Jaga kebersihan tangan. Makan makanan yang matang benar. Minum air yang sudah dimasak. Bersihkan dan tutup semua luka. Kenakan masker jika kita mengalami gejala pernafasan seperti batuk, bersin, hidung berair, dan sakit tenggorokan. Anak kecil yang menunjukkan gejala-gejala infeksi harus mengurangi kontak seminimal mungkin dengan anak lain. Jangan berbagi antibiotik dengan orang lain. Jaga kebersihan lingkungan. Pastikan lingkungan rumah dan sekitar atau pekarangan rumah tetap bersih; basmi kuman dari benda-benda yang dipakai bersama di tempat umum seperti pusat kebugaran dan kamar kecil umum secara rutin. Cara yang digunakan untuk mencegah infeksi MRSA juga dapat digunakan untuk infeksi CA-MRSA. Orang yang mengalami infeksi luka harus segera minta bantuan dari petugas kesehatan agar infeksi dapat didiagnosis dengan tepat dan diobati secara efektif. Jadi segeralah pergi ke dokter atau rumah sakit terdekat. Salam sehat!!!